Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 15

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 15

Ju Han disusui lagi, namun perasaan sang ibu yang sudah tak keruan membuat si anak merasa menangis dan sering menendang-nendang.

Maklumlah, kegelisahan ataupun kebingungan yang dirasakan ibu akan melanda bayi itu juga.

Dan ketika Swi Cu menenangkan anaknya dan berkali-kali harus membujuk atau berkata manis agar anaknya diam, saat itulah tiba-tiba terdengar panggilan lirih. Seseorang sudah berada di balik lemari di dalam kamar, memanggil, "Sumoi, kau baik-baik saja?" Swi Cu kaget bukan main.

Seseorang yang muncul dan tahu-tahu sudah berada di kamar pribadinya jelas bukanlah orang sembarangan dan tentu amat lihai.

Swi Cu membentak dan seketika memutar tubuhnya dengan cepat, tangan kiri bergerak dan menghantam dengan pukulan Ang-in-kang, pukulan Awan Merah.

Tapi ketika dia membalik dan melihat siapa itu, tiba-tiba tangan nyonya itu lumpuh dan teriakan tertahan terdengar dari mulutnya, "Suci...!" Swi Cu tertegun.

Seorang wanita cantik muncul dari balik lemari pakaian itu, tersenyum.

Langkahnya gontai dan sudah menghampiri wanita itu.

Dan ketika Swi Cu menjerit dan berteriak penuh haru, tiba-tiba nyonya muda itu menubruk dan tersedu-sedu memeluk wanita itu, wanita cantik yang rambutnya riap-riapan, agak mengerikan karena bola matanya berputar setengah liar.

"Ah, Suci... Suci! Dari mana kau selama ini? Bagaimana kau datang begini tiba-tiba? Aduh, kau kurus, Suci. Kau tampak pucat dan menderita. Kau tersiksa!" Wanita itu, Sang Suci, mengangguk-angguk tersenyum aneh.

Dia membiarkan saja Sumoinya itu memeluk dan menangisi dirinya.

Tapi ketika Ju Han menangis dan gelisah terhimpit ibunya, maka wanita itu mundur melepaskan diri.

"Itu... anakmu?"

"Benar... ah, aku lupa!" Dan Swi Cu yang mengusap air matanya menepuk anak itu lalu memperkenalkan anaknya kepada Suci.

"Ini puteraku, Suci, Han Han, atau Ju Han. Baru sebulan umurnya. Kau sendiri, eh... bukankah dulu kau hamil?"

"Hm!" wanita itu bersinar-sinar, tidak menjawab.

"Anakmu montok, Sumoi, sehat dan tampan sekali. Boleh kugendong?"

"Tentu," Swi Cu memberikannya. "Anakku adalah anakmu juga, Suci. Tapi di mana anak yang kau kandung itu?"

"Mati," wanita ini menjawab pendek.

"Kau beruntung memiliki putera demikian sehat dan tampan, Sumoi. Dan bapaknya, hm... tentu akan mewariskan kepandaiannya yang tinggi!" Swi Cu tertegun.

"Mati? Maksudmu..."

"Ya, keguguran, Sumoi. Anakku mati. Kau, hm... kau tampaknya bahagia sekali. Kau hidup senang bersama suamimu itu. Dan tampaknya demikian senang serta bahagianya hingga melupakan aku dan leluhur-leluhur Hekyan-pang!"

"Suci!" Sang Sumoi terkejut. "Apa... apa maksudmu?"

"Hi-hik, melupakan aku tak apa-apa, Sumoi, tapi melupakan leluhur sungguh bukan perbuatan yang boleh diampuni. Kau mengubah peraturan-peraturan partai, kau membiarkan murid-murid perempuan kita bergaul dengan lelaki. Hm, sedemikian bahagia dan senangnyakah dirimu ini hingga mabuk bersama suami? Kau harus dihukum, Sumoi. Kau melanggar perkumpulan kita... Wut!" Dan Sang Suci yang tiba-tiba berkelebat dan menyerang Sang Sumoi tiba-tiba menampar ibu muda itu. Dikelit, tapi gerakan tangan yang lain menyambar dengan amat cepatnya.

Swi Cu terkejut, tapi apa boleh buat, menggerakkan tangannya pula, menangkis.

Dan ketika dua lengan yang sama-sama memiliki sinkang itu bertemu dan beradu, maka Swi Cu terpelanting sementara wanita cantik berambut riap-riapan itu terdorong mundur.

"Suci... Des!" Swi Cu bergulingan, lalu meloncat bangun.

Anaknya tiba-tiba menangis dan wanita itu pucat karena Ju Han ada di gendongan Sucinya itu.

Sucinya tertawa dan Ju Han dipijit kepalanya.

Dan ketika anak itu menjerit karena kesakitan, hal yang membuat Swi Cu terbelalak dan marah, maka wanita itu berkelebat dan menyambar anaknya.

"Suci, serahkan anakku!" Sang Suci terkekeh. Dia berkelit dan menangkis ketika Sumoinya itu mengejar, berteriak dan membentak karena Ju Han tiba-tiba menjerit-jerit.

Anak kecil itu rupanya ketakutan dan merasa bukan di gendongan ibunya sendiri.

Dan ketika dua lengan kembali beradu, tapi kali ini Sang Suci yang terpelanting, maka wanita itu terkejut karena Swi Cu menggunakan kekuatan sinkang yang bukan milik Hek-yan-pang, selanjutnya dicecar dan bertubi-tubi menerima serangan yang jauh lebih cepat dari semula.

Swi Cu membentak agar Sucinya itu mengembalikan Ju Han, berkali-kali melakukan serangan yang membuat Sucinya terpelanting.

Dan ketika wanita berambut riap-riapan itu terkejut karena itulah sinkang yang dimiliki Beng Tan, Pek-luikang atau Tenaga Petir, maka dua kali lengannya gosong terkena pukulan lawan, hal yang membuat wanita itu melengking.

"Sumoi, kau tidak menggunakan ilmu-ilmu kita. Kau—" "Kaulah yang sesat!" Swi Cu menangis memaki Sucinya itu. "Kau kiranya yang membunuh tujuh murid laki-laki Hek-yan-pang, Suci. Dan kau merampas anakku secara tak tahu malu. Kembalikan anakku, atau aku akan mendesakmu dan merobohkanmu!"

"Hm, sudah tidak tahu hormat lagi!" wanita berambut riap-riapan itu marah. "Kau sudah tak segan dan kurang ajar kepada Sucimu sendiri, Sumoi. Kalau begitu kubawa anakmu ini sebagai hukuman... Dar!" Dan sebuah pelor hitam yang dilempar dan meledak di ruangan itu akhirnya membuat Swi Cu memekik dan berjungkir balik menyelamatkan diri, kaget dan marah karena Sucinya tiba-tiba melesat keluar jendela.

Saat itu asap hitam memenuhi kamar dan bayangan wanita berambut riap-riapan itu lenyap, Swi Cu marah dan gusar sekali.

Maka ketika dia melengking dan memanggil suaminya, ribut-ribut itu sudah didengar anak-anak murid Hek-yan-pang, maka bayangan Beng Tan berkelebat masuk dan langsung pemuda itu membuyarkan pengaruh asap dengan kebutan lengan bajunya.

"Apa yang terjadi? Siapa yang masuk?"

"Suci... Suci Wi Hong, Koko. Dia... dia menculik anak kita!"

"Apa?"

"Benar, dia marah-marah dan datang ke sini. Dan kiranya dialah yang membunuh tujuh murid laki-laki!" Dan ketika Swi Cu mengguguk dan menyambar suaminya, maka sambil mengejar wanita itu bercerita.

Beng Tan kaget karena tak menyangka. Pantas musuh dikabarkan dapat masuk seperti memasuki rumahnya sendiri, tak tahunya adalah Wi Hong, Suci atau kakak seperguruan istrinya itu, dan Wi Hong adalah bekas ketua lama.

Itulah wanita yang dulu menjalin cinta dengan mendiang Si Golok Maut dan pergi karena dendam.

Wi Hong membenci sekali musuh yang membunuh suami atau kekasihnya itu.

Dan ketika istrinya selesai bercerita, sementara anak-anak murid Hek-yan-pang geger mendengar bahwa bekas ketua mereka yang lama muncul, maka banyak yang berdiri melongo ketika wanita berambut riap-riapan itu berkelebat ke telaga dan melarikan diri membawa Ju Han, yang menangis dan menjerit-jerit di pondongan wanita itu... "Siapa berani menghalanginya akan kubunuh. Majulah, kalau ingin mampus!"

Murid-murid wanita terbengong-bengong. Mereka pucat ketika bekas ketua lama mereka itu berkelebat di depan mata, mengancam dan akan membunuh siapa saja yang berani menyerang.

Dan karena kejadian itu berlangsung cepat dan anak-anak murid tak menduga bahwa yang datang itu adalah bekas ketua mereka sendiri, mereka bengong melihat Ju Han yang dikira anak wanita itu, karena bekas ketua mereka juga dikabarkan hamil dan punya keturunan. Maka mereka baru terkejut ketika bentakan Swi Cu yang meluncur bersama suaminya memberi tahu bahwa Ju Han diculik.

"Dia anakku, Han Han. Kejar dan jangan bengong saja!" Semua murid tersentak.

Sekarang mereka baru tahu bahwa anak yang di gendongan bekas ketua lama kiranya adalah Han Han, bukan anak yang dulu dikandung wanita itu.

Dan karena Swi Cu sudah mengejar bersama suaminya dan anak-anak murid mengikuti di belakang, maka Hek-yan-pang benar-benar gaduh dan ribut oleh kejadian ini.

Namun kejadian itu berlangsung ketika malam hari.

Swi Cu harus berlarian ke sana kemari sambil menyuruh murid-murid mencegat, berteriak dan memaki-maki Sucinya yang menculik Ju Han.

Telaga sudah dikepung. Dan ketika sebuah perahu meluncur dan mendahului perahu-perahu lain yang siap dan berjaga di tepi telaga, maka Swi Cu menjerit menyambar sebuah perahu.

"Itu dia, kejar. Semua mengejar!" Beng Tan terbelalak.

Wi Hong, wanita itu, meluncur dan sudah hampir di seberang sana. Tinggal beberapa meter lagi wanita itu akan menepi dan meloncat kabur.

Tapi ketika anak-anak murid lelaki bermunculan dan mereka itu sudah mendengar ribut-ribut ini, mereka mengira datangnya musuh. Maka mereka itu sudah menyerang, dan murid-murid lelaki itu tak tahu bahwa itulah bekas ketua lama. Mereka membentak dan menghadang, dan kesempatan ini digunakan oleh Beng Tan dan istrinya.

Tapi kalau Swi Cu berteriak dan mengejar dengan sebuah perahu, meluncur dan memaki-maki Sucinya, adalah Beng Tan yang kini menjadi ketua itu sudah berjungkir balik melempar dua potongan bambu. Dengan bambu inilah pemuda itu mengejar Wi Hong, bergerak dan meluncur melebihi kecepatan perahu, dengan kedua tangan atau kaki bergerak maju mundur.

"Wher-wherr!" Perahu Swi Cu tersalip.

Beng Tan mendahului dan anak-anak murid yang ada di tepi telaga kagum, bengong, tapi sudah bergerak dan berlompatan di atas perahunya sendiri untuk mengejar atau mengikuti sang ketua.

Dan ketika belasan perahu meluncur seakan berlomba dan Wi Hong yang dicegat dan diserang anak-anak murid lelaki melihat itu, maka wanita itu membentak dan melepas lagi tiga pelor hitamnya.

"Minggir, dan mampuslah!" Murid-murid lelaki itu berteriak.

Mereka terlempar dan jatuh ke telaga. Ledakan granat tangan telah melukai mereka dan kesempatan ini digunakan Wi Hong untuk mendaratkan perahunya.

Dan ketika Beng Tan membentak, namun wanita itu sudah berjungkir balik di seberang, maka Wi Hong terkekeh dan berkelebat menuju hutan.

"Hi-hik, boleh tangkap aku kalau bisa, Beng Tan. Tunjukkan kepandaianmu dan kejarlah aku!" Beng Tan membentak.

Suara tangis anaknya menjadi pedoman, tapi tiba-tiba tangis anaknya tak terdengar lagi. Wi Hong rupanya menotoknya; atau, lebih ngeri lagi, wanita itu menurunkan tangan kejam, membunuh Ju Han!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment