Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 161

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 161

"Aduh, bagaimana ini, Giam Liong? Aku tak dapat menghentikan darahmu. Biar darah yang keluar kuganti dengan darahku..."

*Srat!* Yu Yin mengiris lengannya sendiri dan menempelkan darahnya ke luka Giam Liong. Tindakan itu membuat Giam Liong terharu. Pemuda itu mengeluh dan mendekap gadis tersebut. Yu Yin memeluknya sambil mencoba memampatkan luka, namun karena ia tidak menggunakan sinkangnya, usahanya tentu saja tidak berhasil.

Akan tetapi, begitu Yu Yin mengiris lengannya untuk mengganti darah yang keluar, Giam Liong merasa terharu. Pemuda itu mengerahkan sinkangnya, dan seketika darah pun mampat. Yu Yin dipeluknya dengan erat.

"Yu Yin, dewiku... Apa yang kita alami ini? Kutuk atau sumpah siapa yang mengenai kita? Aku boleh kaubunuh, Yu Yin. Tapi musuh besarku ada di sana. Maukah kau membunuhnya atau bunuh saja aku!"

"Tidak... tidak!" Yu Yin menangis. "Aku tak dapat membunuhmu, Giam Liong. Lebih baik kaulah yang membunuh aku dan biarkan aku mati. Aku tahu dendammu, aku tahu sakit hatimu, dan aku juga tak menyalahkan dirimu. Tapi kenapa kau melanggar janji dan menjilat ludah? Ini yang membuat aku menyesal!"

"Maaf," Giam Liong mengusap rambut kekasihnya lalu menciumnya. "Aku lupa, Yu Yin. Aku dibakar kemarahanku. Ibu... Ibu telah meninggal!"

Giam Liong tiba-tiba mengguguk. Ia melepaskan gadis itu. Yu Yin terkejut melihat pemuda yang biasanya tegar dan keras hati ini tiba-tiba menjadi begitu cengeng. Giam Liong tidak kuat lagi menahan perasaan pedih mengingat kematian ibunya yang baru saja terjadi. Tubuh ibunya di sana bahkan belum dingin!

Ketika Giam Liong terisak, ia merasa sangat terguncang. Ia melipat mukanya di bawah kedua lutut karena terpukul hebat. Yu Yin tertegun, sempat kaget dan heran. Namun, ketika gadis itu tahu penyebabnya, ia pun ikut sakit hati. Kelakuan gurunya benar-benar biadab. Dengan gemetar, ia mencoba menghibur pemuda itu.

"Sudahlah, aku tahu itu, Giam Liong. Aku juga mengutuk suhu. Tingkah laku guruku seperti binatang. Aku juga tak dapat menerima ini, tapi sekarang mari kita bicarakan urusan kita berdua. Apakah kau masih akan ke kota raja dan melanggar janjimu?"

Giam Liong mengangkat mukanya, matanya berkilat-kilat. "Aku sadar, Yu Yin. Sekarang aku sadar. Aku menarik niatku, tapi besok pasti aku ke sana. Kutunggu beritamu, dan setelah matahari tenggelam di barat, aku akan mencari musuh."

"Bagus. Kau tunggu aku di sini, Giam Liong. Kuusahakan sebelum matahari tenggelam aku telah membawa golokmu yang dirampas suhu. Begini baru aku senang!"

"Dan kau... kau tak dimusuhi gurumu itu? Tahukah kau siapa dia?"

"Guruku amat misterius, Giam Liong. Aku tak tahu, tapi aku juga tak mau tahu. Masalah dimusuhi, hmm... akulah sekarang yang memusuhinya. Tindak-tanduknya sungguh keterlaluan."

Giam Liong memandang tajam. Ada rasa tidak percaya, tetapi segera lenyap karena Yu Yin bicara dengan sungguh-sungguh. Ketika Giam Liong mengertakkan gigi dan bertanya bagaimana jika ia sampai membunuh si Kedok Hitam, gadis itu menggigit bibir.

"Aku masih mempunyai ayah, dan ayahkulah tumpuan hidupku terakhir. Aku tak akan menyaksikan kau membunuh guruku, Giam Liong, karena aku juga tak senang melihat kejadian itu, meskipun aku juga menentang dan melawan kekejamannya!"

"Hm," Giam Liong tertawa pahit, yakin bahwa Yu Yin benar-benar tidak mengetahui siapa gurunya. "Kalau begitu pulanglah, Yu Yin. Tapi bagaimana kalau misalnya ayahmu pun sampai terbunuh?"

"Kau hendak membunuh ayah pula?"

"Apa salahnya? Bukankah ibumu terbunuh oleh guruku?"

"Hm, ayahmu itu licik dan banyak akal, Yu Yin. Agaknya dalam hal ini pun ia pasti campur tangan. Bagaimana kalau misalnya ia terbunuh..."

"Kau tak boleh membunuhnya!" Gadis itu membentak, wajahnya terbakar. "Kematian ayah dan ibumu adalah di tangan guruku, Giam Liong. Kalau kau sudah melampiaskan dendam, tentunya kau tak usah mencari korban lain agar aku tak usah mencapmu sebagai manusia biadab dan haus darah!"

"Baiklah," Giam Liong tertawa getir sambil memejamkan mata. "Aku akan mencari gurumu, Yu Yin. Tapi kalau ayahmu sampai terlibat, harap kau tidak menyalahkan aku. Yang aku cari adalah Kedok Hitam, yang membunuh dua orang tuaku!"

Gadis itu terisak dan menyambar lengan Giam Liong. "Kau menyebut-nyebut ayahku, ada apakah? Bukankah hanya guruku yang bermusuhan denganmu?"

"Sudahlah," Giam Liong membuka mata, wajahnya tiba-tiba menjadi murung. "Persoalan kita sungguh pelik, Yu Yin. Aku tak mau bicara lagi tentang ini. Pulanglah. Aku hendak mengurus jenazah ibu dan menunggumu di sini sampai besok."

"Benar," gadis itu tiba-tiba terlonjak. "Aku juga hendak sembahyang di depan jenazah ibumu, Giam Liong. Mudah-mudahan aku dapat menjadi menantunya, biar kubantu kau."

"Di sana sudah ada Chu-goanswe..."

"Dia bukan menantu atau calon menantu ibumu!"

"Benar, tapi..."

"Tapi apalagi? Bukankah kau masih mencintai aku, Giam Liong? Bukankah kita tetap dapat berdua?"

"Hm, baiklah. Mari ke sana, Yu Yin. Tapi setelah itu kau harus pulang!"

"Dan kau tak boleh nekat ke kota raja!"

"Baik-baik, tapi hanya sehari ini. Lebih dari itu sudah di luar batas perjanjian!"

Yu Yin terisak. Ia mengangguk, namun kesedihan kembali muncul. Meski begitu, ia tetap menggigit bibir karena merasa gurunya sudah keterlaluan. Hinaan dan kekejaman itu merobek hatinya sebagai seorang wanita. Gadis itu kemudian bergerak mendahului Giam Liong menuju tempat Chu-goanswe.

Giam Liong berkelebat. Chu-goanswe dan anak buahnya merasa heran sekaligus girang melihat kembalinya pemuda itu. Namun, ketika melihat Yu Yin bersama pemuda tersebut—tepat saat jenazah Wi Hong baru saja dimasukkan ke dalam peti—Chu-goanswe bergerak dan berbisik di telinga Giam Liong sementara mereka berlutut bersebelahan.

"Siauw-hiap..."

"Aku tahu," Giam Liong memotong sambil menggeleng. "Yu Yin mencegahku ke kota raja, Goanswe. Kini ia ingin berbelasungkawa untuk kematian ibu. Kau diamlah dan biarkan kami sembahyang!"

Terpaksa, dengan menahan keheranan dan kerutan di dahi, jenderal itu bersama anak buahnya memandang kedua orang tersebut sembahyang di depan peti mati. Giam Liong harus menahan guncangan hatinya kuat-kuat agar tidak meledak.

Yu Yin terbelalak, tertegun sejenak, lalu menjerit dan roboh di atas peti mati, memeluk mayat Wi Hong sambil mengguguk. Keadaan mayat itu sungguh menyedihkan, membuat Giam Liong kembali meneteskan air mata.

Hanya sebentar Yu Yin mengguguk, kemudian ia memejamkan mata dan berkomat-kamit. Bibirnya menggigil saat ia mengucapkan kutuk terhadap gurunya dengan tersendat-sendat.

"Bibi, sudah kuberitahukan kepadamu agar tidak nekat memasuki istana. Tapi kau keras kepala. Kini apa yang kukhawatirkan terjadi, kau tewas. Aku menyesal tak dapat berbuat apa-apa untuk menolongmu, Bibi Wi Hong. Dan mungkin besok aku atau putramu, Giam Liong, menyusul. Ah, hidup sungguh mengerikan. Manusia tak ubahnya serigala yang haus darah. Aku memohon agar arwahmu ditempatkan di tempat yang tenang. Sekali lagi, maafkanlah aku yang tak dapat berbuat apa-apa untuk menolongmu!"

Setelah mencium lalu melepaskan mayat itu, Yu Yin berdiri dengan air mata bercucuran dan bertanya kepada Giam Liong di mana ia akan dimakamkan.

"Aku ingin menggali tanahnya, hitung-hitung penebus dosaku yang tak dapat berbuat apa-apa."

"Tanah galian sudah kami siapkan," Chu-goanswe tiba-tiba berkata. "Di situ Sin-hujin akan kami kebumikan, Nona. Tapi agaknya dengan kehadiranmu ini kami tetap tak dapat mengampuni gurumu!"

"Aku tahu, dan aku juga tidak memohonkan ampun untuk guruku!" kata gadis itu ketus. "Aku datang bukan untuk mengemis ampun, Goanswe. Aku datang semata karena Giam Liong. Aku juga menentang dan tidak menyetujui sepak terjang guruku!"

Yu Yin kemudian mengangkat peti jenazah dan dengan air mata yang membanjir, ia melompat dan memasukkan mayat Wi Hong ke liang lahat. Ternyata makam itu sudah disiapkan. Giam Liong tertegun melihat Yu Yin bekerja seorang diri dan tidak mau dibantu. Dengan cepat, segunduk makam pun jadi. Yu Yin melempar cangkul dan kembali menangis di sana. Setelah berlutut dan mencium tanah sebagai penghormatan terakhir, gadis itu berkelebat dan berseru, "Giam Liong, terima kasih. Besok kita bertemu di tempat yang ditentukan dan tunggulah aku!"

Semua orang membelalakkan mata. Giam Liong berdiri dengan gemetar, menopang tubuhnya. Jenazah ibunya telah dimakamkan oleh Yu Yin. Menahan haru dan berbagai perasaan yang bergolak, Giam Liong membalas seruan itu, "Baik, terima kasih kembali, Yu Yin. Mudah-mudahan besok adalah hari yang baik untuk kita!"

Chu-goanswe dan anak buahnya terdiam. Mereka tahu siapa gadis itu dan bagaimana hubungannya dengan Si Naga Pembunuh. Sebuah kisah luar biasa terjadi di sana; murid seorang musuh besar menjalin cinta dengan pemuda yang orang tuanya dibunuh oleh guru tersebut.

Begitu gadis itu pergi, Giam Liong perlahan-lahan roboh karena kakinya lemas. Chu-goanswe segera bergerak dan menerima tubuh pemuda itu.

"Siauw-hiap, kenapa gadis itu dibiarkan pergi? Bukankah ia tawanan berharga bagi kita?"

"Tidak," Giam Liong memejamkan mata. "Ia pergi untuk mengambil Golok Mautku, Goanswe. Begitu ia muncul, besok aku akan menyerbu kota raja."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment