Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 147

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 147

"Aku tak berdaya mencegah kelakuannya, Giam Liong. Aku benci tindak-tanduk guruku, namun aku muridnya. Aku melapor kepada Ayah, tapi Ayah malah memarahiku. Katanya, untuk membunuhmu, segala jalan dihalalkan. Kau adalah keturunan Golok Maut, sang pemberontak. Dan kau semakin dianggap sebagai pemberontak setelah membantu Chu Kiang. Kalian berdua sama-sama tidak benar, ah!"

Giam Liong tertegun. Sekarang gadis itu menangis lagi dan suaranya terdengar demikian menyayat. Yu Yin tersedu-sedu dan memukul-mukul dada Giam Liong. Namun, ketika gadis itu mengerang dan berjengit, Giam Liong teringat kaki Yu Yin yang katanya terkilir. Gadis itu pun terhuyung, melepaskan diri, dan jatuh terduduk.

"Giam Liong, aku ingin mati kalau begini. Ah, aku ingin mati!"

Giam Liong meraba, namun ditepis saat ia menyentuh pundak gadis itu. Ia tertegun dan bingung harus berbuat apa, sampai tiba-tiba gadis itu mengeluarkan sebatang lilin. Ketika lilin dinyalakan dan Giam Liong mengerutkan kening, ia terkejut karena di paha gadis itu menancap sebatang panah.

"Kau terluka!"

Yu Yin menutupi mukanya. Sesungguhnya ia merasa sakit sejak tadi. Apa yang dikatakannya sebagai terkilir, sesungguhnya adalah anak panah itu. Ketika melayang masuk ke lubang sumur, sebatang anak panah menancap di pahanya. Yu Yin sempat menjerit, tapi jeritan itu disangka Giam Liong akibat terbanting ke dalam lubang. Kini, saat rasa sakit di pahanya menjadi panas dan gatal, Giam Liong baru menyadari bahwa gadis itu terluka oleh panah beracun.

"Keparat gurumu sungguh licik dan curang. Kau harus cepat ditolong, Yu Yin. Atau racun akan menjalar dan kau mati."

"Biarlah," gadis itu berseru. "Biar aku mati! Giam Liong, di dunia ini tak ada orang yang menyayangiku, biar aku mati saja."

"Hm, kau tak boleh mati," Giam Liong tiba-tiba menggigit bibirnya. "Kau ke sini adalah karena aku, Yu Yin. Aku harus menolongmu atau nanti kakimu terpaksa dipotong."

"Dipotong?" gadis itu terkejut. "Maksudmu aku harus menjadi orang cacat?"

"Benar, kalau kau tidak cepat-cepat ditolong. Karena itu, kemarilah dan biarkan aku menolongmu."

"Tapi... aku ingin mati. Biarkan aku mati."

"Hm, sebelum kau mati, kau akan menderita sekali, Yu Yin. Anak panah itu mengandung racun ular merah yang membuat kakimu melepuh dan berbau busuk. Kau akan menderita sebelum mati. Kulitmu akan hancur perlahan-lahan dan mengeluarkan nanah hijau. Ini jenis racun paling berbahaya yang pernah kukenal."

Gadis itu pucat pasi. Yu Yin terbeliak dan menangis lagi karena, sebagai murid Kedok Hitam, ia pun tahu tentang racun itu. Kulitnya sudah semakin gatal dan panas membakar. Ia tahu tak lama lagi kulitnya akan melepuh dan bengkak. Ngeri membayangkan kulitnya bernanah dan berbau busuk, gadis itu menjerit dan menubruk Giam Liong.

"Giam Liong, aku tak mau cacat, aku tak mau menjadi gadis menjijikkan. Kau bunuhlah aku dan biar aku mati!"

"Hm," Giam Liong terharu. "Aku tak dapat membunuhmu, Yu Yin. Jelek-jelek kita pernah bersahabat, dan aku pasti menolongmu, maaf!"

Begitu Giam Liong menunduk dan mendorong gadis itu, tiba-tiba ia telah mencabut anak panah tersebut dan menyedot luka yang berbau busuk itu.

"Giam Liong!" Yu Yin terkejut setengah mati. Ia baru sadar pemuda itu sedang menyedot lukanya. Bau amis dari nanah dan darah menguar. Karena luka itu berada di pangkal paha—daerah rawan bagi seorang gadis perawan yang belum pernah disentuh lelaki—Yu Yin tiba-tiba membentak dan menghantam tengkuk Giam Liong kuat-kuat.

"Plak!" Giam Liong terpelanting. Tamparan itu amat kuat, namun tenaga sakti pemuda itu menahannya. Saat Giam Liong terhuyung bangun dengan mulut berlepotan darah dan nanah, ia kembali berlutut dan memegang paha gadis itu tanpa memedulikan apa pun.

"Yu Yin, aku akan mengobatimu. Racun itu harus disedot keluar. Kalau kau mau membunuhku, silakan gunakan golokku, tapi tunggulah setelah racun kusedot keluar!"

Yu Yin pucat pasi. Ia membelalakkan mata ketika dengan berani Giam Liong menghisap luka itu. Rasa malu yang amat sangat membuat gadis itu menangis, lalu ia menyambar golok di punggung Giam Liong dan membacokkannya ke arah pemuda itu. Giam Liong tidak bergeming. "Crak!" Golok Maut menghajar lantai, memercikkan bunga api. Yu Yin pun terkulai pingsan, dihantam oleh bermacam perasaan campur aduk setelah untuk pertama kalinya dijamah oleh laki-laki.

Giam Liong tetap tenang, memusatkan seluruh perhatian pada pengobatan itu. Selama lima belas menit ia menyedot racun hingga darah merah segar keluar. Setelah membersihkan mulutnya, ia membungkuk dan menyadarkan temannya.

"Yu Yin, maafkan aku. Tapi bangunlah, lukamu sudah tidak berbahaya."

Yu Yin tersadar. Begitu matanya bertemu dengan mata Giam Liong dan teringat apa yang terjadi, ia meloncat bangun dan menampar pemuda itu empat kali hingga bibirnya pecah berdarah. Giam Liong tidak mengelak. Dengan tenang, ia menyodorkan Golok Maut kepada gadis itu.

"Yu Yin, tak usah marah-marah. Ambil golok itu dan tusukkan ke dadaku. Aku memang salah telah meraba bagian yang paling pribadi. Aku tak akan melawan."

Yu Yin gemetar. Melihat Giam Liong yang bersungguh-sungguh dengan bibir pecah berdarah, hatinya luluh. Ia mengguguk dan menubruk dada pemuda itu.

"Giam Liong, kau bunuhlah aku. Aku tak mau menanggung aib dan malu ini!"

"Maafkan aku," Giam Liong memeluk gadis itu dengan mesra. "Akulah yang salah. Tak ada orang lain yang tahu kejadian tadi."

"Tidak... aku tidak... kau menyelamatkan nyawaku," isak Yu Yin. "Tapi, ah... aku malu akan perbuatanku itu!"

"Aku juga menyesal. Gurumulah yang melepas panah itu, Yu Yin. Aku hanya menolong karena tak ingin kau mati muda."

"Kenapa?" Yu Yin menengadah, mata mereka beradu.

Giam Liong tertegun. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. "Entahlah, aku tak tahu. Tapi mungkin ada rasa sayang di hatiku."

"Ooh... apa, Giam Liong? Rasa sayang?"

"Begitulah. Rupanya begitu, Yu Yin. Itu yang membuat aku tak ingin kau mati muda."

"Hanya itu saja? Kau tidak punya perasaan lain lagi?"

Giam Liong gemetar. Ia terkejut ketika Yu Yin memejamkan mata, seakan menahan gejolak maha dahsyat yang membuatnya menggigil di pelukan pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment