Chapter 13
Ki Bi tidak boleh mengulangi lagi perbuatannya itu dan kalian pun berhenti sampai disini! "Terima kasih!" Lin Siu dan yang lain menjatuhkan diri berlutut.
Kau bijaksana dan arif, pangcu. Semoga kau benar-benar memperhatikan kami dan memberikan jalan keluarnya seperti kata-katamu tadi! "Hm, aku tentu akan mencarikan jalan keluarnya. Aku akan memikirkan pendamping untuk kalian!" "Dan kami minta seperti yang dirimu ini, pangcu. Gagah, setia dan jujur serta bertanggung jawab!" "Ah, itu tergantung nasib kalian. Aku tak berani menjanjikannya.
Pokoknya aku akan membicarakan dengan isteriku dan kalian bawalah Ki Bi!" Lin Siu dan lain-lain girang. Beng Tan sudah membebaskan totokan Ki Bi dan murid wanita itu mengguguk menutupi mukanya. Rasa malu yang hebat terasa menyesakkan napas. Tapi Beng Tan menepuk-nepuk pundaknya, menghibur dan berkata bahwa itu adalah pengaruh gejolak muda. Wajar rasanya kalau Ki Bi melakukan itu, sebagai peletupan rasa tak kuat disesakkan birahi. Beng Tan bersungguh-sungguh dan pemuda itu sudah melupakannya.
Dan ketika Ki Bi berlutut dan mengucap terima kasih, disusul adik-adiknya yang lain maka Beng Tan terharu membangunkan murid-murid wanita ini. "Sudahlah.... sudahlah, tak ada persoalan lagi. Kalian kembalilah ke tempat masing-masing dan aku juga beristirahat!" Ki Bi mengangguk bangkit berdiri. Wanita ini sekilas melempar pandangan kagum dan kecewa, menunduk dan sudah disambar Lin Siu untuk berkelebat keluar.
Dan ketika malam itu Beng Tan berkali-kali menarik napas dan semburat mukanya maka malam itu Beng Tan tak dapat tidur sampai keesokan harinya isterinya datang. Mula-mula sukar bagi Beng Tan untuk mulai dari mana. Yakni, dari mana dia mulai bicara dan memperbincangkan hal itu. Tapi ketika isterinya tampak berseri dan menunjukkan sutera-sutera mahal yang baru dibeli maka kesempatan itu ada ketika isterinya membicarakan beberapa murid yang bertemu dengan pemuda-pemuda tampan.
"Hi-hik, Lim-hwa kemarin bertabrakan dengan dua pemuda yang tergesa-gesa ke kota. Mereka sama-sama menunggang kuda, koko, dan Lim-hwa terpelanting!" "Hm, apa yang terjadi? Kenapa begitu?" "Entahlah, enam murid yang kubawa itu tiba-tiba saja sepanjang jalan tampak lemah dan tak bersemangat. Mereka jarang bicara, satu sama lain membisu. Tapi ketika dua orang pemuda mencongklang dari depan dan kami tepat di tikungan menajam tiba-tiba Lim-hwa bertabrakan sementara murid yang lain keburu menyingkir dan selamat." "Dan Lim-hwa cidera?" "Tidak, tapi justeru bengong dan duduk melotot memandang pemuda-pemuda itu. Lim-hwa tiba-tiba menjadi aneh karena tiba-tiba kelihatan gembira dan berseri-seri!" "Kenapa bisa begitu? Ada apa?" "Aku tak tahu, tapi lima muridku yang lain juga tiba-tiba begitu, koko. Dan ketika mereka kubentak dan kumaki tiba-tiba mereka semua turun tapi bukan menolong Lim-hwa melainkan dua pemuda itu, yang kiranya dikejar-kejar perampok!" Beng Tan mengerutkan kening.
Sang isteri akhirnya bercerita bahwa ketika dia akan marah-marah dan mendamprat dua pemuda itu tiba-tiba saja lima muridnya turun dari kuda masing-masing untuk menolong dua pemuda itu. Lim-hwa sendiri akhirnya berdiri dan menolong pemuda pertama, yang terkilir dan mengaduh-aduh karena tempurung lututnya bergeser. Dan ketika semua malah memperhatikan dua pemuda itu padahal biasanya murid-murid Hek-yan-pang "anti" lelaki maka Swi Cu terkejut dan terheran-heran.
"Bayangkan, mereka tiba-tiba bergairah dan satu sama lain mencoba bersikap manis kepada pemuda-pemuda itu. Lim-hwa sendiri bahkan minta maaf, padahal dialah yang diterjang! Dan ketika aku marah-marah dan membentak enam muridku itu ternyata mereka berlutut dan mintakan ampun untuk dua pemuda itu. Aneh, bukankah ini ganjil, koko?" Tapi karena dua pemuda itu kulihat sebagai pemuda baik-baik maka barulah aku tahu bahwa dua pemuda itu dikejar-kejar perampok yang hendak merampas buntalan mereka, hingga mereka melarikan kudanya dengan kencang dan terjadilah tabrakan itu! "Dan kau tidak menghukum mereka?" "Tentu saja tidak, bahkan aku menghajar tujuh perampok yang akhirnya sampai di tempat kejadian. Dan disitulah enam muridku menjalin persahabatan dengan dua pemuda itu dan mereka tampak gembira dan bersemangat sekali!" "Hm, kalau begitu suatu perubahan sedang terjadi," Beng Tan mulai memasuki persoalan, tersenyum.
"Apakah kau tidak marah kepada murid-muridmu ini, Cu-moi? Kau mendiamkan saja mereka itu dan tidak menegur?" "Mula-mula tentu saja tak senang, kutegur. Tapi, eh... teringat kita sendiri akhirnya aku jadi tak tega menghalangi mereka, koko. Dan kini ingin kutanya bagaimana pendapatmu karena diam-diam enam muridku itu membuat perjanjian, kencan!" "Hm!" Beng Tan terkejut, mulai bersikap serius. "Kalau begini maka tak boleh sembunyi-sembunyi, Cu-moi. Hubungan gelap antara murid Hek-yan-pang dengan lelaki diluar bisa menimbulkan bencana. Sebaiknya dua pemuda itu dipanggil masuk dan dijadikan murid Hek-yan-pang pula!" "Apa?" "Tenanglah, aku hendak sedikit bercerita padamu. Di perkumpulan kita memang mulai ada perobahan," dan ketika Beng Tan memeluk dan mencium isterinya itu maka pemuda ini bertanya, sebelum melancarkan pertanyaan-pertanyaan berat.
"Bagaimana pendapatmu tentang anak-anak murid kita? Salahkah jika kukatakan bahwa kita harus membahagiakan dan membuat mereka senang?" "Hm, senang dan bahagia bagaimana, koko? Aku tak jelas arah pembicaraanmu!" "Maksudku adalah bagaimana jika tanda-tanda yang kau lihat itu diarahkan pada tempat yang semestinya. Murid-murid Hek-yan-pang butuh lelaki. Maksudku, butuh teman lelaki sebagai sahabat atau apa yang mereka dambakan. Aku juga melihat bahwa anak-anak murid perempuan kita mulai bersikap aneh, Cu-moi. Bahwa mereka seakan iri atau "Cemburu" Kepadaku" Apa-apaan ini? Ah, kau bicara tak keruan, Koko. Aku jadi semakin tak mengerti!
"Sst, dengarlah, duduk baik-baik," dan memeluk serta meraih lengan isterinya Beng Tan segera bertanya lembut, "Kau tentu mencintaiku, bukan? Dan kau juga mencintai murid-murid Hek-yan-pang disini?" "Tentu saja!" "Nah, sejak aku disini dan kita berdua bermesraan maka banyak murid-murid yang mengintai, Cu-moi. Kau tak tahu bahwa banyak pasang mata memandangmu dengan iri dan penuh rasa ingin. Mereka juga ingin sepertimu, mereka juga ingin berkasih-kasihan dan bermesraan dengan pria pujaan mereka. Maka kalau kau melihat Lim-hwa atau lain-lainnya itu seperti tak bersemangat atau lemah maka sesungguhnya mereka itu sedang mendapat tekanan atau ganjalan batin yang menyesakkan napas. Mereka cemburu kepadamu, mereka juga mendambakan nikah dan suami!" "Maksudmu mereka ingin kawin?" "Sst, jangan keras-keras. Sudah dikodratkan oleh Sang Pencipta bahwa wanita tak dapat sendirian tanpa pria, Cu-moi, seperti halnya pria pun tak dapat sendirian tanpa wanita. Masing-masing sudah sewajarnya isi-mengisi, karena masing masing juga sebenarnya saling membutuhkan. Bukankah tak apa-apa kalau mereka menikah dan mendapatkan suami? Bukankah tak apa-apa kalau mereka mencari teman lelaki dan hidup berumah tangga? Aku juga sudah melihat seperti apa yang kau lihat itu, Cu-moi. Hanya aku masih ragu dan baru merasa yakin setelah kau bercerita tentang Lim-hwa dan teman-temannya itu!" Swi Cu tertegun.
"Lihat," Beng Tan meneruskan lagi. "Siapa tak ingin dan merasakan kebahagiaan seperti yang kau rasakan ini, Cu-moi? Siapa tak ingin dan mendambakan suami? Dengan pendamping mereka dapat merasakan hubungan rumah tangga. Dengan pendamping mereka dapat menikmati apa itu namanya madu cinta. Dan semua orang kukira butuh cinta, tak perduli wanita atau pria!" "Hm, jadi maksudmu bahwa anak-anak murid kita dinikahkan saja? Dicarikan lelaki dan berumah tangga?" "Bukan begitu. Aku tidak bermaksud menikahkan mereka..." "Tapi kau tadi bilang begitu!" sang isteri memotong. "Kau jelas menghendaki mereka mempunyai teman laki-laki, koko. Dan kau juga menyebut-nyebut tentang nikmatnya cinta!" "Betul, tapi aku atau kita disini hanya sebagai perantara saja, Cu-moi, bukan penentu atau pemutus nasib mereka. Mereka boleh menikah, berumah tangga. Tapi semua itu adalah atas pilihan mereka sendiri dan bukannya aku atau kau!" "Hm, jadi bagaimana? Kau hendak memasukkan laki-laki di perkumpulan kita ini? Kau hendak membaurkannya menjadi satu dan murid kita bebas melakukan apa saja?" "Hm, jangan bernada tinggi," Beng Tan tersenyum, tak cepat marah. "Aku tidak mengatakan begitu melainkan hendak berkata bahwa Hek-yan-pang menerima murid laki-laki. Aku dapat memilih pemuda-pemuda tampan yang cocok untuk menjadi murid. Aku tahu bahwa murid-murid disini tak boleh mendapatkan suami yang kepandaiannya di bawah isteri, apalagi kalau suaminya sama sekali tidak bisa silat! Sabar, aku tahu maksudmu, Cu-moi. Dan untuk itu tentu saja murid-murid lelaki tidak dicampur aduk dengan murid perempuan. Kita memiliki sebidang tanah kosong di luar telaga, dan kukira itu dapat kita jadikan tempat untuk menampung mereka. Bukankah murid-murid perempuan tetap sendiri dan murid-murid lelaki juga sendiri?" "Kau tentunya tak menghendaki terjalinnya hubungan gelap antara murid-murid Hek-yan-pang dengan laki-laki di luar. Lihat kejadian-kejadian yang lalu. Lihat berapa sudah anak-anak murid Hek-yan-pang yang terpaksa menerima hukuman karena berhubungan dengan lelaki secara diam-diam, gelap. Bukankah tak baik kalau hal itu terjadi disini padahal kita dapat mencarikan jalan keluarnya? Hek-yan-pang bukan seperti dulu lagi, moi-moi. Disini telah ada lelaki dan itu adalah aku! Hek-yan-pang sudah berobah!" Swi Cu terkejut. Akhirnya dia menjublak dan merah mukanya.
Suaminya segera bercerita bahwa gejolak yang disimpan diam-diam dapat menimbulkan bahaya tak diduga. Suaminya berkata bahwa kebahagiaan mereka disitu sudah membuat semacam cemburu atau iri hati di anak-anak murid yang lain. Mereka adalah wanita biasa, manusia biasa seperti halnya Swi Cu atau wanita-wanita lain yang masih memiliki gairah dan berahi.