Chapter 165
"Tapi karena kau gadis yang istimewa dan tak terikat kebangsawananmu, baiklah, kau panggil aku seperti namaku."
"Petunjukmu..."
"Wut-wut!" Gadis itu sudah bergerak dan meninggalkan pengawal. Lawan di atas genting pun turun semua, tetapi mereka kalah cepat oleh gerakan gadis ini.
Tang Siu atau gadis berbaju putih ini sudah melesat dan terbang ke pohon yang ditunjuk Yu Yin. Tahu-tahu, ia sudah berada di bawah kerimbunan gelap dan lenyaplah ia di situ.
Ketika para pengejar berteriak dan menuju ke arahnya, Yu Yin sudah berkata agar gadis itu membelok dan melewati dua bangunan kecil. Selanjutnya, Tang Siu diminta menerobos daun jendela dan keluar menuju lorong-lorong sebuah gedung.
"Jangan terpengaruh gunung-gunungan itu. Lari saja di bawah lampu-lampu teng itu dan jangan takut ketahuan!"
"Kau tidak bercanda?"
"Eh, aku lebih mengenal lingkungan istana ini daripada kau, Tang Siu. Aku tidak menjebakmu. Masuk ke lorong-lorong itu dan jangan takut ketahuan. Ini gedung pusaka!"
"Baik, aku sebenarnya juga tidak takut biarpun kau jebak. Aku juga sudah berkeliaran di kompleks istana ini beberapa hari yang lalu!"
Saat gadis itu bergerak dan berlari di lorong-lorong gedung yang terang-benderang oleh lampu-lampu teng yang bergelantungan di langit-langit, Yu Yin mendongkol namun tidak marah mendengar kata-kata temannya ini. Sahabat barunya itu rupanya memang pemberani namun sedikit sombong, atau mungkin harga dirinya tersinggung karena Yu Yin dua kali berkata agar tidak takut.
Ketika lorong terakhir hampir habis dan Yu Yin berseru agar masuk ke sebuah sumur di ujung lorong, gadis itu tertegun.
"Apa?"
"Benar, kau masuk lubang sumur itu dan lompat saja. Di sana ada terowongan bawah tanah!"
Gadis itu berseri. Tadinya ia menyangka akan bersembunyi saja di situ dan tentu saja ia mau menolak. Kalau begitu, daripada mendekam di sumur, lebih baik melawan. Ia tidak takut. Namun, ketika temannya berkata ada terowongan bawah tanah di situ, gadis ini tertawa dan secepat kilat ia pun terjun dan meloncat ke dalam tanpa ragu-ragu.
"Byuurr!" Air mencipak kaget.
Yu Yin terkekeh dan gadis itu pun tertawa. Masing-masing merasa geli meskipun basah kuyup. Ketika gadis ini melihat sebuah terowongan yang dimaksud Yu Yin, gadis berbaju putih ini sudah melompat dan mulai berlari di terowongan yang bersuasana remang-remang itu.
"Dari mana kau tahu ini? Tembus ke mana pula terowongan ini?"
"Hi-hik, terowongan ini tembus ke gedung Hui-ciangkun. Nanti di ujung kita sudah di kebun belakang panglima itu!"
"Eh, tempat temanmu itu? Hui-siocia?"
"Benar, di sana kita aman untuk sementara. Tapi untuk selanjutnya, aku tak tahu!"
"Ah, sudahlah, itu cukup!"
Ketika gadis berbaju putih itu terus berlari mengikuti petunjuk Yu Yin, benar saja di ujung sana ia sudah melompat dan berada di kebun belakang yang cukup luas. Gadis itu tertawa girang.
"Kau benar, tempat ini aman. Tapi bagaimana sekarang mencari Hui-siocia itu?"
"Kamarnya di samping kiri, lewat pohon kelengkeng itu. Ketuk jendelanya dan ia pasti ada!"
Gadis berbaju putih itu berseri-seri. Bahaya dan ancaman para pengawal sungguh membuat ia tidak takut sama sekali. Sikapnya tidak menunjukkan rasa gentar dan Yu Yin kagum. Sahabat barunya ini benar-benar hebat, memiliki keberanian dan beberapa persamaan watak dengannya, antara lain suka menerjang bahaya dan urusan nanti biarlah nanti.
Ketika ia bergerak mengikuti petunjuk Yu Yin, sampailah ia di tempat yang dimaksud. Sebuah jendela terlihat benderang di dekat pohon kelengkeng.
"Itu...?"
"Benar, ketuk tiga kali tapi dengan irama berbeda-beda. Pertama keras, lalu perlahan, dan keras lagi!"
"Ah, kau rupanya sudah mempunyai isyarat sendiri. Bagus, akan kucoba!"
Setelah mengetuk seperti kata Yu Yin, terbukalah jendela kamar dan seorang gadis tertegun di situ, gadis cantik berpakaian biru.
"Siapa kau...?"
"Sst," Yu Yin mendekat, kini menghadapi putri Hui-ciangkun itu. "Ini aku, Hui Kiok. Dan ini temanku, Tang Siu. Bolehkah aku masuk dan tutup jendela kamarmu!"
"Ah, kau?" Gadis itu terkejut, lalu berseru tertahan melihat Tang Siu, gadis tak dikenal. "Kau, Yu Yin? Dan temanmu ini yang membuat gara-gara?"
"Cepat masukkan kami," Yu Yin tidak sabar. "Ini Tang Siu yang menyelamatkan aku, Hui Kiok. Tutup jendela dan cepat masukkan kami!"
Putri Hui-ciangkun itu terbelalak. Ia sudah mendengar ribut-ribut di tempat Coa-ongya dan tentu saja mendengar sepak terjang Tang Siu. Ia tidak tahu siapa gadis berbaju putih ini, tetapi ia cepat bergerak dan menutup jendela kamar begitu dua orang itu melompat masuk.
Ketika Yu Yin sudah di kamar dan Tang Siu merasa lega, gadis berbaju putih itu meletakkan temannya di pembaringan. Hui Kiok tiba-tiba berkata, "Yu Yin, aku... aku bisa kena marah. Maaf bahwa tadi aku tak dapat memenuhi panggilanmu karena ayahku takut dengan ayahmu. Aku tak bisa berbuat apa-apa!"
"Tak apa," Yu Yin lega, tapi kini mengeluh untuk urusan berikutnya. "Ayahku kejam sekali, Hui Kiok. Tapi aku senang sekarang sudah terlepas darinya. Dan ini atas pertolongan Tang Siu. Kenalkan, ia... eh, aku tak tahu siapa tuan penolongku ini. Aku tak tahu ia dari mana!"
"Hm, aku Tang Siu, itu cukup. Aku enggan memperkenalkan asal-usulku, Yu Yin. Sebagai sesama gadis kang-ouw, tentu kau mengerti ini."
"Ya-ya, maaf. Kau benar, Tang Siu, dan aku juga tak ingin tahu lebih jauh tentang dirimu. Tapi aku ingin berterima kasih. Ini Hui Kiok yang kuceritakan kepadamu itu, dia gadis baik, jujur, dan dapat dipercaya. Aku gembira dapat tiba di sini, tapi bagaimana selanjutnya nasibku ini!"
Yu Yin tiba-tiba menangis, teringat perjanjiannya dengan Giam Liong. Ia tersedu-sedan, terkoyak oleh kesedihan, apalagi oleh niat ayahnya yang hendak menjodohkannya dengan putra Caiciangkun itu, pemuda yang tidak ia sukai.
Ketika ia mengguguk dan Tang Siu maupun Hui Kiok sama-sama terkejut, pintu kamar diketuk dan seorang wanita berusia empat puluh lima tahun tiba-tiba muncul.
"Kiok-ji, ada apa ribut-ribut? Siapa menangis itu... eh?"
Sang nyonya tertegun dan terbelalak melihat dua gadis di kamar puterinya. Tang Siu terkesiap, namun Hui Kiok sudah menubruk dan mendesah kepada wanita ini.
"Ibu, ini Yu Yin. Dia datang bersama temannya minta bantuan kita. Jangan ribut-ribut atau nanti diketahui ayah!"
"Benar, dan ini Nona Tang, Ibu. Tang Siu sahabat Yu Yin. Ialah yang menyelamatkan Yu Yin dan membawanya ke mari!"
"Ini... ini gadis pengacau itu? Ah, celaka, Hui Kiok. Ayahmu bisa marah dan mendapat celaka. Aduh, usir dia dan jangan tinggal di kamar ini. Aku... aku takut!"
"Bibi tak usah takut," Yu Yin tiba-tiba menghentikan tangisnya, terkejut karena tangisnya yang keras mengundang bahaya baru. "Ini tuan penolongku, Bibi. Tanpa dia, tak mungkin aku dapat keluar. Ah, sebaiknya Bibi rahasiakan kedatangan kami dan jangan beritahukan kepada Hui-ciangkun. Atau nanti aku bunuh diri dan biar mati di sini saja!"
"Tidak, jangan..!" sang nyonya bingung dan mulai menangis. "Persoalanmu sudah kami dengar, Yu Yin. Tapi kalau kau ada di sini dan diketahui ayahmu, tentu kami sekeluarga mendapat celaka. Ah, bagaimana baiknya ini!"
"Bibi tak usah khawatir," Yu Yin menghibur. "Asal Bibi atau Hui Kiok tak memberitahukan orang lain, pasti tak akan ada apa-apa di sini. Sekarang baiknya Bibi keluar dan tinggal di kamar Bibi seperti biasa saja. Aku akan meminta temanku ini melakukan sesuatu."
Sang nyonya mengangguk. Ia melepaskan anaknya dan berkata bahwa ia tidak akan memberi tahu siapa pun. Namun, ketika nyonya itu hendak pergi, tiba-tiba Tang Siu mencegatnya.
"Yu Yin, apakah tidak sebaiknya Hui-hujin ini di sini saja? Bagaimana kalau ia membuat kekeliruan di luar?"
"Ah, jangan," Yu Yin terkejut melihat sinar mata temannya yang mengandung curiga. "Kalau Bibi Hui ada di sini, justru Hui-ciangkun akan mencarinya, Tang Siu. Lepaskan dia, ada Hui Kiok di sini. Tak perlu khawatir, Hui-hujin tentu tak ingin puterinya kau jadikan sandera!"
"Ah, jangan... tidak!" sang nyonya berseru, segera mengerti. "Aku tak mungkin memberi tahu siapa pun, Nona. Bahkan suamiku sendiri. Jangan takuti kami dengan mencelakai puteriku!"
Tang Siu mundur. Akhirnya dia mengalah dan wajahnya sedikit merah karena apa yang ia pikirkan ternyata terbaca oleh Yu Yin. Memang benar, ia ingin menyuruh nyonya itu tetap tinggal di situ agar tidak bicara di luar. Namun, karena Hui-ciangkun bakal mencari dan ini tentunya lebih merepotkan, apalagi ada Hui Kiok yang sewaktu-waktu dapat dijadikan sandera, maka gadis ini mengangguk dan tersenyum, lalu minggir.
"Baik, kau yang bertanggung jawab, Yu Yin. Kalau ada apa-apa jangan salahkan aku!"
"Sudahlah, kau percaya kepadaku. Bibi Hui tak mungkin bicara di luar."
Ketika nyonya itu mengangguk dan keluar dengan gemetar, Tang Siu menutup pintu kamar dan memandang gadis itu lagi. "Sekarang apalagi yang harus kulakukan? Berapa lama kita tinggal di sini?"
"Kau tolong aku memberikan sinkang. Aku juga ingin bebas, letakkan telapak tanganmu di pusarku."
Tang Siu mengerutkan kening. Memberikan sinkang adalah pekerjaan berbahaya karena berarti mengurangi tenaga sendiri. Kalau ada apa-apa tentu ia bisa celaka, namun gadis ini mengangguk dan mendekat. Ketika ia meletakkan tangannya di pusar Yu Yin dan gadis itu terisak memberi tahu jalan-jalan darah yang harus dihangati, Tang Siu kagum karena ada delapan jalan darah yang harus dibuka.
"Ah, pantas. Ini kiranya yang membuat aku tak mampu membuka totokanmu. Gurumu lihai sekali, Yu Yin. Ilmu totoknya sungguh luar biasa!"
"Bukan guruku, melainkan Ayah..." Yu Yin berkata, terkejut karena kelepasan bicara.