Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 146

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 146

Tosu itu memang berada di bawah perintah Kedok Hitam. Karena tidak mampu menahan racun dengan *sinkang*-nya, ia tewas dengan wajah kebiru-biruan.

Kedok Hitam tertawa dingin. Saat itu, bayangan para pengawal berkelebatan dari mana-mana. Giam Liong masih berada di kompleks istana dan terkepung ketat. Ketika Giam Liong tinggal melayani tiga lawan karena Ji-sin-kai, Toa-sin-kai, serta Eng Sian Taijin tewas—yang terakhir justru dibunuh oleh Kedok Hitam sendiri—tiba-tiba Kedok Hitam bersuit nyaring dan menyuruh kedua temannya mundur.

"Biarkan pemuda ini mengejar aku. Aku akan membawanya ke tempat lain!"

Lam-ciat dan si kakek gundul terbelalak. Mau tidak mau, mereka ngeri melihat kehebatan pemuda itu. Sapuan tangan kirinya sangat hebat karena dari sana menyambar angin pukulan panas. Empat kali Lam-ciat bertemu tenaga, empat kali pula kakek itu terpental. *Kim-kang*-nya, atau Tenaga Emas, ternyata tak mampu menghadapi *Pek-lui-kang* yang dimiliki pemuda itu. Ini adalah warisan pendekar pedang Ju Beng Tan yang ia dapatkan dari sang kakek dewa, Bu-beng Sian-su, manusia super yang amat sakti.

Ketika Pat-jiu Sian-ong juga terpelanting dan ilmu silat *Pat-kun*-nya tidak berguna banyak karena Giam Liong kebal terhadap pukulan-pukulannya, kakek ini teringat Han Han dan gentar membayangkan bahwa kedua pemuda itu sama-sama hebat.

"Iblis, pemuda ini memang luar biasa!" Kedok Hitam mendengus. Ia tidak senang mendengar dua kawannya memuji Giam Liong. Kalau bukan karena kakek itu lebih hebat daripada Eng Sian Taijin, mungkin ia pun akan memberi pelajaran kepada kakek gundul ini, mungkin dengan jarumnya yang lihai. Namun, karena ia membutuhkan teman dan baik Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat adalah orang yang bisa dipercaya—meskipun mereka gentar terhadap golok maut yang dibawa Giam Liong—laki-laki itu berseru agar kedua kawannya mundur karena pasukan kerajaan sudah datang dan kini membantu melepas panah-panah dari jauh.

"Biarkan kalian mengaso. Kita bertemu di Bukit Naga Kuning!"

Giam Liong membentak. Kedok Hitam menghilang lebih dulu dengan berkelebat dan lenyap di sebelah kiri gunung-gunungan itu. Lam-ciat dan kakek gundul mengikuti hampir bersamaan. Karena lebih berurusan dengan Kedok Hitam daripada Pat-jiu Sian-ong maupun si Hantu Selatan, darah Giam Liong selalu mendidih melihat pembunuh ayahnya itu melarikan diri. Tujuh golok terbang dilepas dan kembali menyambar laki-laki itu, sementara golok lainnya diputar menghalau sambaran anak panah yang mengganggu.

"Kedok Hitam, jangan lari! Di mana sikap ksatriamu yang tadi kau tonjol-tonjolkan!"

"Ha-ha!" Kedok Hitam menyampok, sudah waspada akan serangan Giam Liong. "Aku menantangmu di tempat lain lagi, Giam Liong. Di sini sudah ramai dengan pasukan istana. Mari ke depan dan ikuti aku!"

Tujuh *hui-to* dipukul runtuh. *Hui-to*, atau golok terbang yang dilontarkan Giam Liong, sesungguhnya tidak gampang diruntuhkan jika lawan yang dihadapi berkepandaian biasa. Tapi karena Kedok Hitam bukan tokoh sembarangan dan memiliki *sinkang* yang kuat, Giam Liong geram dan mengejar lawannya. Ia menabrak gunung-gunungan itu hingga ambrol. Suara ledakan membuat bumi bergetar.

"Kedok Hitam, jangan lari! Hadapi aku secara jantan!"

Kedok Hitam tertawa gentar. Ia menoleh dan melihat gunung-gunungan itu jebol ditabrak Giam Liong. Pemuda itu hebat sekali. Tapi karena ia mempunyai rencana lain, ia meneruskan lari ke timur istana. Ia melompati dinding tembok dan Giam Liong menyusul di belakang, tak mau kehilangan jejak. Namun, begitu Giam Liong melayang turun dan menginjak tanah, sekonyong-konyong tanah itu terbuka dan lubang yang dalam menerima tubuh pemuda ini, persis jebakan harimau.

"Ha... ha... ha... bress!"

Giam Liong terkejut dan berseru keras. Untuk kedua kalinya ia terjeblos ke dalam lubang jebakan. Tadi di patung singa-singaan, sekarang di atas tanah biasa. Ia tidak tahu bahwa ketika melewati tanah ini, Kedok Hitam melempar sepotong kayu dan menggenjotkan tubuh di atas kayu itu, sehingga laki-laki itu hinggap di tanah seberang. Karena Giam Liong tidak tahu—waktu itu ia sedang melayang turun dan naik ke atas tembok—maka terjebaklah ia oleh kelicikan lawan.

Namun, Giam Liong bukanlah Giam Liong kalau begitu mudah masuk perangkap. Ia masih memegang goloknya dan menggunakan senjata itu untuk menusuk dinding, menahan tubuhnya, lalu untuk kedua kalinya ia mengayun dan berjungkir balik ke atas. Puluhan sinar hitam menyambutnya di atas, tapi Giam Liong segera memutar goloknya. Ketika Kedok Hitam kembali gagal karena Giam Liong lolos dari maut, pemuda itu mengejar dan membentak lawannya lagi.

"Kedok Hitam, kau curang dan pengecut!"

"Ha-ha, itu bukan perbuatanku," laki-laki ini lari lagi menuju ke sebuah rumah kecil di belakang istana. "Kau yang kurang hati-hati memasang kewaspadaanmu, Giam Liong. Tempat kaisar selamanya tak boleh dipermainkan orang seenaknya!"

"Bedebah, kau berhentilah dan jangan lari seperti anjing!"

"Hm!" Kedok Hitam merah mukanya; untuk pertama kali ia dimaki sebagai anjing! "Mulutmu busuk, Giam Liong. Tapi kaulah anjing pemberontak dan keturunan biangnya anjing pula. Kakek dan ayahmu adalah anjing-anjing pemberontak. Kubunuh kau nanti!"

"Keparat, mari bertanding dan lihat siapa yang akan terbunuh!"

Kedok Hitam tak menjawab. Giam Liong sudah dekat di belakangnya dan kembali melempar tujuh golok terbang. Kedok Hitam menoleh dan menangkis. Rupanya ia kalah cepat atau gentar melihat lawan tak pernah melepaskannya, wajah Giam Liong merah membesi, hingga sebatang *hui-to* menancap dan laki-laki itu menjerit.

"Aduh!"

Giam Liong girang melihat sebatang *hui-to*-nya menancap di pundak lawan. Kedok Hitam terhuyung, tapi lari lagi ke dalam, kini memasuki rumah kecil itu. Karena rumah itu ternyata tidak memiliki kamar-kamar—hanya ruangan tengah itulah kamarnya—Giam Liong girang karena lawan menabrak jalan buntu. Rumah kecil ini kiranya sebuah pesanggrahan atau pos jaga.

"Kedok Hitam, tamat riwayatmu!"

Kedok Hitam mengeluh. Ia tampak pucat karena tidak melihat pintu keluar. Yang ada hanyalah dua jendela di kiri dan kanan ruangan itu. Giam Liong tidak melihat sinar mata girang di wajah laki-laki ini, aneh, hal yang tentu seharusnya membuatnya curiga kenapa laki-laki itu malah tampak senang, seolah melihat sesuatu. Ketika Giam Liong sudah berkelebat memasuki rumah kecil ini dan Kedok Hitam tampak celingukan memilih jendela kiri atau kanan untuk melompat, bersamaan itu terdengar teriakan atau jerit di luar.

"Giam Liong, jangan masuk!"

Namun, Giam Liong sudah memasuki ruangan itu. Ia tidak curiga karena perasaannya sudah diliputi kegembiraan melihat lawan tak dapat lolos. Kedok Hitam terjebak di ruangan itu dan mau tidak mau mereka harus berhadapan. Inilah jalan buntu bagi lawan. Tapi begitu Giam Liong masuk dan jeritan itu terdengar, Kedok Hitam menginjak sesuatu. Tiba-tiba lantai terbuka dan Giam Liong terjeblos di sini. Untuk ketiga kalinya ia masuk perangkap.

"Awas!"

Giam Liong sungguh tidak mengira. Ia benar-benar terkejut oleh tiga hal. Pertama, jeritan nyaring yang segera dikenalnya sebagai suara Yu Yin. Ia benar-benar kaget bahwa di saat seperti ini tiba-tiba gadis itu muncul. Ia adalah murid si Kedok Hitam sendiri dan ia tergetar oleh jerit itu. Suara Yu Yin demikian penuh cemas hingga Giam Liong tersentak.

Kedua, terkejut ketika lantai tiba-tiba terkuak. Ketiga, dari dalam lubang itu menyambar puluhan panah berbisa dan Yu Yin tiba-tiba berkelebat masuk pula ke lubang itu.

"Kau bodoh memasuki ruangan ini. Mari, kutemani dan biar kita mati bersama!"

Giam Liong benar-benar tersentak. Ia sampai lupa menggunakan goloknya untuk menusuk dinding. Tubuhnya meluncur ke dalam hampir bersamaan dengan tubuh Yu Yin yang melompat dan sengaja menjebloskan diri ke lubang. Mereka melayang turun dengan cepat, tapi Giam Liong sempat menyampok atau memukul runtuh panah-panah itu. Ketika ia terbanting di bawah dan Yu Yin berdebuk menimpa tubuhnya, lantai itu menutup kembali dan keadaan menjadi gelap gulita.

"Aduh, aku terkilir!"

Giam Liong terkejut. Sekarang ia terjebak dan bukan main marahnya kepada si Kedok Hitam. Tapi mendengar Yu Yin merintih dan menangis, Giam Liong menggigil memeluk tubuh hangat itu, berbisik menanyakan kenapa gadis itu ada di sini, bahkan sampai menjebloskan diri ke lubang.

"Aku... aku mendengar kau mengamuk. Kau mencari-cari suhu dan katanya hendak membalas dendam. Dan karena aku tahu kelicikan guruku, aku menyusul kalian, Giam Liong. Dan benar saja, suhu berlaku curang!"

"Hm, gurumu memang curang dan licik. Tapi kau, kenapa menyusul ke sini, Yu Yin? Dan kenapa pula kau menjebloskan diri ke lubang?"

"Aku memprotes guruku. Aku tak suka tindak-tanduknya yang curang. Dan kau... kau menggemaskan, Giam Liong. Seorang diri saja kau berani dan sombong memasuki istana. Kau tak tahu bahayanya jebakan-jebakan di sini. Lubang yang ada ini adalah bekas ayahmu dulu!"

"Bekas ayah? Maksudmu ayah pernah dijebak di sini pula?"

"Ya, aku mendengar banyak tentang kelicikan guruku, Giam Liong. Aku menyesal telah menjadi muridnya. Tapi betapapun, ia adalah guruku, orang yang memberiku kepandaian dan banyak budi!"

Ketika Giam Liong tertegun karena gadis itu segera terisak, menubruk, dan bersedih di dada pemuda ini, Yu Yin tersedak perasaan yang tak keruan. Benci dan marah, tapi juga sayang, menjadi satu.

"Aku kemarin bertengkar dengan suhu. Aku memprotes sepak terjangnya. Tapi aku... aku, ah..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment