Chapter 158
Omongan si Hantu Selatan menghunjam hatinya, nyeri dan merobek. Wi Hong masih mengejar dan menyerang kakek itu saat Kedok Hitam menangkis.
Ketika pedang terpental dan Wi Hong sudah berhadapan dengan laki-laki ini, musuh yang amat dibencinya, Wi Hong pun berteriak dan kembali menusukkan pedangnya.
"Bagus, kau datang, Kedok Hitam. Kubunuh kau... kubunuh kau!" Namun, Kedok Hitam mengelak dan menampar.
Ia menangkis atau menghindar bacokan-bacokan pedang yang ganas. Sambil mengerutkan kening, diam-diam ia merasa menyesal bahwa perbuatannya semalam gagal menundukkan wanita ini. Ia berharap dapat melumpuhkan wanita itu setelah memiliki tubuhnya, tetapi ternyata Wi Hong bahkan semakin membenci dan marah kepadanya.
Ketika ia membentak agar wanita itu melepaskan pedang, perintahnya tidak digubris. Wi Hong justru menyerang semakin kalap, maka laki-laki ini tiba-tiba mencabut sesuatu dan Golok Maut pun sudah berada di tangannya—golok yang berkilauan dan menyilaukan mata, golok yang tentu saja dikenal oleh Wi Hong. Golok putranya!
“Giam-to (Golok Maut)!” Kedok Hitam tertawa mengejek. Ia mengangguk dan berkata bahwa benar itulah Golok Maut, golok mendiang Sin Hauw, dan sang nyonya melotot seolah tak percaya. Golok itu, golok yang dibawa putranya, tiba-tiba sudah ada di tangan lawan. Ini berarti Giam Liong mendapat celaka!
Ketika nyonya itu memekik dan pucat melihat Golok Maut, benda yang ada di tangan laki-laki itu, Wi Hong pun menjadi buas dan tiba-tiba menerjang dengan amat hebatnya.
“Ah, kau manusia binatang, Kedok Hitam. Kau manusia terkutuk. Kau membunuh putraku. Biarlah kaubunuh aku sekalian atau aku membunuhmu.... Sing! Crang-crang!”
Pedang yang bertemu golok karena ditangkis dan disambut Kedok Hitam tiba-tiba membuat nyonya itu terpelanting, karena pedangnya seketika patah menjadi dua, hanya tersisa separuh. Namun, Wi Hong meloncat bangun dan menebang lagi.
Ketika lawan kembali menangkis dan pedang Wi Hong hanya tinggal gagangnya, Wi Hong menjerit dan bertindak nekat. Tiba-tiba wanita itu menubruk dan menimpukkan sisa pedangnya ke dada lawan.
"Kedok Hitam, kau boleh bunuh aku!" Kedok Hitam mengerutkan kening.
Sebenarnya ia tidak ingin membunuh selain menakut-nakuti wanita itu. Bayangan Giam Liong di belakang wanita ini membuat Kedok Hitam berpikir banyak. Kalau saja pemuda itu tidak lolos, tentu ia tidak segan-segan membunuh. Wi Hong akan menerornya dengan kebencian dan dendamnya yang sangat. Wanita ini melebihi ular berbisa.
Namun, begitu Wi Hong menimpuknya dengan pedang buntung dan wanita itu menubruknya pula dengan pukulan berbahaya, Ang-in-kang atau Pukulan Awan Merah, laki-laki ini membentak dan tubrukan wanita itu disambutnya dengan ujung golok. Timpukan pedang itu dikelitnya.
"Mundur, atau kau mati!" Wi Hong terbelalak.
Ia melihat lawan mengancam, namun ia sudah terlanjur menubruk. Kalaupun mengelak, tetap saja ia terlambat. Entah lengan atau pundaknya bakal tergores. Karena ia marah dan beringas oleh golok di tangan lawan, menganggap putranya benar-benar telah terbunuh, wanita ini tidak takut dan tetap saja menyambar ke depan. Tangan kiri berusaha menolak golok dan tangan kanan melancarkan pukulan.
“Crep-dess!” Wi Hong mengeluh, dan Pat-jiu Sian-ong maupun yang lain-lain tertegun.
Wanita gagah yang berulang kali menyatroni istana ini tertahan dan tergantung di udara, dadanya tembus tertusuk golok sementara jari kelingkingnya putus mencengkeram golok. Tadi Wi Hong menolak atau menghalau golok itu, namun golok yang tegar dan tidak bergeming di tangan si Kedok Hitam tetaplah tidak mampu digeser. Golok itu kokoh di tangan yang kuat, dan kelingking wanita ini putus. Ketajaman Golok Maut, siapapun tahu. Ketika pukulan tangan kanannya mengenai tubuh lawan, namun Kedok Hitam lagi-lagi tidak bergeming karena sinkannya yang kuat menahan, Wi Hong justru menjadi korban, dan tubuhnya pun terhenti di udara dengan posisi terangkat.
Janda mendiang Si Golok Maut ini berkejap sejenak, mengerang dan mengeluh karena tusukan golok amatlah dalam. Ia tadi menubruk dengan kuat, dan jadilah ia seperti tersate. Namun, begitu darah menyemprot dan membasahi baju si Kedok Hitam, laki-laki ini terkejut dan membelalakkan mata. Ia pun menurunkan goloknya, dan robohlah wanita itu di lantai yang bersimbah darah.
"Bluk!" Wi Hong berkelojotan.
Janda Si Golok Maut ini merintih dan kejang-kejang. Rasa sakit yang sangat di dada kirinya membuat wanita itu sekarat. Ia berteriak, tetapi yang keluar hanyalah keluhan lirih. Ketika ia mendelik dan benci memandang lawan, Kedok Hitam mundur dan berkerut-kerut keningnya. Sesosok bayangan berkelebat, dan Yu Yin, gadis cantik itu, muncul.
“Suhu...!” Teriakan panjang ini mengejutkan semuanya.
Kedok Hitam menoleh, dan tahu-tahu murid perempuannya telah ada di situ, berlutut dan memeriksa Wi Hong. Ketika didapatinya bahwa Wi Hong tidak mungkin selamat, karena bekas tusukan itu amat dalam, gadis ini pun tersedu-sedu dan meloncat bangun berdiri. Wi Hong sendiri menyeringai, dan pandangan matanya gelap.
“Kau... kau kejam!” Yu Yin berteriak kepada suhunya, “Kau kejam, Suhu. Kau tidak berperasaan! Setelah semalam kau menodai wanita ini, sekarang kau membunuhnya!”
Kedok Hitam terkejut, membelalakkan mata.
"Kau berani campur urusan orang tua?"
“Ah, campur atau tidak, aku adalah muridmu, Suhu. Sepak terjangmu akan melibatkan aku pula! Kau membunuh calon mertuaku. Kau kejam, kau tidak berperasaan!” Namun, ketika Kedok Hitam membentak dan berkelebat ke arah muridnya, marah mendengar Yu Yin menyebut-nyebut mertua, gadis itu ditamparnya dan Yu Yin roboh terpelanting.
"Tutup mulutmu, atau nanti kau kubunuh pula!"
"Bunuhlah, bunuhlah aku!" Yu Yin berteriak-teriak. “Kau boleh bunuh aku, Suhu. Aku juga tidak ingin hidup lagi setelah kau membunuh ibunya Giam Liong. Ah, kau menanam permusuhan semakin hebat, dan rusak sudah hubunganku dengannya!” Gadis itu meloncat dan memaki-maki gurunya, marah, dan menerjang ke depan. Tiba-tiba ia menubruk dan menyerang gurunya itu.
Yu Yin baru saja mendengar keributan ini. Semalam, ia mendekati kamar gurunya, mendengar dengusan dan gejolak nafsu, dan tentu saja ia tahu apa yang terjadi. Ingin ia mendobrak pintu kamar itu, namun didengarnya bisik-bisik Sin-hujin bahwa pergumulan itu bukanlah paksaan. Yu Yin tidak tahu bahwa gurunya menggunakan arak birahi, dan baru ketika ia menengok lagi tampaklah botol arak yang tumpah. Mukanya merah padam karena segera ia tahu apa yang dilakukan gurunya. Bisik-bisik dan desah cinta. Sin-hujin itu, kiranya karena pengaruh arak, bukan atas dasar suka sama suka seperti yang semula dikiranya. Diam-diam ia pun heran dan tidak senang bagaimana ibu kekasihnya itu dapat menerima begitu saja cinta gurunya. Bukankah Sin-hujin dan putranya ini sama-sama membenci gurunya, juga ayahnya?
Ketika pagi itu ia mendengar keributan dan berlari ke arah kamar, ia tertegun melihat kamar yang porak-poranda dan arak yang terlempar di sudut. Bau tajam dan menyengat menghantam hidungnya, maka ia cepat-cepat menuju ke tempat itu, namun sudah terlambat karena dada Sin-hujin sudah tertembus golok! Yu Yin segera tahu bahwa gurunya benar-benar jahat sekali. Tadi malam menggauli Sin-hujin dan sekarang membunuhnya.
Ketika ia berteriak dan memaki-maki gurunya, Kedok Hitam terkejut dan malu kepada Lam-ciat maupun Pat-jiu Sian-ong. Laki-laki ini pun menggerakkan tangannya, dan sekali tampar ia membuat muridnya kembali terbanting dan roboh.
"Yu Yin, tutup mulutmu. Atau nanti kujebloskan ke ruang bawah tanah!"
“Jebloskanlah, bunuhlah! Aku protes akan sepak terjangmu, Suhu. Kau kejam dan tidak berperasaan. Aku malu menjadi muridmu!” Kedok Hitam melengking. Tiba-tiba ia dibuat merah padam oleh maki-makian muridnya ini. Ia bergerak dan menempeleng muridnya sampai terjengkang. Ketika Yu Yin mengaduh, namun sang guru menambahinya lagi dengan satu tamparan di mulut, gadis itu berteriak dan terguling. Murid Kedok Hitam ini pun pingsan dan roboh di dekat Wi Hong.
Orang tidak tahu lagi apakah wanita itu masih hidup atau tidak. Melihat lukanya, tidak mungkin ia selamat. Ketika Kedok Hitam menendang dan menangkap muridnya, matanya berapi bagai seekor naga yang murka. Laki-laki itu pun berseru kepada Pat-jiu Sian-ong untuk membuang atau melempar Wi Hong ke hutan. Kakek gundul itu mengangguk, namun ia justru memerintahkan pengawal untuk membawa mayat wanita itu. Wi Hong memang sudah tidak bergerak-gerak lagi.
Ketika Pat-jiu Sian-ong meninggalkan ruangan dan Lam-ciat juga menyeringai meninggalkan ruangan, semua pergi menyaksikan pagi berdarah. Wi Hong sendiri sudah dilempar atau dibuang ke hutan oleh pengawal suruhan Pat-jiu Sian-ong. Begitu tempat itu sepi kembali dan pengawal atau orang istana membicarakan tewasnya wanita itu, di hutan Wi Hong ditemukan oleh anak buah Chia-goan-swe yang tentu saja geger!
“Celaka, Sin-hujin tewas! Celaka, mayatnya ada di sini!” Begitulah suara gaduh dan ramai ketika sore itu anak buah Chia-goan-swe melihat.
Mula-mula, seorang pejuang meronda atau berjaga-jaga di tepi hutan, berindap dan mengawasi sekeliling, karena siang tadi ia melihat serombongan pasukan kerajaan melempar sesuatu di luar hutan. Ketika ia menceritakan kepada temannya dan beberapa orang ikut, menyertai penjaga yang melihat ini, mereka pun memeriksa dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat mayat Sin-hujin di situ, di dekat semak-semak, dengan pakaian tidak keruan.
"Astaga, rupanya ia habis diperkosa!"
“Sst, hati-hati. Siapa mau memperkosa mayat?”
“Ah, bawa ia ke dalam, kawan-kawan. Laporkan kepada goan-swe dan Sin-siauw-hiap. Celaka kalau ibunya sudah begini!” Para pejuang geger. Kemarin mereka sudah melihat perginya wanita ini ke kota raja, melabrak dan mencari si Kedok Hitam karena menyangka putranya terbunuh. Padahal, Sin-siauw-hiap atau Si Naga Pembunuh juga baru saja datang ke tempat mereka, bertemu dan bercakap-cakap dengan Chu-goan-swe tentang ibunya itu.