Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 133

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 133

"Jangan!"

"Hm, kau tak menerimaku baik-baik, Wi Hong. Dan aku terlanjur jatuh cinta kepadamu. Diamlah, aku akan memberikan sesuatu yang nikmat dan kau akan kubawa ke surga!"

"Tidak... tidak!" Wi Hong menjerit saat melihat laki-laki itu mulai menurunkan celananya. "Kau binatang keparat, Kedok Hitam! Jangan lakukan itu. Bunuh saja aku!"

"Hm, wanita secantik dan semenggairahkan kau, sayang kalau dibunuh, Wi Hong. Aku akan membunuhmu setelah aku menikmatimu. Atau, maukah kau bersedia menjadi isteriku?"

Wi Hong menangis. Laki-laki itu telah menindih tubuhnya, bersiap melakukan perbuatan yang akan menjadi aib seumur hidup. Wi Hong tersentak ketika sesuatu yang menjijikkan menyentuh tubuhnya. Kedok Hitam tampak bernafsu, sementara wanita itu sudah kehabisan daya. Namun, teringat kata-kata lawan bahwa ia tak akan dipaksa jika mau menerima dengan baik, wanita ini merintih dan memohon dengan air mata bercucuran.

"Kedok Hitam, jangan teruskan perbuatanmu. Aku... aku menerima permintaanmu..."

Laki-laki itu tertegun, mata yang beringas tiba-tiba meredup. "Maksudmu?"

"Aku... aku mau menjadi isterimu, Kedok Hitam. Tapi jangan kaupaksakan kehendakmu. Lepaskan aku dan jangan tindih tubuhku!"

"Ah, kau mau menjadi isteriku? Mau membujuk putramu agar tidak memusuhi aku?"

"Aku mau menjadi isterimu, Kedok Hitam, tapi membujuk putraku tidak dapat kulakukan. Giam Liong seperti ayahnya, keras dan teguh pendirian!"

"Kalau begitu, percuma kau terima. Aku menghendaki putramu itu tunduk dan menyerah!"

"Lepaskan aku dulu, jangan tindih aku. Aku tak dapat bernapas!"

"Hm!" Laki-laki itu mengangkat tubuhnya. Wi Hong memejamkan mata, merasa ngeri melihat sesuatu yang membuatnya ingin muntah.

"Aku tak mau kau tipu, Wi Hong. Menundukkan dirimu harus juga menundukkan putramu itu. Ia pemuda berbahaya yang melebihi bapaknya!"

"Aku... aku tak dapat membujuknya, anakku itu amat keras dan berhati kaku!"

"Kalau begitu percuma kau menerima aku. Lebih baik kuperkosa dan setelah itu kau kupermainkan dengan prajurit-prajurit rendahan!"

"Oh, tidak... tidak, Kedok Hitam. Jangan! Aku... aku akan coba membujuk anakku itu. Lepaskan aku dan jangan seperti ini!"

Wi Hong terkejut dan meronta-ronta saat lawan tiba-tiba menerkam tubuhnya kembali. Ia hampir pingsan mendapat perlakuan seperti itu. Kedok Hitam sungguh keji! Ketika laki-laki itu tertawa sambil melepaskan dirinya, Wi Hong kembali memejamkan mata, tak berani melihat tubuh lawannya.

"Wi Hong, aku dapat melakukan apa saja yang aku suka. Kau tak usah mengulur-ulur waktu. Katakan, apakah kau mau menjadi isteriku dan membujuk anakmu itu, atau kau kupermainkan di sini dan tetap menerima perlakuan kasar!"

"Kau binatang terkutuk, manusia rendah!" Wi Hong mengguguk dengan air mata bercucuran. "Kau selalu memaksakan kehendakmu, Kedok Hitam. Kau persis orang keparat itu. Semua laki-laki sama!"

"Hm, tak perlu mencaci. Aku tak mau membuang waktuku lagi. Katakan apakah kau dapat menerima permintaanku atau tidak. Kau dan putramu itu harus membuang permusuhan ini!"

Wi Hong tersedu-sedu. Ia bingung dan gugup karena permintaan lawan amatlah berat. Suaminya sudah dibunuh dan dicincang oleh laki-laki ini, mana mungkin ia harus tunduk dan menyerah? Seumur hidup tentu ia tak sudi! Apa yang ia katakan tadi hanyalah siasat untuk mengulur waktu, berharap putranya dapat segera menyusul. Wi Hong yakin Giam Liong tak akan membiarkannya begitu saja. Ia merasa tertekan karena harus membujuk putranya, hal yang mustahil dilakukan. Ia lebih baik mati daripada mengalami kehinaan.

Ketika ia ragu-ragu dan mata Kedok Hitam menyala ganas, nafsu itu timbul kembali. Wi Hong buru-buru berseru.

"Tunggu... tunggu dulu, Kedok Hitam. Aku memenuhi permintaanmu!"

"Ha-ha, kau sanggup membujuk anakmu itu?"

"Ya."

"Kalau gagal?"

"Aku... aku tak akan gagal, Kedok Hitam. Aku pasti berhasil!"

"Kalau ternyata tidak?"

Wi Hong tertegun. "Hm, jangan main-main, Wi Hong. Jangan berpura-pura. Aku merasa tak sepenuhnya kau berjanji. Sinar matamu tampak licik!"

"Keparat!" Wi Hong menjadi marah. "Kalau begitu kau bunuh saja aku, Kedok Hitam, tak usah bicara lagi!"

"Tentu, kalau kau menipu aku. Tapi sekarang biarlah kuanggap kau benar-benar berjanji. Hm, jadi benar kau mau menjadi isteriku? Kau tidak menolak cintaku?"

Wanita itu menggigit bibir, dadanya sesak oleh amarah yang tertahan. Saat ia mengangguk dengan air mata yang tak kuasa dibendung, ia berkata lemah, "Aku menerima cintamu, tapi kau tak boleh menggangguku sekarang...!"

"Bagus, kalau begitu sebagai tanda cinta, cium dulu aku, Wi Hong. Buktikan kata-katamu bahwa kau tak bohong!"

"Apa?"

"Eh, kenapa melotot? Kita calon suami-isteri, Wi Hong. Bukan hal aneh jika calon isteri mencium calon suaminya. Ayo, lakukan itu atau nanti aku tak percaya!"

Wi Hong mengeluh. Ia benar-benar sakit hati, namun bayangan ancaman lebih mengerikan. Ia mencium Kedok Hitam dengan terpaksa. Laki-laki itu tertawa dan meminta lagi. Ketika Wi Hong meledak marah, laki-laki itu justru memaksanya.

"Kedok Hitam, kau laki-laki tak tahu malu! Bukankah aku sudah melaksanakan permintaanmu? Jangan menghina, atau aku menarik janjiku!"

"Hm, ciumanmu tidaklah mesra, sekadar menempel. Masa begitu ciuman seorang isteri kepada suaminya? Aku minta yang lebih hangat, Wi Hong, yang mesra. Nah, cium lagi dan ikutilah dengan perasaan sayang!"

Wi Hong menangis. Ia terpaksa mencium lagi, namun laki-laki itu tiba-tiba menyambar tubuhnya. Ketika Kedok Hitam balik menciumnya dengan penuh nafsu, Wi Hong mengingatkan bahwa ia tak boleh diganggu dulu.

"Kenapa? Bukankah kau sudah menjadi calon isteriku?"

"Masih calon, Kedok Hitam, belum isteri sungguhan. Aku tak mau kau sentuh kalau kita belum resmi!"

"Ha-ha, itu sudah kupikirkan. Kita dapat meresmikannya sekarang juga dan kau tak boleh menolak!"

"Maksudmu?"

"Kita berlutut dan sembahyang di sini. Lihat, aku sudah membawa hio dan bumi langit sebagai saksinya!"

Wi Hong tertegun melihat laki-laki itu mengeluarkan sebungkus hio. Ia heran bagaimana iblis seperti ini masih ingat Tuhan. Kedok Hitam menyalakan hio dan menancapkannya di atas tanah.

"Mari..." laki-laki itu tertawa, "sekarang juga kita resmikan, Hong-moi. Bumi dan langit akan menjadi saksi. Setelah itu tentu kau tak akan menolak lagi jika kusentuh."

Wi Hong meratap. Ia benar-benar dipojokkan dan kehilangan akal. Ketika ia menangis putus asa, ia berteriak, "Kedok Hitam, aku tak sudi kau sentuh. Mati atau hidup aku tetaplah milik suamiku. Pergilah kau ke neraka atau lemparkan aku ke akhirat!"

"Eh," Kedok Hitam terkejut. "Kau menolak, Wi Hong? Kau melanggar janjimu?"

"Pergilah ke neraka, aku tak sudi menjadi isterimu atau apa pun juga. Kau bunuhlah aku dan biarkan aku bertemu suamiku di alam baka!"

"Ha-ha, sudah kuduga!" Kedok Hitam meloncat dan meniup padam dupa-dupanya. "Aku tahu bahwa kau berpura-pura saja. Dan aku justru akan membalasmu dengan siksaan lebih hebat. Baik, kau tak mau menerima dan akupun tak akan meminta. Sekarang berlaku hukum rimba, siapa kuat dialah yang menang!"

Laki-laki itu mencengkeram dan menyambar korbannya. Dengan gerakan cepat, Wi Hong tiba-tiba sudah telanjang bulat di depannya. Kedok Hitam melampiaskan amarah, menerkam dan membanting tubuh Wi Hong, lalu menindihnya. Saat Kedok Hitam terbahak-bahak dengan suara yang mengerikan, ia membungkam mulut wanita itu dan memaksanya bergumul. Wi Hong meronta, namun sebuah totokan membuatnya tak berdaya.

Kedok Hitam mendengus buas seperti hewan kelaparan. Wi Hong merasakan tubuhnya terguncang hebat, dunia seakan gelap. Namun, ketika laki-laki itu menciumi secara kasar, tiba-tiba berkelebat dua bayangan dan Swi Cu serta Beng Tan muncul.

"Ongya, perilakumu seperti hewan!"

"Kedok Hitam, tingkah lakumu sungguh tak patut sekali!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment