Chapter 134
Ia sedang terbakar nafsunya sendiri ketika tiba-tiba suami istri itu muncul. Swi Cu membentak dan mendahului suaminya melayangkan sebuah pukulan.
Ketika tengkuk laki-laki itu terkena pukulan, Kedok Hitam berteriak kaget. Laki-laki itu menyambar pakaiannya, lalu berguling dan meloncat bangun dengan wajah berubah pucat setelah mengenakan pakaiannya.
"Ju-hujin, kau curang!"
"Keparat!" Swi Cu marah dan menerjang lagi.
"Kaulah yang curang, Kedok Hitam. Kau tak malu memperkosa wanita di tengah siang bolong. Ah, terkutuk dan keji sekali perbuatanmu!" Sang nyonya terus menyerang dengan marah, membuat Kedok Hitam sibuk menangkis dan mengelak ke sana kemari. Ia merasa gugup dan terpelanting karena tidak menduga kedatangan suami istri itu.
Beng Tan telah berkelebat menolong Wi Hong. Wanita itu terisak saat totokannya dibebaskan. Wi Hong segera meloncat, mencabut pedang, dan menyerang si jahanam yang hampir merenggut kehormatannya itu. Ia lupa bahwa dirinya masih telanjang bulat.
"Kedok Hitam, kau benar-benar binatang jalang. Ah, kubunuh kau. Kuhisap kering darahmu nanti... sing!"
Kedok Hitam terkejut. Ia mengelak dan menangkis serangan Wi Hong yang terus mendesak. Swi Cu tersipu merah melihat keadaan sucinya itu. Wi Hong terlampau marah hingga lupa pada diri sendiri. Melihat sucinya menyerang dalam keadaan tanpa busana, Swi Cu berteriak agar Wi Hong mengenakan pakaiannya terlebih dahulu.
"Suci, jangan seperti itu. Kau belum berpakaian!"
Wi Hong terkejut dan menjerit ketika sadar bahwa ia masih telanjang bulat. Ia segera menyambar pakaiannya yang berserakan, lalu dengan tergesa-gesa mengenakannya. Sesaat kemudian, ia muncul kembali dengan mata menyala bagai harimau betina haus darah.
"Kusedot sumsummu nanti. Ah, kucincang tubuhmu seperti perkedel!"
Kedok Hitam tertegun. Meski dikeroyok dua wanita, ia dengan mudah menghalau dan menyelamatkan diri. Ketika dua lawannya terpental dan Wi Hong berulang kali memekik penasaran, Kedok Hitam menyadari keberadaan Beng Tan, si jago pedang.
"Wi Hong, kau beruntung. Tapi aku tak ada nafsu lagi untuk bertanding melawan kalian. Biarlah aku pergi dan lain kali kita jumpa lagi. Terima kasih untuk semuanya tadi, dan aku yakin kau akan rindu mencari aku, ha-ha!" Laki-laki itu menampar dua batang pedang yang menyambar dari kiri dan kanan, mementalkannya hingga kedua wanita itu terpental mundur.
Ketika laki-laki itu membalik dan hendak pergi, ia melihat Beng Tan berjaga di sana. Karena tak ingin bertanding, ia pun lari. Namun, Beng Tan mendengus pendek. Pendekar itu membentak, berkelebat, dan tahu-tahu sudah mencegat lawannya.
Kedok Hitam terkejut melihat ketua Hek-yan-pang itu berdiri di depannya dengan wajah merah padam. Beng Tan berseru agar lawannya mempertanggungjawabkan ucapannya.
"Bagaimana kau membawa-bawa pasukan segala? Mana janjimu bahwa kau akan bertempur secara ksatria?"
"Eh!" Kedok Hitam tersentak. "Apa yang kau maksud, Ju Taihiap? Omongan apa yang harus kupertanggungjawabkan?"
"Hm," Beng Tan bertolak pinggang dengan mata berapi-api. "Kau berjanji untuk datang sendiri tanpa membawa teman. Tapi nyatanya kau ke sini membawa pasukan. Mana janjimu untuk bertanding dengan Giam Liong satu lawan satu?"
"Ha-ha...!" Laki-laki itu tertawa keras sambil menunjuk Beng Tan. "Kau salah tangkap, Beng Tan. Aku tidak melanggar janji karena janji itu baru berlaku pada hari ketiga, bukan sekarang!"
Beng Tan tertegun. "Kau ingat perjanjiannya, bukan?" lanjut laki-laki itu. "Nah, ingat itu dan jangan salahkan aku jika aku datang membawa pasukan. Minggir, sekarang tentu kau tahu!"
Beng Tan sempat didorong. Pendekar itu ingin menahan, namun tiba-tiba ia teringat. Benar, perjanjian adu kepandaian itu barulah pada hari ketiga. Karena menyadari kekeliruannya, Beng Tan mundur dan membiarkan lawan lewat dengan cepat.
"He!" Wi Hong yang tak tahan berteriak marah sambil mengejar. "Jangan lari, Kedok Hitam! Kau dan aku masih punya urusan. Kita selesaikan dulu!"
Sang nyonya berjungkir balik melewati Beng Tan, marah karena pendekar itu membiarkan lawan lari. Ketika ia turun, Wi Hong memanfaatkan kelengahan Kedok Hitam dan segera menusuknya dengan pedang.
"Plak!"
Namun, laki-laki itu terlalu lihai bagi Wi Hong. Pedang itu ditangkis dan terpental, membuat Wi Hong terpekik dan melempar kepala ke belakang. Ia harus menyelamatkan diri dari tolakan Kedok Hitam. Ketika lawannya melarikan diri hingga tiba di mulut hutan, Wi Hong membentak dan mengejar kembali dengan nekat.
"Kedok Hitam, tunggu! Kau atau aku yang mati!"
Beng Tan mengerutkan kening. Ia melihat Wi Hong terus mengejar, sementara Kedok Hitam berbalik dan melepas jarum-jarum halus. Saat Wi Hong menangkis, sebatang jarum menancap di dada kiri wanita itu.
"Ha-ha, selamat menikmati mimpi indah, Wi Hong. Tidak dengan aku, boleh juga dengan laki-laki lain!"
Wi Hong terhuyung. Pedangnya terlepas karena dada kirinya terasa gatal dan panas menggigit. Beng Tan segera berkelebat dan mengusap dada kiri wanita itu. Ketika Wi Hong berteriak dan roboh terguling, Beng Tan sudah berdiri dengan sebatang jarum terjepit di antara telunjuk dan jari tengahnya.
"Keparat, Kedok Hitam sungguh keji!" Swi Cu berkelebat menghampiri, namun ia terbelalak melihat suaminya tadi mengusap buah dada Wi Hong.
Begitu suaminya menjepit jarum itu dan bertanya apakah ia mengenalinya, Swi Cu menggeleng.
"Ini jarum pemabuk, berlubang dan diisi hawa birahi. Coba kau cium dan rasakan apa yang terjadi!"
Swi Cu menciumnya. Tiba-tiba ia merasa pusing dan mabuk. Keharuman aneh merangsang birahinya hingga ia merasa terbakar dan ingin memeluk suaminya. Saat Swi Cu terhuyung mendekapnya, Beng Tan mengelak dan menotok belakang telinga istrinya.
"Sadarlah, kau terpengaruh jarum pembius, Niocu. Buang napas tiga kali dan tarik kuat-kuat udara bersih!"
Swi Cu menerima tepukan totokan untuk memunahkan hawa merangsang tersebut. Ketika Swi Cu mulai sadar, Wi Hong justru terkekeh dan mendekati Beng Tan dengan langkah sempoyongan.
"Aduh, kau tampan dan gagah sekali, Beng Tan. Ah, kau mengingatkan suamiku. Kemarilah, aku ingin bercumbu!"
Swi Cu terkejut. Sekarang ia paham bahwa suaminya tadi bukan hendak melecehkan, melainkan mencabut jarum birahi dari tubuh sucinya. Ketika Wi Hong terus merayu, Beng Tan menepuk tengkuk wanita itu.
"Wi Hong, kau terkena jarum birahi. Buang napas tiga kali dan tarik kuat-kuat udara bersih!"
Wi Hong terhuyung. Saat ditampar, ia tersedak dan otomatis membuang napas. Ketika ia menarik napas kuat-kuat, hawa birahinya lenyap. Wi Hong tertegun memegangi kepalanya dengan bingung.
"Apa... apa yang terjadi? Kenapa dengan aku tadi?"
"Kau diserang jarum birahi oleh Kedok Hitam," jelas Swi Cu. "Tapi kau selamat dan aku lega kau terbebas dari ancamannya!"
"Keparat, jarum birahi! Ah, pantas. Kedok Hitam sungguh kurang ajar!" Teringat bahwa mereka sedang bermusuhan, wanita itu mengibaskan tangannya dan pergi sambil menangis. "Swi Cu, aku berutang kebaikan kepadamu. Biarlah lain kali aku balas, tapi tak usah kita bertemu!"
Beng Tan mendekati istrinya. "Tak usah kecewa akan sikapnya, Niocu. Lebih baik begitu daripada kita berkelahi. Mari, ke mana kita pergi dan apa yang sekarang hendak kita lakukan?"
"Aku... aku ingin menghajar Kedok Hitam. Sungguh keparat pangeran jahanam itu. Ia berwatak rendah dan benar-benar kotor!"
"Tak usah menyebut-nyebut kedudukannya," tegur sang suami dengan kening berkerut. "Kalau ia terjun di dunia persilatan, maka ia adalah Kedok Hitam, bukan orang lain. Baiklah, kita kejar dia, tapi apakah tak sebaiknya kita melihat nasib pasukan kerajaan?"
"Cih, untuk apa melihat mereka? Giam Liong sedang membantai mereka, suamiku. Biarkan saja mereka mampus. Kalau takut tentu mundur, tapi kalau mencari mati, biarkan saja mereka menghadapi Giam Liong."