Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 141

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 141

Panas tapi bertenaga dingin, itulah yang dipakai dan dipergunakan untuk meredam Pek-lui-ciang. Beng Tan kagum dan terbahak-bahak, maka Han Han justru terheran-heran dan mengerutkan kening, kenapa lawannya itu malah demikian gembira!

"Kau gila!" pemuda itu membentak. "Kenapa tertawa demikian senang dan apa maumu menyerang orang yang tidak bersalah!"

"Ha-ha, kau tak usah tahu. Yang jelas aku ingin tahu dari mana kau mendapatkan kepandaianmu ini, Han Han. Aku sekarang mengingat-ingat siapa kira-kira orang yang menggemblengmu seperti ini. Kau, ah... kau murid Im Yang Cinjin!"

Han Han tersentak dan kaget. Ia berseru keras ketika lawan tiba-tiba dapat menebak gurunya, padahal nama gurunya amat dirahasiakan dan jarang ada orang kang-ouw tahu. Maka begitu lawan dapat menebak dan ia meleng oleh pukulan yang menyambar, Han Han terkesiap oleh seruan lawannya tadi. Ia tak pelak terdongak dan wajahnya bertemu telapak lawan yang seperti lempengan baja.

"Dess!" Han Han terhuyung. Ia hampir saja terpelanting oleh pukulan yang amat kuat ini. Pandang matanya sejenak gelap, tapi ia menarik napas dan mengerahkan sin-kang untuk membuyarkan pengaruh pukulan itu. Ketika Beng Tan kagum karena puteranya tak apa-apa, sang istri menjerit dan meloncat keluar. Han Han tertegun, mukanya memerah karena mendapat pukulan itu.

"Kau mengenal guruku, bagus, kau tentu orang ternama. Awas, aku membalas dan menghajarmu, Kawan. Hati-hati karena aku akan mengeluarkan semua kepandaianku!"

"Slap!" Han Han lenyap mempergunakan Hui-hian (Rajawali Sakti Terbang ke Langit). Tiba-tiba ia membuat Beng Tan berteriak karena pemuda itu beterbangan tanpa menginjak tanah lagi, sambar-menyambar dan mematuk dirinya dengan pukulan-pukulan cepat. Beng Tan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya pula, namun ternyata kalah cepat. Ia kalah napas oleh lawannya yang masih muda itu dan tahu-tahu sebuah tamparan meledak di sisi kepalanya.

Ketika ia terbanting namun dapat bergulingan meloncat bangun, Swi Cu menjerit dan kembali mengeluarkan teriakan. Han Han yang gemas dan marah kepada lawannya ini mengeluarkan segenap pukulan Im-kun-nya di mana udara atau tempat di sekitar situ berubah-ubah menjadi panas dan dingin berganti-ganti. Tubuh pemuda itu pun mulai menyala dan padam seperti lampu pijar!

"Bret-brett!" Beng Tan dan istri terkejut berseru tertahan. Mereka sudah disambar pukulan yang berubah-ubah itu. Swi Cu sebentar kedinginan dan sebentar kemudian kepanasan; keringat bercucuran, tapi kemudian beku ketika disambar angin dingin. Ketika Beng Tan berteriak agar sang istri menjauh, Swi Cu menjerit. Beng Tan mencabut pedangnya, sinar berkeredep tiba-tiba menyambar dan menangkis hawa panas dingin itu.

"Sing-singgg...!" Han Han tertegun. Ia silau oleh cahaya pedang dan kagumlah pemuda itu ketika lawan yang berlindung di balik pedangnya ini dapat menghalau atau bertahan dari serangan-serangan Im-kun-nya. Bertanding dengan Giam Liong, ia belum mengeluarkan Im-kang, baru Yang-kang, karena Giam Liong ternyata mahir pula bermain Im-kang; terbukti pemuda itu dapat menjadi manusia es dan beku tak apa-apa dihantam pukulan Yang-kang-nya.

Kini Han Han kagum akan gerakan pedang yang memancarkan sinar terang namun indah saat menangkis semua pukulannya. Beng Tan tiba-tiba berseru, menantang apakah dia berani menghadapi silat pedang dan memintanya mencabut senjata.

"Aku akan bertahan dan menyerangmu dengan senjata. Cabutlah senjatamu, apakah berani kau menghadapi...?"

"Hm," Han Han berseru mengangguk. "Aku tak mempunyai senjata, Kawan. Senjataku adalah kaki dan tanganku ini. Kalau kau mau, pakai dan pergunakan pedangmu itu. Aku tak takut!"

"Pedangku bukan pedang biasa. Kau tak akan tahan!"

"Hm, melihat pamornya aku maklum, Kawan. Tapi aku tak takut. Coba dan pergunakan pedangmu, atau aku menyerangmu dan lihat seberapa hebat ketajaman pedangmu itu!"

Han Han bergerak dan membentak, tiba-tiba berseru mendahului dan melepas pukulan dingin. Ia mengerahkan Im-kang karena tahu bahwa lawan agaknya seorang ahli tenaga Yang-kang, terbukti dengan Pek-lui-ciang-nya yang dahsyat tadi. Ketika Beng Tan terkejut karena pukulan itu tahu-tahu sudah di depan mata, Han Han bergerak dan menyelinap dengan luar biasa cepatnya; Huitiauw yang dilakukan pemuda itu menyambar bagai seekor rajawali melesat.

"Awas!" Namun Beng Tan mengangguk. Ia tak sempat mengelak karena pukulan puteranya benar-benar secepat setan. Kelima jari pemuda itu tahu-tahu di depan hidung dan siap mengancam wajahnya. Karena ia tak mau celaka, ia segera menyambarkan pedang dan membentak agar pemuda itu hati-hati. Han Han menangkis, tapi pemuda itu berseru terkejut karena begitu pedang menyambar, pinggir lengan bajunya pun robek.

"Bret!" Pemuda itu menarik dan melempar tangan ke belakang. Beng Tan sudah memberitahunya agar hati-hati, namun tak urung pemuda ini terkesiap juga. Hawa dingin pedang itu mengingatkannya akan hawa dingin Golok Maut milik Giam Liong. Ketika selanjutnya pedang berputar dan Han Han digulung cahaya menyambar-nyambar, Beng Tan tertawa dan memerahkan telinga lawan. Han Han kaget dan pucat karena lawan benar-benar amat tangguh. Pedangnya itu juga pedang luar biasa!

"Kau hebat, tapi kau dibantu pedangmu!"

"Ha-ha, itulah sebabnya kuberi tahu agar kau mencabut senjatamu pula, Han Han. Karena tanpa pedang ini, agaknya aku tak mampu menghadapi Im-kun-mu. Hayo, cabut pedangmu atau senjata apa saja yang kau punya!"

"Aku tak punya senjata. Tapi jangan harap kau dapat mengalahkan aku... plak-plak!" Han Han menampar atau mengebut dari jauh, mempergunakan Im-yang-sin-kun-nya, akhirnya berhasil menahan dan menyampok pedang agar tidak terlalu mendekat. Beng Tan merasa bahwa sin-kang yang dipunyai puteranya ini setingkat lebih unggul dibanding dirinya.

Han Han lama-lama mengerutkan kening karena jurus demi jurus akhirnya mengingatkan dia akan sesuatu. Beng Tan telah memainkan Peksut-nya, dan ilmu ini pernah dilihat Han Han dimainkan oleh Ki Bi dan sumoi-sumoinya di Hek-yan-pang. Hal itu terjadi ketika pemuda itu datang ke sana, bertepatan pula dengan datangnya rombongan si gundul Pat-jiu Sian-ong yang mengamuk dan mengobrak-abrik markas itu kala Beng Tan dan istrinya tidak ada.

Ketika Han Han terkejut karena jurus demi jurus akhirnya dikenal semakin baik—itulah ilmu silat Pek-jit Kiam-hoat—pemuda ini membentak dan menampar demikian kerasnya sambaran pedang yang menuju lehernya.

"Tahan, ini Pek-jit Kiam-hoat dari Hek-yan-pang. Siapa kau dan buka saputanganmu!"

Beng Tan dan Swi Cu terkejut sekali. Mereka belum pernah bertemu dengan putera mereka ini, tapi bagaimana pemuda itu tiba-tiba tahu bahwa ilmu pedang yang dimainkan ini adalah Pek-jit Kiam-hoat. Seingat mereka, Han Han belumlah mengunjungi Hek-yan-pang dan karena itu tentu juga belum mengenai ilmu-ilmu silat mereka. Tentu saja mereka tak tahu bahwa pemuda ini sudah ke Hek-yan-pang dan bertemu dengan Ki Bi dan yang lain-lain, bahkan melindungi perkumpulan itu kala Pat-jiu Sian-ong dan kawan-kawannya mengamuk, sehingga Hek-yan-pang selamat.

Ketika Beng Tan terpental mundur dan hampir saja ia terpelanting—tamparan yang dilakukan puteranya itu demikian kuat dan keras—pendekar itu menggigil. Swi Cu berteriak dan langsung menubruk pemuda ini, membuang saputangan yang tadi dipakai menutupi mukanya.

"Han Han, kami... oh, kami adalah ayah ibumu. Kau, ah... kau puteraku yang hilang!"

Han Han tertegun melihat raut wajah seorang wanita yang berumur empat puluhan namun masih cantik dan gagah. Ia bengong ketika tahu-tahu sudah ditubruk dan Swi Cu menangis habis-habisan di dadanya, tak kuat lagi menahan haru dan semua perasaan bahagia yang meletup.

"Aku ibumu, dan itu ayahmu. Ah, ayahmu ingin menguji kepandaianmu, Han Han. Dia telah mendengar dari Giam Liong bahwa ilmu kepandaianmu tinggi. Kau benar kalau ilmu pedang yang dipakainya adalah Pek-jit Kiam-hoat, karena ia memang adalah ketua Hek-yan-pang!"

Ketika Swi Cu mengguguk dan meremas-remas puteranya ini, Han Han terkejut. Sang lawan sudah membuka kedoknya dan berjalan mendekati, terhuyung dengan air mata bercucuran, pedang sudah disimpan lagi di belakang punggung.

"Han Han, aku ayahmu. Maaf, Nak... Ayah sengaja mengujimu. Kau... kau puteraku yang hilang!"

Han Han luluh hatinya. Ia tiba-tiba mengguguk dan terharu bukan main begitu ayah ibunya muncul. Sudah lama ia mencari-cari dan kini tiba-tiba ia bertemu. Ayah ibunya gagah, ternyata mereka orang-orang tua yang hebat. Ia teringat akan kepandaian ayahnya yang sanggup bertahan dari pukulan-pukulan Im-kun-nya, padahal orang lain pasti roboh dan sudah menyerah.

Ketika ia menggigil dan ibunya mengguguk mengguncang-guncang tubuhnya, pemuda ini tersedak dan menangis pula. Tiga tubuh sudah berpelukan dan Han Han tak mampu menahan jerit atau kebahagiaannya dengan keluhan panjang.

"Ayah... Ibu...!"

Ketiga-tiganya sudah berangkulan amat mesranya. Beng Tan tak mampu juga membendung air matanya, mengguguklah pendekar itu menemukan puteranya yang hilang. Perasaan haru, bahagia, dan berbagai perasaan lain mengaduk hatinya. Pendekar yang tak mampu menahan kegembiraan ini hampir saja menangkap dan melempar-lempar puteranya itu ke atas. Sejenak ia benar-benar diguncang perasaan meluap!

Tapi ketika Beng Tan mampu menguasai hatinya lagi sementara istrinya masih mengguguk dan menciumi putera mereka, Han Han dikerubung dan "dikeroyok" ayah ibunya, Beng Tan lebih dulu melepaskan diri.

"Syukur kepada Thian Yang Agung."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment