Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 159

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 159

Saat mereka mengangkat dan membawa mayat ini, keadaan Wi Hong sungguh mengenaskan. Tiba-tiba, Wi Hong membuka mata dan menggeliat.

"Tolong... siapa kalian!"

Tiga pejuang ini berjengit. Mereka tak menyangka bahwa Sin-hujin masih hidup. Mereka melolong dan melepaskan "mayat" itu untuk lari tunggang-langgang. Sin-hujin terdebuk jatuh kembali dan mengeluh. Namun, ketika tiga orang itu menoleh dan melihat keadaan tersebut, mereka tertegun dan menghentikan lari mereka. Dengan muka pucat, mereka memandang dan salah satu di antaranya berbisik bahwa Sin-hujin masih hidup.

"Bukan, bukan mayat hidup. Sin-hujin memang belum tewas. Ah, kita telah melepaskan tubuhnya begitu saja!"

"Tapi ia meringkuk di situ sejak siang tadi, tak bergerak-gerak. Jangan-jangan itu hantunya dan mayatnya bangkit lagi!"

"Tidak, tak mungkin, Kawan. Hantunya atau bukan, kita wajib menolong. Dia adalah ibunda Si Naga Pembunuh!"

"Jadi bagaimana?"

"Kita dekati lagi, kita lihat. Masa tiga laki-laki harus gentar menghadapi hantu!"

Tiga orang itu bergerak. Kawan mereka yang memimpin telah memberikan keberanian. Lagi pula, itu adalah Sin-hujin; sudah menjadi mayat atau belum, haruslah mereka tolong. Keluhan atau gerakan wanita itu memang membuat mereka kaget. Karena tak mungkin ada mayat bisa bangun berdiri, mengeluh, dan menggeliat seperti tadi, tiga orang ini mendekat. Wi Hong berkemak-kemik minta tolong.

"Aku... aku masih hidup, biarpun akan mati. Siapa kalian dan apakah dapat mempertemukan aku dengan anakku, Giam Liong?"

"Ah, kami anak buah Chu-goanswe, Hu-jin. Sungguh menyesal melihat kau dalam keadaan seperti ini. Kami mengira kau telah tewas. Maaf, kami akan membawamu menemui Sin-siauwhiap!"

Wi Hong bergerak keras. Begitu mendengar bahwa itu adalah kaum pejuang, anak buah Chu-goanswe, mendadak ia serasa mempunyai kekuatan. Apalagi mendengar disebut-sebutnya nama putranya di situ. Berarti Giam Liong ada dekat di sana. Ketika wajahnya bersinar dan muka yang tadi pucat hampir padam itu mendadak bercahaya, Wi Hong girang bukan main. Ia minta diantar ke tempat putranya. Ia tak ingat atau tak heran bagaimana putranya bisa "hidup" lagi di tempat Chu-goanswe, padahal Golok Maut berada di tangan si Kedok Hitam.

"Antarkan aku... larikan kepadanya. Cepat, aku tak ingin terlambat!"

Tiga orang itu bergerak. Setelah yakin bahwa Sin-hujin benar-benar hidup, meskipun luka parah, tiga orang ini menjadi girang namun juga cemas bukan main. Mereka tak berani lama-lama memandang bekas tusukan yang amat dalam itu dan ingin segera menyerahkannya kepada Chu-goanswe serta Giam Liong. Ketika mereka mengangkat dan membawa lari wanita ini, Wi Hong menahan sakit hingga pingsan di tengah jalan. Ternyata, wanita yang sempat disangka tewas dan dibuang ke hutan itu dapat bertahan dan masih hidup.

Dalam keadaan setengah sadar, wanita ini merasa bertemu dengan suaminya, diberi tahu bahwa putranya masih ada di dunia. Karena itu, Wi Hong tak ingin mati. Ia tak mau cepat-cepat meninggalkan raganya kalau belum bertemu dengan putranya itu. Hebat kemauan batin wanita ini. Ketika ia mengalami mati semu dan kematiannya disangka sungguh-sungguh, pihak lawan tak memeriksa, dan para pengawal yang tolol justru membuangnya ke hutan, sehingga anak buah Chu-goanswe menemukannya.

Wi Hong benar-benar sekarat. Dua kali ia dibayang-bayangi wajah suaminya yang siap menyongsong. Golok Maut tampak gagah di alam sana dan Wi Hong ingin menubruk. Tapi ketika berkali-kali suaminya menghilang dan menggoyang lengan, memberi isyarat agar tidak buru-buru ke alam baka sebelum menemukan putranya, Wi Hong berjuang melawan maut. Anak buah Chu-goanswe di dalam hutan menjadi geger.

"Sin-hujin datang! Sin-hujin luka. Beri tahu Chu-goanswe dan cari Sin-siauwhiap!"

Para pejuang berlompatan. Mereka melihat tiga teman mereka yang berlari tergopoh-gopoh. Ketika semua orang keluar dan ratusan orang muncul, tiga orang itu sudah berada di dekat kemah. Sesosok bayangan berkelebat, menyibak kerumunan, dan melihat Wi Hong yang mandi darah.

"Ibu..." jerit tertahan itu serasa menggetarkan jantung.

Giam Liong, Si Naga Pembunuh, muncul. Pemuda ini sedang gelisah mondar-mandir karena terikat perjanjian dengan Yu Yin, kekasih sekaligus anak musuh besarnya. Ia terkejut sekali mendengar namanya dipanggil dan melihat tiga pejuang membawa ibunya. Wi Hong segera dibuatkan tandu darurat. Begitu Giam Liong melihat keadaan ibunya yang parah, pemuda itu roboh dan seketika mengguguk di atas tubuh ibunya.

Wi Hong pingsan. "Ibu... Ibu... siapa yang melakukan ini kepadamu? Jahanam siapa yang membuatmu begini!"

"Minggir," seorang laki-laki tinggi besar tiba-tiba menyibak kerumunan. "Apa yang terjadi, Sin-siauwhiap? Ada apa dengan ibumu..."

Namun, begitu Chu-goanswe menatap wajah Wi Hong yang kehijauan dan pucat dengan luka dalam di dada, jenderal itu tertegun. "Ah, ibumu luka berat, Sin-siauwhiap. Jangan hanya ditangisi. Biarkan aku menolong!"

Giam Liong menoleh. Wajahnya beringas dan menakutkan. Ia melompat bangun dan menghantam sebuah pohon besar di dekatnya hingga tumbang. Ia menumpahkan marah dan dendamnya dengan mengamuk. Anak buah Chu-goanswe mundur karena belasan pohon tumbang, membuat hutan menjadi gaduh. Ibunya dicelakai orang. Ia tahu ibunya di ambang kematian.

"Siauwhiap, Sin-siauwhiap! Berhenti! Ibumu memanggilmu!" teriak Chu-goanswe.

Giam Liong berkelebat, wajahnya mengerikan ketika menghampiri jenderal itu. "Apa katamu?"

Chu-goanswe terbata-bata menunjuk ke arah tandu. "Ibumu... kau dipanggil ibumu."

Giam Liong sadar. Tiba-tiba ia mendengar keluhan lirih ibunya. Ia segera melepaskan cengkeramannya pada Chu-goanswe, berlutut, dan menangis memeluk ibunya.

"Ibu..."

Wi Hong menangis. Keinginannya terkabul. Ia dapat bertahan sehari untuk bertemu putranya. Sambil terbatuk dan terengah-engah, ia memeluk putranya.

"Ibu, siapa yang membuatmu seperti ini? Benarkah kau ke kota raja dan tidak mengikuti nasihat Chu-goanswe?"

"Aku dipermalukan si Kedok Hitam, Giam Liong. Ibumu dipermainkan. Ia... ia mengganggu tubuhku...!"

"Ibu diapakan si Kedok Hitam? Sudah kuduga, pasti iblis itu! Kau tak perlu khawatir, Ibu. Aku bersumpah untuk membunuh dan mencincangnya!"

"Tapi... golokmu ada di sana. Bagaimana Golok Maut bisa di tangan laki-laki itu?"

"Aku dijebak, Ibu. Kedok Hitam bersikap curang. Aku sedang akan ke sana, tapi terikat perjanjian dengan Yu Yin."

"Ah, gadis cantik itu. Dia pantas menjadi istrimu, Giam Liong. Dia telah membela ibumu dengan menyerang gurunya..."

Giam Liong terkejut. Wi Hong menggeliat dan mengaduh karena rasa nyeri yang menusuk dada. Wi Hong terlalu banyak bicara, sehingga Giam Liong menekan dada ibunya dan menyalurkan hawa sakti. Namun, Wi Hong menggeleng sambil terbatuk.

"Tidak, tidak. Aku ingin bicara banyak kepadamu, Giam Liong, hal yang penting..."

Giam Liong menangis, namun ia menotok tujuh jalan darah ibunya agar bisa bertahan bicara. "Baik, bicaralah, Ibu, yang tenang. Jangan tergesa-gesa."

"Hi-hik, aku menunggumu, Nak. Ibu tak mau mati kalau belum bertemu kau. Tuhan mengabulkan, dan aku puas!"

"Sudahlah, Ibu mau bicara apa?"

"Dia... Kedok Hitam... ah, dia menggagahiku. Dia memperkosaku."

"Akan kupotong alat kelaminnya!" Giam Liong membentak, wajahnya merah padam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment