Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 143

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 143

Kaisar dan para panglimanya tentu saja tidak boleh membiarkan orang berbuat seenaknya. Mereka telah bersiap dan berjaga-jaga di tempat-tempat gelap, bukan untuk menghadapi pemuda ini, melainkan ditujukan untuk menghadapi pasukan Chugoanswe jika jenderal itu bersama pengikutnya berhasil mendobrak pintu gerbang. Jadi, mereka berfungsi sebagai cadangan yang disiapkan di mana-mana.

Begitu Giam Liong muncul dan kedatangannya yang seorang diri mengejutkan semua orang, pasukan itu otomatis bergerak. Sebelum sampai di istana, Giam Liong sudah harus menghadapi ribuan orang yang berjaga berlapis-lapis.

"Cegat Si Naga Pembunuh! Awas, jangan biarkan ia masuk! Serang!"

Giam Liong tertegun dan membelalakkan matanya. Ia tahu-tahu sudah dikepung ribuan orang yang buas. Mereka berteriak-teriak, bukan sekadar untuk menakut-nakuti Giam Liong, melainkan juga untuk menenangkan diri sendiri yang gentar. Pasukan kerajaan itu ribut dengan suara yang tumpang-tindih. Giam Liong telah dikenal kehebatannya dengan golok mautnya.

Ketika anak-anak panah menyambar bagai hujan dan golok serta tombak berdesingan, Giam Liong dicegat jalan majunya. Keturunan Sin Hauw yang gagah perkasa ini membentak dan melengking nyaring. Sinar putih keluar dari punggungnya, disusul gemerlap bunga api.

"Kalian tikus-tikus busuk yang tak tahu diri!"

Tombak dan golok patah-patah. Giam Liong mengeluarkan golok mautnya, dan begitu ia memutar senjata itu, hujan senjata lawan mencelat berhamburan. Lawan yang menyerang balik menjerit ketika panah atau tombak yang patah menghantam mereka sendiri. Ketika dua puluh orang roboh di depan—ada yang menjerit dan pingsan karena patahan golok menancap di biji mata, terjungkal, dan memuncratkan darah segar—Giam Liong mengamuk dan membabatkan goloknya menerjang pasukan yang membentengi istana.

"Aku mencari Kedok Hitam, tapi kalau kalian ingin mampus, tentu saja kuantar ke neraka!"

*Crat! Crat!* Batok kepala bergelindingan setelah putus dibabat Golok Maut. Serangan yang datang menyambar-nyambar itu membuat pasukan berteriak ketakutan. Mereka melihat teman-teman mereka roboh binasa dengan cepat dan mengerikan karena tak ada satu pun senjata yang mampu menahan golok yang luar biasa tajam itu. Ketika Giam Liong berkelebatan, pasukan otomatis buyar, pecah, dan mereka membalikkan tubuh untuk menyelamatkan diri.

"Golok Maut mengamuk! Celaka, pemuda ini lebih hebat dari ayahnya!"

Giam Liong tak peduli. Ia sudah merah terbakar oleh kemarahannya yang luar biasa. Ia menggeram, membuka jalan darah, sementara pasukan cerai-berai melarikan diri. Mereka gentar dan pucat oleh kelebatan sinar putih di tangan pemuda itu. Begitu menyambar, sebuah kepala mencelat.

Ketika pasukan kalang-kabut dan jalan terbuka, Giam Liong maju mendekati istana. Namun, terdengar seruan aba-aba dari depan. Sesosok bayangan hitam berkelebat, dan berkilatlah mata Giam Liong melihat siapa itu. Kedok Hitam, musuh yang dicari-cari, tiba-tiba muncul di balik pasukan besar. Ketika Kedok Hitam berseru agar orang-orang mundur, Giam Liong bebas memasuki istana. Tepat di pintu gerbang, Giam Liong telah berhadapan dengan lawan yang amat dibencinya.

"Kedok Hitam, aku ingin menghirup darahmu!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam tertawa bergelak. Tubuhnya bergoyang di atas kepala patung singa. Ia meloncat dan berdiri di sana, bertolak pinggang. "Kau luar biasa dan pemberani sekali, Giam Liong. Kau seperti bapakmu. Ah, aku kagum bahwa kau datang dan ingin mempersembahkan batang leher ini kalau kau bisa. Ayo, hentikan amukanmu dan lawanlah aku!"

Ia berjungkir balik dan meloncat ke patung singa yang lain yang lebih tinggi. Berturut-turut, laki-laki itu melewati sebelas patung singa di pintu gerbang istana. Giam Liong menggeram dan langsung mengejar. Saat ia menginjak patung pertama dan hendak meloncat ke patung kedua, mendadak terdengar ledakan keras dan patung itu amblong!

Giam Liong tak menyangka ini. Ia terjeblos dan jatuh ke bawah. Patung singa-singaan itu ternyata perangkap. Namun, karena Giam Liong bukanlah pemuda biasa, begitu terjeblos ia langsung membacokkan goloknya ke dinding singa batu. Ia tertahan di sana, lalu sekali mengayun kaki, ia sudah keluar dengan selamat. Tindakannya membuat lawan dan orang-orang lain kagum.

"Kau licik dan selamanya curang!"

Golok di tangan pemuda ini mendahului tubuhnya yang terbang ke atas. Giam Liong melindungi dirinya dengan senjata ampuh itu, dan benar saja, beberapa benda hitam yang disambar Kedok Hitam terpukul runtuh. Kedok Hitam rupanya sudah menduga dan menyambitkan senjata rahasia ke arah patung batu yang bobol itu.

Ketika Giam Liong tegak kembali dengan mata bersinar dan golok yang berkeredep haus darah, ia melihat lawan sudah ada di wuwungan paling tinggi di antara bangunan-bangunan istana kaisar.

"Ha-ha, mari, Giam Liong. Kita mencari tempat yang enak untuk bertanding!"

Giam Liong terbakar amarah. Ia hampir celaka di tangan lawannya yang licik dan curang. Namun, ia tidak takut dan justru semakin waspada. Ia membentak dan menyusul, bukan melalui undak-undakan patung singa, melainkan berkelebat ke kiri dan berlarian cepat di atas genting. Ia terbang menyambar seperti burung, lagi-lagi membuat orang takjub.

"Kau akan kukejar ke mana pun kau bersembunyi!"

Kedok Hitam terkejut. Ia tak menyangka Giam Liong mengejarnya lewat genting-genting istana. Di situ tak ada apa-apa, namun laki-laki itu tiba-tiba tertawa. Ketika Giam Liong mendekatinya dengan mata yang mendidih seperti api, Kedok Hitam meloncat turun kembali ke tanah.

"Ha-ha, di bawah lebih enak, Giam Liong. Mari turun dan ikuti aku!"

Giam Liong melotot. Ia gusar dipermainkan, namun ia segera meloncat turun dan menubruk. Gerakannya seperti garuda menyambar. Kedok Hitam terkejut karena tahu-tahu pemuda itu sudah berada semeter di belakangnya. Giam Liong mencegat dan memotong jalan. Namun, Kedok Hitam adalah lawan tangguh yang pernah dijumpai mendiang Golok Maut dan Beng Tan. Begitu diserang secepat itu, ia menggerakkan tangannya ke belakang.

*Dukk!*

Kedok Hitam mencelat, terbanting, dan bergulingan. Namun, ia tertawa gembira, meloncat bangun, lari, dan menyelinap di antara lorong-lorong istana. Ketika Giam Liong terhuyung dan lawan masih lolos, ia membentak dan mengejar lagi.

"Minggir, atau kalian mampus!"

Orang-orang menyibak. Kedok Hitam berseru kepada mereka agar membiarkan pemuda itu mengejarnya. Giam Liong melihat lawan meliuk-liuk di antara lorong-lorong sempit. Ia marah karena lawan amat pengecut, lari sebelum bertanding.

"Kedok Hitam, jangan lari! Mana kejantananmu!"

"Ha-ha," Kedok Hitam tertawa bergelak. "Justru ini aku menunjukkan kejantananku, Giam Liong. Aku ingin bertanding di tempat yang sepi, tidak melibatkan orang lain. Hayo, kau kejar dan ikuti!"

"Aku pasti mengikutimu. Aku akan membunuhmu!"

Ketika Giam Liong mengejar, Kedok Hitam menyelinap keluar dari samping gedung. Laki-laki licik itu membiarkan Giam Liong mengejar, masuk keluar lorong istana, hingga di belakang gedung ia tiba-tiba meloncat keluar. Saat Giam Liong menyambarnya, lawan rupanya sengaja membiarkan diri disergap, lalu sekonyong-konyong menendang bola hijau ke arah Giam Liong.

*Plak!*

Giam Liong menangkis. Ia tidak tahu benda apa itu, namun begitu ditangkis, bola tersebut meledak. Dari dalamnya keluar jarum-jarum hijau yang luar biasa banyak, tak kurang dari seribu! Giam Liong harus melempar tubuh ke belakang sementara lawan tertawa bergelak dan melanjutkan larinya. Giam Liong bergulingan lalu melompat bangun. Lawan kembali jauh di depan.

"Kedok Hitam, kau licik, curang! Hayo berhenti dan kita..."

"Ha-ha, aku ingin di sana. Ada bukit di taman istana, Giam Liong. Mari ke sana dan di situ kita bertanding!"

"Kau pengecut, hina!"

Giam Liong mengejar dan melepaskan *hui-to* (golok kecil) yang menyambar susul-menyusul. Lawan menangkis dan golok-golok itu runtuh. Kedok Hitam memang lihai.

"Ha-ha, tak usah mempergunakan senjata anak kecil. Tanpa kau serang pun aku pasti berhenti di sana... *plak, plak, plak*."

Giam Liong gemas melihat lawan meruntuhkan golok-golok terbangnya. Ia memang melepas senjata rahasia itu agar lawan berhenti. Namun, setelah golok-golok runtuh dan lawan meneruskan lari menuju sebuah gundukan tanah tinggi atau bukit buatan, Giam Liong menggeram. Ia mengejar dan berjungkir balik untuk menghantam lawan dengan pukulan jarak jauh.

"Kedok Hitam, berhenti!"

Kedok Hitam terkejut, hampir tiba di bukit kecil itu ketika Giam Liong melayang dan berjungkir balik tepat di belakangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment