Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 144

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 144

Pukulan yang amat dahsyat menyambarnya bagai angin topan. Ia membalik dan, apa boleh buat, terpaksa menangkis.

Ketika dua lengan beradu, Kedok Hitam mengeluh. Ia terlempar dan menabrak bukit kecil hingga terbanting. Giam Liong rupanya mengerahkan sebagian besar tenaganya.

"Des!" Laki-laki itu bergulingan.

Giam Liong terbelalak karena lawannya sangat kuat; pria itu mampu bangkit, berlari lagi, dan menyelinap di balik bukit kecil. Ketika Giam Liong membentak dan menyerang lagi, lawannya yang pengecut itu tiba-tiba melepaskan belasan sinar hitam untuk menyambut pukulannya.

"Plak, plak, plak!" Giam Liong memukul jatuh jarum-jarum tersebut. Ia bermaksud menyerang, namun lawan melepas jarum-jarum hitam itu sehingga ia terpaksa menangkis.

Saat ia hendak menerjang lagi, lawan bersembunyi di balik bukit. Giam Liong tidak takut akan serangan gelap. Tiba-tiba muncul bayangan-bayangan dari kiri dan kanan, serta seorang kakek gundul yang menghantamnya dari samping.

"Bocah, kau mampuslah!"

Giam Liong terkejut. Ia tidak menyangka bahwa di balik bukit kecil itu bersembunyi lima orang lainnya. Saat ia menangkis pukulan-pukulan itu, tiga orang lainnya bergerak menghantam dari belakang. Giam Liong terhuyung dan segera mengerahkan *sinkang*.

"Des, des, des!" Tiga tongkat menggebuk tubuhnya.

Giam Liong mendelik karena tiba-tiba di situ muncul Toa-sin-kai dan Ji-sin-kai. Dua kakek pengemis itu bersama seorang lagi yang samar-samar diingat Giam Liong, yakni seorang tosu dengan rambut kepala digelung tinggi. Saat ia terhuyung, ketiga orang itu membentaknya lagi, menyerang, dan menggerakkan tongkat. Pemuda ini meradang dan naik darah. Ji-sin-kai dan Toa-sin-kai adalah orang-orang yang dulu pernah dihajar di rumah hartawan Tek.

"Ji-sin-kai, kiranya kau telah menjadi anjing penjilat istana. Bagus sekali kau datang!"

"Pinto tidak dapat menerima sepak terjangmu!" tosu di sebelah itu balas membentak. Ia mendahului Giam Liong dengan tongkat di tangan yang menyambar-nyambar. "Kau tentu ingat pinto, Naga Pembunuh. Pinto bergerak sekadar sebagai patriot. Kau adalah antek pemberontak!"

"Ah, kau Eng Sian Taijin. Bagus, sekarang aku ingat, tapi aku pun akan menghajarmu!"

"Plak, plak, plak!" Giam Liong menangkis dan menggerakkan tangan kirinya, menghalau tongkat yang datang susul-menyusul. Tiga orang itu menyerangnya dengan gencar, namun Giam Liong berhasil mementalkannya. Saat ketiganya terkejut, Giam Liong mendengar tawa menyeramkan. Ia hendak membalas, namun Lam-ciat dan si kakek gundul menghantamnya dengan pukulan kuat. Ia menangkis, dan Kedok Hitam tiba-tiba muncul melepas pukulan pula.

"Bunuh pemuda ini!"

Giam Liong terkejut. Ia baru saja hendak membalas Ji-sin-kai dan kawan-kawannya ketika Lam-ciat serta kakek gundul yang tak dikenal itu menghantamnya. Belum sempat ia menangkis atau mengelak, Kedok Hitam muncul dari balik gundukan dan menghantamnya. Pemuda itu marah. Ia sadar bahwa Kedok Hitam membawanya ke tempat kawan-kawannya bersembunyi.

Giam Liong membentak dan mengeluarkan Golok Mautnya. Tadi ia sengaja menyimpan senjata itu dan tidak mengeluarkannya sebelum benar-benar dekat dengan lawan. Saat ia membentak dan serangan lawan datang bagai hujan, secepat kilat ia mencabut senjata mautnya. Begitu sinar golok berkeredep, Kedok Hitam berteriak kepada kawan-kawannya, namun tongkat Ji-sin-kai dan Eng Sian Taijin keburu putus tersambar sinar putih yang berkilauan.

"Awas... crak, crakk!" Enam orang itu membanting tubuh dan bergulingan.

Giam Liong yang marah dan tidak banyak bicara membuat lawan-lawannya terpekik dan menjerit kaget. Ji-sin-kai, yang dulu sudah merasakan kelihaian pemuda ini, hampir saja kehilangan pergelangan tangannya. Giam Liong meneruskan gerakannya, dan untunglah pengemis itu segera melempar tubuh. Tongkatnya putus seketika dan tangannya terasa dingin terkena angin golok.

*Giam-to* atau Golok Maut itu memang membuat bulu kuduk berdiri. Hawanya benar-benar menyeramkan. Ketika enam orang itu bergulingan, Eng Sian Taijin berteriak tertahan. Baru sekarang ia tahu kehebatan Golok Maut itu. Tosu itu meloncat bangun dengan lutut gemetar, persis orang yang sedang diserang demam.

"Iblis, bocah ini luar biasa sekali!"

"Hm, yang luar biasa adalah golok mautnya," Kedok Hitam berseru, membangkitkan keberanian teman-temannya. "Jangan tangkis dan terima sambaran goloknya, Sin-kai. Hindari dan pergunakan taktik jarak jauh untuk menyerangnya secara bergantian!"

"Benar," seru Lam-ciat dengan suara menggigil namun mata bersinar-sinar. "Bocah iblis ini mengandalkan goloknya, Taijin. Tapi jangan takut karena kami akan merampasnya. Maju lagi dan keroyok secara bersudut!"

"Pinto tidak takut!" sang tosu membentak dengan muka merah. "Pinto hanya memuji goloknya, Lam-ciat. Tapi pinto pun punya pedang yang bagus. Biar pinto cabut dan lihat apakah pedang pinto tidak mampu menghadapi goloknya!"

Tosu itu tidak mau malu. Ia mencabut pedang dan menyerang kembali bersama teman-temannya. Kedok Hitam sudah berseru, namun merasa pedangnya pun baik dan tidak perlu takut sebelum mencoba. Saat Lam-ciat dan yang lain menghantam pemuda itu dan si tosu menyerang dari samping, Giam Liong tak sempat memperhatikan satu demi satu. Pemuda itu memutar goloknya dan... pedang tosu itu pun putus.

Golok Maut benar-benar hebat. Eng Sian Taijin harus ditendang oleh Kedok Hitam karena bengong melihat pedangnya patah. Begitu mudah dan empuk senjata itu diputuskan oleh pemuda tersebut, seolah pisau bertemu agar-agar. Tosu itu terkejut. Ketika ia tertegun, Kedok Hitam menendangnya agar menghindar dari sapuan golok yang menyambar dari atas ke bawah. Laki-laki itu membentak agar sang tosu tidak takabur.

"Jangan sombong dan percayalah kata-kata orang lain. Kalau kau tidak ingin mampus, jangan coba-coba menghadapi Golok Maut itu dengan pedang burukmu!"

Eng Sian Taijin terpelanting dan roboh. Ia ditendang kawannya dan mukanya merah padam menahan malu. Sungguh tak disangka kehebatan golok itu benar-benar luar biasa. Setelah Kedok Hitam melemparkan pedang baru, tosu itu maju kembali dengan muka pucat-merah.

Giam Liong sendiri sudah menghadapi lawan-lawannya, dan Ji-sin-kai mencabut tongkat cadangannya. Hebat orang-orang itu menyerang, namun lebih hebat lagi pemuda ini mempertahankan diri. Ketika sinar putih berkelebatan naik-turun dan hanya Kedok Hitam, Lam-ciat, serta si kakek gundul yang paling berbahaya, Giam Liong mendengus kepada Ji-sin-kai, Toa-sin-kai, dan Eng Sian Taijin agar mereka mundur.

"Aku tak bermusuhan dengan kalian. Mundur atau nanti hancur!"

"Siancai!" Eng Sian Taijin tak mau kehilangan muka. "Pinto sudah maju, Naga Pembunuh. Pinto tentu tak mau mundur kalau belum menemui ajal. Kau jangan sombong dan tak perlu menggertak pinto. Kau pemberontak!"

"Benar," Ji-sin-kai berteriak dan memaki pemuda itu, merasa tertampar. "Kau bukan jagoan tanpa tanding, Giam Liong. Kau ternyata keturunan pemberontak Sin Hauw yang kejam itu. Ingat kematian ayahmu kalau tubuhmu tak ingin terbelah-belah!"

Giam Liong mengeluarkan kilatan api dari matanya. Kata-kata Ji-sin-kai justru membuat darahnya mendidih dan ia melengking menyambut serangan lawan. Ketika semua mundur karena sinar putih menggunting dari kiri dan kanan, angin dingin dari golok itu menabas putus daun-daun di sekitar. Giam Liong melampiaskan kemarahannya kepada pengemis itu.

"Baik, kau tak dapat diperingati, Ji-sin-kai. Inilah awal ajalmu yang pertama. Awas, jaga kepalamu!"

Ji-sin-kai terbelalak. Ia baru saja mundur ketika sinar golok berkelebat. Ia jerih dan sekarang tak berani menangkis karena terlalu berbahaya. Tapi ketika Giam Liong membentak dan golok membelah angkasa dengan sinar putih yang berkeredep, kakek itu ngeri. Ia berteriak menyuruh suheng-nya melindungi diri sendiri, sementara ia meloncat dan bersembunyi di balik punggung Kedok Hitam.

"Hei!" Kedok Hitam berseru keras. "Jangan ke sini, Sin-kai. Menjauhlah!"

Karena golok mengejar dan menuju pada laki-laki itu, ia berkelebat dan bersembunyi di belakang si kakek gundul. Kakek itulah yang berteriak dan ganti memaki teman-temannya.

"Jangan bersembunyi di belakangku!"

Namun sinar golok tetap meluncur cepat. Giam Liong mengancam Ji-sin-kai, namun golok itu kini menyambar Kedok Hitam yang amat dibencinya. Golok berbelok menyambar si kakek gundul yang berteriak dan cepat melempar tubuh bergulingan. Golok Maut mendesing tanpa kompromi.

Karena Kedok Hitam maupun kakek gundul menjejakkan kaki menjauh, mereka harus membuang tubuh jika tak mau menghadapi Golok Maut. Ji-sin-kai yang tadi terlindung di balik dua orang itu tiba-tiba tubuhnya terbuka kembali. Saudaranya berteriak agar ia membanting diri dan bergulingan.

"Awas!"

Namun pengemis itu lengah. Ia tadi merasa lega karena terlindung di balik punggung Kedok Hitam dan ikut bergeser saat laki-laki itu menyelinap ke belakang kakek gundul. Namun karena kakek gundul melempar tubuh ke belakang dan saat itu ia terlihat lagi, ia menjerit pucat melihat sinar golok. Sebuah teriakan ngeri tiba-tiba terdengar, disusul mencelatnya kepala kakek ini dari batang tubuhnya.

"Crat!"

Golok Maut mendapat korban.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment