Chapter 130
"Crat!" Lengan baju kakek itu tersayat. Wi Hong melakukan jurus paling berbahaya dan kakek itu berteriak karena nyaris kalah cepat.
Ia dikejar dan menerima serangan bertubi-tubi. Tadi ia memang agak memandang rendah lawannya. Namun, begitu ia mengibaskan tangan dan Wi Hong terpental mundur sambil memekik, sang nyonya sudah mendapatkan ejekan dari lawannya, Lam-ciat, yang kini menjadi girang.
"Ah, ha-ha! Kalau begitu, kau adalah janda si Golok Maut. Bagus, bagus... Mana anakmu? Suruh ia maju. Atau nanti kau kutangkap dan kutelanjangi di sini. Bukankah kau tentunya sudah gatal mendekati pria setelah belasan tahun ditinggal mati suamimu!"
"Kakek jahanam busuk!" Wi Hong melengking. "Selain sombong dan congkak, sikapmu ternyata mulutmu juga kotor seperti comberan, tua bangka. Siapa kau dan sebutkan namamu kalau jantan!"
"Ha-ha, aku akan menyebutkan namaku kalau puteramu datang. Mana dia dan kenapa tidak kelihatan? Apakah takut!" Si kakek mengelak dan mengibas lagi sebuah serangan, mementalkan pedang Wi Hong. Wanita itu marah oleh sikap lawan yang memandang rendah.
Ketika ia menyerang lagi dan tertangkis serta terdorong, Lam-ciat mengeluarkan Kim-kang. Wanita itu terkejut dan terbelalak melihat pedangnya ikut menjadi kuning keemasan seperti disepuh. "Kau... kau memiliki Tenaga Emas. Kau... kau Hantu Selatan!"
"Ha-ha, tajam dan awas pandangan!" si kakek kagum dan tertawa terbahak. "Kalau begitu tak perlu aku menyembunyikan diri lagi, Sin-hujin. Aku memang Lam-ciat."
"Aih, mampuslah kau!" Pedang kembali berdesing menusuk kakek itu. Wi Hong melakukan jurus Bianglala Menari Sebelas Kali, berputar dan meliuk cepat memecah pedang lawan ketika disampok terpental. Ia kaget dan sudah menduga akan tangkisan lawan; Kim-kang atau Tenaga Emas yang dipunyai kakek itu memang hebat sekali. Ketika pedangnya terpental, Wi Hong menggetarkannya menjadi sebelas tusukan ke arah titik kematian.
"Aih, ganas dan berbahaya!" si kakek terkejut berseru keras. Apa yang dilakukan lawan ini memang benar-benar luar biasa dan tentu saja tak mungkin ia menangkis sembarangan. Hujan tombak dan panah masih menyambar-nyambar dari segala penjuru. Cepat kakek itu meledakkan tangannya. Seberkas cahaya kuning meluncur dari telapaknya, mencuat dan menyambar ke segala penjuru, memukul mundur Wi Hong.
"Crang-crang-crangg!" Wi Hong terkejut dan berseru tertahan. Ia terpukul balik oleh cahaya kuning emas yang dilancarkan si kakek. Pedangnya mental dan ganti menyambar mukanya sendiri. Ketika nyonya itu melempar tubuh bergulingan, Lam-ciat berkelebat dengan Hoan-eng-sutnya dan menepuk pundak wanita itu.
"Nah, ini perkenalan dariku... plak!" Wi Hong mengeluh dan terlempar setombak. Ia baru saja meloncat bangun ketika bayangan kakek itu sudah berada dekat dengannya. Meski Wi Hong mencoba mengelak dan menangkis, lawan lebih cepat. Tepukan itu mengandung tenaga Kim-kang yang panas seperti terbakar, membuat Wi Hong terlempar, terguling-guling, dan sejenak tak mampu bangkit berdiri, disangka tewas.
"Hujin binasa. Keparat, kakek ini telah membunuhnya!"
"Ha-ha!" Lam-ciat tertawa dan berkelebat ke arah pasukan panah yang dianggap mengganggu. "Kalian pun robohlah, tikus-tikus busuk. Susul arwah hujin kalian ke neraka... plak-plak-plak!" Si kakek mengibas dan melempar barisan panah itu hingga mereka berteriak-teriak seperti jangkrik diterbangkan angin.
Namun, ketika kakek itu berkelebat ke barisan tombak, mendadak Wi Hong bangkit lagi dan menerjangnya. "Lam-ciat, jangan kira aku begitu mudah kaubunuh!"
Si kakek tertawa. "Weh, masih hidup? Bagus, sekarang akan betul-betul kubunuh. Atau, ah... nanti dulu. Biar kupertemukan kau dengan Chu-goanswe dan kutontonkan kepada banyak orang bagaimana kau, janda Si Golok Maut, bermain cinta secara telanjang... ha-ha, plak-plak-plak!"
Wi Hong yang pedangnya dipentalkan tidak jadi menerima serangan maut yang menuju kepalanya. Lam-ciat menjatuhkan pukulannya kembali ke pundak. Ketika nyonya itu terpelanting, Lam-ciat berseri-seri membayangkan permainan yang luar biasa untuk mempermalukan janda Si Golok Maut ini di depan pemberontak Chu Kiang. Ia berkelebat dan melepas tiga kali totokan. Wi Hong menangkis dan memaki-maki namun hanya dua totokan yang berhasil ditolak. Totokan ketiga, yang menuju ketiak atau samping buah dadanya, tak sempat dihindar. Ia mengaduh dan berteriak malu ketika kakek itu menyentuh bagian tubuhnya.
"Kau tentu menggiurkan. Ayo, roboh dan mana calon pasanganmu, Chu-goanswe itu!"
Tiba-tiba terdengar dengus dan bentakan dingin. Lam-ciat yang menggerakkan rambut gimbalnya untuk menotok si nyonya terkesiap kaget karena dari belakang tubuhnya menyambar sinar putih yang berhawa dingin. Seseorang muncul dan terdengar kesiur angin mengerikan yang menyambar kepalanya. Kakek ini tersentak karena hawa dingin itu membuat seluruh tubuhnya meremang seperti disambar setan.
"Aeehhhhh... crat-tess!" Rambut gimbal kakek itu terbabat habis. Lam-ciat berteriak bergulingan karena merasa kalah cepat. Ketika ia meloncat bangun, dilihatnya seorang pemuda berdiri tenang dengan caping di kepala. Dingin dan menyeramkan!
"Golok Maut!" kakek itu tertegun. Ia tahu ciri-ciri Si Golok Maut Sin Hauw persis pemuda ini, namun ia segera sadar bahwa Sin Hauw sudah tiada. Yang berdiri di depannya bukanlah Sin Hauw melainkan keturunannya. Orang-orang di sekitar bersorak menyebut nama Giam Liong. Wi Hong yang hampir roboh tertotok segera ditolong dan memeluk puteranya dengan wajah merah padam.
"Giam Liong, kakek itu jahanam keparat. Ia hampir mempermalukan ibumu. Bunuh dan cincang dia!"
"Ibu mundurlah," pemuda itu berkata pendek dengan sikap dingin tak berperasaan. "Kakek ini memang telah mengganggumu, Ibu. Tapi aku akan membunuhnya dan kucincang seperti perkedel!"
Lam-ciat mengkirik. Ia sudah beradu pandang dengan pemuda itu; sosok yang gagah dan tampan, namun sinar matanya sama sekali dingin dan tajam menusuk. Bocah itu melangkah menghampirinya. Kakek ini mundur karena pandangan mata pemuda itu seakan naga yang akan mencaploknya. Ia maklum bahwa pemuda di depannya memiliki sinkang luar biasa.
"Terkutuk!" kakek itu mengumpat. "Kau inikah kiranya bocah keturunan Si Golok Maut? Bagus dan kebetulan sekali. Heh-heh, aku memang mencarimu!"
"Aku tahu," jawab pemuda itu pendek. "Dan aku juga mencarimu, Lam-ciat. Aku ingin membunuhmu karena kau telah mengganggu ibuku. Bersiaplah, kau akan mati!"
Kakek itu tertawa terbahak. Akhirnya ia marah dan mengerahkan sinkangnya melawan pengaruh pandang mata yang dingin itu. Kakek itu sampai kaget karena bulu kuduknya meremang. Saat ia tertawa dengan aliran tenaga khikang, pengikut Chu Kiang tiba-tiba roboh menjerit dan menggelepar; suara tawa si kakek menggetarkan pepohonan hingga daun-daun rontok berhamburan.
"Ha-ha, hebat dan luar biasa kau, bocah. Boleh juga seranganmu tadi. Tapi kau tak dapat membunuhku, akulah yang akan merobohkan dan membunuhmu serta orang-orangnya Chu Kiang itu. Lihat!" Si kakek membentak lebih keras hingga pohon berderak dan roboh. Para pengikut Chu Kiang roboh dengan telinga berdarah akibat tenaga sakti yang keluar dari perut si kakek.
Namun, ketika terdengar suara pekikan keras dan Giam Liong membuka mulutnya, pemuda itu menindih suara tawa si kakek. Lam-ciat menjerit karena justru ia yang terpental oleh pekikan dahsyat si pemuda. "Aiihhhh....!"
Tawa si kakek seketika terhenti. Lam-ciat seakan dipukul palu godam tepat di dadanya. Dia mencoba bertahan namun terlempar dari tempat itu. Giam Liong telah membuat lawannya terpental. Lam-ciat mengeluh dan pucat bergulingan bangun dengan wajah dan lengan penuh debu.
"Keparat!" kakek itu melengking. "Kau hebat, bocah. Tapi sekarang aku menyerangmu dan lihat bagaimana aku merobohkanmu... wut!" Si kakek bergerak menghilang di balik Hoan-eng-sutnya, lalu tiba-tiba menghantam Giam Liong dari belakang.