Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 152

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 152

Semuanya pun siap kuberikan, Yu Yin.

"Cobalah dan gurat kulitku!" Gadis itu bergerak. Ia masih ragu dan bimbang oleh semua yang terjadi. Benarkah ia dan Giam Liong masih berada di dunia fana?

Begitu Giam Liong mengulurkan lengannya dan melemaskan *sinkang*-nya, Yu Yin menggurat kulit itu dengan kuku jarinya. Benar saja, darah mengucur dan Yu Yin berseru tertahan.

"Benar, kau... kau masih hidup!"

"Tentu, dan kita pun bukan di alam mimpi, Yu Yin. Coba rasakan darahku dan yakinkan bahwa kau benar-benar tidak bermimpi!"

Yu Yin menangis. Akhirnya ia mencecap darah Giam Liong dan hilanglah keragu-raguannya bahwa ia berada di akhirat. Mereka benar-benar masih hidup. Begitu ia terisak dan menubruk pemuda itu kembali, dua bayangan berkelebat. Itulah Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong yang mendengar suara Yu Yin.

"Hei!" kedua kakek itu terkejut. "Ada apa, Yu Yin? Bocah itu sudah... celaka!"

Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong terdiam. Mereka pucat pasi melihat Giam Liong mendongak dari dalam lubang. Wajah di balik caping itu memerah, matanya mencorong bagai naga yang sedang berkobar. Kedua kakek itu ternganga melongo. Namun, ketika Giam Liong bergerak dan menyambitkan dua golok terbang (*hui-to*), senjata itu melesat menyambar. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong terjungkal dan menjerit, "Aduh... iblis!"

Yu Yin terkejut. Ia tidak menyangka dirinya dibuntuti. Gurunya telah memerintahkan dua orang itu untuk mengawasi sang gadis; jika terlalu jauh, mereka harus menghalangi dan menyuruhnya kembali. Karena terkejut melihat Giam Liong yang disangka mati mendadak hidup kembali dan melempar *hui-to*, mereka tak sempat mengelak hingga bergulingan kesakitan. Giam Liong segera berkelebat melayang ke atas.

"Lam-ciat, Pat-jiu Sian-ong... kalian manusia-manusia busuk. Mampuslah!"

Kedua kakek itu sungguh tak mengira Si Naga Pembunuh masih hidup, apalagi kini menyerang mereka dengan golok terbang. Mereka berteriak ketakutan, mengira sedang berhadapan dengan iblis.

"Setan, roh pemuda ini bangkit!"

"Benar, kita bertemu arwahnya, Sian-ong. Ini bukan jasadnya!"

"Tapi ia mampu menimpuk golok!"

"Dan kita terkena... ah!"

Kedua kakek itu terus bergulingan menjauh. Giam Liong mengejar dan melepaskan pukulan jarak jauh. Saat mereka kembali terlempar, Lam-ciat buru-buru mengeluarkan *Hoan-eng-sut* dan meledakkan telapak tangannya. "Lari, kita pergi dulu!"

Namun, Giam Liong tidak memberi ampun. Begitu Lam-ciat melarikan diri, ia mengejar. Tangan kirinya bergerak melepaskan *Pek-lui-kang* atau Pukulan Halilintar yang meledak tepat mengenai punggung kakek itu sebelum sempat menghilang. Pat-jiu Sian-ong yang melihat temannya terkapar menjerit ketakutan dan lari tunggang-langgang. "Ampun, kembalilah ke neraka, bocah iblis!"

Giam Liong menggeram. Dewa Lengan Delapan yang tidak memiliki ilmu menghilang itu jatuh bangun dikejar Giam Liong. Namun, saat Giam Liong hendak melancarkan serangan mematikan, Yu Yin berkelebat dan menyambar lengannya.

"Giam Liong, sudah. Jangan dibawa ke kota raja!"

"Maksudmu?"

"Kakek itu lari ke istana, Liong-ko. Kau akan celaka lagi di sana dan aku tak mau itu terjadi."

"Apa? Aku ingin mendengar sekali lagi kata-katamu tadi! Panggilan itu!"

"Panggilan apa?"

"Sebutan Liong-ko. Ah, meremang bulu kudukku mendengarnya. Sebut sekali lagi dan aku tidak akan mengejar mereka!"

Yu Yin tersipu. Ia jengah, namun akhirnya berucap, "Liong-ko!"

Giam Liong tertawa bergelak. Kemarahannya seketika menguap. Di balik bentakan itu, ia merasakan cinta dan rasa cemas yang tulus. Giam Liong merasa sangat bahagia. Ia memeluk dan menciumi kekasihnya dengan lembut. Yu Yin pun roboh dalam pelukan Giam Liong, membiarkan pemuda itu membelainya.

Tak lama kemudian, Yu Yin tersenyum dan tertawa di sela air matanya. Giam Liong kebingungan, "Kenapa kau menangis lalu tertawa, *moi-moi*?"

"Aku geli karena kau menyebutku *moi-moi*. Mesra sekali, aku minta diulang!"

Giam Liong tertawa, ternyata kekasihnya itu hanya bahagia. Ia pun mengajak Yu Yin melompat dan bergurau, melupakan sejenak urusan istana. Namun, saat Giam Liong teringat sesuatu, ia tertegun dan meraba punggungnya.

"Yu Yin, mana Golok Mautku?"

Gadis itu sedih dan terisak. "Golokmu dibawa Suhu, Giam Liong. Ia merampasnya."

"Kalau begitu, aku harus ke sana!"

"Kau tak boleh ke sana jika benar-benar mencintaiku. Tunggu, biar aku yang memintanya dari Suhu. Kalau ia tidak mau memberi, biar kucuri!"

Giam Liong menarik napas dalam-dalam. "Baik, aku menuruti nasihatmu. Tapi tiga hari kau tak kembali, aku akan menyerbu istana dan mengobrak-abrik tempat gurumu!"

"Tujuh hari saja, beri aku waktu tujuh hari..."

"Tidak, tiga hari cukup. Kau sanggup atau tidak?"

"Baik, tiga hari kau tunggu aku, Giam Liong. Nyawa pun siap kupertaruhkan untuk golokmu!"

Yu Yin berkelebat pergi meninggalkan Giam Liong. Pemuda itu membalikkan tubuh dan berseru, "Tiga hari lagi kita bertemu, Yu Yin. Kutunggu kedatanganmu di tempat Chu-goanswe!"

Dua muda-mudi itu pun berpisah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment