Chapter 142
Kami, ibu dan ayah, telah menemukan putra kami lagi.
"Ah, kita patut merayakan kegembiraan ini di Hek Yan Pang, Han Han. Mari kita pulang dan betapa rindunya ayah-ibumu!"
"Benar," Han Han dikecup dan air matanya diusap oleh sang ibu.
"Aku juga bahagia, Ayah. Dan Ibu, ah... aku rindu akan kalian juga. Sudah lama aku mencari-cari, namun baru sekarang aku menemukan. Dan Ayah hebat sekali!"
"Tentu saja!" sang ibu melengking, suaranya penuh tawa dan bahagia. "Kalau tidak, mana mungkin aku mau menjadi istrinya, Han Han. Ayahmu memang hebat dan namanya tersohor di seluruh jagat!"
"Hm, tak perlu memuji diri. Dulu mungkin begitu, Nio Cu. Tapi sekarang aku sudah tidak begitu lagi. Kehebatanku sudah digantikan anak-anak muda. Lihat putra kita dan Giam Liong ini, aku sudah tak mampu menandinginya!"
"Giam Liong dibantu Golok Maut-nya!"
"Tidak, ia telah menggabungkan kepandaian ayahnya dan kepandaianku, Nio Cu. Giam Liong memang hebat. Dan anak kita ini, ah, ia pun hebat. Aku terpaksa mencabut pedangku agar tidak lekas roboh."
Han Han tersenyum malu. Ayahnya telah tertawa bergelak, dan sang ibu tampak berseri-seri begitu cantiknya. Han Han kagum ketika tiba-tiba ibunya ini seperti gadis remaja lagi, cantik jelita dan penuh pesona. Ia tak tahu bahwa kebahagiaan yang demikian besar itulah yang membuat wanita ini serasa muda lagi dan begitu gemilangnya seperti ketika berusia tujuh belas tahun lalu. Dan ketika Han Han kagum, namun sang ayah juga kagum, Beng Tan menyambar dan memeluk istrinya ini. Pendekar itu berkata bahwa mereka harus cepat pulang. Diam-diam ia tergetar dan ingin meminta "jatah" kalau nanti di kamar!
"Kita sudah menemukan anak kita. Ayo kita pulang dan cepat rayakan pesta!"
"Benar," Swi Cu tak tahu keinginan suaminya yang terpendam. "Aku juga ingin merayakan pesta, suamiku. Dan Han Han akan kuperkenalkan kepada semua murid-murid Hek Yan Pang!"
"Aku sudah mengenalnya," Han Han tiba-tiba tersenyum. "Aku sudah ke sana dan berkenalan dengan Bibi Ki Bi dan lain-lain, Ibu. Mereka semua sudah mengenalku dan justru dari mereka itulah aku disuruh ke kota raja. Dan benar, aku menemukan kalian di sini."
"Heh, kau sudah ke sana? Sudah berkenalan dengan mereka-mereka itu?"
"Benar, dan karena itulah aku mengenal silat pedang ayahku, Ibu. Aku sudah melihatnya ketika Bibi Ki Bi dan lain-lain memainkan ilmu silat itu, meskipun tentu saja tak sehebat dan semahir Ayah."
"Astaga, kalau begitu kau bertempur dengan mereka!"
"Tidak, justru sebaliknya. Aku melindungi dan membela mereka ketika Pat Jiu Sian Ong dan kawan-kawannya datang."
"Pat Jiu Sian Ong?"
"Benar, Ayah, kakek gundul itu. Katanya mencari Ayah atau Han Han yang sebenarnya adalah Giam Liong. Hek Yan Pang diobrak-abrik!"
"Keparat, apa yang dilakukan Pat Jiu Sian Ong itu? Kenapa ia tak tahu malu menyerang rumah ketika pemiliknya tak ada!"
"Katanya ingin membalas dendam, Ibu. Tapi aku kurang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tentunya Ayah lebih tahu."
Ketika Han Han memandang ayahnya dan sang ayah menarik napas dalam-dalam, teringat kejadian di rumah hartawan Tek, pendekar itu mengangguk dan berkata muram, "Tidak salah, Pat Jiu Sian Ong ingin membalaskan kekalahan muridnya. Hm! Tapi kurang ajar juga kalau kakek itu marah-marah di saat aku tidak ada. Kami tentu akan—"
"Dan Ibu," Han Han memotong, "benarkah keluar untuk mencari aku?"
"Tentu saja. Berbulan-bulan aku mencarimu, Han Han. Dan berbulan-bulan itu pula aku menderita. Ah, ini karena perbuatan bibimu Wi Hong. Ia yang menjadi biang keladi semuanya ini!"
"Sudahlah," Beng Tan tak mau mengungkit-ungkit lagi masa silam. "Han Han sudah kita temukan, Nio Cu, dan sedikit banyak karena jasa Giam Liong pula. Kalau dia tidak memberi tahu, belum tentu kita dapat menemukan anak kita sekarang. Eh, bagaimana pendapatmu, Han Han? Benarkah kau telah bertanding dengan Giam Liong?"
"Hm, justru karena itu aku duduk tepekur di bawah pohon. Aku kecewa karena ia mengalahkanku. Ia mengeroyok!"
"Mengeroyok?" Sang ayah mengerutkan kening tak percaya. "Giam Liong adalah pemuda gagah, Han Han. Seingatku, tak pernah ia mengeroyok!"
"Benar, tapi Mo Bin Lo muncul membantunya, Ayah. Dan roh kakek iblis itu yang menggangguku saat bertempur. Aku penasaran!"
"Hm, kiranya begitu. Dan aneh kalau sukma kakek itu keluar. Barangkali ada apa-apa yang membuat ia sewot. Tapi Giam Liong tentunya tak tahu akan ini. Golok Maut hanya dapat ditandingi Pedang Matahari!"
"Benar, guruku juga berkata begitu, Ayah. Dan kalau tidak salah, tentunya pedang itu..."
"Memang inilah Pek Jit Kiam," sang ayah tersenyum, memotong. "Tapi kau tampaknya tak pandai bersilat pedang, Han Han. Kau lebih mengandalkan kaki tanganmu dengan Im Yang Sin Kun. Hebat sekali ilmu silatmu itu, tapi untuk menandingi Golok Maut, kau harus belajar silat pedang, dengan Pedang Matahari ini!"
"Dan kau pasti dapat mengalahkan Giam Liong!" sang ibu berkata sengit. "Ayahmu telah dipecundangi olehnya, Han Han. Balaskan sakit hati ini dan hadapi bocah itu!"
"Hm, Ibu tampak benci sekali kepada Giam Liong."
"Tentu saja. Aku juga membenci mendiang ayahnya. Gara-gara Si Golok Maut itulah Suci-ku sampai tak karuan dan kini mengobrak-abrik rumah tanggaku!"
"Sudahlah, sudah..." Beng Tan tak mau istrinya semakin naik pitam. "Urusan yang sudah-sudah tak perlu dibicarakan lagi, Nio Cu. Putra kita telah ditemukan dan anggap saja semua peristiwa yang lalu untuk menggembleng kita. Mari kita pulang dan aku ingin menurunkan ilmu silat pedang kepada Han Han!"
Swi Cu teredam. Disambar dan dipeluk suaminya membuat wanita ini tak marah-marah lagi, apalagi karena putranya, Han Han, memandangnya begitu lembut. Pandang mata putranya itu penuh kerinduan, dan ia pun ingin menumpahkan rindu kepada putra satu-satunya ini. Ia ingin membuat pesta besar-besaran di rumah dan biarlah keluarga besar Hek Yan Pang bergembira.
Dan ketika suaminya berkata agar mereka cepat pulang, urusan lain tak usah dihiraukan, maka Beng Tan berkelebat dan istri serta putranya diajak pulang. Ia tak mau atau pura-pura tak tahu lagi akan adanya perang besar yang mengancam pintu gerbang.
Beng Tan sudah mual dengan semuanya itu, dan begitu dia pergi, maka di lain tempat terjadi kegemparan. Karena begitu Han Han maupun ayah-ibunya kembali ke Hek Yan Pang, maka di kota raja, atau tepatnya di istana, Giam Liong mengamuk!
Seperti telah diceritakan di depan, Giam Liong meninggalkan ayah dan ibu angkatnya untuk mencari atau menemukan kembali ibu kandungnya. Dia sekarang tahu bagaimana nasib ibunya itu, bahwa ibunya telah selamat ditolong oleh ibu dan ayah angkatnya. Tapi karena musuh besarnya, si Kedok Hitam, juga masih berkeliaran dan lolos di sana, dia mengertakkan gerahamnya penuh kemarahan. Maka Giam Liong langsung ke kota raja mencari musuh yang amat dibencinya itu.
Dia sudah lebih tenang begitu ibunya terlepas dari tangan si Kedok Hitam. Dia akan mencari dan menemukan musuhnya itu bukan karena ibunya, melainkan untuk melepas sakit hati dan dendam yang sangat. Semakin dia mengenal musuhnya itu, semakin diketahui betapa jahat dan liciknya musuh itu.
Lihat saja peristiwa sekarang. Siapa yang begitu curang dan licik menyerbu dirinya? Bukankah sudah diadakan perjanjian bahwa pertemuan itu pada hari ketiga? Tapi belum hari yang ditentukan habis, tiba-tiba saja Kedok Hitam telah menyerang pasukan Chu Goan Swe dan yang lebih jahat lagi adalah mengirim Lam Ciat untuk membunuh dan kemudian mengeroyoknya!
Giam Liong mengertakkan gigi. Ia akan membunuh dan mencincang musuhnya itu. Akan disedot dan diminumnya darah musuhnya itu. Dan teringat bahwa selama ini Kedok Hitam selalu berlindung di istana, rupanya kaisar juga merestui dan melindungi si Kedok Hitam itu. Maka sasaran kemarahannya adalah istana! Dia akan datang dan mengobrak-abrik di sana. Semua pembantu atau orang-orang kepercayaan kaisar akan dibabatnya. Kalau perlu, kaisar sendiri akan dibunuhnya!
Dan ketika Giam Liong berkelebat dan terus menuju kota raja, pasukan Chu Goan Swe menyusul dan bersorak-sorai di belakang. Maka pemuda ini dengan amat ringannya telah menyambar dan melayang naik ke tembok kota yang tinggi. Bagi Giam Liong, pekerjaan ini tidak sukar. Ia menggenjot tubuhnya dan sekali melayang ia pun telah tiba di atas. Tapi karena saat itu kota raja sedang guncang dan penjagaan tentu saja dilakukan dengan amat ketat, munculnya Giam Liong di atas tembok otomatis diketahui. Maka berteriak-teriaklah para penjaga yang seketika melepas panah atau senjata jarak jauh. Caping di atas kepalanya itu segera dikenal sebagai keturunan mendiang Si Golok Maut!
"Heii, itu Si Naga Pembunuh. Awas... awas... ia datang. Serang dan suruh dia turun!"
Giam Liong segera dihujani panah dan tombak. Pemuda ini mendengus dan tiba-tiba tangan kanannya bergerak ke sana kemari. Ia menepis, dan semua panah atau tombak itu patah. Dan ketika penjaga berteriak pucat, pemuda ini berkelebat dan melayang turun, maka ia sudah masuk ke dalam dan pasukan di bawah ketakutan, gentar!
"Celaka, ia masuk. Awas, ia datang!"
Giam Liong tidak menggubris kurcaci-kurcaci ini. Baginya, para penjaga itu bukanlah lawan setimpal. Ia akan merobohkan mereka kalau mereka berani mendekat. Dan ketika ia diserang namun anak-anak panah kembali runtuh, kini ia membiarkan saja anak-anak panah itu mengenai tubuhnya yang kebal. Maka pasukan menjadi ngeri dan mereka tunggang-langgang melarikan diri. Belum apa-apa sudah cerai-berai!
"Aku mencari Kedok Hitam. Mana lawanku itu dan suruh dia—"
Bentakan Giam Liong yang geram diiringi oleh gerakan tubuhnya yang berkelebat maju. Ia ingin ke istana dan barulah di sana ia akan memberi pelajaran. Para penjaga di sini terlalu kecil artinya dan mereka bukanlah tandingannya. Dan ketika benar saja dengan mudah ia mengibas atau melempar mereka yang terlalu dekat dan kurang cepat berlari, maka Giam Liong Si Naga Pembunuh ini tak dapat dihalangi ketika terus maju dan bergerak ke istana. Namun istana bukanlah tempat remeh yang boleh diganggu begitu saja.