Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 137

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 137

Tapi begitu ia bergerak dan jari-jarinya pun sudah mendekati leher Chu Goanswe yang baru saja meloncat bangun, Giam Liong tiba-tiba berkelebat dan sinar putih yang panjang langsung menyambar jari-jari pemuda ini.

"Han Han, jangan main-main dengan Chu Goanswe!" Han Han terkejut.

Ia mendengar dan melihat sinar panjang itu, dingin menyeramkan, dan tentu saja ia tidak mau menjadi korban.

Ketika akhirnya ia terpaksa menarik serangannya kepada Chu Goanswe dan sinar putih itu lewat di depannya, ia menjepret dan menampar badan golok. Han Han tergetar ketika jari-jari tangannya bertemu benda dingin yang kaku dan keras.

"Plak!" Chu Goanswe selamat sementara Giam Liong telah berdiri di situ. Sinar putih lenyap karena sudah kembali ke punggung pemuda ini. Golok maut, Golok Penghisap Darah, telah disarungkan lagi di belakang tubuh Giam Liong.

Ketika Han Han terhuyung dan pucat memandang lawannya, Giam Liong telah tegak dengan sikap dingin. Pemuda ini membentak, "Giam Liong, jangan sombong dengan golok mautmu. Keluarkan, dan aku tidak takut!"

"Hm, sekali dikeluarkan seharusnya meminum darah, Han Han. Tapi terhadap dirimu, aku menahan diri. Pergilah, cari ayah ibumu atau nanti kau celaka di sini!"

Han Han marah terbakar. Ia merasa direndahkan dan tidak dipandang sebelah mata. Pasukan kerajaan bersorak-sorak sementara pengikut Chu Goanswe juga berteriak menyuruh Giam Liong menghajar pemuda itu. Masing-masing pihak menjagokan jagonya dan kata-kata yang memanaskan suasana segera terdengar di sana-sini.

Ketika Giam Liong tegak menantang sementara pemuda berbaju putih itu merah mukanya, Han Han bergetar dan menggigil mengerahkan sinkang. Tiba-tiba pemuda itu membentak, "Giam Liong, majulah. Lihat siapa yang akan diberi pelajaran, kau ataukah aku!"

"Hm, kau sudah mencampuri urusan. Majulah, Han Han. Aku memberi kesempatan lebih dulu kepadamu karena aku adalah tuan rumah."

"Begitukah? Baik!" Han Han yang tidak dapat menahan diri lagi karena disoraki lawan tiba-tiba berkelebat dan lenyap menampar Giam Liong. Jari-jari pemuda ini sudah berkerotok dan tangan kiri maupun kanannya kemerah-merahan. Itulah hawa sakti Yang-kang (panas) yang sudah dikerahkan pemuda ini.

Ketika Giam Liong terkejut karena hawa panas mendahului menyambar, ia mengelak. Namun lawan mengejar, maka Giam Liong menangkis dan untuk pertama kalinya kedua pemuda itu sudah mengadu tenaga.

"Duk!" Dua-duanya sama-sama terpental. Giam Liong terkejut karena sinkang atau tenaga sakti Han Han ternyata hebat sekali. Apa yang sudah diduganya ternyata benar.

Ketika Han Han berkelebat dan kembali menyerang, orang-orang yang menonton tertegun karena pemuda berbaju putih itu sudah menyambar seperti seekor rajawali sakti yang terbang mengelilingi si Naga Pembunuh. Giam Liong juga terkesiap karena tahu-tahu ia sudah dihujani pukulan atau tamparan bertubi-tubi. Sangat cepat dan panasnya menjadi-jadi hingga sebentar kemudian ia pun berkeringat.

Ketika Giam Liong mengelak namun selalu dikejar, menangkis dan membalas, kedua pemuda itu tiba-tiba sudah bertanding dan satu sama lain mengitari lawan, sambar-menyambar!

"Bagus, hebat, Han Han. Pukulan-pukulanmu cepat dan luar biasa sekali!"

"Hm," Han Han juga kagum, tak mau banyak bicara. "Kau pun hebat, Giam Liong. Tidak bohong kalau orang memuji-muji dirimu!" Keduanya yang sudah bertempur dan saling mendahului akhirnya mulai menyadari bahwa lawan yang dihadapi betul-betul hebat.

Han Han mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, Hui-thian-sin-tiauw (Rajawali Sakti Terbang ke Langit). Ketika pasukan kerajaan bersorak karena tubuhnya benar-benar terbang menyambar-nyambar, kaki pemuda itu tidak menginjak tanah lagi saking cepatnya ia bergerak. Chu Goanswe dan para pengikutnya menjadi berdebar karena Giam Liong sepertinya kalah cepat dan berkali-kali harus menangkis pukulan lawan.

"Duk-duk!" Giam Liong tergetar sementara Han Han terpental mengelilingi dirinya lagi. Han Han juga kagum dan penasaran oleh kehebatan lawannya ini. Pukulan-pukulan Yang-kang yang dilancarkannya ternyata dapat ditangkis dan diterima Giam Liong, padahal pemuda itu sudah berkeringat dan merah padam.

Giam Liong memang diserang hawa panas yang semakin menjadi dari pukulan lawannya itu. Tapi karena pemuda ini juga memiliki daya tahan mengagumkan, sinkang di tubuhnya bekerja dan melindungi. Giam Liong diam-diam melawan hawa panas itu dengan sinkang yang dipelajarinya dari kitab kecil peninggalan ayah kandungnya.

Dengan sinkang itu, akhirnya perlahan-lahan hawa panas dapat dilawan. Keringat yang semula mengucur akhirnya menjadi dingin dan membeku. Ketika Giam Liong akhirnya tidak berkeringat sama sekali, Han Han tertegun. Pukulan Yang-kangnya dihadapi hawa dingin yang keluar dari tubuh lawan, maka pemuda itu berseru kagum, "Giam Liong, kau hebat sekali. Kau mengagumkan!"

"Hm, kaulah yang mengagumkan, Han Han. Kau dapat membuat aku bekerja keras!"

"Tapi kau dapat menandingi pukulan-pukulan Yang-kangku. Kau hebat!"

"Hm, tidak usah banyak bicara. Pertandingan belum berakhir, Han Han. Awas, jaga balasanku dan jangan lengah!"

Giam Liong bergerak dan tiba-tiba mengeluarkan pekikan nyaring, dahsyat menggetarkan isi hutan. Han Han terkejut karena ia terdorong. Ketika ia terhuyung, sementara pasukan kerajaan maupun pengikut Chu Goanswe terpelanting oleh pekik dahsyat itu, Giam Liong hendak menjaga kewibawaannya di depan orang lain. Pemuda itu berkelebat dan sudah melancarkan pukulan-pukulan cepat dari ilmu silat barunya yang disebut Pekkun (Pukulan Sakti Seratus Langkah)!

"Aih, hebat. Cepat sekali!" Han Han terkejut dan berseru kagum. Ia sudah diserang dengan amat cepatnya dan Hui-thian-sin-tiauw miliknya mendapat tandingan. Lawan berganti-ganti melepas pukulan sementara kakinya pun berpindah-pindah dengan langkah luar biasa.

Ketika Han Han berterbangan namun selalu dicegat dan dihadang langkah-langkah kaki Giam Liong, ia tidak sempat berkelit atau mengelak. Han Han menangkis dan letupan seperti bunga es memuncrat dari lengan keduanya. "Duk-plak!"

Han Han tiba-tiba terdesak. Ia yang tadi telah membuat Giam Liong kewalahan dan sibuk menangkis sana-sini, tiba-tiba sekarang berbalik keadaan. Ilmu sakti Seratus Langkah yang dilakukan lawannya itu benar-benar mampu mendesak dan membuatnya terkejut. Hui-thian-sin-tiauw miliknya bertemu tandingan setimpal dan terbelalaklah Han Han oleh kehebatan lawannya ini.

Ketika ia terdesak dan pukulan-pukulan Yang-kang kembali bertemu lengan dingin lawannya, bunga-bunga es berpercikan ke sana kemari. Giam Liong menekan tanpa ampun dan Chu Goanswe bersama para pengikutnya tiba-tiba berganti bersorak. Jago mereka unggul!

"Hidup Sin-siauwhiap! Hidup si Naga Pembunuh! Haha, tekan dan terus rangsek lawanmu itu, Siauwhiap. Beri dia pelajaran agar tidak menghina diriku!"

"Benar, dan lempar ia ke anjing-anjing kerajaan itu, Siauwhiap. Atau cabut golokmu dan tebas kepalanya!"

Han Han pucat. Ia tiba-tiba didesak hebat dan sudah tinggal sebagai pihak bertahan saja. Tapi karena Han Han juga bukan pemuda sembarangan dan ia adalah murid Im Yang Cinjin yang sakti, ia bergerak dan tidak mau kalah. Tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan bentakan seperti Giam Liong yang menggetarkan hutan, pekikan Saikang ajaran gurunya. Hebat dan dahsyat!

"GIAM LIONG, aku tidak mungkin kalah!" Bentakan atau suara mengguntur pemuda itu membuat orang-orang terpelanting. Pasukan Chu Goanswe tiba-tiba menjerit karena satu sama lain roboh mendekap telinga. Bahkan yang terdekat sudah roboh dengan gendang telinga pecah!

Han Han marah sekali dan memang ingin memberi pelajaran kepada lawannya itu, juga anak buah Chu Goanswe yang bersorak-sorak menghinanya. Ketika orang yang terdekat pingsan karena pekik kesakitan, pasukan kerajaan mundur dan menjauh. Han Han sudah menerima pukulan Giam Liong yang menyambar kepalanya.

"Des!" Debu dan pasir muncrat berhamburan. Adu pukulan yang amat dahsyat di antara dua pemuda itu sungguh seperti gunung meletus. Suaranya menggelegar dan batu-batu di sekitar terlempar dan mencelat ke kiri-kanan, jatuh menimpa orang-orang di sana. Berteriaklah pasukan kerajaan maupun pasukan Chu Goanswe. Mereka sudah menjauh namun tetap saja menjadi korban. Tujuh pohon di sekitar kedua pemuda itu roboh dan tumbang, tak kuat menerima getaran adu pukulan ini.

Ketika Giam Liong maupun Han Han sama-sama terbelalak, mereka dorong-mendorong dan seluruh kekuatan sinkang dikerahkan. Giam Liong sampai mengeluarkan uap putih di kepalanya, sementara Han Han juga lebih hebat karena seluruh tubuh pemuda ini sudah merah membara seperti api. Pengerahan tenaga Yang-kangnya dikerahkan sampai ke puncak!

"Han Han, kau mengajak mengadu jiwa!"

"Tidak ada jalan lain," pemuda itu mendengus. "Kau juga membuatku malu, Giam Liong. Kita adu kesaktian dan lihat siapa kalah siapa menang!"

Giam Liong terbakar. Dia tadi sudah mendesak dengan langkah-langkah saktinya, Pekkun, ketika tiba-tiba lawannya ini menghentikan gerakan langkahnya dengan adu pukulan sinkang. Han Han menerima dan menyambut pukulannya, sehingga Pek-poh-sin-kun otomatis berhenti. Han Han tegak menyambut tangannya dan jadilah mereka dorong-mendorong.

Ledakan yang amat dahsyat mengguncang keduanya dan membuat masing-masing tergetar. Giam Liong terdorong namun bertahan dan ganti mendorong lawannya. Karena Han Han juga bertahan dan tetap menyerang, pemuda itu pun tidak mau kalah di hadapan sekian banyak orang. Han Han yang mengerahkan sinkangnya tiba-tiba telah menjadi api karena seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa panas membakar yang membuat pemuda itu menyala-nyala. Persis gumpalan bara yang menjilat-jilat!

Tapi Giam Liong sungguh mengagumkan. Mengerahkan tenaga saktinya yang didapat dari sumur tua, pemuda ini melawan hawa panas dari lawan. Han Han yang sudah menjadi manusia api dan panas membakar mencengkeram telapaknya kuat-kuat. Orang lain pasti sudah leleh dan hangus diserang pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment