Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 160

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 160

"Sudah kuduga bahwa bangsat keparat itu mengganggumu, Ibu. Tapi bersumpah demi Langit dan Bumi, aku akan memotong alat kelaminnya!" "Hik-hik, benar. Dan kutungi kaki tangannya seperti ketika dulu dia membunuh ayahmu, Giam Liong. Balaskan sakit hati Ayah Ibu!" "Aku bersumpah!" "Tapi aku senang..." Giam Liong tertegun.

"Aku senang laki-laki itu menggagahi ibumu, Giam Liong. Dia... hik-hik, dia akan kena tuah dari Golok Maut!" "Maksud Ibu?" "Ah, pemegang golok itu tak boleh berhubungan dengan wanita, Giam Liong. Ini pantangannya. Lihat kejadian ketika dulu ayahmu menggauli Ibu." Giam Liong tertegun. Mula-mula dia merasa heran dan kaget kenapa ibunya senang diperkosa. Hampir saja dia marah dan memaki ibunya ini. Tapi ketika ibunya menjelaskan dan dia sadar, pemegang Golok Maut memang tak boleh berbuat intim dengan lawan jenis, maka ibunya itu terengah dan menyeringai, tertawa.

"Lihat... lihat kutukannya nanti, Giam Liong. Kedok Hitam pasti mampus disambar Golok Maut itu. Dia telah melanggar larangannya... hi-hi, aku puas!" "Tapi Ibu dipermainkan. Ibu dihina!" "Benar, dan aku... aduh, hatiku sakit sekali, Giam Liong. Aku benci tujuh turunan dengan laki-laki itu. Aku tak dapat membalas dendam!" "Aku yang akan membalaskan dendam," Giam Liong berkata.

"Tak usah kau khawatir, Ibu. Aku telah bersumpah untuk menagih jiwa." "Benar, dan kau... kau, ah!" Wi Hong tersedak, napasnya kembali megap-megap. "Kau tolong pula gadis cantik itu, Giam Liong. Yu Yin sungguh berbeda dengan ayahnya. Dia... dia tentu celaka." "Ibu tak usah bicara tentang ini," Giam Liong mengerutkan kening.

"Ah, dia gadis yang baik, calon istri yang baik. Kalau kau dapat menjadi suaminya, maka pesanku satu, Giam Liong. Buang atau kembalikan Golok Maut di Lembah Iblis. Orang yang sudah berkeluarga tak boleh membawa golok ini!" Giam Liong menahan air matanya yang bercucuran. Bicara tentang Yu Yin justru semakin menusuk perasaannya saja. Kalau tidak karena Yu Yin, tentu ia sudah menerjang ke kota raja, melabrak!

Tapi karena waktu tiga hari belum habis dan gadis itu berjanji untuk merampas kembali Golok Maut yang dirampas Kedok Hitam, janji yang membuat masing-masing pihak harus menahan dan mengendalikan perasaan masing-masing, maka Giam Liong penuh duka kalau ibunya membicarakan ini. Dia tak tahu apakah mereka bisa bersatu. Cinta di masing-masing pihak memang telah sama-sama dalam, namun ganjalan di masing-masing pihak juga sama besar. Gadis itu adalah murid Kedok Hitam, musuhnya.

Dan ketika Giam Liong mengguguk karena ibunya minta dicium, gemetar dan meraih kepalanya, maka perasaan pemuda ini benar-benar hancur ketika mendengar kata-kata ibunya itu. "Giam Liong, Ibu sudah tak kuat... peluk dan ciumlah Ibu. Aku... aku melihat bayang-bayang ayahmu?" Giam Liong berguncang.

Melihat dan merasakan keadaan ibunya ini, tiba-tiba pemuda itu tak kuat. Didekap dan dipeluknya ibunya itu kuat-kuat. Giam Liong menangis dan menciumi ibunya. Dan ketika Wi Hong balas mencium dan tertawa aneh, Chu Goanswe dan para pejuang tak tahan hingga meruntuhkan air mata, maka Wi Hong berbisik teringat sesuatu hal.

"Giam Liong, Kedok Hitam... Kedok Hitam ternyata bukan orang lain. Dia adalah...!" Giam Liong terkejut. Ibunya berhenti dan tak meneruskan kata-katanya, terbatuk dan mencoba bicara lagi namun suaranya tiba-tiba hilang.

Dan ketika pemuda itu tertegun karena ibunya berusaha sekuat tenaga namun gagal, Giam Liong menekan punggung ibunya agar ibunya dapat bicara lagi, maka bagai geledek di siang bolong ia mendengar lanjutannya, "...ia adalah Coa Ong Ya!" Bentakan atau pekik menggelegar pecah dari mulut pemuda ini. Wi Hong sudah roboh dan wajah wanita itu tampak puas memberikan keterangan terakhir. Ia tak gagal!

Dan ketika Giam Liong mencelat dan menggigil di sana, wajah berubah-ubah dengan amat hebatnya, mendadak ia melengking dan terbang menuju kota raja. Mayat ibunya ditinggal! "Siauwhiap...!" Giam Liong tak mendengar atau memedulikan seruan ini. Chu Goanswe, yang terkejut dan memanggil pemuda itu tak digubris. Jenderal ini dan para pejuang tak mendengar kata-kata Wi Hong tadi. Suara wanita itu amatlah lirih karena ia benar-benar sudah di ambang maut.

Kalau Giam Liong tidak memberinya tenaga, tentu ia tak dapat bicara. Tenaga wanita itu sudah habis. Maka ketika Giam Liong mencelat dan mengeluarkan teriakan mengguntur, kata-kata atau keterangan ibunya tadi memang sungguh mengagetkan; ia tak menduga, maka pemuda ini sudah terbang dan meluncur ke kota raja.

Giam Liong tak ingat lagi perjanjiannya dengan Yu Yin, dan ia juga agaknya tak peduli lagi dengan janji itu. Persetan dengan janji! Namun ketika ia meluncur dan keluar hutan, gerakannya luar biasa cepat karena ia mengerahkan semua ilmu meringankan tubuhnya, ia tak sabar dan ingin mencari musuh besarnya. Mendadak jeritan wanita memanggilnya, jerit diiringi isak tangis.

"Giam Liong...!" Pemuda itu tertegun. Si Naga Pembunuh, yang membesi dan merah kehitaman wajahnya ini, tiba-tiba berhenti dan membalik oleh panggilan itu, padahal tadi panggilan Chu Goanswe tak pernah digubris. Dan ketika sesosok bayangan berkelebat dan itulah Yu Yin, suara yang sudah dikenal pemuda ini, maka Giam Liong mendengus dan pancaran matanya yang penuh hawa membunuh membuat gadis itu terkejut dan seketika berhenti, mengguguk.

"Aku... aku ada perlu sebentar. Istana dan gerbang kota raja dijaga ketat oleh tujuh lapis tentara. Sepuluh ribu orang dikerahkan. Kau jangan ke sana!" "Hm, apa pedulimu!" Giam Liong membentak, berseru dan tiba-tiba mencengkeram gadis ini.

"Ayahmu telah membunuh ibuku, Yu Yin. Dan utang jiwa harus dibayar jiwa. Aku tak peduli nasihatmu. Pergilah!" Yu Yin menjerit. Ia dilempar dan dibuang jauh oleh Giam Liong, berjungkir balik tapi sudah turun di depan pemuda ini lagi.

Dan ketika Giam Liong tertegun karena gadis itu menghalangi jalannya, Yu Yin tiba-tiba marah dan juga terhina oleh sikap Giam Liong, maka gadis itu bertolak pinggang, mengedikkan kepala. "Giam Liong, aku melarangmu ke sana. Atau kaubunuh..." "Kau... kau ada hak apa?" Giam Liong terkejut, marah.

"Ini urusanku sendiri, Yu Yin. Tak usah ikut campur!" "Urusanmu adalah urusanku juga. Aku berhak ikut campur!" "Apa? Kau... kau berani bicara seperti itu? Hak yang bagaimana?" "Hak sebagai kekasih. Kau bagian dari hidupku dan mati-hidupmu adalah urusanku juga!" "Keparat!" Giam Liong membentak.

"Ayahmu membunuh ibuku, Yu Yin. Tak ada urusan cinta di antara kita. Minggir, atau kau kuhajar!" Dan Giam Liong yang menangkap atau menyambar kembali gadis ini lalu hendak melempar gadis itu agar tak menghalangi jalan. Giam Liong marah karena kematian ibunya masih membuat darahnya mendidih. Ia bakal tak segan-segan pula menghajar gadis ini.

Dan ketika Yu Yin mengelak namun ia menyambar lagi, tertangkap dan dilempar, maka Yu Yin terbanting dan terguling-guling di sana. Giam Liong berkelebat dan terbang lagi ke kota raja. "Giam Liong, tunggu! Mana janjimu menunggu waktu tiga hari itu?" "Hm, tak ada lagi janji di antara kita. Aku hendak membunuh musuh besarku, Yu Yin. Kau pergilah atau bantu ayahmu itu!" "Keparat, kau tak pantas menjadi putra Si Golok Maut Sin Hauw.

Janji yang sudah dikeluarkan ternyata dijilat kembali. Cih, kau manusia ingkar, Giam Liong. Ibumu pun tentu tak bakal tenang di alam baka!" Giam Liong berhenti. Bagai disentak rem yang amat kuat, mendadak ia menahan larinya. Yu Yin mengejar dan berjungkir balik melewati atas kepalanya.

Dan ketika mereka berhadapan lagi dan gadis itu tampak merah padam, sama seperti Giam Liong yang juga hangus dan merah kehitaman, maka pemuda itu membentak, suaranya menggigil, "Yu Yin, kau... kau bicara apa? Kau menyebut-nyebut ibuku?" "Benar, ibumu tentu kecewa melihat sepak terjangmu, Giam Liong. Punya anak hanya sepele, ternyata penjilat ludah. Cih, aku pun juga tak sudi mencintaimu lagi. Kau busuk dan memuakkan!" "Aku juga tak mencintaimu. Kau anak musuh besarku!" "Aku juga. Aku menyesal dan menarik semua cintaku yang pernah ada.

Kita bertanding dan selesaikan permusuhan ini sebelum kau ke kota raja... srat!" Dan Yu Yin yang mencabut pedang dan mengamuk menyerang pemuda ini lalu seperti gaya anak-anak remaja sekarang yang cengeng. Mereka masing-masing telah saling mengumpat dan menyatakan tidak cinta lagi, padahal berani sumpah, perasaan itu masih lekat dan kuat di hati mereka.

Dan ketika terbukti bahwa tusukan-tusukan Yu Yin hanya ke tempat-tempat ringan, sama sekali tak ada maksud-maksud membunuh, sementara Giam Liong juga diminta membalas namun hanya mengelak dan berkelebat ke sana kemari, maka Yu Yin menangis menyerang pemuda itu sambil membentak-bentak.

"Giam Liong, ayo kaubalas aku... balas! Aku siap kau bunuh dan setelah itu pergilah ke kota raja. Aku muak melihat seorang penjilat ludah. Kau tak pantas menjadi putra Ayah Ibumu yang gagah. Kau tikus pecomberan!" "Hm," Giam Liong terpukul dan malu, kesadarannya mulai ada.

"Lebih baik kau yang membunuh aku, Yu Yin. Arahkan pedangmu ke dada dan jangan sering-sering meleset!" "Kau tak bersenjata, dan kepandaianmu jelas lebih tinggi daripada aku. Ayo, pukul dan bunuhlah aku. Aku ingin tahu bahwa kau benar-benar sudah tidak mencintai aku. Aku muak!" "Hm, aku pun juga sebal melihat dirimu, Yu Yin. Tapi kalau kau benar-benar tidak mencintai aku lagi, coba kaubuktikan dan tusuk dadaku... crat!" Giam Liong tidak menghindar, bahkan menyerahkan dadanya untuk ditusuk, dan Yu Yin menjerit karena pedang tiba-tiba menancap di situ. Darah keluar!

Dan ketika gadis ini melepaskan pedangnya sementara Giam Liong jatuh terduduk, terbelalak, maka gadis itu menangis dan menubruk Giam Liong! "Oohhh..." gadis itu berseru panjang, tersedu-sedu. "Kau jahat, Giam Liong, kau kejam. Kau membiarkan aku membunuhmu padahal kau tahu tak mungkin aku dapat melakukan itu. Ooh... kau terluka. Lukamu mengeluarkan darah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment