Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 140

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 140

"Wut!" Beng Tan berkelebat menyambar pemuda itu. Ia tiba-tiba mencengkeram pundak lawannya. Han Han terkejut karena secepat itu ia sudah tertangkap. Orang tak dikenal ini sungguh lihai dan Han Han merasa terkejut luar biasa. Ia tak menyangka Giam Liong memiliki pembantu sehebat ini, karena sebelumnya ia telah mengobrak-abrik pasukan Chugoanswe dan tidak ada yang selihai orang ini, kecuali Giam Liong sendiri.

Ketika Han Han tersentak dan berseru tertahan, ia segera mengerahkan *sinkang*. Beng Tan pun ikut terkejut karena pundak lawannya tiba-tiba menjadi licin seperti belut. "Bret!" Baju pemuda itu robek sedikit. Beng Tan terkesiap; ia kagum dan gembira melihat putranya memiliki ilmu yang begitu tinggi.

Karena ia memang hendak menguji, Beng Tan mengejar dan menyerang lagi. Han Han terkejut karena tamparan dan pukulan cepat menyambarnya bertubi-tubi. Dua kali ia tertangkap, namun selalu berhasil lolos.

"Ah, kau nekat!" seru pemuda itu. "Buka topengmu, orang aneh. Atau aku akan merobohkanmu!"

"Ha-ha!" sang ayah tertawa tergelak. "Robohkan aku, Han Han. Atau aku yang akan menangkap dan merobohkanmu!"

"Plak! Dukk!" Han Han menangkis, merasa heran dengan tenaga lawan. Beng Tan mengerahkan *sinkang*-nya, sengaja ingin menjajal kekuatan putranya. Keduanya terpental, namun segera maju kembali. Sang pendekar merasa bangga bukan main karena putranya mampu berkelit dan mengelak dengan sangat cepat.

Ketika Han Han terdorong akibat adu *sinkang*, lawannya menghujani pukulan bagai badai. "Kau bukan sahabat Giam Liong!" bentak Han Han, mulai curiga. "Kau aneh dan mencurigakan. Aku akan menghajarmu, awas!"

"Duk! Dukk!" Han Han membalas dengan mengerahkan *sinkang*. Beng Tan tersentak karena hawa panas menyambar dari lengan pemuda itu. Ia harus menambah kekuatan *sinkang*-nya agar tidak terpental. Lawan semakin membelalakkan mata karena orang berkedok itu amat lihai.

Ketika Han Han mengeluarkan *Imkun*-nya, pukulan panas dan dingin berganti-ganti menyerang Beng Tan. Pendekar itu terkejut karena putranya kini mengurungnya dengan serangan yang sambar-menyambar.

"Bagus, hebat sekali. Ini seperti gabungan *Im* dan *Yang*?"

Han Han terkejut karena dalam beberapa jurus, lawannya dapat menebak arah pukulannya. Hanya orang berkepandaian tinggi yang mampu melakukan itu. Beng Tan yang terdesak kemudian mengeluarkan *Pek-lui-ciang*. Tangan Kilat itu menyambar dan meledak saat beradu dengan *Imkun*.

"Blar! Blarr!" Keduanya terkejut. Beng Tan terpelanting, sementara lawannya terhuyung-huyung mundur. Han Han tidak bermaksud mengadu jiwa, namun lawannya terus menerjang dengan penuh penasaran. Han Han harus berhati-hati karena *Imyang-sin-kun*-nya kini berhadapan dengan Tangan Kilat yang memekakkan telinga.

"Kau cukup lihai. Tapi aneh, mengapa kau menyerangku mati-matian?"

"Ha-ha!" Beng Tan tertawa kegirangan. "Siapa gurumu, Han Han? Bagaimana kau bisa menjadi sehebat ini? Jika takut, menyerahlah. Aku akan membujuk Giam Liong untuk mengampunimu!"

"Giam Liong? Huh, kau mengada-ada. Aku tidak percaya kau sahabat Giam Liong. Aku telah menghajar anak buahnya dan kau tidak ada di sana. Kau bohong!"

"Ha-ha, mau orang lain atau bukan, terimalah pukulanku!" *Pek-lui-ciang* kembali meledak dan menghantam tanah di samping Han Han hingga berlubang. Han Han marah melihat lawannya bersungguh-sungguh. Saat ia membalas dengan pukulan dingin, *Pek-lui-ciang* milik Beng Tan tersentak karena bertemu telapak tangan yang sedingin es di puncak Mahameru.

"Cress!" Han Han ingin memberi pelajaran. Ia menganggap percuma menghadapi *Pek-lui-ciang* yang panas dengan tenaga yang sama, maka ia menggunakan tenaga *Im-kang*. Tangan Beng Tan pun lekat dan tak bisa ditarik; putranya seolah menyedot kekuatan pukulan kilatnya.

"Aihhhh...!" Namun, Beng Tan bukan tokoh kemarin sore. Saat tangannya tertahan, ia menghantamkan tangan lainnya dengan *Pek-lui-ciang*. Han Han terpaksa mengelak. Beng Tan membungkuk dan menendang dagu Han Han. "Plak!" Han Han terkejut dan kagum, ia terpaksa menangkis hingga terpental.

Setelah berhasil melepaskan diri, Beng Tan maju lagi dengan serangan bertubi-tubi. "Ha-ha, kau tidak mau menjadi korban, Han Han. Bagus sekali, otakmu encer. Tapi aku akan membuatmu kewalahan!"

Han Han menggeram. Ia benar-benar kena diakali. Ia tidak bisa lagi mengikat lawannya dan harus menghadapi serangan cepat. Ia kaget dan mengerutkan kening karena lawan yang dihadapi benar-benar tangguh. Han Han tidak mau lagi sekadar mengelak; ia menyambut setiap serangan lawannya. Keras dibalas keras, panas dibalas dingin.

"Plak! Plak!" Beng Tan kagum sekaligus girang. Empat kali ia menghantam putranya, empat kali pula ia tergetar. Putranya tegak tak bergeming, mengingatkannya akan *sinkang* milik Giam Liong. Setiap kali *Pek-lui-ciang* miliknya bertemu tenaga dingin, kekuatannya selalu amblas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment