Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 157

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 157

"Kau tak segan-segan memaksa wanita untuk tunduk kepadamu. Aku menerima arak ini, tapi jangan minta yang macam-macam lagi selama puteraku, Giam Liong, belum berada di sini!"

Kedok Hitam tertawa tergelak. Ia tiba-tiba bangkit berdiri dan menyambar wanita itu, memeluk serta menciumnya hingga Wi Hong terkejut dan meronta, membuat arak di tangan laki-laki itu tumpah. Ketika Kedok Hitam mundur sambil tertawa-tawa tanpa sempat meminum araknya, Wi Hong tertegun karena kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Dunia seolah berputar cepat.

"Kedok Hitam, arak apa ini? Kenapa kepalaku pusing?"

"Ha-ha, itu arak penyegar semangat, Wi Hong. Kau benar-benar tak biasa minum arak hingga seteguk saja sudah merasa berputar. Maafkan aku, biar kupegang pundakmu!"

Wi Hong terkejut. Ia merasa marah, tetapi begitu pundaknya dipegang, jantungnya mendadak berdesir. Sentuhan tangan lelaki itu bagai listrik kuat yang menyentuh tubuhnya yang lemah. Entah mengapa, ia terguncang dan birahinya bangkit. Saat Wi Hong mencoba menindas perasaan aneh tersebut, pintu diketuk dan pelayan muncul.

"Maaf, Taihiap. Sin-enghiong tak mau datang!"

"Ah, panggil dia. Suruh bahwa ibunya menunggu!"

Pelayan itu lenyap dan menutup pintu kamar, lalu Kedok Hitam berbisik ke telinga wanita itu, "Dengar, puteramu tak mau datang, Wi Hong. Tapi sebentar lagi pasti muncul. Ah, kau cantik dan mengagumkan sekali!"

Wi Hong tersentak. Kedok Hitam tiba-tiba mencium bibirnya, dan begitu dicium, Wi Hong roboh. Ia kaget namun tak berdaya karena hasrat birahinya muncul dengan kuat. Ia merasa pening, namun nikmat menerima ciuman itu. Saat tanpa sadar ia membalas dan mengeluh di pelukan laki-laki itu, Kedok Hitam meremas dan mulai membuka pakaiannya. Wi Hong merasa lumpuh.

"Tidak... jangan... jangan dulu!"

Hanya itu yang mampu ia ucapkan. Wi Hong selanjutnya merasa nanar dan terbawa gelombang nafsu yang mendidih. Kedok Hitam menindih tubuhnya yang sudah tak berpakaian. Meski sempat meronta, ia tak mampu melepaskan diri hingga akhirnya Kedok Hitam memadamkan lampu dan keduanya bergulingan melepas hawa birahi. Wi Hong tak tahu apa yang dilakukannya karena ia merasa melayang di alam yang memabukkan.

Sepanjang malam mereka bermain cinta. Wi Hong lupa akan janji Kedok Hitam yang katanya akan membawa Giam Liong ke sana. Ketika pagi tiba, Wi Hong sadar dengan perasaan lunglai. Ia meloncat turun dari tempat tidur dan alangkah kagetnya saat membuka jendela, ia melihat laki-laki yang semalam ia layani adalah orang lain.

"Kedok Hitam!"

Wanita itu kaget dan marah bukan main. Seketika ia ingat apa yang terjadi; arak di meja yang tinggal sedikit menandakan ia telah diberi arak perangsang. Saat ia menjerit, Kedok Hitam yang masih tidur kaget. Wi Hong menyambar pakaiannya dan menghantam muka laki-laki itu, sekaligus merenggut kedoknya untuk mengetahui siapa gerangan si Kedok Hitam.

"Brett!"

Kedok Hitam menghindar secepat kilat. Gerakan refleksnya sebagai ahli silat kelas tinggi membuatnya sadar. Saat sambaran pukulan Wi Hong menghantam mukanya, ia membanting tubuh ke kiri, namun sebagian kedoknya terobek. Wi Hong terbelalak melihat wajah tampan seorang laki-laki setengah baya di hadapannya.

"Kau!" Wi Hong membentak, menerjang, dan mencabut pedangnya. "Kiranya kau, jahanam keparat! Dan aku telah menyerahkan diri pula kepadamu. Aiihhh, kubunuh kau!"

Wi Hong menyerang dengan membabi buta. Ia tak menyangka si Kedok Hitam ternyata adalah bangsawan istana yang dulu menghancurkan keluarga suaminya. Kedok Hitam yang baru bangun tidur tampak kewalahan mengelak. Ketika ia mendengar suara orang-orang berlarian di luar, ia menjadi gelisah.

"Serahkan kain itu, nanti kita bicara lagi!"

"Binatang! Kau bangsawan busuk. Pantas Beng Tan tak pernah memberitahu aku karena ternyata Kedok Hitam adalah kau!"

Wi Hong terus menyerang tanpa henti. Saat suara orang di luar pintu semakin keras hendak mendobrak, Kedok Hitam tiba-tiba berkelebat keluar jendela, disusul oleh Wi Hong. Orang-orang pun mendobrak masuk dan tertegun melihat kamar yang berantakan.

"Ha-ha, Kedok Hitam rupanya telah berhasil memikat janda Golok Maut itu," ujar seorang kakek gundul.

"Jaga mulutmu!" seru bayangan kuning yang melesat masuk. "Janda Si Golok Maut itu bukan sedang jatuh cinta, melainkan hendak membunuh Kedok Hitam."

Sementara itu, Wi Hong terus memburu dengan beringas. Siapa pun yang menghalangi jalan, termasuk para pengawal, dibabat habis hingga tewas. Wi Hong menjadi dewi maut. Kedok Hitam terus menghindar karena wajahnya terbuka sebagian dan ia harus segera mencari kedok baru.

Ketika Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat menyusul, mereka mendapati Wi Hong tengah mengamuk. Kedok Hitam berseru kepada rekan-rekannya agar tidak ikut campur. Olok-olok dari para lelaki di sana membuat Wi Hong semakin marah tak terkendali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment