Chapter 150
"Di sini tak ada apa-apa!"
"Bagus, kalau begitu aku pergi lagi!"
Lam-ciat menghilang disusul si kakek gundul, yang tak lain adalah Pat-jiu Sian-ong. Kedok Hitam kini menghadapi muridnya dan tampak sekali laki-laki itu sedang gusar.
"Yu Yin," geramnya, bentakan yang tak lagi bisa disembunyikan. "Kau gila berhubungan asmara dengan pemuda ini! Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa bocah itu adalah pemberontak? Kau mau membuat malu aku dan ayahmu?"
"Aku tidak peduli. Aku mencintainya, Suhu. Giam Liong adalah calon suamiku. Ia milikku, tapi kau telah membunuhnya!"
"Hm, aku tidak membunuhnya. Tapi aku pasti akan membunuhnya kalau ia masih hidup. Bocah ini aneh, bagaimana bisa mati hanya karena asap belerang merah? Dan kau lengket pula di tubuhnya. Ayahmu bisa mati berdiri kalau melihat keadaan putrinya seperti ini. Kau memalukan!"
"Aku tidak peduli! Aku tidak tahu apa yang terjadi, Suhu. Tapi aku senang lengket dengan Giam Liong. Mati atau hidup, aku ingin tetap bersamanya!"
"Gila, kau tidak waras. Aku sebagai gurumu harus mencegah ini dan kau akan kupisahkan!"
Yu Yin menjerit. Gurunya, Kedok Hitam, tiba-tiba mencabut sesuatu dan sinar terang menyilaukan mata. Itulah Golok Maut. Gadis itu terpekik karena Golok Maut yang dirampas gurunya saat Giam Liong roboh di dasar sumur itu kini telah berada di tangan Kedok Hitam. Ketika laki-laki itu tertawa dingin dan Yu Yin pucat pasi, golok menyambar ke arah lengan Giam Liong. Gadis itu nekat menggulingkan tubuhnya untuk melindungi Giam Liong.
"Crat!"
Golok Maut menghajar lantai karena Kedok Hitam berseru tertahan dan menyelewengkan goloknya ke kiri. Golok itu sedianya hendak menebas putus lengan Giam Liong yang erat menempel di perut gadis itu agar muridnya terbebas dari sedotan aneh yang keluar dari tubuh pemuda tersebut. Namun, karena Yu Yin memberikan tubuhnya, Kedok Hitam mengeluarkan keringat dingin.
"Yu Yin, kau gila. Kau tidak waras!"
"Biar," gadis itu terisak. "Aku tidak peduli gila atau tidak, Suhu. Kalau kau mau mengganggu mayatnya, maka aku pun akan melawanmu dan membelanya mati-matian. Kau kejam. Kau tidak berperasaan. Sudah matipun masih juga hendak kau cincang!"
"Aku akan melepaskan tubuhmu..."
"Aku tak mau dilepas! Aku ingin tetap bersamanya, Suhu, mati atau hidup. Aku tak mau dipisahkan!"
"Dengan lengket seperti itu? Saling tindih dan tidak tahu malu?"
"Aku tak tahu apa yang menyebabkan tubuhku lengket, Suhu. Tapi lengket atau tidak, hatiku sudah tertambat olehnya. Giam Liong calon suamiku. Ia milikku!"
Kedok Hitam merah padam. Muridnya yang bersikeras seperti itu benar-benar membuatnya marah. Namun, karena ia maklum bahwa muridnya selalu gigih dan keras kepala, ia terpaksa mengalah dan menahan amarah.
"Yu Yin, kau tak tahu malu, tak tahu diri. Aku akan melaporkan ini kepada ayahmu."
"Laporkanlah. Justru aku ingin bertemu Ayah, Suhu. Laporkan dan suruh ia ke mari!"
Kedok Hitam membanting kaki. Ia kesal dan terpaksa melaksanakan ancamannya. Ia berkelebat dan tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki tua penuh wibawa. Ketika Yu Yin melihat laki-laki itu, wajahnya yang gelap membuat sang gadis kena damprat.
"Yu Yin, gurumu menceritakannya kepadaku. Bagaimana kau, putri seorang pangeran, jatuh cinta kepada pemberontak!"
"Ayah...!" gadis itu tersedu-sedu. "Bagaimana kau malah memusuhi aku seperti Suhu? Giam Liong diperlakukan kejam, Ayah. Sudah menjadi mayat pun ia hendak dipotong. Tolonglah aku dan biarkan aku pergi dengan pemuda ini. Aku akan merawat jenazahnya!"
"Hm!" Coa-ongya menggeleng, mukanya keruh. "Kau tak dapat pergi bersama mayat pemuda ini, Yu Yin. Tak baik dan tak pantas dipandang orang bahwa kau membawa-bawa mayat pemberontak. Mayat itu harus dibuang, dilempar keluar pintu gerbang. Itu pekerjaan pengawal!"
"Tidak... tidak!" gadis itu berteriak. "Giam Liong kekasihku, Ayah. Giam Liong punyaku. Mati atau hidup, akulah yang berhak!"
"Kau mau membuat malu ayahmu? Kau tidak punya otak untuk lengket dan ke mana-mana bersama pemberontak? Giam Liong sudah mati, Yu Yin. Kalau kau mau dengar nasihat ayahmu, maka biarlah jenazah pemuda ini kau serahkan kepada gurumu. Atau, kalau kau ragu, boleh berikan kepada pengawal dan kau tinggal di sini, tak usah ke mana-mana."
"Tapi aku tak mau dipisahkan. Mayat pemuda ini tak boleh dibacok!"
"Lalu bagaimana kau bisa pisah? Masa ke mana-mana harus membawa mayat?"
"Aku tak peduli, Ayah. Tapi ini justru menunjukkan cinta Giam Liong kepadaku. Lihat, sudah matipun ia tak mau lepas dari aku. Aku ingin bersamanya dan kalau perlu menyusulnya ke alam baka!"
"Yu Yin!"
Gadis itu terisak. Ia mengguguk dan menangis keras ketika ayahnya membentaknya. Dewi cinta telah membelenggunya sedemikian erat hingga tak mungkin ia melepaskan Giam Liong, meskipun pemuda itu telah menjadi mayat. Dan teringat bahwa gurunya hendak membacok pemuda itu, gadis ini bertekad membiarkan pemuda itu tetap bersamanya sampai membusuk.
"Aku tak mau kekasihku dilukai. Aku tak mau ia dirusak. Kalau mayat ini hendak dikuburkan, biarlah aku yang menguburkannya, Ayah, bukan Suhu atau orang lain. Bebaskan aku dan biarkan aku pergi!"
"Kau tak dapat pergi dengan mayat pemberontak!" sang ayah gusar. "Kau harus tunduk pada kata-kataku, Yu Yin. Atau aku melemparmu ke lubang sumur!"
"Lemparlah, buanglah!" gadis itu berteriak. "Kau selamanya tak pernah menyayang aku, Ayah. Kau selamanya tak pernah menyenangkan aku. Bunuhlah aku dan lempar aku ke lubang sumur!"
Coa-ongya tertegun. Ditantang dan dibentak-bentak putrinya, tiba-tiba ia menarik napas dalam-dalam. Ia sadar tak akan mampu membujuk putrinya dengan kekerasan. Sambil tertawa pahit, lelaki tua ini membungkuk dan menepuk pundak putrinya dengan air mata berkaca-kaca.
"Yu Yin, kau salah kalau menganggap ayahmu tak pernah sayang kepadamu. Kau salah kalau mengatakan aku tak pernah menyenangkan dirimu. Bukankah tinggal dan hidup mewah di istana adalah upaya diriku menyenangkan anakku satu-satunya? Kau mengingatkan aku akan ibumu, Nak. Kau keras dan tak dapat ditekuk seperti mendiang ibumu. Dan kau juga menyusahkan aku seperti ibumu!"
Coa-ongya menangis, bercucuran air mata, membuat putrinya tertegun. Selama hidupnya, belum pernah gadis ini melihat ayahnya menangis. Yang ada hanyalah wajah kaku, keras, dan dingin. Begitu melihat ayahnya tersedu, gadis ini menghentikan tangisnya dan tiba-tiba gemetar memeluk sang ayah.
"Ayah, kau... kau menangis?"
"Bagaimana tidak?" sang ayah mengguguk, pundaknya berguncang. "Kau mempertaruhkan muka ayahmu, Yu Yin. Kau menusuk-nusuk perasaanku. Apa kata orang dan Sri Baginda kalau tahu kau begitu tergila-gila kepada Giam Liong? Bagaimana kedudukan ayahmu nanti kalau diketahui putrinya menjalin cinta dengan pemberontak?"
"Maafkan aku," sang anak terisak, tak tahu betapa diam-diam tangan ayahnya bergerak ke perut Giam Liong; tangan yang kaku dan tiba-tiba terasa seperti baja! "Aku dapat memaklumi perasaanmu, Ayah. Tapi aku juga tak dapat membuang cinta yang ada di hati ini. Giam Liong telah menjadi pemuda pertama yang menjamah tubuhku. Ia calon suamiku!"
"Apa? Maksudmu...?"
"Tidak... tidak!" sang anak menggeleng, mukanya merah dan seketika jengah. "Aku tidak maksudkan ke situ, Ayah. Aku masih utuh dan Giam Liong tidak melakukan itu. Tapi... tapi ia menyedot pahaku ketika harus mengobati panah beracun. Kami sudah bersatu hati!"
"Hm!" laki-laki tua itu lega dan tersenyum. "Kalau begitu bukan malapetaka, anakku. Dan kau sekarang harus bebas darinya!"
"Maksud Ayah?" Yu Yin menjerit.
Tiba-tiba, tanpa ia ketahui, jari-jari ayahnya sudah mencengkeram perut Giam Liong. Tangan yang tegang bagai baja ini mendadak merobek. Ketika Yu Yin mendengar suara kain koyak dan ayahnya mencengkeram perut kekasihnya, Yu Yin menampar hingga sang ayah terpelanting.
"Bret-plak!"
Ayah dan anak sama-sama tertegun. Coa-ongya terbelalak karena tidak mampu merobek perut Giam Liong—hanya bajunya yang koyak karena perut "mayat" itu liat dan tak dapat ditembus. Sementara itu, Yu Yin marah besar karena tahu sang ayah hendak mencelakai Giam Liong. Ia tidak tahu bahwa ayahnya tadi mengerahkan sinkang untuk melepaskan tubuhnya dari mayat Giam Liong. Karena gagal dan kini putrinya marah besar, kasih sayangnya seketika lenyap, terganti benci.
"Ayah, kau... kau mau merusak mayat Giam Liong? Kau juga hendak seperti Suhu yang tidak tahu malu berbuat curang? Kau... dari mana kau berlatih sinkang?"
"Hm," Coa-ongya mundur, menyeringai dengan muka malu, namun ia bersikap tak peduli. "Aku hanya ingin membebaskan dirimu dari pemuda ini, Yu Yin. Aku tak mau kau ke mana-mana harus membawa mayat!"
"Tapi kau menyerang Giam Liong. Kau memiliki sinkang!"
"Hm, dari gurumu. Bukankah Kedok Hitam dan aku dekat? Sedikit-sedikit aku juga harus dapat membela diri, Yu Yin. Berjaga-jaga kalau ada orang jahat menyerang!"
"Tapi kau menyerang Giam Liong."