Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 136

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 136

"Kau sudah tahu tentang siapa aku? Kau Sin Giam Liong yang dulu tinggal bersama ketua Hek-yan-pang?"

"Hm," Giam Liong tiba-tiba girang. Sinar matanya yang ganas dan dingin berubah seketika. "Kalau benar kau Han Han yang kucari, maka ini kebetulan sekali, Sobat. Sudah lama aku dan ibuku mencari dirimu. Wajah dan sikapmu mirip sekali dengan ayahmu. Di mana saja kau selama ini dan kenapa sekarang baru muncul?"

Chu-goanswe, yang mendengar percakapan itu, tertegun. Pasukan kerajaan yang berdiri dari jauh ikut mendengarkan, begitu pula pengikut Chu-goanswe yang sejak tadi mengharap pertandingan antara dua pemuda itu. Namun, begitu suasana mencair dan Giam Liong menunjukkan sikap persahabatan, kedua pemuda itu saling pandang. Giam Liong melangkah maju, lalu memeluk Han Han sambil menitikkan air mata.

"Benar, kau pasti Han Han, anak ayah angkatku itu. Kau dicari-cari dan selama ini menghilang. Ah, utang ibuku akan lunas dan kau dapat menggantikan aku!"

Han Han, pemuda berbaju putih itu, tertegun. Ia tadi muncul dari belakang kaum pejuang setelah melihat keramaian di hutan dan sepak terjang Giam Liong yang mengerikan. Karena tak tahan melihat kekejaman tersebut, ia berniat turun tangan, namun terhalang oleh barisan anak buah Chu-goanswe. Terpaksa, ia merobohkan orang-orang itu sebelum bisa mendekati Giam Liong. Ia membuat kaget para pemberontak karena muncul secara tiba-tiba. Karena ia bukan Giam Liong dan murid Im Yang Cin-jin ini pada dasarnya adalah pemuda lemah lembut, ia hanya merobohkan lawan tanpa mencederai mereka.

Namun, hal itu membuat para pemberontak menjadi berani. Mereka terus bangkit dan menyerang. Ketika Han Han terpaksa menurunkan tangan lebih keras menggunakan pukulan *Imyang-sin-kun*, orang-orang itu baru tersadar. Chu-goanswe sendiri berteriak tertahan ketika dengan satu kibasan ujung baju, Han Han mematahkan anak panah besarnya menjadi delapan potong.

"Ah, pemuda yang amat lihai!" jenderal itu berseru dan segera memanggil Giam Liong. Ia gentar menyaksikan kelihaian pemuda tersebut. Jenderal itu pun tertegun ketika melihat Giam Liong dan pemuda itu kini berpelukan.

"Ah, kau benar anak yang hilang itu, Han Han. Kau mirip ayahmu yang gagah dan lihai. Dan kau pun mengagumkan!"

"Apakah kau yakin aku putra ayahku itu?" Han Han menggigil, tiba-tiba tersedak.

"Pasti, wajah dan sikapmu bagai pinang dibelah dua. Tapi kau tampaknya lebih hebat!"

"Dari mana kau tahu?"

"Sepak terjangmu sekilas tadi. Kau memiliki pukulan ampuh yang membuat orang-orang Chu-goanswe terlempar!"

"Hm, dan kau juga hebat. Tapi kau ganas, Giam Liong. Kau membantai pasukan kerajaan seperti membunuh ayam. Aku tak suka!"

"Benar!" pasukan kerajaan berteriak. Han Han melepaskan diri, berusaha menekan guncangan hatinya. Ia benar-benar putra ketua Hek-yan-pang. Beberapa kali wajahnya memang disebut sangat mirip dengan ketua Hek-yan-pang.

"Ia kejam dan telengas, Kongcu. Jika kau putra ketua Hek-yan-pang, sudah semestinya kau membantu kami. Ayahmu adalah bekas orang kepercayaan kaisar!"

"Hm," Giam Liong membalik badan. Tangannya bergerak melepas *hui-to* kecil, dan orang yang baru saja berteriak itu roboh seketika. "Anjing-anjing kaisar tidak perlu kau percaya mulutnya, Han Han. Dulu adalah dulu, dan sekarang adalah sekarang!"

Pasukan kerajaan ngeri. Giam Liong telah membunuh orang yang berteriak itu. Han Han memandang Giam Liong dengan marah. "Kau kejam dan tak berperasaan. Begitu mudahkah kau membunuh orang seperti itu? Hentikan kekejamanmu, Giam Liong. Atau aku tidak akan mengingat persahabatan dan hubunganmu dengan ayahku."

"Kau benar-benar putra ayah angkatku, Beng Tan. Tapi aku tidak peduli apakah kau suka atau tidak dengan sepak terjangku. Mereka yang datang dan mencari permusuhan terlebih dahulu. Tanyakan pada mereka, siapa yang salah!"

"Bocah itu tulang punggung pemberontak, Giam Liong adalah keturunan pemberontak!" seorang perwira berteriak dari balik pasukannya. Begitu Giam Liong menjentikkan golok terbangnya, perwira itu menjerit dan roboh dengan tenggorokan tertembus.

"Lihat," tantang Giam Liong dengan sikap dingin. "Aku tak peduli kau di sini, Han Han. Putra ayahku atau bukan, kalau kau mengambil sikap bermusuhan, maka aku akan menganggapmu musuh."

Han Han terkejut karena kalah cepat mencegah pembunuhan tersebut. Ketika pasukan kembali gempar, Han Han membentak dan berkelebat di depan Giam Liong, memisahkan pemuda itu dengan pasukan kerajaan.

"Giam Liong, jangan kurang ajar. Hentikan kekejamanmu atau aku akan memberimu pelajaran!"

"Hm," Giam Liong teringat ibunya. Ia berkelebat melewati Han Han. "Aku akan menolong ibuku dulu, Han Han. Setelah itu kita bicara lagi dan boleh kita main-main!"

"Kejar, serang dia!" beberapa panglima berseru, pucat melihat Giam Liong mengejar Kedok Hitam. "Jangan biarkan ia mendapatkan ibunya, anak-anak. Coa-ongya nanti marah kepada kita!"

Giam Liong dihujani anak panah. Namun, dengan satu kebatan lengan, semua anak panah itu berbalik dan menyerang balik pemiliknya. Giam Liong berseru agar Chu-goanswe menghajar pasukan kerajaan itu.

"Baik!" Chu-goanswe girang. "Kami akan menghajar anjing-anjing kerajaan ini, Siauwhiap. Cepat kembali kalau kami belum menyusul!"

Giam Liong mengangguk dan segera pergi tanpa menghiraukan siapa pun. Pikirannya hanya tertuju pada sang ibu. Sementara itu, Han Han yang marah melihat keganasan Giam Liong, justru berbalik menyerang pengikut Chu-goanswe.

"Giam Liong, kembali kau! Atau aku akan menghajar teman-temanmu ini seperti kau menghajar pasukan kerajaan!"

*Bres... bress!* Tujuh dari sebelas pengikut Chu-goanswe terlempar dan terguling-guling. Han Han terus merobohkan puluhan orang. Pasukan kerajaan bersorak melihat kekacauan itu, namun jenderal tinggi besar itu justru melepas tujuh anak panah ke arah Han Han.

"Sin-siauwhiap, jangan pergi dulu. Pemuda ini mengamuk!"

Han Han tak menoleh. Ia menamparkan tangannya ke belakang dan ketujuh panah itu terpental balik, menyerang pemiliknya hingga Chu-goanswe harus bergulingan untuk menghindar, meski akhirnya bahunya tertancap satu anak panah.

"Bagus, ha-ha... Tangkap dan bunuh Chu-goanswe itu, Hankongcu. Ialah biang keladi keributan ini!"

Han Han terbakar amarah. Ia merasa direndahkan oleh Giam Liong yang meninggalkannya, dan ia ingin melampiaskan kemarahan itu kepada sang jenderal. Han Han pun berkelebat ke arah jenderal itu, bertekad menangkap sang pemimpin dan menghentikan pembunuhan massal tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment