Chapter 148
Yu Yin merintih, dan tiba-tiba sadarlah Giam Liong akan sesuatu yang bergolak di hatinya.
Ketika ia berbisik bahwa masih ada perasaan lain lagi yang disimpan, yang selama ini membuatnya rindu dan gelisah akan gadis itu, pemuda ini memeluknya erat-erat. Tubuhnya panas dingin oleh gejolak yang tak menentu.
"Tidak, tidak, aku juga mempunyai perasaan lain lagi, Yu Yin. Yakni cinta. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku sering rindu kalau kau tak ada di sampingku!"
Ketika Yu Yin mengguguk dan tersedak di pelukan pemuda itu, Giam Liong gemetar. Ia memeluknya erat-erat, dan murid Kedok Hitam itu pun mencengkeram serta balas memeluk Giam Liong dengan kencang.
"Aku pun... ah, aku pun juga begitu, Giam Liong. Aku mau terjun ke lubang itu bersama-sama karena aku pun rindu dan gelisah memikirkanmu. Aku... aku pun mencintaimu!"
Dua muda-mudi itu berpelukan. Air mata Yu Yin bercucuran, dan Giam Liong tiba-tiba menghisap serta mengecup air mata itu. Giam Liong terbawa perasaan yang selangit; kegembiraan serta kebahagiaan besar terpancar di sana. Ia telah melepaskan ganjalan berbongkah yang amat berat. Ia telah menyatakan cintanya, dan karena gadis itu pun menyatakan cintanya, ia tidak bertepuk sebelah tangan!
Giam Liong gemetar dan bahagia sekali. Mendadak ia menunduk dan, tanpa diajari lagi, tiba-tiba ia pun sudah mencium mulut kekasihnya itu. Hangat dan berkobar-kobar.
"Yu Yin, aku mencintaimu!"
Yu Yin mengeluh dan roboh. Setelah Giam Liong mencium dan melumat mulutnya, tiba-tiba gadis ini pun terbang semangatnya dan lemas. Ia ambruk begitu saja, namun tangan yang kuat dari pemuda itu menahannya. Yu Yin mabuk dan tersedu-sedu. Tapi ketika ia tersedak dan tak dapat bernapas karena Giam Liong terbakar oleh birahi, mendadak gadis ini melepaskan diri dan teringat sesuatu, lalu mendorong pemuda itu kuat-kuat.
"Tidak... jangan, Giam Liong, jangan lebih. Golok Maut itu bertuah. Ingat nasib ayahmu!"
Giam Liong terkejut. Ia terbelalak dan kaget memandang kekasihnya, heran dan tak mengerti apa yang dimaksud kekasihnya itu, apalagi menyebut-nyebut mendiang ayahnya. Ketika ia tertegun namun gadis itu terisak—kebahagiaan dan kekhawatiran menjadi satu—Yu Yin menunjuk benda yang berkeredep di atas lantai itu.
"Jangan berbuat lebih, golok ini akan membalas kita!"
"Maksudmu?"
"Golok Maut tak boleh dikotori begituan, Giam Liong. Aku takut ia akan meminta nyawa satu di antara kita!"
"Begituan? Begituan bagaimana?"
Yu Yin merah padam, jengah. "Kau tak tahu? Atau pura-pura tak tahu?"
"Aku tak tahu," Giam Liong mengerutkan keningnya, bersungguh-sungguh. "Aku tak mengerti apa yang kau maksud dan aku benar-benar tak tahu!"
"Kau tak pernah diberi tahu ibumu akan kutuk atau tuah golok ini?"
"Tidak. Tentang apakah..."
"Golok Maut hanya boleh dipegang oleh seorang yang masih bujang. Sekali bujang itu telah tidak jejaka lagi, maka ia akan menuntut darah, bujang itu atau kekasihnya!"
"Ah!" Giam Liong memang tak tahu. "Begitukah? Kenapa ibu tak pernah bercerita? Tapi, eh... kau terlalu jauh kalau menduga aku sejauh itu, Yu Yin. Sekarang aku mengerti apa yang hendak kau maksudkan. Aku masih dapat mengendalikan diri dan tak mungkin melakukan yang berlebih!"
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Kau tadi mendengus-dengus, Giam Liong. Kau tersengal-sengal. Aku takut!"
Giam Liong tersipu. Tiba-tiba ia pun jengah karena memang harus diakuinya bahwa ketika ia mencium dan melumat kekasihnya itu, ia memang mendengus-dengus. Berahinya terbakar, tapi sesungguhnya ia dapat mengendalikan diri. Mana mungkin seorang pemuda mencium tanpa dibakar birahi? Karena gadis itu pun begitu, dan tubuh mereka yang berdekatan membuat Yu Yin merasakan sesuatu yang "lain"—dengus kencang dan otot yang menegang dari pemuda ini—maka Giam Liong tersipu merah dan tiba-tiba menyambar lengan kekasihnya itu.
"Yu Yin, maafkan aku. Selama hidup baru kali ini aku mencium seorang dara dan keteganganku tak dapat kukendalikan, meskipun sesungguhnya tak akan terlampau jauh!"
"Aku juga! Seumur hidup baru kali ini dicium lelaki, Giam Liong. Dan itu adalah kau. Aku pun tegang."
Giam Liong tertawa. Tiba-tiba ia merasa geli dan dibisikkannya bahwa ia amatlah bahagia. Sang kekasih dipeluk, dan Yu Yin agak merasa tenang karena sekarang pemuda itu tidaklah "seganas" tadi. Giam Liong benar-benar mampu mengendalikan dirinya. Ketika Giam Liong bertanya bagaimana dengan tuah Golok Maut itu dan bagaimana dengan orang tuanya, pemuda yang tertarik dan tertuju perhatiannya ke sana lalu menanyakan hal itu.
"Aku tak tahu apa-apa akan tuah atau kutuk golok ini. Kau rupanya malah tahu. Coba ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi."
"Golok Maut tak boleh dipegang laki-laki yang tidak bersih..."
"Hm, maksudmu yang sudah tidak jejaka lagi?"
"Benar, golok ini akan marah dan melepas kutuknya apabila laki-laki itu melanggar kesuciannya, Giam Liong. Dan karena ayahmu dulu telah melanggar pantangannya, maka terjadilah hal yang seperti itu."
"Ibu tak pernah bercerita apa-apa," Giam Liong mengerutkan kening. "Coba kau ceritakan bagaimana jelasnya dan bagaimana dengan ayahku dulu."
"Kau benar-benar tak tahu?"
"Benar..."
"Tapi... tapi ini aib ibumu, Giam Liong. Tak enak juga rasanya kalau aku menceritakan!"
"Justru aku terangsang. Ibu tak pernah bercerita apa-apa. Ceritakan saja kepadaku dan tak usah kikuk!"
"Hm..." Yu Yin terbelalak, tersipu merah. "Kau benar-benar tak merasa tersinggung?"
"Ah, kau kekasihku, Yu Yin. Kau dan aku satu. Ceritakan saja dan tak mungkin aku tersinggung. Justru aku ingin tahu agar aku berhati-hati!"
"Baik!" Gadis itu mengangguk, rupanya harus bercerita juga. "Kau benar kalau cerita ini harus membuatmu berhati-hati, Giam Liong. Intinya, ayahmu menggauli ibumu sebelum nikah. Nah, ini yang membuat ayahmu dikutuk karena Golok Maut merasa..."
"Begitukah?"
"Ya."
"Jadi ibu hamil sebelum sah menjadi istri ayah?"
"Begitulah, Giam Liong. Dan aku tak suka kalau aku menjadi seperti ibumu juga. Aku tak mau kau mengulang kesalahan ayahmu. Ini inti ceritanya!"
"Hm!" Giam Liong mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia merasa perih bahwa ia anak di luar nikah. Ayah dan ibunya kiranya telah melanggar dan inilah yang rupanya dimaksud Yu Yin. Gadis itu tak ingin ia mengulangi kesalahannya, tapi diam-diam Giam Liong tertawa getir bahwa tak mungkin ia sejauh itu.
Pemuda ini belum tahu bahayanya berdekatan dengan lawan jenis, apalagi kalau itu kekasih dan justru orang yang disayang. Iblis biasanya menggoda dan gampang meruntuhkan pasangan-pasangan macam ini. Ia tak tahu akan kisah ayahnya dulu dan betapa ibu serta ayahnya terlibat pertikaian dan cinta yang sengit. Mereka berkejar-kejaran untuk akhirnya berkumpul kembali, berkelahi, dan akhirnya akur lagi.
Karena peristiwa itu mendorong seorang manusia untuk tenggelam dan timbul dalam berbagai gejolak perasaan yang tak menentu—benci dan cinta silih berganti—seseorang biasanya akan mudah roboh kalau sudah berkali-kali dihanyutkan perasaan yang bermacam-macam ini. Ia tak sadar bahwa sesungguhnya ia pun mendekati kisah ayah-ibunya itu; bermusuhan dan baik kembali dengan Yu Yin setelah melewati berbagai cobaan dan ujian. Masa depan masih akan diguncangkan lagi oleh gejolak-gejolak baru. Giam Liong tak melihat ini.
Namun begitu Yu Yin berhenti bicara dan Giam Liong mengangguk-angguk mengerti, maka pemuda itu memandang Golok Maut dan tiba-tiba sepasang matanya bercahaya mengeluarkan sinar aneh.
"Hm, aku akan menanyakannya kepada ibu. Tapi bagaimana selanjutnya, apakah kau tahu juga?"
"Semua orang tahu, ayahmu akhirnya tewas!"
"Benar," Giam Liong tiba-tiba bangkit berdiri. "Dan yang membunuh adalah gurumu, Yu Yin. Kau tinggal pilih: membela gurumu atau aku!"
"Giam Liong!" Yu Yin tersentak. "Guruku melakukan itu atas perintah kerajaan. Ia hanya menjalankan perintah dan kau tak sepenuhnya dapat menyalahkannya."
"Hm, lalu harus menyalahkan siapa? Kaisar dan para pembantunya? Dan membiarkan orang yang membunuh ayahku bebas berkeliaran? Tidak, aku telah bersumpah untuk melenyapkan musuh orang tuaku, Yu Yin. Dan ibu serta aku akan keramas dengan darahnya. Sumpahku telah didengar semua iblis dan dewa di angkasa!"
"Aku tahu... aku dapat merasakannya," gadis itu menggigil, menangis. "Dan aku juga menyesal atas kejadian ini, Giam Liong. Tapi guruku melakukan itu atas perintah istana. Kuminta kau dapat memisahkan tugas seorang pengawal dan pribadi. Aku juga tak setuju atas sepak terjang guruku, tapi semuanya itu adalah karena ia pengawal di sini!"
"Aku tak mau tahu. Pokoknya aku ingin membunuh dan menghirup darahnya!"
Yu Yin tersedu-sedu. Akhirnya ia bangkit berdiri pula dan dihadapinya Giam Liong dengan mata berapi-api. Kata-kata Giam Liong yang demikian keras terhadap gurunya membuat gadis itu sakit hati juga; Yu Yin tersinggung!
Ketika ia berdiri dan menantang pemuda itu dengan penuh benci, gadis itu berseru serak, "Giam Liong, aku tak dapat memilih salah satu. Tapi bagaimana kalau nyawa guruku kutukar dengan nyawaku? Nah, aku siap dibunuh dan sudahi permusuhan ini karena betapapun juga tak dapat aku meninggalkan guruku!"
"Kau mau membalas kematian ayahmu, bukan? Nah, bunuhlah aku dan lakukan apa yang ingin kau lakukan, Giam Liong. Aku menyerahkan nyawaku sebagai penukar guruku. Kau harus tahu bahwa guruku hanyalah sekadar bertindak. Ia petugas istana!"
"Hm," Giam Liong mundur, Golok Maut tiba-tiba disimpan. "Kau jangan coba-coba mempengaruhiku, Yu Yin. Kalau kau bersikeras bahwa gurumu hanyalah menjalankan perintah, maka bagaimana kalau yang menjalankan perintah itu kubunuh!"
"Kau mau mengancam kaisar? Kau tak takut kena kutuk dan kemarahan rakyat?"
"Hm, yang kubunuh bukanlah kaisar, Yu Yin, melainkan orang yang memberikan perintah!"
"Sama saja!" gadis itu memotong. "Guruku menjalankan titah kaisar!"
"Bukan!" bentakan Giam Liong tiba-tiba membuat gadis itu terlonjak. "Yang memberikan perintah adalah ayahmu, Yu Yin. Jahanam Coa-ongya itulah yang memberi perintah."