Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 131

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 131

Kakek itu murka dan ia pun penasaran bukan main. Dua kali ia merasa terpukul; tadi oleh pandangan mata pemuda itu, dan sekarang oleh pekikannya yang menghancurkan tawanya.

Ketika kakek itu berkelebat dan sinar kuning emas meloncat di belakang Giam Liong, menghantam serta menyambar tengkuk pemuda itu, Giam Liong dengan cepat namun tenang berbalik. Hanya mendengar kesiur angin serangan tersebut, ia segera menangkis.

"Dukk!" Lam-ciat terpental.

Kakek itu meraung marah dan menyerang lagi. Ilmu Hoan-eng-sut dikerahkan dan tenaga Kim-kang pun dikeluarkan. Namun, ketika empat kali ia terlempar dan berjungkir balik oleh tangkisan si pemuda, tenaga yang amat kuat menolaknya kembali hingga kakek itu menjerit histeris.

"Keparat, kubunuh kau!" Kakek itu menerjang dan melepas pukulan bertubi-tubi sambil berteriak. Tiba-tiba saja bayangan kuning emas menyambar-nyambar. Giam Liong hanya menangkis. Pemuda itu membalik dan berputar, tapi semua serangan kakek itu berhasil dipentalkan. Lam-ciat melengking, kian naik darah dan kalap.

Ketika kakek itu beterbangan dan tubuhnya berpindah-pindah dengan cepat, bayangannya menjadi puluhan bahkan ratusan. Giam Liong seolah dikeroyok oleh seribu Lam-ciat yang berseliweran naik-turun. Namun, Giam Liong tetap pada posisinya. Pemuda ini mendengus, lalu terus memutar tubuh ke muka dan belakang, mengibas atau menampar, dan setiap kali pula bayangan kuning emas terlempar ke atas.

Ketika kakek itu melengking-lengking karena tak satu pun pukulannya membawa hasil, sementara tenaga Kim-kang miliknya selalu tertolak, ia menyemburkan mulutnya. Muncratlah benda cair kekuning-kuningan yang berbau busuk menyambar Giam Liong.

"Hm!" Giam Liong marah dan mencabut capingnya. Ia menggerakkan caping bambu itu, menciptakan kesiur angin dahsyat yang menyambar benda-benda cair—ludah kental si Hantu Selatan—tersebut. Terdengar bunyi tak-tik-tak saat ludah itu bertemu caping, tertolak dan terpental kembali hingga menghantam wajah kakek itu sendiri.

"Crat-crat!" Lam-ciat mencak-mencak. Ia gusar karena serangan air ludahnya gagal. Kakek itu kaget dan bingung menghadapi lawan dengan pertahanan sedemikian kuat. Namun, ketika ia melengking dan mengubah gaya serangannya, membentak serta meledakkan kedua tangannya, menyambarlah sinar kuning emas seperti naga tanpa kepala.

"Bocah she Sin, kau tak dapat mengalahkan aku!"

Giam Liong mengerutkan kening. Serangan kakek itu berubah karena Lam-ciat mulai menjaga jarak. Begitu cahaya kuning emas yang menyerupai naga itu menyambar, mendesis, dan ditangkis, naga itu muncrat menjadi puluhan bagian yang menyambar dari segala arah.

"Ha-ha, kau akan tahu rasa, bocah. Lihat dan saksikan nagaku memburumu... ssh-sshhh!" Naga itu mendesis lagi. Giam Liong mengebutkan caping bambunya, namun sekarang naga itu mampu menyelinap masuk. Giam Liong terkejut karena pundak kirinya sudah terpagut cahaya tembus pandang tersebut.

Saat pemuda ini mendesis karena patukan itu membuat pundaknya terbakar, panas, dan menghitam, ia berkelebat menuju lawannya. Sinar putih berkeredep melesat dari punggungnya.

"Lam-ciat, kau pun tak dapat mengalahkan aku!"

Kakek itu terkejut. Giam Liong telah berkelebat ke arahnya. Semua serangan naga bertemu dengan cahaya putih yang menyilaukan mata. Sinar itu dingin, dan dalam sekejap, semua naga itu berantakan, pecah, dan hancur dibabat oleh cahaya putih tersebut.

Saat cahaya itu masih terus meluncur dan kakek itu terpekik, Giam Liong sudah berada di dekatnya. Tanpa ampun, cahaya itu terus menyambar dan memancung.

"Brett!" Lam-ciat menjerit panjang. Kakek itu lenyap menggunakan Hoan-eng-sut, namun cahaya putih itu terus mengejarnya. Giam Liong tahu ke mana lawannya lari meskipun si kakek terus mengubah posisi. Ketika sinar putih menyambar pundak lawannya—itulah Giam-to atau Golok Penghisap Darah—Lam-ciat terpekik karena pundak dan pangkal lengannya terluka.

"Cret-crat!" Kakek itu bergulingan. Ia menjerit karena daging tubuhnya terkuak; darah mengucur namun tiba-tiba kering dihisap golok di tangan pemuda itu. Sekarang si Hantu Selatan menyadari bahwa golok di tangan lawannya sangat luar biasa tajam, golok berhawa dingin yang tadi membabat rambut gimbalnya.

Ketika kakek itu bergulingan dan Giam Liong terus mengejar, Lam-ciat terpekik ngeri lalu meledakkan tangannya untuk lenyap dengan Hoan-eng-sut. Namun, bayangan si kakek berhasil ditangkap oleh Giam Liong. Pemuda ini sudah marah dan kini membalas. Tiada ampun bagi lawannya; golok di tangannya terus menyambar. Ketika Wi Hong bersorak gembira melihat putranya menghajar si Hantu Selatan hingga tunggang-langgang, Lam-ciat menjadi pucat.

"Sin Giam Liong, kau curang dan pengecut mengandalkan senjata bapakmu! Kau tak tahu malu menyerang orang yang bertangan kosong!"

"Hm, apa maumu?" Giam Liong mengejek. "Apakah kau minta aku menyimpan senjataku ini dan menghajarmu dengan tangan kosong pula?"

"Boleh!" si kakek merasa ngeri. "Kalau kau jantan, simpan senjatamu, bocah! Hadapi aku dengan tangan kosong. Kau tak akan memperoleh kemenangan secara ksatria!"

"Si mulut busuk!" Wi Hong membentak. "Tak perlu kauhiraukan kata-kata lawanmu itu, Liong-ji. Hajar dan bunuh dia! Cincang dengan Golok Penghisap Darah itu!"

"Aku tak mau curang," Giam Liong menggeleng dan menolak seruan ibunya. "Kalau musuhku ini ingin mati dengan tanganku, aku pun dapat melakukannya, Ibu. Lihatlah, biar kusimpan golokku."

"Dess!" Sinar putih lenyap, digantikan sebuah pukulan sinkang yang tiba-tiba membuat Lam-ciat terjengkang dan terguling-guling. Kakek itu sempat lega karena golok tersebut telah kembali ke balik punggung lawannya, namun tiba-tiba ia lengah oleh pukulan jarak jauh. Pemuda itu menggerakkan tangan kirinya, dan kakek itu terlempar oleh pukulan kilat.

Saat ia berteriak dan meloncat bangun, Giam Liong sudah melepas serangan lain yang menyambarkan angin kuat, mengibas, dan mendorong. Kakek itu benar-benar kewalahan. Ia menangkis, tapi selalu terlempar. Ketika satu pukulan kilat kembali menghantam dan ia membentak mengerahkan tenaga Kim-kang, pukulan emasnya bertemu cahaya putih yang meledak bagai petir.

"Dar!" Kakek itu terpelanting. Ia terbelalak memaki, sementara Wi Hong tertawa terkekeh-kekeh. Giam Liong menggunakan Pek-lui-ciang hingga si kakek berjingkrak-jingkrak. Kakek itu terdesak hebat dan mulai percaya bahwa keturunan Si Golok Maut ini memang luar biasa. Pantas saja Kedok Hitam tak mampu menandinginya. Pucatlah kakek itu membayangkan nasibnya; ia harus melarikan diri dengan Hoan-eng-sut.

Namun, ketika kakek itu bersiap menyelamatkan diri, terdengarlah tawa sayup-sayup.

"Ha-ha, bagaimana, Lam-ciat? Kau masih dapat bersombong untuk mengalahkan pemuda itu? Dia memang hebat, dan aku pun tak sanggup menandinginya. Kau harus mencari akal kalau ingin menang!"

"Kedok Hitam!" kakek itu berseru girang, lupa akan tekanan lawan yang terus memburunya. "Ke sini kau, manusia busuk! Bantu dan hajar pemuda ini!"

Giam Liong terkejut. Ia tidak melihat siapa-siapa, dan desakannya kepada si kakek otomatis berkurang. Nama itu membuat darahnya mendidih dan matanya berkilat menakutkan. Giam Liong tidak tahu bahwa Lam-ciat sedang mendengarkan tawa temannya yang menggunakan Coan-bit, ilmu mengirim suara dari jauh.

Saat pemuda itu waspada namun kembali menyerang, Lam-ciat terpelanting ketika menangkis. Tawa dan suara Kedok Hitam kembali terdengar di telinga kakek itu.

"Lam-ciat, jangan sombong kalau ingin selamat. Baiklah, kau tak akan menang menghadapi tekanan lawanmu. Aku akan datang dan mengganggu ibunya, tapi hadapi dan pertahankan dulu pemuda itu. Jangan sampai ia ke sini!"

Ketika bayangan hitam tiba-tiba berkelebat dan menyambar Wi Hong yang sedang terkekeh, Giam Liong terkejut mendengar jeritan ibunya.

"Aiihhhh...!"

Konsentrasi pemuda itu buyar. Kedok Hitam muncul dan menotok ibunya hingga roboh. Saat Lam-ciat tertawa bergelak dan Kedok Hitam mengayunkan lengannya hingga puluhan hui-to berhamburan ke arah Giam Liong, laki-laki itu melarikan diri.

"KEPARAT!" Giam Liong membentak dan menampar semua hui-to itu hingga patah. "Lepaskan ibuku, Kedok Hitam! Atau kau kubunuh!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment