Chapter 14
Anak-anak murid Hek-yan-pang bukanlah patung batu. Mereka adalah makhluk hidup yang berperasaan dan memiliki perasaan seperti yang dimiliki Swi Cu. Ketika Beng Tan menjelaskan bahwa membiarkan keinginan yang terpendam tanpa memberikan apa-apa dapat berbahaya, pemuda itu menutup dengan satu contoh.
"Gunung berapi adalah kekuatan dahsyat yang terpendam di bawah tanah. Semakin ditumpuk dan ditumpuk saja, tentu suatu ketika akan meledak dan menimbulkan guncangan. Nah, sebelum semuanya itu terjadi dan murid-murid kita sudah menunjukkan gejala-gejala seperti itu, maka sebaiknya diberi penyaluran," kata Beng Tan.
Swi Cu mengangguk-angguk. Beng Tan sendiri akhirnya membayangkan apa yang dibuat Ki Bi. Hampir saja dia tergelincir bersama wanita itu, kalau imannya tidak teguh. Dan "ngeri" bahwa Ki Bi bisa melakukan yang aneh-aneh, tak kuat menahan gejolak rasa atau berahi yang kian menyesakkan napas, akhirnya Beng Tan tahu bahwa semua perasaan itu harus ditampung.
Dan kini dia membicarakan itu bersama isterinya. Isterinya rupanya dapat menerima dan mengerti. Tapi tak ingin isterinya membantah atau menarik urat, maka dia mendahului bahwa murid-murid perempuan itu tak usah ditanya apakah mereka ingin kawin atau tidak.
"Jangan tanya mereka apakah ingin menikah atau tidak. Mereka adalah perempuan, tentu malu dan tak mungkin menjawab benar. Kita tampung saja murid-murid lelaki dan mereka pasti akan berhubungan sendiri, tanpa disuruh," kata Beng Tan.
"Baiklah, aku mengerti, koko. Dan semuanya terserah kebijaksanaanmu!" kata Swi Cu.
Beng Tan tersenyum, bangkit meraih isterinya. Dan ketika mereka berpelukan dan Beng Tan mencium isterinya, maka murid Hek-yan-pang diam-diam bersorak ketika diberitahukan bahwa sang ketua akan menerima murid-murid baru, kaum lelaki, pemuda-pemuda tampan yang tentu saja harus diseleksi atau diawasi Beng Tan.
Selanjutnya Hek-yan-pang bertambah semarak ketika satu dua murid-murid lelaki mulai berdatangan, kian hari kian bertambah banyak dan akhirnya tak kurang dari seratus murid lelaki ada disitu, tinggal di luar telaga, mengelilingi pulau dimana murid-murid perempuan tinggal disitu, sebagai penghuni lama.
Dan ketika Hek-yan-pang menjadi semarak dan ramai, hubungan antara murid-murid perempuan dengan lelaki tak dapat dicegah lagi, maka seratus pemuda yang menjadi murid baru sudah menjalin asmara dan siap berumah tangga.
"Nah," Beng Tan tersenyum. "Lihat hasilnya, Cu-moi. Lihat mereka itu sudah berpasang-pasangan!"
"Hm!" Swi Cu bersinar-sinar, gembira. "Betul katamu, koko. Tapi mereka harus tetap diawasi agar tidak hamil diluar nikah. Kita harus mengontrol setiap murid-murid kita sendiri!"
"Tentu, tapi aku sudah memeriksa murid laki-lakiku itu, Cumoi. Mereka rata-rata pemuda yang baik. Dan kuancam pula agar berpacaran dulu kalau kepandaian mereka belum menyamai kekasihnya!" kata Beng Tan.
"Ih, dengan begitu mereka akan bersemangat sekali. Ah, pintar kau, koko. Cerdik!" kata Swi Cu.
"Ha-ha, kalau tidak cerdik mana mungkin menjadi suamimu," kata Beng Tan.
Sudahlah, kita sama-sama mengawasi, Cu-moi. Dan siapa melanggar harus dihukum! Swi Cu mengangguk.
Akhirnya Beng Tan membebaskan murid-murid perempuan Hek-yan-pang itu mengenakan kedoknya. Hek-yan-pang dulu memang mengharuskan murid atau bahkan ketuanya memakai kedok, sapu tangan hitam atau merah untuk menghindari kekurang ajaran lelaki.
Dan ketika Beng Tan juga membuat peraturan-peraturan baru dimana murid-murid boleh keluar asal ijin, maka beberapa peraturan-peraturan lama yang kaku dan keras diperlunak pemuda ini.
Semuanya tentu saja membuat murid-murid itu girang. Di bawah Beng Tan mereka mendapat keleluasaan bergerak. Dan karena pemuda itu memang dicintai dan dihormati seluruh murid, maka Beng Tan dapat memimpin perkumpulan ini dengan lembut namun juga tegas.
Sampai akhirnya setahun kemudian isterinya itu melahirkan anak laki-laki, kebahagiaan yang membuat Hek-yan-pang semakin berbunga.
Tapi ketika semua keceriaan dan keriangan itu melanda semua murid, tiba-tiba saja markas perkumpulan itu disatroni orang. Dan begitu orang ini masuk, maka Hek-yan-pang pun geger!
Malam itu, tepat sebulan setelah anak laki-lakinya lahir, anak yang diberi nama Ju Han, Beng Tan dan isteri duduk di beranda rumah mereka dengan wajah berseri-seri.
Beng Tan sedang melihat isterinya menyusui bayinya. Anak mereka itu begitu montok, tubuhnya sehat dan wajahnya kemerah-merahan.
Tapi bukan kesitu perhatian Beng Tan sebenarnya. Pemuda ini sejak tadi mengagumi buah dada isterinya yang padat dan penuh air susu.
Benda itu menarik perhatiannya karena dari benda itulah dia dulu hidup dan dihidupi ibunya. Seperti anaknya inilah kira-kira dia dulu juga diberi minum susu, langsung dari buah dada ibu yang begitu penuh kasih dan sayang.
Dan ketika dia bersinar-sinar memandang buah dada isterinya itu, yang lahap dikempong si bayi, maka Beng Tan tiba-tiba terkejut ketika mendadak saja isterinya itu menoleh, rupanya getaran pandang matanya terasa, atau Swi Cu jengah.
"Kau..." wanita itu kemerah-merahan. "Apa yang kau pandang? Kau melihat Ju Han atau yang lain?"
"Hm!" Beng Tan bangkit berdiri, tersenyum menguasai kegugupannya. "Aku... aku memandang kedua-duanya, Cumoi. Ya Ju Han ya ibunya. Aku kagum kepada kalian!"
"Kagum?" tanya Swi Cu.
"Ya, kagum karena Ju Han bertubuh sehat dan montok serta kagum karena kaupun tak kalah montok dengan anakmu. Maksudku, ha-ha.... jangan marah, Cu-moi. Aku mengagumi buah dadamu yang montok dan segar. Baru kali ini kulihat benda milikmu itu demikian padat dan penuh isi. Ah, tak heran kalau Ju Han begitu lahap. Akupun tiba-tiba merasa lapar dan ingin....."
"Hush!" sang isteri memotong, tersipu kemerah-merahan. "Jangan disini, koko. Nanti ada orang. Jangan bicara keras-keras!"
"Ha-ha, siapa keras-keras? Aku memang lapar, ingin minum...!" tapi ketika Beng Tan menunduk dan mau ikut-ikutan seperti bayinya, mencium dan mengagumi benda yang sejak tadi dipandangnya kagum itu, tiba-tiba sang isteri menepis dan menahan.
"Ada orang!" Beng Tan terkejut. Dia membalik dan tertegun melihat Ki Bi ada disitu, seketika merah mukanya karena hampir saja dia "mimik" di depan orang lain.
Nyaris teledor! Tapi ketika Ki Bi sudah menjatuhkan diri berlutut dan pura-pura tak melihat perbuatan sang ketua tadi yang dirangsang gairahnya, maka Ki Bi melapor bahwa diluar telaga dikatakan ada seseorang yang masuk, menyelinap dan sekarang entah dimana.
"Tujuh murid lelaki roboh ma lang-melintang, dan lima murid perempuan juga terkapar. Mohon pangcu memberikan perintah apa yang harus dilakukan!" kata Ki Bi.
"Hm, dimana Hak Su?" tanya Beng Tan.
"Kami disini...!" dua bayangan berkelebat. "Kami juga hendak melapor itu, pangcu. Maaf bahwa kami terlambat!" kata Hak Su.
Beng Tan tertegun. Hak Su dan Wan To sudah berlutut di depannya dengan sikap gemetar. Mereka adalah murid-murid kepala digolongan laki-laki. Mereka itulah yang dulu ditolong isterinya dan akhirnya kencan dengan Lim Hwa. Hak Su saling cinta dengan Lim Hwa.
Dan ketika dua pemuda itu berlutut dan Swi Cu bangkit berdiri, maka Swi Cu bertanya siapa orang yang datang itu.
"Kami tak tahu, entah kawan atau lawan. Tapi orang itu dapat memasuki markas seperti orang yang sudah biasa keluar masuk disini, pangcu. Dan kami heran serta kaget!" kata Hak Su.
"Hm, dan kalian tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan?" tanya Beng Tan.
"Tampaknya seperti perempuan, tapi bayangannya terlalu cepat dan tak ada anak murid yang melihat jelas," jawab Hak Su.
"Dan kami tambahkan disini bahwa tujuh murid laki-laki akhirnya tewas," kata Hak Su, menunduk sedih, menahan marah. "Orang itu jelas adalah musuh, pangcu. Dan kami ingin minta petunjuk apa yang harus dilakukan!"
"Hm," Beng Tan terkejut. "Tewas... Jadi orang itu sudah main bunuh?"
"Benar, pangcu. Dan menurut laporan dia amat lihai sekali. Kami mohon pangcu memberikan perintah untuk menangkapnya hidup-hidup ataukah mati!" kata Hak Su.
Beng Tan tergetar. Kalau sudah begini maka gairahnya tadi tiba-tiba lenyap. Musuh menyatroni sarang mereka dan Beng Tan menduga-duga siapa gerangan. Seingatnya, tak ada musuh yang bersifat pribadi. Kalaupun ada yang menyatroni maka itu tentulah Si Golok Maut. Tapi karena Golok Maut sudah tewas dan tak ada musuh yang dirasa berkaitan, akhirnya Beng Tan menjadi curiga akan adanya seseorang, yakni, si Kedok Hitam.
Tapi begitu teringat bahwa yang dilaporkan ini adalah perempuan, padahal Kedok Hitam laki-laki, maka Beng Tan bingung namun pemuda ini mengepal tinjunya.
"Baiklah," Beng Tan bertindak cepat. "Kembali ke tempat masing-masing, Hak Su. Dan perintahkan semua murid untuk mencari dan menangkap orang ini. Jangan bunuh, aku akan berkeliling mencari bayangannya!"
Hak Su dan temannya mengangguk. Ki Bi sendiri sudah diperintahkan untuk melakukan hal yang sama, yakni menyebar murid-murid perempuan untuk mencari dan menangkap pendatang ini, yang sudah membunuh tujuh murid laki-laki.
Dan ketika Beng Tan bersiap serta menyuruh isterinya masuk, tiba-tiba Swi Cu malah mengedikkan kepala dan menggeleng.
"Tidak, aku juga akan ikut mencari, koko. Akan kutangkap dan kulihat siapa pengacau itu!" kata Swi Cu.
"Hm, kau bersama Ju Han, mana mungkin mencari penjahat," kata Beng Tan. "Tidak, kau menjaga saja anak kita itu, moi-moi. Biar aku dan murid-murid yang lain saja. Dan Ju Han menangis, lihat, kau melepas minumannya!"
Swi Cu mengerutkan kening. Anaknya tiba-tiba menangis keras karena dia melepas buah dadanya. Ju Han kiranya masih lapar dan tentu saja kecewa melihat ibunya melepaskan emik.
Dan ketika isterinya itu bingung dan men-cup-cup Ju Han, maka Beng Tan berkelebat mendahului mengulang isterinya itu masuk.
"Percayalah kepadaku, persoalan ini dapat kuselesaikan. Masuk dan jaga Ju Han, Cu-moi. Jangan ikut-ikut mengejar karena semua murid sudah kukerahkan!" kata Beng Tan.
Swi Cu mendongkol. Apa boleh buat, terpaksa dia masuk dan menahan marah.