Chapter 163
"Hayo, kau enyah atau aku melabrakmu!" Terpaksa, melihat gadis itu hendak marah lagi padahal sudah diredakan, Kapten Bu mengangguk dan berkelebat. Perwira itu pun tak tampak lagi, namun Yu Yin tetap merasa kesal, "Siluman, bedebah jahanam! Kalau kau memperlihatkan batang hidungmu lagi, aku tak akan memberi ampun!"
Di tempat-tempat gelap, semua mata terbelalak. Memang benar bahwa para pengawal atau Bu-ciangbu sendiri tak pergi jauh. Mereka hanya bersembunyi dan sengaja tak memperlihatkan diri karena khawatir gadis itu mengamuk. Begitu Yu Yin pergi dan berlari menuju istana, aneh dan ajaib, tak ada pengawal atau penjaga lagi kecuali di depan gedung Coa-ongya.
"Ah, siocia datang. Benar, silakan masuk, siocia. Kau telah ditunggu-tunggu Ayahmu!"
Yu Yin mendengus. Ia tak menjawab seruan penjaga. Dengan muka merah dan marah, ia berkelebat memasuki gedung ayahnya—gedung baru karena yang lama dulu dibakar atau dihancurkan para pejuang ketika mereka mengamuk dengan bantuan Giam Liong. Saat matanya yang tajam melihat bahwa di mana-mana sebenarnya bersembunyi pengawal dan gedung ayahnya pun dijaga ketat, Yu Yin langsung bergerak memasuki ruangan depan. Begitu ia masuk, ia langsung berhadapan dengan ayahnya.
"Bagus, kelayapan dari mana saja?" Sang ayah membentak, mengejutkan puterinya. "Dari mana kau, Yu Yin? Betulkah dari tempat pemberontak menemui Giam Liong?"
Gadis ini tertegun. "Ayah ada di sini. Bagus, kebetulan pula, Ayah. Aku mau bicara dan minta bantuanmu!"
Namun, baru saja gadis ini menyelesaikan seruannya, tahu-tahu ia disambar, diangkat, lalu didudukkan di kursi. Gerakan ayahnya sangat mengejutkan.
"Ayah... brukk!" Yu Yin terpekik.
Sang ayah membantingnya di kursi; kecepatan dan tenaganya membuat sang anak terperanjat. Sikap dan kepandaian itu jelas dimiliki orang kang-ouw! Ketika gadis itu terpekik dan berseru tertahan, ayahnya menotok dan mendesis, "Kau tak boleh keluar, sekarang juga kau di sini!"
Gadis ini tersentak untuk kedua kalinya. Tubuhnya tertotok, lumpuh, dan lemas di kursi dengan mata terbelalak lebar. Kepandaian ayahnya persis seperti gurunya!
Yu Yin menjerit, "Ayah, apa yang kau lakukan ini? Kenapa kau merobohkan aku? Dari mana kau belajar silat selihai ini? Bukankah itu totokan It-yang-ci?"
"Hm, gurumu adalah saudaraku. Kau tak usah banyak mulut, Yu Yin. Kau telah mencoreng dan membuat malu ayahmu. Kau tak boleh lagi berhubungan dengan Giam Liong dan besok kunikahkan!"
"Ayah...!"
"Dengar!" Sang ayah tak peduli, wajahnya merah padam. "Hari ini juga kau kupingit, Yu Yin. Hari ini juga ayahmu segera menerima lamaran Cai-ciangkun. Kau akan kunikahkan dengan puteranya dan besok sudah menjadi pengantin!"
Yu Yin seolah pingsan. Ia mendengar kata-kata ayahnya seperti geledek di siang bolong. Ia berteriak, namun ayahnya menotok kembali dengan It-yang-ci tepat mengenai urat gagunya. Dengan bengis, Coa-ongya mengultimatum, "Kau tak layak bergaul dengan pemberontak. Kau tak layak bergaul dengan Giam Liong. Karena kau puteri seorang bangsawan, besok kau akan kuikat perjodohan dengan putera Cai-ciangkun. Ia tampan dan gagah, cocok untukmu. Nah, malam ini kau beristirahat dan besok bersiaplah menjadi pengantin!"
Coa-ongya berseru memanggil pelayan yang datang tergopoh-gopoh, lalu memerintahkan agar puterinya dibawa ke kamar besar, kamar pengantin. "Bawa dia ke belakang dan jaga baik-baik. Dan kau..." Pangeran ini menunjuk pelayan yang lain, "Berikan suratku kepada Cai-ciangkun dan suruh ia ke sini secepat-cepatnya!"
"Ba... baik! Hamba akan melaksanakannya, Ongya. Tapi mohon dibantu pengawal!"
"Kau cari saja di luar. Aku tunggu di ruang dalam dan satu jam lagi Cai-ciangkun harus sudah ada di sini, atau kepalamu kupotong!"
Pelayan itu menjulurkan lidah. Ia keluar dan berlari menuruni anak tangga, sempat jatuh dan terguling, tapi bangun lagi tanpa memedulikan bajunya yang kotor. Ketika ia bergegas meminta bantuan pengawal dengan memperlihatkan surat dari Coa-ongya, tiga orang pengawal membantunya.
"Tidak, jangan jalan kaki. Satu jam lagi Cai-ciangkun harus sudah ada di sini. Mana kusir kereta? Mana Goh-lopek!"
"Kau mau berkendaraan seperti Ongya?"
"Eh-eh... aku mau cepat, Pengawal. Nanti aku celaka dan kalian juga!"
"Tapi kau pelayan, tak pantas menunggang kereta. Jangan minta digampar!"
"Ah-eh... kalau begitu bagaimana? Wah, aku gugup!"
"Kita berkuda!" Tiga pengawal bergerak, sadar akan tugas yang amat penting itu. "Kau tak usah cecowetan seperti monyet, A-sam. Hayo naik!"
"Wah, berboncengan?"
"Cerewet, naik atau kami tinggal!"
"Wah, he... jangan!" Saat kuda dikeprak, pelayan itu gugup hingga terjatuh karena terserimpet pelana. Tiga pengawal tertawa, namun si pemilik kuda menolong, mencengkeram, dan melemparkannya ke atas punggung kuda. Si pelayan menjerit-jerit ketakutan seperti bayi yang baru belajar berkuda.
"He, jangan kencang-kencang. He, nanti aku jatuh lagi!"
"Ha-ha, salahmu sendiri. Pegang erat-erat tali kuda, A-sam. Jangan banyak mulut, atau kau benar-benar terlempar!"
Terpaksa, dengan muka pucat, laki-laki itu memegang erat-erat tali kuda. Demikian eratnya sampai kuda tercekik dan meringkik, lalu mengangkat kaki depannya.
"Bodoh! Jangan cekik kudaku, A-sam. Nanti dia mati. He, pegang sewajarnya saja atau nanti kau kutendang!"
"Aku... aku takut jatuh...!"
"Kalau begitu kau di belakang. Dekap dan peluk pinggangku kuat-kuat... hup!" A-sam disambar dan dipindah ke belakang, memeluk pinggang pengawal dengan erat. Tiba-tiba, pengawal itu kentut dengan suara nyaring seperti bunyi bedil. Dua pengawal di depan tertawa terbahak-bahak. Kejadian itu seperti lelucon besar.
"Ha-ha, itulah upahnya kalau menjepit terlalu kencang. Keringatmu bau dan tidak enak sekali. Kalau kau memelukku sampai tak dapat bernapas, maka aku akan melepas kentut lagi!"
Kamar itu ternyata sudah dihias dengan kertas warna-warni yang diatur indah dan bergelantungan silang-menyilang. Suasana kamar itu persis kamar pengantin, harum dengan wangi bunga-bungaan. Ketika gadis itu mengeluh namun tak dapat mengeluarkan suara karena urat gagunya ditotok, pelayan meletakkannya di pembaringan. Tiba-tiba, dayang-dayang ayahnya bermunculan.
"Siocia telah pulang. Ongya minta kita menjaga dan menemaninya di sini."
"Ah, siocia telah datang. Bagus, kita dandani dia, Tenghoa. Ayo percantik dirinya menyambut bakal temanten lelaki!"
"Hush, Ongya marah-marah. Siocia dilumpuhkan. Lihat, ia tak mampu bergerak!"
Empat pelayan yang datang terkejut. Mereka tadinya tak melihat keadaan gadis itu karena Yu Yin sudah diletakkan di pembaringan. Mereka bersuara riang, namun begitu melihat siocia yang mereka layani membeku, mereka bingung. Gadis itu tiba-tiba menangis; air matanya bercucuran.
"Ah, ada apa? Bagaimana ini!" Namun mereka tak dapat berkomunikasi karena Yu Yin ditotok. Satu-satunya pelampiasan adalah tangisnya. Yu Yin merasa dalam bahaya. Ia teringat Giam Liong dan tak dapat menahan segala kemarahan serta sesak di dada yang tumpah dalam wujud air mata.
"Celaka, kita tak mengerti apa yang diminta!"
"Bagaimana kalau meminta Pat-jiu Sian-ong? Barangkali Locianpwe itu dapat menolong!"
"Hush, kau minta dibunuh Ongya? Laki-laki tak boleh masuk ke sini kecuali atas izin Ongya. Barangkali hanya Locianpwe Kedok Hitam yang dapat dimintai tolong!"
"Benar, tapi... Kedok Hitam tak diketahui di mana. Barangkali hanya Ongya yang dapat kita mintai tolong!"
"Tidak, aku tak berani. Tadi Ongya marah-marah. Menemui Ongya sama halnya mencari penyakit!"
"Kalau begitu bagaimana kalau kita panggilkan Hui-siocia?"
"Ah, puteri Hui-ongya? Benar, cocok sekali, Giok-pu."