Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 135

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 135

"Aku tak mau bertemu Suci!"

"Hm, begitukah? Baiklah, mari ke istana. Aku hendak menegur Si Kedok Hitamku. Ia licik dan sungguh culas sekali."

"Aku pun ingin memaki-makinya. Tak pantas bagi seorang pangeran melakukan perbuatan sekeji itu!"

"Sudahlah... sudahlah. Tak usah menyebut-nyebut kedudukannya dan mari kita pergi!"

Begitu Beng Tan berkelebat menyentak lengan istrinya yang muram dan tak senang, di hutan itu terjadi sesuatu yang bakal membuat suami istri ini kecewa berat. Waktu itu, Giam Liong benar-benar beringas mengamuk dan membuka jalan darah, membabat pasukan kerajaan. Dia marah sekali karena mati satu tumbuh sepuluh, roboh sepuluh maju seratus! Ketika hutan itu penuh oleh jerit dan bentakan manusia, pasukan kerajaan mengepung dan menghalang-halangi Giam Liong. Pemuda yang seharusnya sudah dapat mengejar Si Kedok Hitam itu menjadi terganggu karena ia tak dibiarkan keluar atau menerobos begitu saja.

Para perwira atau panglima kerajaan berseru berulang-ulang agar menahan amukan pemuda itu. Panah dan tombak atau apa saja diluncurkan ke arahnya. Namun, karena Giam Liong memutar goloknya, semuanya patah saat bertemu golok di tangan pemuda itu. Senjatanya berkelebat menyambar ke kanan dan kiri, membuat orang-orang berteriak saat terkena sabetan. Setiap darah yang memuncrat langsung kering; golok itu menjadi semakin berkilau setelah "dijamas" darah pasukan kerajaan. Sudah tiga ratus lebih orang terbunuh oleh Giam Liong hingga akhirnya mereka gentar. Baju besi yang mereka kenakan tetap tembus dan robek. Golok terus menyambar, dan mereka berteriak ketika dada atau kepala mereka terpisah.

Ketika sorak-sorai terdengar dari belakang, orang-orang Chu-goanswe muncul dan menerjang untuk membantu pemuda ini. Pasukan kerajaan pun kalut dan kacau. "Serbu, bunuh mereka! Bantu Sin-siauw Hiap!" Para pemberontak atau pejuang berhamburan dari kiri dan kanan. Mereka tadi menunggu aba-aba, dan kini Chu-goanswe muncul dengan gendewa di tangannya. Panah-panah besar mendesing berat dan menyambar. Ketika tubuh-tubuh terpelanting oleh panah sang jenderal yang menembus dan langsung membinasakan lawan, pengikut Chu-goanswe bersorak-sorai menerjang ganas.

Pasukan kerajaan terkejut dan pucat. Menghadapi keturunan Si Golok Maut saja mereka sudah kalang kabut, apalagi kini ditambah serangan pasukan pemberontak. Mereka ngeri melihat tandang yang amat menggiriskan. Kaum pemberontak itu rata-rata adalah ahli silat dunia kang-ouw, bahkan baju besi yang dipakai pasukan kerajaan pun ada yang pecah.

"Crat-bluk!" Panah Chu-goanswe menembus dan merobohkan seorang lagi. Baju besi itu tak tahan menghadapi sambaran anak panah yang amat kuat. Tenaga Chu-goanswe yang besar dan bidikannya yang tepat membuat lawannya terguling, roboh, dan tewas dengan jantung tertikam. Anak panah itu masih sempat bergoyang-goyang sebelum akhirnya diam setelah prajurit itu tak bergerak lagi. Satu demi satu anak panah Chu-goanswe mengenai telak. Jenderal itu sungguh seorang ahli panah ulung, membuat pasukan kerajaan cerai-berai dan berantakan.

"Mundur... mundur, semua menjauh!"

Namun, hal ini justru membuat para pejuang semakin berkobar semangat tempurnya. Mereka semakin beringas mengejar lawan yang mundur, membacok hingga banyak lagi yang roboh. Meskipun orang-orang itu kalut, kepungan terhadap Giam Liong tetap dipertahankan. Giam Liong menggeram dan menyerbu tanpa menangkis senjata lawan. Ia membiarkan panah atau tombak runtuh saat mengenai tubuhnya yang kebal dan dipenuhi tenaga sakti.

"Hayo, kalian maju dan kubunuh satu demi satu! Lindungi Si Kedok Hitam itu dan kalian akan menjadi pengiringnya di neraka!"

Pasukan itu kewalahan. Mereka mundur terus, namun kepungan lebar tetap terjaga. Para panglima berseru berulang-ulang agar tidak membiarkan pemuda itu menerobos, yang membuat Giam Liong semakin marah. Ketika seratus tubuh kembali malang melintang dan Golok Penghisap Darah berkilauan terang, Giam Liong berkelebat ke arah dua panglima yang paling getol memberi aba-aba.

"Kalian sumber penyakit paling busuk! Sekarang terima kematian kalian dan coba kulihat apakah mulut kalian masih dapat berteriak lagi!"

Dua panglima itu terkejut. Giam Liong berkelebat sangat cepat seperti siluman. Bayangannya tidak tampak, hanya sinar putih golok mautnya yang terlihat. Meskipun mereka mencoba menghindar, Giam Liong lebih cepat. Terdengar jerit tertahan ketika dua kepala mencelat dari tubuh mereka. "Crat!" Darah menyembur dan dua panglima itu pun roboh. Golok maut di tangan Giam Liong semakin bercahaya, semakin terang setiap kali mendapatkan korbannya. Sungguh menakjubkan sekaligus mengerikan!

Giam Liong bergerak menerjang ke kiri. Pasukan kalut melihat tewasnya pimpinan mereka. Di sana, pemuda itu merobohkan lagi tujuh orang terdekat hingga kepungan buyar. Jalan mulai terbuka. Giam Liong mendorong dengan tangan kirinya; angin pukulan menyambar ke depan dan membuat dua puluh orang terlempar sambil menjerit.

"Awas... awas... jangan sampai dia lolos! Jangan biarkan ia mengejar Kedok Hitam!" teriak seorang perwira lain yang pucat dari kejauhan. Giam Liong mendengus dan melempar sebuah hui-to kecil. Golok terbang ini mengenai sang perwira yang langsung terguling dan menjerit. Satu lagi pimpinan dibinasakan.

"Mari, kalian boleh mengepungku lagi! Darah kalian akan kering kuhisap!"

Orang-orang pun gentar. Mereka mundur dan Giam Liong tidak lagi mendapatkan lawan. Panah dan tombak yang mengenai tubuhnya rontok begitu saja. Pemuda ini benar-benar menggiriskan. Saat Giam Liong sudah keluar dari kepungan dengan ratusan tubuh malang melintang, mendadak terdengar jeritan Chu-goanswe dan anak buahnya.

"Hei, siapa pemuda ini, Siauw-hiap? Lihat, ia merobohkan anak buahku!"

Giam Liong terkejut. Ia baru saja hendak mengejar Si Kedok Hitam yang menawan ibunya ketika terdengar suara perkelahian dari belakang. Ia membalikkan badan dan melihat sesosok bayangan putih menyambar-nyambar seperti burung garuda yang mengibaskan sayapnya. Ketika para pejuang terpelanting dan panah Chu-goanswe runtuh dipukul bayangan putih itu, sosok tersebut berseru agar Giam Liong berhenti.

"Hei, Sobat di depan! Berhenti dan jangan pergi dulu. Tunggu aku!"

Giam Liong berhenti. Ia terkejut dan mengerutkan kening melihat sepak terjang bayangan putih ini. Matanya yang tajam melihat bahwa bayangan itu adalah seorang pemuda berpakaian putih yang gagah dan tampan. Gerakannya luar biasa cepat. Ketika semua orang mundur dan menyibak, bayangan itu berkelebat menghampiri Giam Liong. Kini, dua pemuda yang sama-sama gagah dan tampan berdiri berhadapan.

"Kau ganas dan telengas sekali. Golok di tanganmu bau darah!"

"Siapa kau?" Giam Liong membentak. Pemuda itu memiliki ilmu ginkang yang hebat. Sekali bergerak, ia telah merobohkan orang-orang Chu-goanswe dan tiba di depannya. "Ada apa kau memanggilku, Sobat? Dan apakah kau antek kerajaan juga?"

"Hm, aku Han Han." Mata pemuda itu bersinar tajam dan menusuk. Getaran sinkang terpancar kuat hingga Giam Liong terkejut merasakan perbawa yang mencorong. "Aku memanggilmu karena tak mau kau pergi begitu saja. Kau terlalu ganas dan kejam membunuh orang-orang ini. Apakah kau yang bernama Giam Liong dan dijuluki Si Naga Pembunuh?"

"Aku tak peduli pada julukan yang diberikan orang kepadaku. Namun, benar bahwa akulah Giam Liong. Kau mau apa dan kenapa menghentikanku kalau bukan antek kerajaan?"

"Aku tak suka sepak terjangmu. Kau pembunuh berdarah dingin!"

"Hm!" Giam Liong mendengus. Ia mundur dan mengamati wajah lawan dengan teliti. Ia terkejut karena melihat kemiripan wajah pemuda itu dengan ayah angkatnya, Beng Tan. Dengan mata membelalak, ia bertanya sekali lagi siapa lawannya itu.

Pemuda berbaju putih itu menjawab, "Aku adalah Han Han, sudah kusebut namaku. Nah, kenapa kau demikian keji membunuhi orang-orang?"

"Han Han? Kau dari mana? Siapa ayah ibumu?"

Pemuda itu mengerutkan kening, merasa heran sekaligus tak senang. "Ayah ibuku tak usah kau ikut campurkan, Giam Liong. Kita berhadapan sebagai lelaki dengan lelaki. Aku tak perlu membawa-bawa nama orang tua."

"Kau... apakah kau Han Han, putra ayahku Beng Tan? Anak yang hilang itu?"

Han Han terkejut. Tentu saja ia terkejut karena dialah yang selama ini diduga sebagai putra Ketua Hek-yan-pang. Ia telah meninggalkan perkumpulan tersebut untuk mencari ibunya. Begitu Giam Liong menyebut nama itu, Han Han tergetar karena jejak orang tuanya terasa semakin kuat. Untuk kesekian kalinya ia disebut sebagai keturunan Ketua Hek-yan-pang. Pemuda itu mundur dan memandang Giam Liong dengan wajah tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment