Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 154

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 154

Ketika Chu-goanswe merasa gemas karena lawan menutup diri, pintu dipertahankan rapat, dan anak panah dilepas dari tembok tinggi, jenderal ini tak mau pasukannya menjadi korban. Apa boleh buat, ia harus menunggu. Namun, alangkah kagetnya ia ketika tengah malam terdengar sorak-sorai gemuruh yang menyatakan bahwa Giam Liong atau Si Naga Pembunuh telah tertangkap dan tewas.

"Hore, Si Naga Pembunuh tertangkap! Hore, ia terbunuh!"

Chu-goanswe dan pasukannya kaget. Di balik pintu gerbang, terdengar sorai dan pekik gegap-gempita. Musuh mengabarkan kematian Giam Liong, dan jenderal itu tentu saja cemas. Jika kabar itu benar, celakalah dia; pasukannya bisa terpukul. Benar saja, pintu gerbang dibuka dan dua orang yang amat ditakuti muncul: Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat. Jenderal itu terkejut dan tersentak.

"Ha-ha, bocah she Sin itu telah kami bunuh. Kalian tak perlu ditakuti lagi!"

Chu-goanswe dan pasukannya diserang. Tengah malam itu musuh benar-benar garang dan mereka tidak takut lagi membuka pintu gerbang. Dua kakek hebat, Pat-jiu Sian-ong dan Hantu Selatan, berkelebatan. Ketika mereka tertawa-tawa dan menggempur, Chu-goanswe yang masih tertegun segera sadar dan tidak mau percaya begitu saja. Ia membentak meminta bukti.

"Kalian bohong! Tak mungkin Sin-siauwhiap binasa. Mana buktinya? Mana mayat atau kepalanya!"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat tertegun. Memang tertangkapnya Giam Liong di sumur jebakan disebarluaskan untuk membangkitkan kembali semangat pasukan kerajaan yang sempat terpukul oleh kehebatan pemuda tersebut. Begitu Giam Liong terjeblos, pihak kerajaan menyebarluaskan hal ini agar pasukan Chu-goanswe terkejut dan mentalnya runtuh. Namun, Chu-goanswe yang cerdik dan berpengalaman segera membangkitkan semangat pasukannya dengan menuntut bukti kepala Giam Liong.

Bentakannya yang keras mempengaruhi anak buahnya. "Benar, mana bukti kepala Sin-siauwhiap? Mana mayatnya!"

Pasukan kerajaan marah karena mereka tentu tidak dapat memberikan bukti; pemuda itu sedang terjeblos di sumur dalam. Ketika seruan Chu-goanswe diikuti pasukannya, pihak lawan menjadi gusar dan menyerang dengan membabi buta.

"Bukti bahwa kami membuka pintu gerbang sudah cukup. Mau bukti apalagi!"

Chu-goanswe tertawa mengejek. Bukti itu bukanlah bukti nyata. Jenderal itu menahan Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat bersama pasukannya, namun karena terdesak, ia terpaksa mundur untuk mempertahankan diri. Saat kedua kakek itu mengamuk karena semangat lawan kembali bangkit berkat pengaruh Chu-goanswe, mereka pun murka.

"Keparat, bunuh jenderal ini! Pat-jiu Sian-ong, tarik dan betot jantungnya. Lidahnya beracun!"

Chu-goanswe dilindungi banyak orangnya. Jenderal itu bersembunyi dan dari jauh ia melancarkan serangan. Anak-anak panahnya menyambar, dan berkat kekebalan sinkangnya, Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat dapat menepisnya. Namun, karena dua kakek itu hebat dan pasukan kerajaan menyerbu dengan penuh nafsu, Chu-goanswe terus terdesak dan harus mundur. Malam yang gelap memberinya sedikit keuntungan.

"Mundur... mundur!"

Pasukan pejuang mulai tahu diri. Tanpa Giam Liong, memang berat bagi mereka. Keragu-raguan timbul; apa yang sebenarnya terjadi dengan Si Naga Pembunuh? Betulkah ia tewas? Kalau tewas, kenapa musuh tidak dapat menunjukkan mayatnya? Karena lawan terlalu berat, para pejuang mundur dan membiarkan musuh merangsek. Chu-goanswe membawa pasukannya ke hutan-hutan di kiri-kanan kota raja dan bersembunyi di sana. Hal ini menyulitkan pasukan kerajaan. Malam yang gelap membuat mereka repot, dan ketika lawan tidak dapat diburu karena terbiasa dengan medan hutan, pasukan kerajaan tidak dapat memuaskan hatinya. Hanya seratus lebih pasukan lawan yang dapat dibantai.

"Keparat, kurang ajar!" Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat hanya memaki-maki. Mereka tidak dapat membunuh Chu-goanswe karena jenderal itu segera diselamatkan pasukannya. Karena mereka adalah ahli silat dan bukan ahli perang, mereka hanya bisa gigit jari melihat pentolan pemberontak itu masih hidup.

Satu jam kemudian, sebuah bayangan berkelebat; itulah Wi Hong atau Kim-hujin.

"Mana Chu-goanswe? Mana puteraku Giam Liong!"

Seorang pejuang memberitahunya bahwa Giam Liong dikabarkan tewas dan pasukan mereka diserang. Wi Hong melengking, membuat Chu-goanswe dan anak buahnya muncul. Jenderal itu terkejut melihat Kim-hujin.

"Mana puteraku? Benarkah ia tewas!"

Wi Hong menyambar dan mencengkeram leher baju jenderal itu. Chu-goanswe yang sedang cemas dan lelah berusaha menenangkan diri.

"Hujin, kami tak tahu apa yang terjadi. Tapi sabarlah, aku tidak percaya bahwa puteramu tewas."

"Tapi ia tak ada di sini! Pasukan kerajaan memukul mundur kalian!"

"Benar, tapi kami tak mau menelan mentah-mentah berita itu. Sabarlah..."

Namun, Wi Hong membanting kaki dan berteriak bahwa ia tidak mau sabar lagi. Saat sekali lagi ia bertanya dan Chu-goanswe mengangguk, nyonya itu mendorong sang jenderal hingga terjengkang.

"Goanswe, aku meminta pertanggungjawabanmu kalau ada apa-apa dengan anakku. Awas, aku tak terima!"

"Tunggu dulu, Hujin! Jangan ke sana, terlampau berbahaya!"

Wi Hong tidak mempedulikannya dan terbang keluar hutan. Chu-goanswe hanya bisa terkesiap, heran bagaimana nyonya itu bisa lepas dari tangan Kedok Hitam. Wi Hong sendiri sudah meluncur ke kota raja dengan amarah yang memuncak. Ia tidak lagi mau mendengarkan apa pun. Sesampainya di sana, ia melihat sisa pasukan yang sedang mengurusi rekan mereka yang terluka.

"Mana anakku Giam Liong? Siapa yang membunuh!"

Wi Hong menyambar mereka seperti bayangan. Pasukan itu terlempar, ditendang, dan dibanting. Ia menghajar seratus pasukan yang ada di sana. Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat yang baru kembali ke kota raja pun kaget karena tidak menyangka ada musuh yang berani menyerbu. Wi Hong mengejar tujuh orang prajurit, menginjak-injak mereka, serta menampar yang lain dengan hawa saktinya.

"Hayo, mana anakku Giam Liong!"

Para prajurit pucat pasi. Tujuh orang yang diinjaknya tiba-tiba berkeratak tulang punggungnya. Sebelum sempat menjawab, mereka tewas seketika dengan perut pecah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment