Chapter 145
Giam Liong tertawa aneh. Ji-sin-kai roboh, kepalanya menggelinding dan mendelik, penuh kaget serta ketakutan. Agaknya, ia tak tahu bahwa nyawanya telah melayang. Saat Giam Liong tertawa menyerupai burung hantu yang mendapatkan mangsa, dingin dan mengerikan, Toa-sin-kai berteriak dan meratap melihat adiknya tewas.
"Ji-te...!" Namun, kakek itu tak bisa menghidupkan saudaranya kembali.
Ji-sin-kai telah tewas dan tubuh kakek itu menggeliat sejenak di tanah. Darah menyembur dari batang lehernya seperti pancuran deras; bumi seketika merah dan basah. Saat Giam Liong membuat yang lain terkejut dan membelalakkan mata karena satu nyawa melayang sia-sia, Kedok Hitam menjadi pucat dan berseru agar Lam-ciat menggunakan Hoan-eng-sut.
"Sambar dia dengan Hoan-eng-sut! Aku akan memukulnya dengan Kim-kang-ciang!" Lam-ciat mengangguk. Dalam situasi berbahaya, tak ada jalan lain kecuali menggunakan ilmu gaibnya. Ia membentak, meledakkan tangannya, dan lenyap di balik asap hitam.
Saat Lam-ciat menghilang menggunakan Hoan-eng-sut, Sihir Menukar Bayangan, Kedok Hitam berseru keras dan sekonyong-konyong menggerakkan kedua tangannya ke depan.
"Dess!" Giam Liong tak bergeming. Ia telah mengerahkan sinkangnya. Kedok Hitam terbelalak karena pemuda itu tidak apa-apa. Pukulan berikutnya dilancarkan, namun Giam Liong hanya terhuyung sedikit dan menggeram karena lawan di kiri dan kanan menyerang lagi.
Kakek gundul itu membentak dan mengubah gaya serangannya; kedua lengannya tiba-tiba bergerak dengan amat cepat seperti delapan lengan dewa. Saat Giam Liong memutar goloknya dan pukulan Kedok Hitam kembali menyambar dari belakang, muncullah bayangan kuning emas di mana Lam-ciat menghantam dengan Kim-kang.
"Des-dess!" Giam Liong mengeluarkan seruan keras dan melempar tangan kirinya ke belakang dan samping kanan. Ia mengeluarkan Pek-lui-kang, membuat dua orang itu terpental dengan teriakan tertahan.
Giam Liong terhuyung karena diserang berbarengan oleh Kedok Hitam dan Lam-ciat yang memiliki sinkang kuat. Si gundul berhasil menyelinap dan lengannya yang berubah menjadi delapan buah mendarat di pundak Giam Liong. Giam Liong mendesis, namun si kakek terpekik kaget karena pundak pemuda itu sekeras baja.
Giam Liong terus menerima pukulan, namun ia mengejutkan lawan-lawannya karena kekebalan tubuhnya. Toa-sin-kai mengelak dan Eng Sian Taijin melempar tubuh dari bayangan golok, sementara Giam Liong sibuk menghadapi gangguan Lam-ciat yang muncul dan menghilang. Kedok Hitam juga mengeluarkan pukulan-pukulan sinkang, namun selama ini Giam Liong mampu bertahan. Ia membalas dengan pukulan Pek-lui-kang. Golok Maut terus berputar, membuat semua lawan menjauh setiap kali didekati sinar yang berkeredep.
Giam Liong menjadi gemas karena lawan-lawannya terus menyerang dan mundur bergantian. Ia berseru kepada Eng Sian Taijin dan Toa-sin-kai agar mundur. "Kalian mundur baik-baik, atau nanti golokku mencari korban!"
"Keparat!" Toa-sin-kai mendelik. "Kau telah membunuh saudaraku, Giam Liong. Aku hendak menuntut balas!"
"Hm, dan pinto pun masih tak akan mundur kalau hanya digertak. Pinto siap mempertaruhkan nyawa demi membela negara!"
"Bagus!" Giam Liong tak sabar lagi. Ia membiarkan diri terbuka untuk menerima pukulan Lam-ciat, si kakek gundul, dan Kedok Hitam. "Kalau kalian sudah bicara seperti itu, maka aku akan menuruti keinginan kalian. Awas, golokku akan menyambar kepalamu!"
Giam Liong berputar. Ia memutuskan untuk merobohkan dua pengganggu itu terlebih dahulu. Selama ini, ia sering diserang saat menghadapi Kedok Hitam atau Lam-ciat. Ia bahkan sempat terkena hantaman tongkat dari kakek gundul—yang ia sadari sebagai Patong (Dewa Lengan Delapan), guru dari Sing Kok.
Karena Toa-sin-kai dan Eng Sian Taijin terus mencuri kesempatan, Giam Liong memutuskan untuk menghabisi mereka. Saat Giam Liong membalik, Toa-sin-kai menghantamkan tongkatnya ke tengkuk Giam Liong, sementara Eng Sian Taijin menyerang punggungnya. Giam Liong berseru keras; tongkat yang menghantam tengkuknya mental dan patah karena mengenai pundak baja. Dengan gerakan cepat, Giam Liong menyambar dengan goloknya.
"Crat!" Giam Liong memenuhi janjinya. Kepala Toa-sin-kai mencelat, dan batok kepala itu menggelinding di tanah. Batang tubuhnya ambruk.
Eng Sian Taijin terkejut dan menjerit karena lengannya tergores panjang. Ia pucat dan ngeri melihat rekannya roboh. Saat tosu itu meloncat bangun, Kedok Hitam, Lam-ciat, dan Pat-jiu Sian-ong menyerang lagi. Giam Liong tergetar, namun dengan sinkang yang luar biasa, ia berhasil bertahan. Ia menantang Eng Sian Taijin, "Majulah, kalau kau pun ingin kupenggal!"
Eng Sian Taijin gentar. Setelah lengannya terluka dan melihat golok lawannya yang luar biasa, ia mundur dengan muka pucat dan mengakui kekalahannya. Kedok Hitam marah melihat hal itu, namun Eng Sian Taijin tetap bergeming untuk pergi.
Saat Eng Sian Taijin hendak melangkah, Kedok Hitam melemparkan sesuatu. Enam jarum hitam menyambar punggung dan kepala tosu itu. Ia mendengar desir angin namun terlambat. Jarum-jarum beracun itu menancap, membuat sang tosu menjerit, berkelojotan, dan akhirnya roboh tak bernyawa.