Chapter 138
Murid Im Yang Cin Jin ini juga mengagumkan. Namun, karena Giam Liong memiliki kesaktian tinggi dan pelajaran *sinkang* yang diperolehnya dari sumur tua juga dipergunakan di situ, keturunan Si Golok Maut ini melepas hawa dingin untuk menahan hawa panas. Perlahan tetapi pasti, tubuh pemuda itu tiba-tiba menjadi putih dan akhirnya beku seperti es.
Giam Liong berubah wujud seperti manusia salju yang dingin membeku, atau semacam gunung mini di daerah kutub. Ketika lawan mencoba mencairkan tubuhnya, api selalu gagal dan padam saat bertemu butir-butir es. Han Han terbelalak karena ia tak mampu menembus lawannya.
Giam Liong memejamkan mata dan kini dari belakang punggung pemuda itu muncul sebentuk asap putih yang naik ke atas. Asap itu membentuk sosok raksasa dan Han Han terkejut karena tiba-tiba asap itu bergerak dan ikut menyerangnya. Ketika ia kaget dan tak tahu apakah itu siluman atau hantu, asap itu menubruk atau menyambar kepalanya.
"Slap!" Han Han tersentak.
Ia kaget dan mencoba mengelak, namun asap putih itu menyambarnya lagi, kini membentuk golok dan tiba-tiba menyambar lehernya. Han Han merasa kacau dan menganggap Giam Liong curang karena menggunakan ilmu sihir. Han Han berusaha melepaskan diri dengan membanting tubuh dan bergulingan, tetapi anehnya ia tak dapat lepas dari cengkeraman lawannya.
Giam Liong telah menjadi beku dan ikut terbanting bergulingan, masih dalam keadaan terpejam. Ketika Han Han pucat dan melengking ngeri karena asap putih itu terus mengganggunya dalam bentuk raksasa atau golok, ia berteriak, "Giam Liong, kau curang. Kau mempergunakan sihir!"
Giam Liong tak membuka mata dan masih kaku saat diajak bergulingan ke sana kemari. Pemuda itu seperti kehilangan kesadaran. Han Han mencoba melepaskan tangannya, namun jari-jari Giam Liong sudah beku dan kaku hingga tak dapat direnggangkan. Hawa dingin yang dikerahkan pemuda itu sudah terlampau berlebihan dalam usahanya menangkal hawa panas.
Giam Liong tak mau kalah. Namun, ketika asap putih itu tiba-tiba terkekeh-kekeh, Han Han meremang melihat sosok kakek tinggi besar. Pemuda itu tiba-tiba teringat gurunya dan dengan bibir yang menggigil, ia memanggil gurunya lewat kontak batin.
"Suhu, tolong. Murid menghadapi bahaya. Giam Liong laki-laki curang!"
Ajaib, tiba-tiba terdengar ledakan di belakang pemuda ini. Han Han yang sedang mengelak tiba-tiba merasa seperti ditepuk seseorang. Bayangan seorang tosu muncul. Ketika semua orang tertegun dan terheran-heran, tosu itu mengebutkan sapu tangan hitam ke muka kakek tinggi besar tersebut; sapu tangan yang menghamburkan harum bunga-bunga cempaka putih.
"Mo Bin Lo, jangan ganggu anak-anak kecil. Pulang dan kembalilah ke alam asalmu!"
Kakek itu berteriak. Asap dan bayangannya seketika buyar. Han Han dapat melepaskan diri dari tangan Giam Liong dan bersamaan itu pula pemuda ini membuka matanya. Giam Liong seolah baru bangun tidur dari mimpi yang lelap. Ketika tubuhnya pulih kembali dan Han Han meloncat bangun, tosu itu lenyap. Han Han mendengar kata-kata gurunya, Im Yang Cin Jin, yang tadi muncul.
"Han Han, kau tak dapat mengalahkannya. Pemuda itu dibantu Golok Maut ciptaan si iblis Mo Bin Lo. Pergi dan cari dulu Pedang Matahari untuk melawan kehebatan golok itu!"
Han Han tertegun. Ia bengong dan penasaran atas apa yang baru dialaminya. Gurunya berkata bahwa perbawa Golok Maut itulah yang bicara. Giam Liong sendiri tidak tahu akan bantuan itu. Ketika pemuda ini terkejut dan kecewa, ia memutar tubuh dan lenyap meninggalkan lawannya tanpa melihat betapa Giam Liong bersinar-sinar kagum memandangnya. Giam Liong kagum karena ia sendiri tidak mampu menembus pertahanan yang dimiliki lawannya itu.
"Giam Liong, lain kali kita akan bertemu lagi. Kau licik karena dibantu orang lain!"
Giam Liong mengerutkan kening. Ia terkejut dituduh mendapat bantuan orang lain, padahal ia sama sekali tidak merasakannya. Saat ia hendak mengejar, pasukan kerajaan tiba-tiba ribut, mereka membalik dan melarikan diri. Giam Liong mendengar seruan Chu Goanswe agar mencari ibunya.
"Siauw Hiap, musuhmu telah lari. Ingat ibumu dan syukur kau menang!"
Giam Liong sadar. Diingatkan mengenai ibunya, ia mengangguk dan berkelebat. Pasukan kerajaan cerai-berai begitu Han Han meninggalkan pertempuran. Jagoan yang mereka andalkan telah pergi menelan kenyataan pahit. Kepandaian Giam Liong sesungguhnya berimbang, namun campur tangan Mo Bin Lo membuat pemuda itu marah; ia seakan dikeroyok.
Ketika Han Han pergi, pasukan kerajaan tak mungkin lagi menghadapi para pemberontak. Mereka mundur dan membalikkan tubuh, namun para pejuang mengejar sambil berteriak mengancam. Giam Liong sendiri berkelebat dan mengibaskan lengannya ke kanan dan kiri.
"Kejar, bunuh anjing-anjing kaisar. Tangkap mereka!"
Pasukan kerajaan kalut. Mereka sudah kehilangan pemimpin. Kibasan lengan sakti Giam Liong membuat mereka terpelanting dan jatuh bergulingan. Sekali kibas, tiga puluh orang terpental. Ketika Giam Liong mendahului mereka dan Chu Goanswe menyusul di belakang, para pejuang dengan mudah merobohkan lawan.
Pasukan kerajaan jatuh mentalnya oleh kekalahan Han Han. Mereka tadinya sangat mengharap pada pemuda itu, namun penolong sukarela ini terganggu oleh perbawa Golok Maut. Mo Bin Lo, pencipta golok itu, tiba-tiba mengeluarkan sukma dan menyerang Han Han karena sesungguhnya di dalam golok maut itu tersimpan roh si pencipta.
Karena kakek itu menampakkan diri dan Han Han sempat kaget, untunglah gurunya datang menolong. Pemuda itu dinasihati untuk pergi, sementara para penonton menganggap Giam Liong sebagai pemenangnya, meskipun pemuda itu sendiri tidak merasa demikian. Ia justru heran kenapa Han Han meninggalkan pertempuran padahal mereka belum selesai.
Pasukan Chu Goanswe menghajar habis-habisan pasukan lawan. Yang tak mau menyerah dibunuh, sementara yang mau menyerah disuruh membuang senjata. Sebentar kemudian, seribu orang lebih menyatakan menyerah. Chu Goanswe mengampuni mereka, sementara yang melarikan diri terus dikejar.
Karena pasukan lawan melompati hutan dan menunggang kuda lari ke kota raja, Chu Goanswe hanya mampu merobohkan yang paling belakang. Panah jenderal itu menyambar-nyambar dan pasukan yang hendak kembali ke pintu gerbang menjadi korbannya. Tiga ratus orang lebih menjadi sasaran empuk.
Ketika pintu gerbang ditutup dan kota raja menjadi gempar, Chu Goanswe berhenti dan berteriak-teriak di luar. Untuk pertama kalinya, pasukan istana dipukul dan dibuat guncang.
"Kita kalah. Kita terpaksa melarikan diri. Si Naga Pembunuh sungguh luar biasa, ia membantai kita seperti ayam!"
"Dan pemuda baju putih itu tak mampu menandinginya. Sayang sekali, putra Pek Jit Kiam itu meninggalkan lawannya!"
"Pengecut, pemuda itu tak pantas menjadi putra seorang pendekar. Ia memalukan dan merendahkan kita!"
Han Han justru dimaki-maki oleh pasukan kaisar. Mereka lupa bahwa Han Han bukanlah tangan kanan kaisar yang disuruh bergabung dengan mereka. Pemuda itu datang atas kemauannya sendiri dan bebas untuk pergi kapan saja. Mereka juga lupa bahwa sebenarnya merekalah yang pengecut karena lari tunggang langgang menghadapi lawan yang lebih kuat. Han Han di sana menggigit bibir dan mengepalkan tinjunya dengan muka merah padam.
Sementara itu, Giam Liong berkelebat mencari ibunya. Ia ingin menghancurkan kepala si Kedok Hitam yang licik dan curang itu.
Mari kita ikuti perjalanan Giam Liong. Seperti diketahui, pemuda ini mencari ibunya yang berarti juga mencari Kedok Hitam. Ia tidak akan memberi ampun lagi kepada musuhnya yang jahat, licik, dan culas itu. Ia berniat mencincang tubuh musuhnya sampai hancur. Kemarahan dan kebencian Giam Liong meluap. Saat ia ingat betapa ayahnya dicincang oleh laki-laki itu dengan keji, Giam Liong memutuskan untuk melakukan hal yang sama, apalagi jika ibunya diganggu.
"Aku akan merebus tubuhmu hidup-hidup," Giam Liong menggeram. "Dan aku akan memanggangmu di kwali yang panas, Kedok Hitam. Seluruh tubuhmu akan kukuliti!"
Orang akan meremang mendengar ancaman ini. Giam Liong bertekad mencari lawannya sampai ketemu. Kalau perlu, ia akan menangkap kaisar dan menyuruh musuhnya itu keluar, atau kaisar akan dibunuh dan kepalanya dipenggal.
Giam Liong bagaikan seekor harimau yang haus darah. Saat ia bergegas, tiba-tiba ia bertemu dengan ibu dan ayah angkatnya, Beng Tan dan istrinya, Swi Cu.
"Ah, kau mau ke mana, Giam Liong? Mencari ibumu?"
Giam Liong tertegun dan berhenti. "Benar, dan Ayah..." Ia agak kaku melihat muka ibu angkatnya yang tampak keruh dan masam. "Ke mana kau akan pergi, Ayah? Dan bagaimana kau tahu bahwa aku mencari Ibu?"
"Kedok Hitam membawanya. Jeritan ibumu membuatku datang!"
"Ah, di mana dia sekarang!" Giam Liong melompat dengan muka beringas. "Bagaimana dengan ibuku, Ayah? Dan mana jahanam licik itu? Bagaimana ia bisa datang sebelum waktunya?"
"Maaf," Beng Tan berkata dengan tidak enak hati. "Bukan aku bohong, Giam Liong, melainkan musuhmu itu memang licik."