Chapter 16
Dan ketika Beng Tan memekik dan berjungkir balik ke tepi telaga, menendang dua potongan bambunya itu, maka dua potong bambu yang tiba-tiba dijadikan senjata dan terbang ke tempat Wi Hong tadi meluncur dan meledak ketika menghantam sasaran, pohon di belakang Wi Hong yang tadi dipergunakan wanita ini untuk melindungi dirinya.
"Dess!" Dua potongan bambu itu melesak tembus.
Orang tentu akan meleletkan lidah melihat kehebatan tenaga pemuda itu.
Dalam kemarahan dan kekhawatirannya, Beng Tan telah mempergunakan hampir seluruh tenaganya; dua potong bambu itu menancap dan tembus mengeluarkan suara keras.
Dan ketika pohon itu bergoyang-goyang dan roboh menjadi dua karena tak kuat dihajar potongan bambu itu, suaranya berdebum ketika jatuh ke tanah.
"Wi Hong, serahkan Ju Han. Atau aku akan membunuhmu!" Beng Tan tak memedulikan tumbangnya pohon di depan.
Dia sudah mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan melihat bayangan wanita itu, membentak dan mengejar, tetapi Wi Hong menyelinap ke pohon yang lain, muncul dan bersembunyi lagi, hingga Beng Tan harus berputar-putar, memaki dan sangat marah karena kekhawatirannya akan keselamatan sang anak sudah begitu besar.
Kalau saja waktu itu bukan malam hari dan keadaan tidak gelap, tentu dia sudah dapat menangkap dan mengejar lawannya itu.
Hutan itu sudah dikenal dan Beng Tan hafal bagian-bagiannya.
Namun, karena Wi Hong juga sama-sama mengenal hutan itu, sebab wanita itu adalah bekas penghuni Hek-Yan-Pang, maka akhirnya Beng Tan melepas sebutir kerikil yang tepat mengenai pundak lawan. Barulah Wi Hong jatuh berteriak.
"Aduh!" Beng Tan berkelebat menyambar anaknya.
Wi Hong jatuh terduduk, dan saat itulah yang terbaik untuk menyelamatkan anaknya.
Tetapi ketika Ju Han terampas dan Wi Hong melengking, tiba-tiba wanita itu menendang sebutir kerikil hitam dan ganti menyerang pemuda ini.
"Tak!" Beng Tan tak apa-apa.
Pemuda ini diserang lagi, tetapi sudah melindungi dirinya dengan sinkang.
Kebal.
Dan karena ketua Hek-Yan-Pang itu memang lihai dan sinkangnya jauh di atas lawan, maka Wi Hong tersedu-sedu ketika gagal, lalu meloncat bangun.
"Beng Tan, aku akan membunuhmu. Atau kau boleh membunuh aku!" Beng Tan mengerutkan kening.
Dia segera lega karena Ju Han, anaknya, tak apa-apa.
Anaknya itu benar tertotok dan kini menangis setelah dia membebaskan totokan itu.
Dan ketika Wi Hong menyerangnya dan dia mengelak sana-sini, maka Swi Cu muncul dan wanita itu menangis kegirangan karena anaknya sudah diselamatkan sang suami.
"Berikan padaku, biar kutenangkan!" Beng Tan melempar anaknya itu.
Swi Cu menerima dan dengan cepat ibu ini mendiamkan anaknya, membuka baju dan menyumpalkan buah dadanya ke mulut si anak.
Maklum, itulah satu-satunya jalan untuk menenangkan bocah yang menangis.
Dan ketika benar saja Ju Han diam dan anak itu mencecap buah dada ibunya dengan lahap dan senang, maka Wi Hong di sana terhuyung-huyung dikibas atau ditolak Beng Tan.
"Cukup, tak perlu menyerang lagi, Wi Hong. Berhenti, dan jangan nekat!" "Keparat!" Wi Hong menangis.
"Kau boleh bunuh aku, Beng Tan. Atau aku akan membunuhmu karena aku tak mau berhenti menyerang!" "Hm, kau bukan lawanku. Kau bukan tandinganku. Meskipun kau menyerang, tetapi kau tak akan berhasil!" "Bedebah, kau memang sombong!"
Dan ketika Wi Hong menyerang dan terus menyerang, tetapi selalu kandas dan terhuyung-huyung ditolak pemuda itu, akhirnya Swi Cu tak tahan berteriak nyaring, "Suci, sudahlah! Tahu dirilah!"
Wi Hong melotot. Dia mendelik memandang sumoinya itu, namun mulutnya tiba-tiba menyungging senyum melihat bocah di gendongan wanita itu menyusu.
Sesuatu yang aneh bersinar di matanya, ia terkekeh dan tiba-tiba terbanting ketika Beng Tan menangkis pukulannya dengan kuat.
Dan ketika wanita itu mengeluh namun bergulingan meloncat bangun, tertawa, maka tiba-tiba ia berseru bahwa suatu ketika dia akan datang lagi.
"Baiklah, kau boleh menang, Beng Tan. Lain kali aku akan menuntut perhitungan lagi. Selamat tinggal!"
Beng Tan terbelalak memandang.
Dia sesungguhnya tak senang dengan semuanya itu, kedatangan Wi Hong yang membunuhi murid-murid lelaki Hek-Yan-Pang.
Tetapi karena wanita itu adalah kakak seperguruan istrinya dan Wi Hong pun bekas ketua lama, maka dia membiarkan saja kepergian wanita itu dan lega bahwa anaknya tak sampai celaka.
Itu saja sudah cukup.
Beng Tan tak memperhatikan bahwa popok anaknya berbeda, bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada anaknya itu, yakni ketika bocah itu melahap dan menyusu buah dada istrinya demikian rakus.
Hanya istrinya yang dapat merasakan itu, tetapi selanjutnya Swi Cu pun tak bercuriga.
Wanita ini hanya menyangka bahwa anaknya sedang melepaskan diri dari cengkeraman ketakutan, setelah tadi dibawa dan diculik Sucinya.
Dan karena malam juga gelap dan Swi Cu pun tak memperhatikan popok anaknya yang berbeda dan tidak serupa dengan yang tadi, maka wanita ini sama sekali tak menyangka bahwa anaknya telah tertukar!
Suami istri itu tak menduga sedikit pun bahwa Wi Hong telah "mengerjai" mereka, apalagi Swi Cu mendapat keterangan bahwa Sucinya itu tak jadi mempunyai anak karena keguguran.
Maka ketika mereka pulang dan anak-anak murid yang berdatangan menyusul disuruh kembali dan pulang ke tempat masing-masing, malam itu Swi Cu menangis di dada suaminya setelah sang anak tertidur.
"Suci telah datang, dan membuat onar. Ah, apa yang harus kita lakukan, Koko? Bagaimana kalau dia datang dan membuat keributan lagi?" "Hm, tak usah cemas. Aku dapat mengatasinya, Cu-moi. Dan kau pun tentunya juga begitu. Kau harus memperdalam pukulan-pukulan Pek-In-Kang atau ilmu silat Pek-Jit Kiam-Sut kalau tak ingin direpotkan Sucimu itu. Kita dapat berjaga-jaga, tetapi para murid tidak!"
"Itulah, dan aku khawatir. Bagaimana kalau murid-murid kita dibunuh lagi? Tadi Suci memaki-maki aku yang dikata mengubah peraturan partai, Koko. Dan dia marah sekali melihat..."
"Tak perlu berlebihan. Aku tak berpikiran sejauh itu, Cu-moi. Tapi, eh... apakah dia datang sendirian?" Beng Tan tiba-tiba tampak terkejut, memandang istrinya.
"Mana anak yang dulu dikandungnya itu? Bukankah dia hamil?" "Suci keguguran...." Swi Cu masih terisak-isak.
"Anak yang dulu dikandungnya itu tak ada, Koko. Dia datang sendirian. Mengapa?" "Hm, tak apa-apa. Kalau begitu selamat!"
"Selamat apanya?" "Eh, tidakkah kau ingat dendam Sucimu itu, Moi-moi? Tidakkah kau tahu bahwa Sucimu akan mengajar anaknya untuk membalas dendam? Kematian Golok Maut tak mungkin dilupakannya begitu saja, dan aku ngeri kalau anak itu lahir!"
"Betul," Swi Cu terkejut, tampaknya sadar. "Suci memiliki dendam setinggi langit, Koko. Dan Kedok Hitam adalah manusia yang amat dibencinya. Hm, aku ngeri, tetapi untung. Dia telah keguguran dan anaknya itu tak akan mengulang sepak terjang ayahnya!"
Beng Tan mengangguk-angguk. Memang kalau Wi Hong sampai melahirkan keturunan, tentulah geger dunia persilatan kalau anak itu melanjutkan dendam ayahnya.
Dendam wanita itu tak akan puas oleh darah orang biasa saja.
Yang diminta adalah darah si Kedok Hitam, padahal si Kedok Hitam adalah tokoh di istana, seorang laki-laki yang merupakan adik tiri kaisar.
Jadi, tentu hebat akibatnya kalau Wi Hong menghendaki nyawa orang itu melalui anaknya.
Dan ketika Beng Tan tepekur dan teringat peristiwa-peristiwa lama, kejadian yang membuat dia sesak dan marah ditahan, maka istrinya berbisik apakah dia ingat siapa si Kedok Hitam itu.
"Tentu, mana mungkin aku lupa? Kau sudah kuberi tahu, Moi-moi. Dan aku tentunya jauh lebih ingat daripada kau!"
"Hm, bukan begitu maksudku. Maksudku, bagaimana kalau Suci sampai tahu, Koko? Atau bagaimana kalau sampai dia bertemu dengan si Kedok Hitam ini!"
"Dia tak mungkin tahu, dan tak mungkin bertemu dengan si Kedok Hitam ini!"
"Hm, kalau umpamanya tahu?" "Tak mungkin, Cu-moi. Aku tak akan memberitahukannya, kecuali kau!"
Sang istri tiba-tiba mengedikkan kepala, marah.
"Koko, kau tak perlu ragu akan janjiku. Aku telah bersumpah tak akan memberitahukan siapa si Kedok Hitam itu kepada Suci. Kalau aku memberitahukannya, biarlah kepalaku dipotong orang! Kenapa kau menyinggungku seperti ini? Aku hanya hendak meminta pendapatmu, bagaimana kalau seandainya secara kebetulan Suci bertemu dengan si Kedok Hitam itu. Apa yang hendak kau perbuat!"
"Aku akan melindunginya," Beng Tan gugup menjawab, cepat dan meredakan kemarahan istrinya itu.
"Aku juga sudah berjanji padamu, Cu-moi. Dan Kedok Hitam telah kuminta untuk tidak mengganggu Sucimu itu. Kalau dia bohong, tentu aku akan menuntut pertanggungjawabannya. Sudahlah, maaf kalau kata-kataku tadi menyakitkan hatimu!"
Swi Cu mendorong suaminya. Tidak mudah baginya untuk reda kalau sudah dibuat marah begitu.
Sang suami harus membujuk tiada henti.
Dan ketika Beng Tan kelabakan dan meloncat menghadang istrinya ini, maka Beng Tan memeluk dan mencium pipi istrinya.
"Maaf... maaf... kenapa masih marah juga? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu, Cu-moi. Kalau masih kurang juga, biarlah aku berlutut minta maaf!"
Beng Tan menjatuhkan diri berlutut, mau memeluk dan mencium kaki istrinya itu, tetapi Swi Cu sudah cepat menariknya bangun.
Akhirnya wanita ini menangis dan menyambar suaminya itu, menyusupkan dada dan balas memeluk suaminya.
Dan ketika sang suami girang dan mencium istrinya itu, dibiarkan, maka Swi Cu sudah diajak masuk ke kamar.
"Hush, belum waktunya. Tak boleh! Aku masih menyusui Hanji, Koko. Tak boleh begitu!"
"Ah, masa tidur dan memeluk istri di ranjang saja tidak boleh? Aku tidak menginginkan yang lebih, Moi-moi. Aku tahu itu. Tetapi berilah sedikit penghibur dan biar aku melepas rinduku!"
"Ih, kau...!" Dan sang istri yang terpaksa menerima dan tak menolak ajakan suami lalu membiarkan saja dirinya dituntun dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian, mereka sudah berduaan dan Beng Tan lega melihat istrinya mau dibujuk.
Dia ingin menyatakan kasih dan sayangnya, meskipun sang istri tak akan memberikan semua karena Swi Cu baru saja melahirkan bayinya sebulan lebih sedikit, hal yang mengharuskan suami "berpuasa". Tetapi Beng Tan dapat menerima itu.