Chapter 164
"Tapi tanya dulu Coa-siocia ini. Apakah ia mau?" Yu Yin tiba-tiba menghentikan tangisnya. Ia merasa sedih, bingung, sekaligus marah mendengar perjodohan itu. Seenaknya saja ayahnya hendak menjodohkannya dengan Cai-kongcu, putra Cai-ciangkun. Namun, begitu mendengar dayang berbicara tentang Hui-sio-cia, sahabatnya, mendadak ia berseri dan mengeluarkan suara girang.
"He, siocia mau bicara!" Para dayang segera mendekat. Mereka girang melihat gadis itu tidak menangis lagi dan kini memandang mereka penuh harapan. Yu Yin memberikan isyarat agar dayang yang tadi menyebut Hui-sio-cia mendekat. Dayang itu segera bertanya apakah ia ingin dipanggilkan Hui-sio-cia. Begitu Yu Yin mengangguk, dayang itu berlari keluar dengan penuh semangat, membuat yang lain ikut berseri-seri.
"Baik, tunggu sebentar, Siocia. Aku akan memanggil Hui-sio-cia!"
Yu Yin berkedip-kedip. Secercah harapan timbul dan semangatnya bangkit. Hui Kiok, sahabatnya, adalah satu-satunya teman yang selama ini ia tinggalkan. Sejak ia dirawat dan keluar dari istana, sudah lama mereka tidak berjumpa. Gadis itu adalah putri Pangeran Hui dan, sama seperti dirinya, Hui-sio-cia juga mendapat tekanan dari orang tuanya. Baik ia maupun Hui Kiok adalah gadis yatim piatu.
Namun, ketika tak lama kemudian dayang itu kembali sambil berlari kecil dengan wajah pucat, Yu Yin merasa terpukul oleh kekecewaan yang berat mendengar bahwa Hui Kiok tidak boleh datang.
"Ampun... maafkan hamba..." dayang itu tersengal, menangis. "Hamba tidak berhasil mengundang Hui-sio-cia, Nona. Ayahnya marah-marah dan menolak keras. Katanya, tanpa izin atau surat dari ayahmu, putrinya tidak boleh datang."
"Oohhh...!" Yu Yin mengguguk, tangisnya pecah lagi. Ia tersedu-sedu, harapannya musnah ketika setitik cahaya itu dipadamkan. Ia tadinya ingin meminta bantuan sahabatnya untuk melarikan diri. Sekarang ia sadar mengapa ayahnya menyuruh pengawal menggiringnya pulang. Rupanya untuk urusan perjodohan dengan Cai-kongcu itu.
Ketika Yu Yin putus asa dan bingung bagaimana cara memberi tahu Giam Liong, sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat. Lima dayang yang ada di situ sekonyong-konyong menjerit dan terlempar ke kiri-kanan akibat kibasan angin yang kuat.
"Jangan khawatir, aku akan menolongmu!"
Yu Yin terbelalak. Seorang gadis cantik berbaju putih tiba-tiba masuk dan merobohkan kelima dayang. Gerakannya luar biasa cepat hingga para dayang tidak sempat menyadari siapa yang menyerang mereka. Mereka menjerit lalu pingsan, hanya sempat melihat sekilas seorang gadis cantik berbaju putih yang mungkin dikira sebagai dewi kahyangan.
Saat dayang-dayang itu roboh tumpang-tindih, gadis itu berkelebat mendekati pembaringan Yu Yin dan mencoba membebaskan totokannya, namun jari-jarinya terpental.
"Ugh!" gadis itu terbelalak. "Aku tidak dapat membuka totokanmu. Tapi coba kubuka totokan urat gagumu!"
Yu Yin terbelalak lebar. Ia tidak mengenal gadis berbaju putih ini, baru kali itu ia melihatnya. Namun, ketika totokan urat gagunya terbuka, gadis itu berseru girang, "Berhasil!"
Yu Yin mengangguk. Ia bertanya siapa gadis itu dengan suara serak karena masih tersisa tangis. Ia merasa terharu, di saat kritis seseorang muncul menolongnya. Namun, saat gadis itu tertawa dan bertanya ke mana ia harus membawa Yu Yin pergi, gadis itu pun tertegun.
"Kau tidak usah bertanya siapa aku. Yang jelas aku hendak menolongmu. Bukankah kau dipaksa menikah? Dan kau adalah Coa-siocia?"
"Benar, aku Yu Yin, Sobat. Tidak usah menyebutku siocia. Kau gadis persilatan dan gerak-gerikmu tangkas sekali. Aku pun orang persilatan, bukan gadis bangsawan. Ke mana kau mau membawaku? Bisakah kita keluar dari kotaraja?"
"Wah, ribuan tentara mengepung. Kotaraja dijaga ketat. Aku tidak dapat membawamu keluar!"
"Lalu bagaimana? Apa yang dapat kau lakukan?"
"Aku akan membawamu ke tempat Hui-sio-cia, sahabatmu itu. Maukah kau?"
"Hui Kiok? Ah, tentu saja. Tapi tempat itu jauh, empat blok dari sini. Lagi pula, apakah kau tahu gedungnya?"
"Hm, aku telah mengetahui tempat tinggal sahabatmu itu karena tadi dayang itu kukuntit. Baiklah, kau tidak usah banyak bicara dan bersiap-siaplah... wut!"
Gadis baju putih itu berkelebat, melesat keluar jendela. Tiba-tiba seorang dayang sadar. Ia melolong dan menjerit melihat Yu Yin dibawa terbang. Gadis itu terkejut dan menoleh, lalu mengebutkan tamparan jarak jauh hingga dayang bernama Teng-hoa itu roboh kembali.
Namun, teriakan itu telah memanggil pengawal. Gadis baju putih yang sedang berjungkir balik keluar jendela itu terlihat jelas bayangannya, apalagi pakaian putihnya sangat kontras. Saat dua pengawal membentak dan menusukkan tombak, keributan itu mengejutkan gedung Coa-ongya, membuat para pengawal lain berdatangan.
"Keparat!" gadis itu marah. "Kau mengacau gerakku, Pengawal. Rasakan ini!"
Des! Des!
Dua pengawal itu mencelat dan terlempar menimpa rekan-rekannya yang baru datang. Lima pengawal di depan menjerit dan roboh bersamaan. Saat mereka bangkit kembali, gadis itu sudah berkelebat menghilang, melayang ke atas wuwungan. Ia terbang melewati satu gedung ke gedung lain dengan kecepatan luar biasa hingga Yu Yin yang berada dalam pondongannya merasa kagum. *Ginkang* atau ilmu meringankan tubuh gadis itu hebat sekali, langkah kakinya seperti kucing.
Di bawah, pengawal berteriak-teriak, namun para perwira muncul dengan mata terbelalak. Mendengar aba-aba agar semua memanah, gadis itu terkejut. Belasan panah menyambar dan ia harus menangkis sambil terus berlari. Namun, dari kiri dan kanan gedung, anak panah lain ikut menyambar. Ia mulai sibuk. Saat ia harus berhenti sejenak untuk melindungi Yu Yin dari panah-panah tersebut, para perwira dan orang-orang bertubuh ringan berjungkir balik melayang ke atas genteng.
"Berhenti! Siapa kau...!"
Gadis ini marah. Ia harus melindungi Yu Yin agar tidak terluka, maka ia mencabut pedang dan tiba-tiba tampak sinar putih bergulung naik turun. Ketika semua panah runtuh, para perwira dan lawan bertubuh ringan itu menyerangnya. Gadis itu memekik dan sebuah tusukan maut pecah ke delapan penjuru.
"Awas..!"
Aba-aba itu terlambat. Dua perwira yang menyerang berteriak ketika delapan mata pedang menusuk ke arah mereka. Gerakan itu amat cepat hingga mereka tidak mampu berkelit. Dua tusukan melukai pundak mereka, membuat keduanya mengaduh dan terguling jatuh dari ketinggian gedung.
Mereka seketika pingsan, namun gadis di atas wuwungan tidak berhenti. Ia berkelebat lagi dengan pedang seperti orang kesetanan. Saat lawan terkejut dan mundur, gadis itu berseru keras lalu berbalik untuk melarikan diri.
"Kejar!" tujuh orang berteriak marah. Mereka terdiri dari seorang perwira dan enam orang *kang-ouw* yang membantu kerajaan demi upah tinggi. Begitu mereka mengejar, gadis baju putih itu mengelebatkan pedangnya, menggores lengan salah satu lawan hingga yang lain gentar namun enggan melepaskan buruan.
"Brett!" Orang yang terkena goresan mengeluh panjang, terpeleset, dan jatuh berguling ke bawah. Namun, bayangan lain terus berdatangan. Dari timur dan barat muncul puluhan orang *kang-ouw* lainnya.
Yu Yin terbelalak melihat mereka dikepung rapat. Ia berbisik pada gadis itu, "Loncatlah ke bawah. Cari pohon pek kembar di belakang gedung ini. Lalu lari dan belok ke kiri dua kali!"
"Turun?" gadis itu terkejut. "Di bawah sana banyak orang, Nona Coa. Kupikir justru di atas sini tempat yang lebih aman!"
"Kau keliru. Mereka di bawah hanyalah pengawal biasa, lain dengan orang-orang di atas ini. Kalau Pat-jiu-Sianong atau Lam-ciat sampai datang, tentu kau celaka, apalagi jika guruku sendiri yang datang. Turunlah, dan jangan ragu-ragu!"
"Baik!" gadis itu membentak, menusuk dan membacok dengan tujuh gerakan menyilang. "Aku percaya padamu, Coa-siocia. Mudah-mudahan kita selamat!"
"Jangan panggil aku begitu," Yu Yin mendesis. "Namaku Yu Yin, panggil saja aku Yu Yin...!"
Gadis itu tertawa, menjejakkan kaki, dan berjungkir balik. Gerak pedangnya membuat lawan mundur sementara dua di antaranya terkena tendangan. Gadis baju putih itu meluncur turun ke bawah. Gerakannya tidak diduga, membuat pengawal di bawah ternganga seolah melihat dewi terjun dari langit. Namun, begitu mereka sadar, gadis itu sudah menyapukan pedang dan lima pengawal roboh.
Yu Yin terkekeh dan berseru agar temannya segera menuju dua pohon pek kembar itu.
"Bagus... hi-hik, bagus sekali. Sekarang berlarilah ke pohon pek itu dan jangan hiraukan pengawal. Belok dua kali seperti kataku!"
"Eh, kau masih bisa tertawa?"
"Hi-hik, aku geli, Sobat. Juga kagum. Kau hebat sekali. Eh, bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Hm, kau panggil saja aku Tang Siu. Aku sebenarnya enggan memperkenalkan nama."