Chapter 149
"Nah, mana yang kaupilih? Ayahmu itu atau gurumu yang kubunuh!" Yu Yin menjerit.
Mendengar Giam Liong menyebut ayahnya sebagai "jahanam Coa-ongya", tiba-tiba ia memekik dan menampar. Yu Yin berkelebat dan dua kali ia menggaplok. Ketika Giam Liong terhuyung namun tegak berdiri lagi dengan wajah yang pucat dan merah berganti-ganti, Giam Liong tertawa mengejek dan berseru, "Yu Yin, kau berkali-kali menekankan bahwa gurumu hanyalah petugas, orang yang melaksanakan perintah. Baiklah, kuikuti omonganmu ini. Tapi bagaimana kalau sekarang aku membunuh ayahmu? Dialah yang menyuruh gurumu membunuh ayahku. Karena dialah yang memberi perintah, maka seharusnya kau bersikap adil untuk memberi kesempatan kepadaku melenyapkan orang yang memberi perintah ini!"
Yu Yin pucat pasi. Ia tiba-tiba mengeluh, terhuyung, dan mulai terisak tak dapat menahan diri. Kalau tadi Giam Liong mengancam gurunya, sekarang pemuda itu mengancam ayahnya. Mana yang lebih baik? Keduanya sama-sama tidak baik. Membunuh guru atau ayahnya sama saja; Giam Liong akan meninggalkan luka yang dalam di hatinya. Gadis itu jatuh terduduk.
Saat Yu Yin tersedu-sedu dan dua muda-mudi yang baru saja tenggelam dalam asmara ini sekarang sudah saling bermusuhan, Yu Yin meringkuk di sudut sambil menyembunyikan kepala di bawah lutut. Giam Liong berdiri dan memandang dengan wajah beku. Pemuda itu pun hilang kasih sayangnya. Aneh, cinta bisa demikian membingungkan orang.
Namun, ketika Giam Liong menunggu jawaban dari gadis itu, Yu Yin tiba-tiba melompat dan secepat kilat menyambar golok di punggung pemuda itu.
"Giam Liong, aku tak mau mendengar semua kata-katamu ini. Lebih baik aku bunuh diri dan uruslah pertikaianmu dengan guru atau ayahku!"
Giam Liong terkejut. Ia tak menyangka gerakan itu, namun begitu Yu Yin bicara tentang bunuh diri, ia segera mengelak. Golok di punggung berhasil diselamatkan, namun gadis itu mengejar sambil berteriak-teriak lagi. Yu Yin kalap. Ketika gadis itu menyerang dengan pukulan dan tendangan silih berganti, Giam Liong mengerutkan kening, lalu menampar dan menangkis gadis itu hingga roboh.
"Yu Yin, jangan seperti harimau kelaparan. Berhenti dan tenanglah di sudut..." *Plak!* Gadis itu menjerit, terjengkang, dan hendak meloncat bangun, namun Giam Liong mendahului. Pemuda ini melepas totokan dan sebelum gadis itu sempat mengelak, ia sudah terguling.
Ketika Giam Liong mengusap keringat dan berdiri dengan muka merah, sementara Yu Yin memaki-maki, tiba-tiba dari atas datang secercah sinar dan seruan nyaring terdengar menggema, "Yu Yin, kau tak apa-apa?"
Giam Liong tertegun. Lantai di atas sumur yang tingginya belasan meter itu mendadak dibuka orang. Seseorang melongok dan itulah Kedok Hitam. Giam Liong berkelebat dan secepat kilat mendaki dinding, merayap hendak ke atas sebelum pintu ditutup kembali. Namun, begitu ia mencengkeram dan menempel tembok seperti cecak, ia mendadak melorot lagi dan tergelincir ke bawah. Tembok itu ternyata dilapisi minyak.
"Ha-ha!" tawa itu membuat pemuda ini mendidih. "Kau tak dapat naik ke atas, Giam Liong. Biarpun kau memiliki ilmu Pekhouw-yu-chong (Ilmu Merayap), kau tak mungkin naik!"
"Keparat!" Giam Liong memaki, secepat kilat melempar lima golok terbang ke atas. "Kau memang pengecut dan culas, Kedok Hitam. Turunlah dan mari bertanding seribu jurus!"
"Ha-ha, kau seperti katak di dalam lubang. Boleh bercuap-cuap tapi tak dapat berbuat apa-apa... *cep-cep-cep*!" Lima golok terbang itu disambar dan dijepit laki-laki tersebut dengan tangkas. Suara keras terdengar ketika lantai di atas lubang ditutup kembali.
Giam Liong telah berusaha memanjat namun dinding sumur benar-benar penuh minyak. Ia melorot dan jatuh lagi setiap kali mencoba. Ketika Giam Liong menggigil dan hendak menancapkan goloknya sebagai pijakan untuk naik, lubang ternyata sudah ditutup dan keadaan kembali gelap.
"Lihat," Giam Liong melepas geramnya. "Betapa licik dan jahatnya gurumu. Apakah iblis seperti itu masih pantas kau bela, Yu Yin? Apakah kau masih memberatkan jahanam keparat itu?"
Yu Yin menghentikan tangisnya. Ia terbelalak ketika tadi lubang dibuka dari atas, mengerutkan kening dan melihat wajah gurunya di sana. Tapi begitu lubang menutup dan Giam Liong marah-marah, ia diam saja. Tiba-tiba, dari sisi-sisi lubang terdengar suara mendesis-desis.
"Apa itu!" Gadis ini pucat. Ia tak seketika menjawab karena masih tertegun oleh bayangan gurunya di atas tadi. Gurunya muncul tapi sudah menutup kembali lubang sumur. Ketika ia terpekik karena Giam Liong mencengkeram pundaknya dengan keras seperti meremukkan tulang, barulah gadis itu sadar akan pertanyaan Giam Liong.
"Semprotan belerang merah?"
"Belerang merah? Apa itu?"
"Oohh..!" gadis ini menangis. "Kita berdua akan celaka di sini, Giam Liong. Kita berdua akan menyedot racun belerang merah. Kita akan pingsan!"
Giam Liong berubah. Tiba-tiba bau menyengat tajam menusuk hidungnya, ia terbatuk dan Yu Yin pun bersin-bersin. Gadis ini mengeluh dan terhuyung limbung. Ketika Giam Liong cepat menutup jalan pernapasannya dan seketika maklum bahwa itu belerang yang memabukkan, desisan semakin keras dan ruangan itu tiba-tiba sudah penuh oleh asap belerang. Yu Yin roboh, namun Giam Liong cepat menangkap gadis ini dan ikut terduduk.
Giam Liong merasa pusing. Ia hampir kehilangan kesadarannya ketika tiba-tiba dengan cepat ia mematikan jalan pernapasannya. Semacam "ilmu bunuh diri"—memencet nadi pergelangan dan menghentikan kerja jantung—sudah dilakukan pemuda ini. Giam Liong mempergunakan ilmunya yang disebut Nui-kang, ilmu yang membuat tulang dan tubuhnya lemas seperti mati suri. Ketika pemuda itu roboh dan benar-benar tidak bernapas lagi, Giam Liong maklum akan ancaman bahaya. Pemuda ini mencengkeram temannya dan siapapun tak bakal lagi dapat memisahkan dirinya dari Yu Yin. Pemuda itu telah lekat menjadi satu dengan putri Coa-ongya ini.
"Keparat!" sebuah suara terdengar dari sisi dinding. Giam Liong sudah tak ingat apa-apa lagi ketika dirinya roboh. Ruangan itu telah penuh asap dan ia pun terguling. Ketika bentakan terdengar dari luar dan desis semprotan asap belerang itu seketika berhenti, sebuah pintu terkuak dari bawah sumur. Seseorang meloncat masuk, lalu Giam Liong maupun Yu Yin disambar dan dibawa keluar.
Giam Liong tak tahu apa yang selanjutnya terjadi, tapi apa yang dia lakukan terhadap Yu Yin membuat orang itu menyumpah-nyumpah. Tubuh pemuda ini lekat dengan Yu Yin dan tak dapat dipisahkan. Sumpah dan kutuk dilepas berhamburan saat orang itu membawa mereka keluar, lalu sekali menendang, pintu bawah sumur pun menutup.
"Bedebah, terkutuk!" Giam Liong samar-samar mendengar maki-makian itu. Ia masih merasa pusing dan berputar-putar oleh pengaruh asap belerang yang berat. Ia juga masih mempergunakan ilmunya mati suri, namun perlahan-lahan otaknya bekerja. Ia tidak lagi di sumur gelap yang pengap dan penuh asap bius, melainkan sudah di udara terbuka yang bersih dan segar. Karena asap belerang tidak memenuhi paru-parunya—sebab sebelum mati suri ia telah "membunuh" jalan pernapasannya sendiri—Giam Liong tergolek lemas bagai tak bertenaga. Yu Yin yang lekat di tubuhnya akhirnya diguyur air dingin dan disadarkan oleh orang yang membawa dua muda-mudi ini, yang bukan lain Kedok Hitam sendiri.
"Jahanam, bedebah terkutuk!" Giam Liong lagi-lagi mendengar seruan itu. Yu Yin bergerak dan mulai sadar di atas tubuhnya. "Kau tak dapat kulepaskan, Yu Yin. Tubuhmu menjadi satu dengan pemuda ini. Keparat, apa yang terjadi!"
Yu Yin, yang bergerak dan membuka matanya, tiba-tiba tersedu. Ia telah ditotok dan disadarkan gurunya. Teringat akan apa yang terjadi, gadis itu terkejut karena ia berada di atas tubuh Giam Liong, sementara pemuda itu tidak bergerak-gerak bagaikan orang mati. Ketika gurunya berdiri dan terbelalak memandang gadis ini, lalu membetot atau menarik namun tetap saja tubuh gadis itu tak dapat dipisahkan dengan Giam Liong, maka Yu Yin menjerit dan justru merangkul erat-erat kekasihnya ini.
"Tidak... tidak!" gadis itu bagaikan gila. "Apa yang kaulakukan kepadanya, Suhu? Apakah kau telah membunuhnya!"
"Hm, aku memang akan membunuhnya, tapi dia sudah mati. Bocah ini sudah tidak berdenyut jantungnya lagi ketika kuangkat dari dasar sumur."
"Bohong!" Yu Yin berteriak. "Kau membunuhnya, Suhu. Kau membinasakan kekasihku. Kau kejam!"
"Apa?" sang guru terkejut. "Kekasihmu? Kau...?"
"Benar!" Yu Yin membalik, tapi tubuh Giam Liong ikut terangkat. "Dia kekasihku, Suhu. Dia calon suamiku. Kau kejam telah membunuhnya.... *plak*!" gadis ini menjerit menghentikan teriakannya setelah ditampar. Sang guru marah bukan main karena gadis itu berani memaki-makinya.
Yu Yin berteriak-teriak dan membuat ruangan itu gaduh. Mereka berada di sebuah kamar besar di mana dua bayangan tiba-tiba berkelebat dan muncul. Ketika kakek berkepala gundul dan Lam-ciat hadir di situ, dua orang ini tertegun namun tersenyum-senyum. Lam-ciat terkekeh melihat Kedok Hitam dimusuhi muridnya.
"Ha-ha, guru dilawan murid. Eh, aku jadi terkejut melihat muridmu berteriak-teriak, Kedok Hitam. Kukira ada bahaya tapi ternyata tidak. Bagus, bagaimana dengan bocah itu? Apakah muridmu masih tetap tak dapat dipisahkan darinya!"
"Kalian keluar saja," Kedok Hitam merah padam. "Aku berurusan dengan muridku ini, Lam-ciat. Jaga pintu gerbang kalau Chu-goanswe dan para pemberontak itu datang."