Chapter 156
Banyak hadiah menanti untukmu di istana. Masuklah, baringkan dia di peraduan, dan terima kasih atas jasamu.
"Heh-heh, aku sebenarnya ingin menemui ongya. Tapi kalau kau di sini, baik juga kuserahkan. Jangan lupa jasaku, Kedok Hitam. Dan hadiah apa kira-kira yang akan diberikan ongya kepadaku!"
"Hm, kau akan menerima lima ribu tail emas, juga kedudukan sebagai komandan Hek-eng-busu (Pasukan Garuda Hitam). Aku akan memberitahukannya kepada ongya dan kau pasti dicatat!"
"Ha-ha, terima kasih, Kedok Hitam. Dan kuserahkan wanita ini kepadamu. Aku sebenarnya eman-eman. Kalau tidak ingat bahwa kau tentunya lebih berkepentingan, tentu ingin kumiliki sendiri janda si Golok Maut ini. Lihat, betapa montok dan menggiurkan tubuhnya!"
Kedok Hitam tertawa. Ia menyuruh pergi kakek gundul itu dan Pat-jiu Sian-ong melompat keluar. Sebuah kecupan diberikannya di pipi Wi Hong dan wanita itu mendelik. Pat-jiu Sian-ong mencuri cium! Tapi ketika kakek itu lenyap dan Kedok Hitam tertawa, ia tidak marah atau memaki, justru laki-laki ini mendekati dan mengelus pundak Wi Hong yang tertotok.
"Ha-ha, tak usah marah, Wi Hong. Untuk kedua kalinya kita bertemu. Hm, ini jodoh. Agaknya kau dan aku berjodoh! Haha, Pat-jiu Sian-ong memang benar, Wi Hong. Kau masih cantik dan menggairahkan. Hm, bagaimana kalau kau kuambil istri dan segala permusuhan dilenyapkan!"
Wi Hong berteriak dan menjerit. Begitu totokan gagunya dibebaskan, maka yang pertama keluar adalah jeritan atau teriakannya itu. Ia malu dan marah bertemu laki-laki ini, juga gelisah. Dulu Kedok Hitam hendak menggagahinya dan sekarang ia jatuh lagi di tangan lawannya ini, musuh yang telah membunuh suaminya. Ketika ia menjerit, Kedok Hitam justru tertawa, menutup pintu kamar, dan tampak senang jika ia ketakutan. Wi Hong menggigil dan terbelalak memandang laki-laki itu.
"Kedok Hitam, kau mau apa? Kenapa kau membawa aku ke kamarmu ini!"
"Ha-ha, inilah tanda cinta!" laki-laki itu tertawa, sepasang bola matanya bersinar-sinar menakutkan. "Aku membawamu ke sini untuk mengulang permintaanku dulu, Wi Hong. Maukah kau menerima cintaku dan segala permusuhan di antara kita dilenyapkan!"
"Tak tahu malu!" wanita ini membentak, bangkit kemarahannya. "Kau laki-laki binatang yang tak punya otak, Kedok Hitam. Masakan aku sudi menerima tawaranmu. Kau membunuh suamiku. Kau telah membuatku sengsara!"
"Hm, yang membunuh suamimu adalah negara. Aku hanya diutus dan sebagai pelaksana, Wi Hong. Kau tak boleh menyalahkan aku karena aku hanyalah petugas!"
"Tapi kau manusia berwatak kejam. Kau mencincang dan menghabisi suamiku dengan tak berperikemanusiaan. Kau binatang, kau iblis laknat!"
"Hm, tak perlu memaki-maki. Kau tentu tak ingin kutotok lagi kalau masih ingin bicara, Wi Hong. Kita bicara baik-baik dan tak usah kau berteriak-teriak."
"Aku benci padamu. Kau laki-laki terkutuk. Mana anakku, Giam Liong, dan siapa yang membunuhnya!"
"Hm, kau mencari Giam Liong?" laki-laki ini bersinar, wajahnya berseri. "Anakmu masih hidup, Wi Hong, dan tak ada yang membunuhnya karena kucegah. Kalau tidak, tentu ia sudah menyusul ayahnya dan kau akan semakin bersedih lagi!"
"Anakku masih hidup?"
"Tentu saja."
"Tapi ia dikabarkan tewas. Kau dan orang-orangmu yang membunuh!"
"Itu hanya taktik saja," laki-laki ini tersenyum, tubuh dan kecantikan janda itu diperhatikannya baik-baik. Wi Hong merasa merinding. "Anakmu masih sehat dan berada di dalam tawananku, Wi Hong. Tapi tentu saja dapat sewaktu-waktu kubunuh kalau kau sebagai ibunya selalu memusuhi aku!"
"Apa maksudmu?" Wi Hong menggigil, pucat dan merah berganti-ganti antara cemas dan bingung. "Bicaramu selalu berputar-putar, Kedok Hitam. Katakan apa yang kauingini dan benarkah Giam Liong masih hidup!"
"Tentu saja, putramu masih hidup. Ia dikabarkan tewas agar barisan pemberontak terpukul dan jerih tak berani menyerang!"
"Maksudmu?"
"Ha-ha, Chu-goanswe dan pasukannya itu amat berani kalau putramu ada di sana, Wi Hong. Tapi begitu dikabarkan tewas dan kubunuh, tentu ia dan anak buahnya ketakutan. Putramu semacam dewa sakti bagi mereka!"
Wi Hong tertegun, masih tak merasa pandang mata lawan yang mulai menyusuri bagian-bagian tubuhnya. "Kau tak bohong?"
"Siapa bohong? Aku dapat membawa putramu ke sini kalau kau ingin bukti!"
"Bawalah ia ke sini. Coba aku lihat."
"Begitu gampang? Ha-ha, kau demikian enak bicara, Wi Hong. Padahal kau dan putramu adalah tawanan. Aku dapat mempertemukan kalian kalau satu permintaanku kau penuhi!"
"Permintaan apa?" Wi Hong terkejut, sekarang sadar akan adanya sinar mata aneh lawannya itu. "Kalau pantas tentu kupenuhi, Kedok Hitam. Tapi kalau tidak pantas tentu saja kutolak."
"Hm, terserah," laki-laki itu tertawa, duduk dan mendekati Wi Hong di pinggir peraduan. "Pantas atau tidak terserah dirimu, Wi Hong. Tapi kalau ingin putramu selamat, tentunya kau tak usah bermacam-macam!"
Wi Hong tersentak. Lawan tiba-tiba sudah duduk begitu dekat dengannya dan Kedok Hitam membelai pundaknya. Wi Hong bergidik! Dan ketika ia membentak agar lawan menjauh, tak usah menyentuh atau membelai tubuhnya, maka dengan tenang laki-laki itu berkata, "Ini rumahku, ini tempat tinggalku. Mau melakukan apa saja tentu tak ada yang melarang."
"Tapi jangan pegang-pegang tubuhku!"
"Ha-ha, kau tawananku, Wi Hong. Dipukul atau dibelai adalah hakku. Masa kau tak tahu!"
"Benar, tapi kau tentu juga tahu bahwa aku bukanlah..."
"Hm, justru karena itu aku tertarik padamu, Wi Hong. Aku jadi tergila-gila kepadamu. Bagaimana kalau kau menjadi istriku dan semua peristiwa lama dilupakan!"
Wi Hong menjerit. Kedok Hitam tiba-tiba mencium pipinya dan ia mengelak, namun mengenai telinga. Rasanya membuat darah berdesir dan wanita itu berteriak. Tapi ketika lawan tertawa dan kembali meraih tubuhnya, diangkat dan diajak beradu muka, maka Kedok Hitam mendesis, suaranya mulai menyeramkan.
"Wi Hong, aku dapat melakukan apa saja kepadamu. Bahkan membunuhmu! Tapi kalau kau dapat diajak bicara baik-baik dan kau mau menerima cintaku, maka putramu kubawa ke sini dan kita membina keluarga bahagia!"
"Keparat, lepaskan aku. Kau manusia binatang!" Wi Hong menjerit dan meronta-ronta.
Kedok Hitam memeluk dan menciumnya lagi. "Lepaskan aku, Kedok Hitam. Dan kaubunuh atau habisi aku. Aku tak sudi kaupermainkan!"
"Hm," Kedok Hitam menyeringai, tawanya menakutkan. "Kau hebat dan luar biasa, Wi Hong. Tapi justru karena ini aku jadi semakin tergila-gila. Bagaimana kalau aku memperkosamu!"
Wi Hong terkejut. Ia tiba-tiba menangis tersedu-sedu karena Kedok Hitam mencengkeram dan melumpuhkan persendiannya. Ia merasa kesakitan tapi juga terbakar, di samping cemas. Dan ketika ia melihat mata laki-laki itu yang menyorotkan kebuasan, Kedok Hitam tak mungkin hanya bercanda saja, maka diam-diam wanita ini mencari akal, mencoba mengulur waktu.
"Kedok Hitam, aku mau menuruti permintaanmu asal puteraku, Giam Liong, kulihat di sini. Buktikan ia masih hidup dan menjadi tawananmu."
"Gampang," laki-laki itu tertawa. "Kalau kau minta tentang ini tentu mudah kulakukan, Wi Hong. Tapi kau juga jangan coba-coba lari kalau aku memanggil putramu."
"Ia masih hidup? Benar-benar masih hidup?"
"Kau tak usah percaya dulu, nanti kubuktikan. Tapi bagaimana kalau ia kubawa ke mari dan betulkah kau mau menjadi istriku!"
Wi Hong tertegun. Ini adalah kedua kalinya ia dipaksa menjawab keinginan laki-laki itu. Betapa inginnya ia menjerit dan melakukan perlawanan. Ia tentu saja tak sudi! Tapi begitu ingat bahwa ia dapat dipaksa, diperkosa, atau dihina laki-laki ini, maka Wi Hong memejamkan mata dan ingin menangis kuat-kuat. Kalau sudah begitu, maka ia ingin mati saja. Mati lebih baik daripada diperkosa. Tapi teringat bahwa kematian suaminya belum dibalas, juga bahwa katanya Giam Liong masih hidup, maka wanita ini membuka kembali matanya dan dengan air mata bercucuran ia berkata, "Kedok Hitam, kau terlalu memaksa. Tapi baiklah, kalau puteraku masih hidup, biarlah aku memenuhi permintaanmu dan kau boleh menjadikan aku sebagai istrimu. Tapi tunjukkan bukti dulu dan mana puteraku, Giam Liong!"
"Kau ingin bukti? Baik, sekarang juga kupanggil!"
Wi Hong berdebar. Untuk kesekian kalinya lagi ia dipukul perasaan bermacam-macam. Kedok Hitam bertepuk tangan dan muncullah seorang pelayan yang diberitahu agar memanggil Giam Liong, menyuruh atau membawa pemuda itu lewat Pat-jiu Sian-ong. Dan ketika pelayan muncul dan mengangguk, keluar dan menutup pintu kamar lagi, maka Kedok Hitam tertawa, tiba-tiba menyambar botol arak dan membuka tutupnya.
"Wi Hong, sudah lama perasaan rinduku ini kupendam. Kau sekarang sudah berjanji. Baiklah, tunggu kedatangan putramu dan mari minum arak ini bersama sebagai pembukaan hubungan baik kita!"
Wi Hong terbelalak. Ia melihat Kedok Hitam sudah mengambil secawan kosong dan mengisinya dengan arak itu, mengambil cawan yang lain dan mengisinya pula untuk dirinya sendiri. Dan ketika Wi Hong dicekam perasaan bermacam-macam, antara girang dan kaget bahwa puteranya masih hidup, Kedok Hitam membawa dan akan membuktikan puteranya di situ, maka wanita ini ragu-ragu dan bingung menerima arak yang disodorkan kepadanya.
"Mari, kita minum, Wi Hong. Dan lihat, sebentar lagi putramu datang!"
"Aku... aku tak dapat minum..."
"Eh, kau mau menolak? Kau tak menepati janjimu sendiri untuk menjadi calon istriku?"
Wanita ini tertegun.
"Kalau begitu aku juga membatalkan niatku membawa Giam Liong ke sini, Wi Hong. Dan kita selesai!"
Wi Hong menggigit bibir. Ia membentak dan ingin memaki Kedok Hitam itu sehabis-habisnya. Ia ingin mencaci dan mengutuk. Namun karena keinginannya melihat putranya amatlah besar—justru inilah yang membuat ia datang ke situ dan tertangkap—maka wanita ini mengertakkan gigi dan apa boleh buat, ia menerima, langsung meneguk isinya.
"Baik, kau laki-laki curang, Kedok Hitam."