Chapter 129
Ketika pelayan wanita itu tersandung dan jatuh tertangkap oleh pelayan pria, Lam-ciat terbahak-bahak. Tiba-tiba, pria itu menerkam dan memeluk dayang tersebut, lalu melumat bibirnya.
"Ugh... ugh...!" Dua pasangan itu tiba-tiba sudah saling dekap.
Mereka menuju ke masing-masing pasangannya dan kakek itu terbahak-bahak. Keempat orang ini memang sudah terbakar berahi; wajah pelayan pria tampak merah padam dan beringas. Namun, ketika mereka bergulingan dan si pria merobek pakaian si wanita, Lam-ciat tertawa panjang. Mendadak, kakek itu bergerak menyambar dan menarik kedua pelayan wanita tersebut.
"Nanti dulu, jangan tergesa-gesa!" Dua pelayan laki-laki terkejut.
Mereka berteriak marah, tetapi Lam-ciat mengibas keduanya hingga terlempar menabrak dinding. Sambil mengeluh, mereka ditenangkan oleh kakek itu yang berseru agar dua pelayan wanita tersebut menari dan melepas pakaian satu per satu.
"Tidak boleh terburu-buru, kalian menikmati kesenangan atas jasa baikku. Ayo, menari dan lepaskan pakaian kalian secara perlahan-lahan!"
"Kami tak dapat menari..."
"Kau akan pandai menari, dayang. Lihat dan mulailah!" Kakek itu menotok ketiak dayang tersebut. Si dayang terkejut dan menggelinjang. Kakek itu terus menotok titik-titik saraf lain yang membuat si dayang menjerit kecil dan bergerak mengikuti rasa geli yang ditimbulkan. Ketika tanpa sadar keduanya sudah menggeliat maju mundur, Lam-ciat menyentuh bagian-bagian tubuh mereka agar bergerak mengikuti kehendaknya. Dua pelayan ini pun menari tanpa sadar, lembut namun merangsang.
"Ha-ha, kalian pandai menari, anak-anak. Hayo, bergeraklah gemulai dan lepas pakaian kalian satu per satu!"
Dua orang dayang itu merah padam. Mereka mendengus dan mengikuti totokan si kakek yang membuat mereka menggeliat, maju mundur, dan merintih seperti kucing kepanasan. Ketika dua pelayan pria terbelalak dan mendengus-dengus di sana, dayang wanita itu sudah melepaskan pakaian. Tak lama kemudian, mereka sudah telanjang bulat.
"Oohh... augh...." Dua pelayan laki-laki bangkit berdiri. Tadi mereka nanar dan kaget oleh kibasan si kakek, namun karena Lam-ciat telah membakar mereka dengan berahi yang hebat, rasa takut pun hilang. Mereka melihat dua pelayan wanita melenggang-lenggok dengan keluhan panas, sehingga mereka tidak tahan lagi dan berteriak menubruk kekasih mereka.
"Nanti dulu!" si kakek berseru dan mengibas lagi. "Kalian pun harus menari, anak-anak. Ayo ikuti gerakan mereka dan tanggalkan pakaian kalian!"
Dua pelayan laki-laki itu dilempar namun tidak terluka. Mereka bangkit berdiri lagi, terhuyung, dan hendak menubruk, namun si kakek membentak agar mereka menari dahulu. Mereka tak boleh main seruduk agar hadiahnya tidak hilang. Kakek itu menotok mereka hingga akhirnya dua laki-laki tersebut menggeliat dan menari-nari secara kasar dan kaku mengikuti telunjuknya. Tarian mereka tak keruan, tetapi membuat si kakek terkekeh-kekeh.
Ketika dua pasangan itu sudah mandi keringat dan bergerak seperti kuda binal, akhirnya pihak laki-laki tidak kuat lagi menahan diri dan menubruk pasangannya. Dayang wanita pun merintih di pelukan kekasihnya. Lam-ciat tergelak menonton adegan tersebut sambil menenggak arak. Adegan menjijikkan itu terjadi di kamar tersebut—adegan yang tak pantas disaksikan orang baik-baik. Namun, Lam-ciat memang bukan orang baik-baik; ia adalah tokoh sesat selatan yang gemar mempermainkan pasangan untuk bermain cinta di depan matanya.
Saat malam itu kakek ini mendapatkan kesenangannya, di luar ruangan, berkelebat bayangan seseorang yang hampir muntah.
"Jahanam, tak tahu malu. Keparat tua bangka. Ah, Suhu terlalu menerima orang seperti ini!" Bayangan itu terisak dan menangis. Ia menyaksikan semua kejadian di kamar itu namun pergi sebelum adegan puncak berakhir. Ia hendak mendobrak dan menerjang kakek itu, namun gurunya melarang keras mengganggu si kakek, apa pun yang dilakukannya. Bayangan itu pun pergi dengan perasaan muak, sementara di dalam ruangan, Lam-ciat menenggak arak sampai mabuk.
Keesokannya, di hutan sebelah selatan saat matahari pagi baru saja muncul, Lam-ciat telah berada di lokasi tempat Chu-goanswe dan anak buahnya berada. Kakek itu telah mendapat ancer-ancer dari Kedok Hitam mengenai wilayah tempat persembunyian pemberontak tersebut. Ia menyeberangi sungai di antara dua hutan dan memasuki wilayah lawan.
Bayangannya segera diketahui oleh anak buah Chu-goanswe yang banyak berjaga di sana. Kakek ini tertegun ketika tiba-tiba dihadang oleh bayangan-bayangan hitam.
"Berhenti, mau ke mana dan siapa kau!"
Kakek itu terkejut, namun tiba-tiba tertawa lebar. "Kalian siapa dan mau apa?" tanyanya balik.
"Mana Chu-goanswe atau bocah bernama Giam Liong itu? Aku datang untuk menangkapnya, suruh keluar atau nanti kubunuh!"
"Kurang ajar!" orang-orang itu membentak marah. "Kau kiranya antek istana, kakek siluman. Kalau begitu mampuslah dan lihat kami mencincangmu!"
Belasan orang itu menyerang dan menusuk tanpa bertanya lagi. Mereka menganggap ini sebagai mata-mata istana atau antek Coa-ongya yang mereka benci. Namun, kakek itu tertawa bergelak dan menghilang dengan cepat. Semua senjata hanya beradu di udara, dan kakek itu lenyap seketika.
Semua orang tertegun. Mereka tidak tahu bagaimana kakek itu tiba-tiba menghilang setelah suaranya menggelegar. Begitu mereka terpental oleh dorongan senjata masing-masing dan terhuyung, tahu-tahu kakek itu muncul lagi setelah melompat tinggi.
"Ha-ha-ha, sekarang kalian mampus.... des-des-dess!"
Belasan orang itu menjerit. Mereka menerima tendangan tumit yang amat hebat, telak menghantam dada, dan terlempar bagai disapu angin badai. Sebanyak tujuh belas orang tewas dengan dada hancur. Lam-ciat berkelebatan, bergerak demikian cepat hingga ia tampak seperti ada di mana-mana. Meski ada lima puluh orang, kakek itu seolah-olah menjadi lima puluh orang pula. Tangan mautnya menyambar-nyambar hingga anak buah Chu-goanswe roboh bergelimpangan dan tewas satu demi satu.
"Ha-ha, mana orang she Chu itu atau si bocah Giam Liong!"
Pengikut Chu-goanswe geger. Mereka berteriak, dan yang selamat melarikan diri ke dalam hutan. Tak lama kemudian, ratusan bayangan hitam pengikut Chu-goanswe berdatangan setelah mendengar kabar tentang kakek gimbal yang lihai ini.
Ketika ratusan orang itu muncul dan membentak, Lam-ciat justru tertawa bergelak saat dikeroyok. Hujan panah dan tombak berhamburan.
"Ha-ha, ayo mana Chu-goanswe itu! Mana keturunan Si Golok Maut? Maju kalian semua, kubabat!"
Pengikut Chu-goanswe meluruk dan menerjang, namun Lam-ciat bukanlah lawan mereka. Kakek itu mengeluarkan ilmu Hoan-eng-sut dan lenyap menjadi ratusan bayangan yang berpindah-pindah. Saat pengikut Chu Kiang roboh satu per satu dan darah mulai menggenangi tempat itu, berkelebat bayangan seorang wanita yang membentak nyaring, "Jahanam dari mana yang berani membuat onar di sini? Mampuslah... sing-crat!"
Sebatang pedang menusuk langsung menuju ke inti Hoan-eng-sut, mengejutkan si Hantu Selatan yang segera berkelit. Ia kemudian membacok dan merobohkan sebatang pohon yang berdebum keras. Disusul oleh bayangan merah yang berkelebatan menyambar-nyambar, pemimpin barisan pengeroyok itu terus mengarahkan serangan ke kakek tersebut.
Lam-ciat terkejut karena lawan yang baru datang ini amat hebat. Pedang itu menusuk dan membacok tiada henti. Ia tertegun melihat seorang wanita cantik berusia sekitar empat puluhan menyerang dengan ganas.
"Siapa kau? Bagaimana bisa ada di sekumpulan kambing jantan ini? Apakah kau satu-satunya betina di sini!"
"Keparat!" Wi Hong, bayangan itu, melengking nyaring. "Aku ibu dari anak yang kaucari-cari, kakek busuk. Aku Wi Hong yang tak perlu menyembunyikan nama. Siapa kau dan dari mana datang? Kenapa membunuh pejuang gagah yang bukan tandinganmu ini!"
"Ah, ha-ha..!" si kakek tertawa bergelak, matanya bersinar. "Kau Wi Hong dari Hek-yan-pang? Kau murid mendiang Hek-yan Tai-bo?"
"Tak usah menyebut-nyebut Hek-yan-pang. Itu bukan partaiku lagi, kakek busuk. Sebutkan siapa kau atau nanti mati sebelum meninggalkan nama!"