Chapter 153
Mereka sama-sama marah karena masing-masing merasa terganggu. Yu Yin karena kekerasan kepala Giam Liong, sementara pemuda itu karena perbuatan si Kedok Hitam. Benci dan cinta silih berganti mempermainkan dua muda-mudi ini. Ketika Yu Yin lenyap di sana dan Giam Liong lenyap di sini, di hutan itu, dua muda-mudi tersebut saling menggigit bibir dan sama-sama mengepalkan tinju.
"Hei, Sin-siauwhiap muncul! Hei, dia datang!" pekik orang-orang di hutan dengan gegap gempita.
Mereka melihat Giam Liong memasuki hutan. Pemuda yang baru saja berkelebat dan marah-marah gara-gara Golok Maut-nya itu disambut ramai. Chu-goanswe, yang diberi tahu anak buahnya, segera menyeruak maju menemui pemuda ini. Begitu melihatnya, sang jenderal menggigil gemetar.
"Sin-siauwhiap, kau... kau ini?"
"Hm, mana Ibu?" Giam Liong tidak menjawab, justru bertanya tentang ibunya. "Di mana ibuku, Goanswe? Dan kenapa kalian tidak meneruskan serbuan?"
Sang jenderal tertegun. Ia melihat wajah yang merah dan mata yang berkilat dari pemuda ini. Seketika jenderal itu maklum bahwa sesuatu yang tidak menenangkan telah terjadi. Pemuda itu sedang marah. Ketika ia mengerutkan kening namun menangkap lengan pemuda ini dan meremas-remasnya, jenderal itu bertanya dengan suara menggigil, "Siauwhiap, kau masih hidup? Ini bukan rohmu yang gentayangan di muka bumi? Kau benar-benar masih Giam Liong, putra Si Golok Maut?"
"Hm, kenapa kau tanyakan itu? Aku memang masih hidup, Goanswe. Dan aku Giam Liong yang seperti dulu. Kenapa kau tanyakan ini?"
"Sst, tapi kau dikabarkan tewas. Kau terbunuh di lubang sumur rahasia. Kau dicelakai Kedok Hitam!"
"Itu betul, tapi Kedok Hitam tidak mampu membunuhku. Aku masih sehat dan kini aku mencari Ibu."
"Ibumu pergi, dia menyusulmu ke istana!"
"Hah?"
"Benar. Ah, celaka, Siauwhiap... celaka! Ini gara-gara berita yang kudengar dari istana. Mati-matian aku menutup rahasia ini agar tidak terdengar anak buahku. Ah, mari ke dalam dan duduk di kemahku!"
Chu-goanswe menarik lengan pemuda ini. Ia sudah mencengkeram dan mendapat bukti bahwa Giam Liong masih hidup. Ia merasakan tangan yang hangat dan dapat dipegang. Juga kaki pemuda itu menginjak tanah. Karena roh atau arwah halus tidak mungkin dapat dipegang, maka Chu-goanswe merasa lega dan membawa pemuda ini memasuki kemahnya.
Jenderal itu mengusir para pembantu yang mencoba mendekat. "Aku hendak bicara penting dengan Sin-siauwhiap. Kalian semua jaga di luar!"
Anak buah Chu-goanswe melongo. Mereka kecewa karena tidak bisa bicara dengan pemuda itu. Sementara itu, di dalam kemah, jenderal tersebut tampak pucat dan bingung. Giam Liong kembali menanyakan ibunya.
"Mana ibuku? Kenapa ia tidak kelihatan?"
"Inilah," ujar sang jenderal. "Kemarin ibumu muncul, Siauwhiap, mencari-carimu. Tapi karena kau sedang mengejar Kedok Hitam dan ibumu kuberi tahu, maka ia marah-marah dan menyalahkan aku. Katanya, kenapa aku membiarkanmu ke tempat musuh padahal ia sudah ada di sini!"
"Hm, lalu bagaimana?"
"Tentu saja kuterangkan bahwa mula-mula tidak begitu, Siauwhiap. Bahwa ibumu diculik Kedok Hitam dan kau mengejarnya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana ia tiba-tiba muncul dengan selamat!"
"Ibu ditolong ayah angkatku, aku juga baru tahu."
"Ah, Pek-jit-kiam Ju-taihiap?"
"Benar, dan istrinya, Goanswe. Aku telah bertemu mereka."
"Tapi kau tetap mengejar Kedok Hitam. Ibumu lalu menyusul!"
"Hm, aku memang ingin membunuh musuhku itu. Aku ingin menghirup darahnya!"
"Tapi ini membuat ibumu cemas. Ia menyangka kau tidak tahu bahwa dirinya selamat, Siauwhiap. Dan begitu ia datang, begitu pula ia pergi lagi. Apalagi ketika didengarnya bahwa kau tewas di lubang jebakan!"
"Secepat itu Ibu mendengar berita?"
"Kedok Hitam dan orang-orangnya Coa-ongya mengabarkan hal ini, Siauwhiap. Aku sendiri mati-matian meredam berita karena takut anak buahku dengar dan perjuanganku gagal!"
"Hm, aku sekarang tidak memikirkan yang lain. Aku memikirkan Ibu. Kalau Ibu ke istana, berarti aku harus menyusulnya pula!"
"Benar, dan aku girang kau datang, Siauwhiap. Aku dapat membalas musuh yang telah memukulku di pintu gerbang. Aku dan pasukanku terpaksa mundur setelah kami menghajar pasukan kerajaan. Aku juga siap membantu!"
Namun, Giam Liong tiba-tiba tertegun. Ia teringat perjanjiannya dengan Yu Yin dan itu berarti memaksanya harus menunggu. Ia menjadi bingung dan gelisah. Chu-goanswe, yang menyadari punggung pemuda itu kosong tanpa goloknya, bertanya perlahan, "Siauwhiap, mana Golok Maut-mu? Hilang?"
"Hm," Giam Liong bangkit berdiri dan mondar-mandir. "Ini yang membuat aku marah, Goanswe. Aku baru saja bertengkar dengan Yu Yin gara-gara golok ini. Senjataku dirampas Kedok Hitam!"
"Yu Yin? Murid atau putri Coa-ongya itu?"
"Benar, dia. Dan aku berjanji untuk bertemu lagi tiga hari lagi di sini. Ah, bagaimana ini!"
Chu-goanswe tertegun. Ia tahu hubungan apa yang ada di antara muda-mudi ini, namun karena itu urusan pribadi, ia tidak berhak mencampurinya. Jenderal itu menarik napas panjang. "Kalau begitu bagaimana, Siauwhiap? Aku hanya mengkhawatirkan ibumu. Aku bisa saja menunggu tiga hari lagi, tapi jangan-jangan terjadi sesuatu dengan ibumu. Musuh amat licik dan kejam!"
"Aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana janjiku dengan Yu Yin? Aku tidak dapat menarik ludahku, Goanswe. Bagi seorang ksatria, lebih baik mati daripada menjilat ludah sendiri!"
"Aku tahu. Ah, terserah Siauwhiap sajalah." Chu-goanswe mengangguk, diam-diam kagum akan kegagahan Giam Liong dalam memegang janji.
Giam Liong gelisah dan bingung. Ia menyesal telah berjanji menunggu selama tiga hari, namun janji tetaplah janji. Ia mengertakkan gigi membayangkan keselamatan ibunya. Di lain tempat, memang terjadi apa yang dikhawatirkan Chu-goanswe: roboh dan tertangkapnya wanita itu.
Hari itu, ketika Wi Hong atau Kim-hujin dibebaskan dari cengkeraman si Kedok Hitam, ia kembali ke tempat Chu-goanswe. Namun, hutan tempat jenderal itu dan pasukannya berada ternyata sudah berpindah. Gerakan pasukan pejuang sudah maju ke depan mengejar musuh.
Sepak terjang Giam Liong membuat Kedok Hitam melarikan diri, sementara Lam-ciat maupun Pat-jiu Sian-ong harus menyingkir karena gentar melihat pemuda bercaping itu. Melihat Giam Liong mengingatkan orang akan mendiang ayahnya; sungguh mirip dan sama-sama menggiriskan. Namun, karena pemuda ini mampu menghalau Kedok Hitam, orang lebih ngeri melihat golok mautnya yang berseliweran.
Di tangan pemuda ini, Golok Maut tampak lebih hidup dan haus darah. Sekali berkelebat, tujuh sampai sepuluh kepala putus dan menggelinding karena terbabat sinar putih yang tampak seperti kilat menyambar. Pasukan kerajaan mundur, tidak berani menghalangi jalan darah yang dibuka pemuda ini untuk mengejar Kedok Hitam. Pasukan Chu-goanswe pun memperoleh kemenangan, namun tertahan di pintu gerbang karena musuh sudah memasuki kota. Di saat itulah, Wi Hong atau Kim-hujin masih tertinggal di belakang karena tersesat di hutan pertama.