Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 151

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 151

"Kau seperti suhu yang suka berbuat curang!"

"Sudahlah, kau tampaknya demikian tergila-gila kepada Giam Liong. Kau memalukan ayahmu. Betapapun, kau tak boleh bersama mayat!"

Ayahnya berbalik dan meloncat keluar. Yu Yin tertegun karena gerakan ayahnya amatlah cepat dan tahu-tahu telah menghilang. Gadis ini mengguguk, lalu tiba-tiba meloncat berdiri, harus menahan "mayat" Giam Liong yang juga terbawa naik.

"Ayah, kau tak berperasaan. Siapapun yang mencoba mengganggu aku dengan mayat kekasihku, maka dia akan kulabrak. Aku memang ingin mati. Aku ingin menyusul kekasihku ke alam baka!"

Gadis itu menabrak dan menghantam pintu sampai jebol. Dengan marah, ia berkelebat keluar karena sudah tak mau tinggal lagi di ruangan itu. Tindakannya tentu saja menggegerkan para pengawal yang berjaga di luar. Kedok Hitam sendiri terkejut dan menoleh, tetapi ia pun mendengus dan lenyap ke kamar sebelah.

Ketika para pengawal berteriak mencegah gadis itu pergi—atau lebih tepatnya tidak boleh membiarkan Yu Yin membawa mayat Giam Liong—gadis itu mengamuk dan kaki tangannya bergerak menendangi mereka.

"Ayo, maju. Atau kalian mampus!"

Pengawal berteriak terlempar ke kiri dan kanan. Mereka menjerit dan tentu saja bukan lawan murid Kedok Hitam ini. Ketika Yu Yin lari dan meloncati tembok pagar, melayang bagai seekor burung, dua kakek menyeramkan menghadangnya.

"Ha-ha, kuda binal melarikan diri. Eh, apa kata gurumu, Nona? Mana gurumu dan kenapa kau membawa-bawa mayat pemuda itu? Berhenti, kami tidak mendapat perintah untuk membiarkan siapapun keluar dari sini!"

"Bagus, kau kakek busuk, Lam-ciat. Hayo antarkan aku ke neraka atau kau mampus!"

Kakek itu tertawa. Ia berkelebat dengan Hoan-eng-sutnya hingga lenyap dan tak dapat diserang. Yu Yin mengamuk dan menerjang kakek satunya, si gundul Pat-jiu Sian-ong. Namun, ketika kakek ini tertawa dingin, mengelak, serta mengibas, Yu Yin terpelanting. Kemudian, Lam-ciat muncul lagi dan tepukan perlahan di pundak membuat Yu Yin berteriak untuk kedua kalinya.

"Ha-ha, tak melihat muka ayahmu, tentu kau mendapat hajaran berat, Nona. Tapi melihat ayahmu, biarlah kau roboh dan jangan ke mana-mana!"

"Benar!" Pat-jiu Sian-ong juga berseru. "Tak melihat muka gurumu, tentu kami membunuhmu, Nona. Tapi karena kau murid Kedok Hitam, biarlah kami tangkap dan robohkan saja!"

Yu Yin kalang-kabut. Setelah berhadapan dengan orang-orang ini, tentu saja berat baginya untuk mempertahankan diri. Apalagi, Giam Liong juga melekat di tubuhnya. Ia harus berhati-hati menjaga kekasihnya itu dan berkali-kali jatuh bangun ketika mayat kekasihnya hendak menerima hajaran langsung. Sian-ong maupun Lam-ciat dua kali hendak melampiaskan dendam dengan menampar Giam Liong, tapi ketika Yu Yin melindungi pemuda itu dan memberikan tubuhnya sebagai pengganti, mereka terpaksa menarik pukulannya. Saat itulah bayangan Kedok Hitam berkelebat dan laki-laki itu membentak.

"Yu Yin, kau mempermalukan guru dan ayahmu. Baiklah, kau boleh bawa mayat pemuda itu, namun setelah itu kau harus kembali!"

Lam-ciat dan Sian-ong terkejut. Kedok Hitam menangkis serangan mereka hingga kedua kakek itu terhuyung. Kedok Hitam melindungi muridnya. Meskipun dua kakek itu terbelalak, Kedok Hitam menyuruh mereka mundur. Gadis itu sedang nekat, maka Yu Yin dipersilakan keluar, tetapi setelah itu harus kembali.

"Ayahmu memperbolehkan kau pergi. Tapi besok pagi sudah harus kembali!"

Yu Yin menangis. Ia mengguguk, lalu meloncat memutar tubuhnya. Suhunyalah yang memerintahkan dua kakek itu melepaskan dirinya. Ketika ia berkelebat dan lari lagi meninggalkan istana, gadis ini tidak tahu bahwa secara diam-diam Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat disuruh membuntutinya.

"Awasi dia. Kalau terlalu jauh, kalian giring agar tidak terlalu jauh!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat mengangguk. Mereka tertawa dan bergerak mengikuti gadis itu. Ketika Yu Yin melayang dan meloncati gerbang kota raja, turun, lalu berlari cepat, gadis itu menerobos gelap secara nekat. Ia tidak peduli kepada jurang di depan atau hutan yang pekat. Ia hendak mencari tempat yang enak untuk melepas tangis yang menyesak dada. Ia ingin tetap selalu bersama Giam Liong. Kalau perlu, hidup berdua dalam satu lubang pula.

Ketika gadis itu meluncur jauh meninggalkan istana, berhenti, dan mengguguk di tempat sepi, Yu Yin merangkul kekasihnya itu dan berulang-ulang menyesali kematian Giam Liong. Ia tak tahan, namun akhirnya mengepal tinju. Tiga jam kemudian, setelah air matanya habis, Yu Yin menggerakkan tangan. Dengan sebelah tangan memeluk kekasihnya, ia membuat lubang.

"Giam Liong, aku ingin kita berdua mati di sini. Biarlah kubuat liang lahat dan kita sama-sama tidur!"

Benar saja, begitu lubang selesai, Yu Yin pun terjun. Gadis ini tak mau banyak cakap lagi. Selesai menggali kubur, ia meletakkan Giam Liong di situ, membaringkan dirinya sendiri, dan tetap memeluk mayat itu. Karena air matanya sudah habis dan tak ada lagi sisa, gadis ini kecewa dan kesal, maka ia pun tidur bersama "mayat" itu sampai matahari menghangati tubuh keduanya. Malam telah lewat!

"Yu Yin, bangun. Kita harus keluar!"

Bisikan atau kata-kata ini bagai sebuah mimpi. Yu Yin tentu saja tak tahu bahwa Giam Liong mempergunakan Nui-kang-nya. Ilmu ini membuat Giam Liong mati semu, dan semua itu berlangsung sampai pemuda ini memulihkan tenaganya lagi. Mati semu mengharuskan Giam Liong dua belas jam tanpa gerak; hal itu sudah dilakukan pemuda ini dan semalam penuh ia benar-benar kehilangan tenaga. Meskipun Sinkang atau tenaga saktinya tetap melindungi, itulah sebabnya Kedok Hitam tak mampu merobek perutnya ketika laki-laki itu mencoba memisahkan muridnya dengan pemuda ini.

Ketika pagi itu Giam Liong pulih kembali dan Nui-kang atau ilmu pelemas tulangnya berakhir, Giam Liong meloncat dan berbisik di telinga kekasihnya. Ia tentu saja tahu dan mendengar semua yang telah terjadi, termasuk pembelaan gadis itu yang melawan guru dan ayahnya sendiri!

Namun, Yu Yin kelelahan. Gadis ini telah menangis semalam suntuk dan tak mempunyai air mata lagi. Ia telah membuat lubang dan semalam penuh menemani "mayat" Giam Liong, jadi ia terlelap dan seakan bermimpi. Maka, ketika Giam Liong berbisik dan meloncat bangun, Yu Yin justru merasa seolah sedang bermimpi ketika tubuhnya diguncang-guncang.

"Sst, bangun, Yu Yin... bangun!"

Gadis ini menggeliat. Saat itu ia benar-benar sedang bermimpi bersama Giam Liong. Sangkanya, ia berada di alam baka. Maka, ketika tiga kali Giam Liong berbisik dan mengguncang tubuhnya, ia merasa heran bagaimana Giam Liong yang mati bisa meremas pundaknya. Gadis ini membuka mata dan tanpa sadar menjerit melihat Giam Liong ada di situ. Mukanya bercahaya dan amat tampan.

"Giam Liong?"

Giam Liong terharu. Ia mengangguk dan seketika memeluknya. Yu Yin sendiri sudah memeluk dan menubruk dirinya. Karena Yu Yin masih merasa mimpi sedangkan Giam Liong tidak mengira gadis itu dipengaruhi mimpinya, Giam Liong terharu dan menitikkan air mata. Gadis itu justru mengguguk dan tersedu-sedu di pelukannya.

"Giam Liong, kita... kita di alam baka? Kita dapat bertemu di sini? Aduh, aku tak mau berpisah denganmu, Giam Liong. Biar di alam baka pun asal kita tetap berdua!"

"Hush, omongan apa ini? Siapa di alam baka? Kita di lubang kubur, Yu Yin. Dan kau pula yang membuat liang lahat ini. Kita masih hidup!"

"Hidup? Di tempat sempit ini? Bohong. Kau bergurau, Giam Liong. Kau telah mati dan kini di alam baka. Aku juga di sini dan ternyata dapat menyusul. Aduh, aku tak mau kehilangan kau lagi!"

Yu Yin menangis, tapi girang dan bahagia. Ia benar-benar menganggap kekasihnya berbohong. Baginya, Giam Liong telah mati dan tak mungkin hidup lagi. Kalaupun hidup, maka tentu di alam baka. Maka, ketika ia mengguguk dan Giam Liong menepuk pundaknya, gadis ini tetap tidak percaya. Akhirnya, Giam Liong mencubitnya agar gadis itu tahu dan maklum bahwa ia memang seolah sedang bermimpi.

"Tidak, kita benar-benar hidup, Yu Yin, masih hidup. Coba kaurasakan apakah sakit atau tidak kalau kucubit. Orang mati tentunya tak akan merasa sakit!"

Yu Yin berteriak. Akhirnya ia menjerit ketika Giam Liong mencubitnya. Giam Liong hendak menyadarkan kekasihnya ini bahwa mereka benar-benar masih berada di dunia. Ia maklum dan dapat mengerti apa yang dialami kekasihnya. Maka, begitu ia mencubit dan Yu Yin sadar, gadis itu terbelalak. Giam Liong tersenyum dan berbisik penuh haru, "Nah, apa kataku, Yu Yin? Kita masih hidup dan benar-benar hidup. Kita di dunia, bukan di alam baka."

"Tapi... tapi..." gadis ini bengong, bingung. "Kau telah tidak bernapas, Giam Liong. Kau telah mati. Jantungmu tidak berdenyut."

"Aku mati semu," pemuda itu menerangkan. "Aku mempunyai sebuah ilmu istimewa yang disebut Nui-kang."

"Nui-kang? Kau... kau mati semu?"

"Benar, dan itu telah mengecoh gurumu, Yu Yin, dan juga ayahmu. Tapi ayahmu mencurigakan. Ia memiliki Sinkang!"

"Kau tahu?"

"Tentu saja. Ia mencengkeram perutku, Yu Yin. Kalau Sinkang-ku tidak otomatis melindungi, maka tentu perutku robek. Itu luar biasa!"

Yu Yin menangis. Setelah Giam Liong bicara tentang ayahnya, ia pun mengguguk lagi, bukan karena girang seperti tadi, melainkan karena sedih dan marah. Ayahnya memang terlalu. Giam Liong yang sudah menjadi "mayat" hendak dirusak juga tubuhnya. Tapi, teringat apakah semuanya ini tidak bohong, benarkah Giam Liong baru saja mati semu dan pemuda itu masih hidup, maka gadis ini meloncat dan berseru, "Giam Liong, aku masih bingung oleh semuanya ini. Aku tidak percaya bahwa kau dan aku masih di dunia fana ini. Bolehkah kubuktikan, dan apakah kau keberatan kalau setetes darahmu kulihat!"

"Hm, jangankan setetes."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment