Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 155

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 155

Wi Hong marah karena tujuh prajurit tidak menjawab pertanyaannya, yang tentu saja karena mereka telah tewas. Ia pun melompat dan mencabut pedang untuk membabat lawan-lawan lain yang ada di sana.

"Baik, tak ada di antara kalian yang menjawab. Aku akan membunuh dan kalian sebut nama nenek moyangmu!"

Crat! Crat! Lima prajurit berteriak ngeri, roboh, dan terjungkal karena disambar pedang. Gerakan Wi Hong amat cepat karena ia mempergunakan Imhoat, silat golok yang dimainkan dengan pedang. Ketika lima tubuh menggelepar di bawah dengan bermandikan darah, wanita ini kembali bergerak mencari korban-korban lain.

"Mari, mari, aku akan membunuh semua orang di sini!" Pedangnya menyambar-nyambar bagai siluman haus darah. Lawan berteriak dan melempar tubuh ke sana kemari, namun pedang terus menyambar. Wi Hong telah membunuh lebih dari tiga puluh orang. Ketika situasi menjadi kalut dan komandan pasukan turut menjadi korban—lengan lelaki tinggi besar itu putus terbabat—Wi Hong mengejar dan dengan buas menyambar lehernya.

"Siapa yang mencari penyakit boleh mampus di sini. Mari!" Gerakannya lincah, sama buas dan sadis seperti saat Giam Liong membunuh musuhnya. Ketika sisa prajurit melarikan diri masuk ke gerbang, Wi Hong menerobos dan terus mengamuk dengan pedang berlumuran darah.

"Hei, siapa yang membunuh puteraku? Mana puteraku!"

Orang-orang ketakutan. Penjaga yang memberikan jalan bagi temannya tiba-tiba juga disambar pedang wanita itu. Mereka menjerit ngeri dan roboh. Ketika keributan itu terdengar hingga ke dalam istana, muncul Pat-jiu Sian-ong, kakek gundul yang datang dengan terbelalak.

"Hei, ada apa ini? Siapa yang mengamuk!"

Wi Hong yang tengah mengamuk menceraiberaikan pasukan hampir mendekati istana dengan pedang bersimbah darah. Memang tidak mungkin prajurit biasa menghadapi wanita yang sedang mengamuk layaknya singa betina yang haus darah karena puteranya dikabarkan tewas.

Begitu kakek itu muncul dan berkelebat ke depan, ia menangkis pedang Wi Hong dengan kebutan lengan bajunya. Wi Hong terpental dan terkejut.

"Plak!" Pat-jiu Sian-ong tertawa terbahak-bahak. Sekejap ia tahu siapa orang yang mengamuk ini; tidak lain adalah Sin-hujin alias ibu dari Giam Liong. Ia merasa girang.

Wi Hong yang terhuyung terbelalak melihat si gundul, kakek yang dulu mengeroyok puteranya. Ia melengking dan kembali menyambar kakek itu dengan pedangnya.

"Pat-jiu Sian-ong, mana puteraku? Siapa yang membunuh?"

"Ha-ha, si cantik kiranya. Aduh, kau seperti singa kelaparan, Sin-hujin. Bertambah marah bertambah cantik. Wah, Kedok Hitam maupun Coa-ongya tentu senang bertemu denganmu. Tapi kau telah membunuh banyak prajurit. Kau harus ditangkap atau menyerahlah baik-baik!"

Plak-plak! Si gundul menangkis dan menghalau serangan pedang. Wi Hong terus menerjang meski lawan yang dihadapinya tangguh. Ia tidak gentar, baginya ia hanya akan menyusul kematian puteranya.

Wi Hong mengeluarkan jurus Imhoat, silat golok yang dimainkan dengan pedang. Bahayanya tidak kalah dengan golok sungguhan. Pat-jiu Sian-ong mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk naik-turun menghindari atau menangkis serangan. Kakek ini memiliki jurus Pat-sian Sin-ong (Silat Delapan Dewa). Karena pedang di tangan Wi Hong bukanlah pedang pusaka, kakek itu tidak takut menangkisnya dengan ujung lengan baju yang berkali-kali membuat pedang lawan terpental.

Kakek ini jauh lebih hebat, apalagi dalam hal sinkang. Setelah Wi Hong terhuyung-huyung sebanyak delapan kali, kakek gundul itu menyuruhnya menyerah.

"Kau tak akan menang. Menyerah sajalah secara baik-baik. Nanti akan kutangkap dan kubawa kepada Coa-ongya atau Kedok Hitam."

"Menyerah hidungmu!" Wi Hong melengking. "Lebih baik mati daripada menyerah, Pat-jiu Sian-ong. Kau setan gundul penjilat kerajaan!"

"Hm, dan kau penjilat Chu-goanswe," kakek itu marah. "Apa yang kau dapat dari pemberontak itu, Sin-hujin? Makan minum pun tak bisa di tempat yang enak. Kau tak tahu diri!"

"Aku tak butuh sayangmu. Kau boleh bunuh aku, tapi di mana puteraku Giam Liong? Siapa yang membunuh dan di mana mayatnya?"

Plak-brett! Pat-jiu Sian-ong terlambat berkelit, ujung bajunya robek. Kakek itu marah karena lawan tak dapat dibujuk. Ia sebenarnya eman-eman jika wanita secantik ini harus binasa, namun karena Wi Hong menolak, ia mulai menggeram dan bersiap merobohkannya.

"Robohkanlah, aku tak takut. Siapa minta belas kasihanmu!"

"Hm, baiklah," kakek itu melotot. "Aku akan membuatmu mati tidak, hiduppun tidak. Awas, aku akan merobohkanmu dan jangan menyesal kalau nanti kutelanjangi dirimu!"

"Si mulut kotor!" Wi Hong memekik. "Kau dan Kedok Hitam sama-sama bejat!"

Wut-plak-plak! Kakek itu merunduk, mengibaskan lengannya dua kali, lalu tiba-tiba menggubat dan menangkap pedang lawan. Wi Hong membentak dan menendang, namun kakek itu mengelak. Ujung bajunya melilit pedang dan tak mau melepaskan. Wajah Wi Hong berubah pucat saat pedangnya tidak dapat ditarik.

Dua prajurit maju hendak mencengkeram pantat Wi Hong, namun wanita itu menggerakkan kaki ke belakang dan menyepak seperti kuda hingga keduanya terjengkang.

"Dess!"

Sorak-sorai prajurit terhenti. Pat-jiu Sian-ong berseru agar jangan ada yang mengganggu. Ia mendengus melihat dua prajurit itu muntah darah dan pingsan. Melihat itu, prajurit lain tidak berani ikut campur.

"Lihat, apa kataku. Kalian tikus-tikus rendah yang tak berguna. Minggir dan jangan bantu aku!"

Semua mundur. Akhirnya mereka hanya menonton saat Wi Hong berkutat dengan kakek itu. Ia kalah tenaga dan mulai terbawa ke depan. Ketika Wi Hong terhuyung maju dan nyaris terpegang, ia tiba-tiba membuang tarikannya dan justru mengikuti arah kakek itu untuk menusukkan pedangnya.

"Eiihhhh!" kakek itu terkejut dan membuang tubuh ke samping. Pedang lewat di sisi tubuhnya, namun karena lilitan ujung lengan baju masih menempel, Wi Hong pun terbawa. Wi Hong marah, namun karena ia tak kalah cerdik, ia kembali menusukkan pedangnya. Pat-jiu Sian-ong kewalahan dan dua kali tergurat pedang.

"Bret-bret!" Kakek itu marah. Ia menarik dan membetot pedang ke kanan hingga Wi Hong terhuyung. Saat Wi Hong pucat karena tak mampu menahan tenaga lawan, kakek gundul itu menambah sinkangnya. Sebuah tendangan membuat nyonya itu terpelanting, namun gagang pedang tetap dicekal erat.

"Dess!"

Kakek itu kagum melihat wanita itu mempertahankan pedangnya mati-matian. Ia kembali membetot dan menendang, namun Wi Hong masih bertahan. Akhirnya, kakek itu gusar dan mengibaskan lengan baju yang satu untuk menotok, sementara lengan lainnya menarik pedang. Wi Hong mengeluh karena keadaannya benar-benar payah. Setelah lima puluh jurus, ia sadar lawan bukan tandingannya.

Saat totokan mengenai pundaknya, Wi Hong roboh dan pedang terlepas dari tangannya. Kakek itu menendang, lalu wanita itu terbanting dan mengeluh pendek.

"Lepaskan pedangmu!"

Pat-jiu Sian-ong menyambar wanita ini dan memanggulnya di pundak. Ia berseru agar pasukan kembali berjaga-jaga karena pengacau telah tertangkap.

"Tak perlu lagi menonton. Aku akan membawanya ke dalam dan menyerahkannya kepada Coa-ongya atau Kedok Hitam!"

Semuanya mengangguk. Pengawal kembali ke tempatnya dan bekas amukan dibersihkan. Saat kakek gundul itu memasuki istana, ia menemui pengawal pribadi Coa-ongya, yaitu Kedok Hitam.

"Hm, bawa dia ke kamarku," Kedok Hitam menyeringai. "Bagus sekali kau menangkap wanita ini, Pat-jiu Sian-ong."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment