Chapter 139
Aku sendiri sedang memantau gerak-geriknya dan kaget bahwa ia datang bersama lima ribu pasukan.
"Ibumu selamat, tapi..."
"Tapi di mana dia!" Giam Liong membentak, lupa dan bersikap agak kasar karena dilanda ketegangan mendengar berita tentang ibunya.
Giam Liong sampai tidak dapat mengontrol diri begitu ayahnya berkata bahwa ibunya selamat—hal yang menggembirakan sekaligus mendebarkan baginya. Maklumlah, ibunya tidak ada di situ.
Ketika dia membentak dan memutus ucapan ayahnya, Swi Cu mendelik serta meradang. Wanita itulah yang kini berseru dan berkelebat ke depan sambil membentak, "Giam Liong, suamiku bukan orang yang suka kau bentak-bentak. Sopan dan hormatlah sedikit di depan orang tua!"
"Maaf," Giam Liong terkejut dan segera sadar. "Aku lupa diri, Bibi. Aku dilanda ketegangan."
"Sudahlah," Beng Tan menengahi dan meminta istrinya bersabar, memaklumi keadaan pemuda itu. "Ibumu tadinya bersama kami, Giam Liong. Tapi kini dia pergi, entah ke mana. Bagaimana sekarang dengan pasukan kerajaan yang menyerangmu itu?"
"Ibu tidak bersama Ayah lagi?" Giam Liong kecewa. Tiba-tiba mukanya kembali gelap dan tidak menjawab pertanyaan itu. "Kalau begitu, biar kucari, Ayah. Maaf, aku harus segera pergi!"
"Hei!" sang ayah berseru. "Ibumu tidak ke sana, Giam Liong, melainkan ke selatan. Dia tidak menuju kota raja!"
Giam Liong yang sempat berputar tubuh segera berhenti saat ayahnya menunjuk arah. Memang niat awalnya adalah ke kota raja karena di sanalah biasanya si pembunuh berada. Namun, begitu ayahnya berseru, Giam Liong berkelebat menuju tempat yang ditunjuk.
"Terima kasih!" hanya itu jawabannya, kaku dan tidak menyenangkan.
Ketika Beng Tan dan istrinya mengerutkan kening karena belum tahu kabar pasukan kerajaan, tiba-tiba Giam Liong berkelebat kembali. Kali ini wajahnya berseri-seri. Aneh.
"Ayah, ada berita gembira untukmu. Aku lupa!"
"Apa itu?" sang pendekar tertegun.
"Han Han!" pemuda itu berseru. "Han Han, anakmu, telah datang, Ayah. Tadi aku bertemu dengannya dan dia hebat bukan main!"
"Apa?" Swi Cu berkelebat, membentak, dan langsung mencengkeram pemuda ini. "Han Han? Kau tidak main-main? Awas, jangan melukai hatiku, Giam Liong. Atau kubunuh kau kalau menghina kami berdua!"
"Aku tidak menghina, juga tidak mempermainkan," Giam Liong mundur dan melepaskan diri dari cengkeraman bibinya. "Aku sungguh-sungguh, Bibi. Han Han, anakmu, telah muncul dan katanya dia baru dari Hek-yan-pang..."
"Ah, mana dia? Apakah kau yakin?"
"Dia telah pergi ke timur. Aku baru saja bertanding dan dia hebat bukan main!"
"Bertanding? Kau menghajar anakku itu? Keparat, kau sungguh sok jagoan, Giam Liong. Anak orang pun enak saja kau ajak berkelahi..."
Plak! Plak!
Swi Cu melayangkan tamparan dua kali ke pipi pemuda itu, membuatnya terhuyung. Giam Liong terkejut dan terdiam. Swi Cu marah besar; inilah kemarahan seorang ibu jika anaknya diganggu.
Namun, ketika Beng Tan menarik istrinya agar mundur, sang pendekar yang juga tegang dan berdebar cemas tiba-tiba memegang lengan pemuda itu dengan lembut. Suaranya bergetar saat berkata, "Giam Liong, maafkan istriku. Dia tidak bisa menahan diri seperti halnya ibumu saat menemukan kau. Maklumilah ini dan pandanglah mukaku. Di mana anakku itu dan apakah ia selamat tanpa kau celakai?"
"Aku tidak mencelakai," Giam Liong tiba-tiba memejamkan mata, terpukul oleh sikap Beng Tan terhadap putranya. Sikap seorang ayah yang penuh cinta kasih, tidak seperti dirinya yang seumur hidup tak pernah bertemu ayah kandungnya. "Aku tidak mengapa-apakan puteramu itu, Ayah. Kami bertanding karena ia berpihak dan membela pasukan kerajaan. Ia gagah dan amat lihai. Aku ucapkan selamat bahwa puteramu kembali!"
"Ia sekarang di mana?"
"Pergi ke timur. Aku juga tidak mengerti kenapa ia pergi setelah bertempur hebat denganku. Yang jelas, ilmu kepandaiannya tinggi. Harap Ayah cari dia karena tentu belum begitu jauh dari sini. Maaf, aku harus pergi dan mencari ibuku!"
Giam Liong melepaskan genggaman tangan sang ayah, lalu berkelebat pergi. Ia tidak lagi memandang ayah maupun ibu angkatnya. Ia tertusuk oleh kebahagiaan pendekar itu mendengar tentang anak laki-lakinya. Begitulah bahagianya mempunyai ayah kandung!
Begitu Giam Liong lenyap, Swi Cu menubruk suaminya dan sesenggukan. "Suamiku, Han Han... anak kita... kembali. Mari kita cari dan temukan dia. Ah, aku ingin melihat seberapa besar dia sekarang. Aku harap Giam Liong tidak bohong."
"Tak mungkin bohong," Beng Tan ikut gemetar dan terharu, memeluk istrinya kuat-kuat. "Giam Liong bukan pemuda seperti itu. Dia tentu jujur. Mari kita cari dan temukan dia!"
Beng Tan memanggul istrinya dan berkelebat ke arah timur. Swi Cu terisak di pundak suaminya. Setelah mencari beberapa saat, mereka melihat seseorang duduk melamun di bawah pohon. Seorang pemuda berbaju putih!
"Itu dia!" Swi Cu berbisik, air matanya bercucuran. "Itu barangkali, Suamiku. Dia tampan dan gagah. Dia persis dirimu. Ah, itu dirimu di waktu muda!"
Swi Cu hampir menjerit. Ibu yang tampak girang itu seakan kehilangan kontrol diri. Namun, saat melihat pemuda baju putih itu tampak lesu dan berpikiran kosong, Beng Tan tiba-tiba memiliki keraguan. Ia takut pemuda itu bukan anaknya.
Beng Tan menotok istrinya agar tenang dan tidak ribut, lalu mengeluarkan dua helai sapu tangan untuk menutup wajah mereka.
"Kita tak tahu apakah betul dia putra kita," bisik Beng Tan. "Giam Liong berkata dia lihai, tapi lihatlah, orang lihai tidak akan melamun seperti itu. Aku ingin mengujinya."
Beng Tan berkelebat dan berjungkir balik di depan pemuda itu. Pemuda itu adalah Han Han yang sedang diliputi kekesalan setelah kalah bertanding dengan Giam Liong. Ia terkejut dengan kehadiran dua orang asing tersebut, namun ia tetap waspada.
"Anak muda, kau yang bernama Han Han? Kau yang baru saja bertanding dengan si Naga Pembunuh, Giam Liong?"
"Hm," Han Han bangkit dan bersiap siaga. "Siapa kau dan ada apa menggangguku? Kenapa menyembunyikan wajah seperti maling kesiangan? Mana temanmu yang satu?"
Beng Tan kaget. "Kau tahu bahwa kami berdua?"
"Tentu saja. Dan kalau tidak salah, temanmu itu seorang wanita. Aku melihat bayangan kalian tadi, tapi aku tidak peduli karena aku tidak berurusan dengan kalian!"
"Bagus!" Beng Tan justru girang, putranya ternyata cukup lihai. "Kau awas dan tajam pandangan, Anak Muda. Tapi aku adalah sahabat Giam Liong yang hendak menangkapmu. Hati-hatilah atau kau menyerah baik-baik..."