Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 166

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 166

Saat sahabatnya terbelalak dan heran, serta kaget melihat Coa-ongya, yang dikenal sebagai bangsawan yang tidak mengenal silat, justru bertindak demikian, Yu Yin menangis dan memejamkan mata.

"Maaf, konsentrasikan perhatianmu, Tang Siu, dan aku juga akan menerima aliran *sinkang*-mu. Kita harus lolos dari sini, mencari Giam Liong!"

"Giam Liong? Si Naga Pembunuh itu?"

"Benar. Ah... maaf, Tang Siu. Cepat alirkan *sinkang*-mu dan jebol totokan keparat ini!"

Gadis berbaju putih itu tertegun. Ia terkejut mendengar nama Giam Liong dan sedetik darahnya berdesir. Justru karena mendengar nama itulah dia sampai ke kota raja, bersembunyi dan berkeliaran, namun malam itu mendengar keributan tentang Yu Yin. Gadis ini dikejar-kejar pasukan dan dia merasa heran mengapa putri seorang pangeran justru hendak ditangkap.

Namun, ketika dia membuntuti dan akhirnya tahu bahwa Coa-ongya hendak memaksa puterinya menikah dengan putra Cai-ciangkun, turun tanganlah gadis itu setelah dengan amat hati-hati mengintai dan melakukan pengawasan dari jauh. Kejadian di kamar depan tidak dilihat gadis ini karena ketika Coa-ongya merobohkan puterinya, memang tidak ada orang lain di situ. Waktu itu, gadis ini pun sedang mencari tempat persembunyian yang baik, hal yang mudah dilakukan karena saat itu perhatian semua orang sedang tertuju kepada putri Coa-ongya.

Ketika akhirnya ia dapat memasuki kamar Yu Yin dan merobohkan dayang, jeritan dayang tersebut membuat para pengawal bergerak. Gadis ini pun membawa Yu Yin ke kamar Hui Kiok. Ia tidak tahu bahwa Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat serta orang-orang lainnya sedang kelabakan mencari gadis berbaju putih ini. Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat muncul terlambat karena kebetulan saat itu keduanya meronda di bagian timur dan utara. Yu Yin memasuki pintu gerbang barat, tapi setelah ditangkap ayahnya sendiri, dua kakek itu kembali ke tempatnya masing-masing.

Maka, ketika Tang Siu muncul dan gadis berbaju putih ini melarikan Yu Yin, gegap gempita keributan itu terlambat mendatangkan kakek-kakek ini sehingga Tang Siu sudah menempelkan tangannya dan memberikan *sinkang* seperti yang diminta Yu Yin. Hui Kiok mengawasi dengan tubuh panas dingin karena ia terbawa dalam persoalan berbahaya. Namun, karena Yu Yin ada di situ dan sahabatnya itulah yang bertanggung jawab, dia menggigil dan takut ketahuan orang lain. Pintu dan jendela ditutup rapat-rapat, ia bergerak ke sana ke mari sementara Yu Yin maupun Tang Siu tidak menyadarinya.

Dua gadis ini sudah sama-sama memejamkan mata untuk memberi dan menerima *sinkang*. Namun, ketika enam jalan darah sudah bobol ditembus hawa *sinkang* dan tinggal dua jalan darah lagi, Yu Yin mulai dapat bergerak meskipun belum sempurna. Mendadak terdengar ketukan di pintu dan seorang pelayan memberi tahu bahwa Hui-ciangkun ingin bertemu puterinya. Hal itu membuat gadis itu pucat!

"Siocia, ayahmu datang. Mohon dibukakan pintu. Mengapa kamarmu masih terang-benderang?"

Gadis ini terkejut. Ia pucat pasi dan tiba-tiba tidak dapat menggerakkan tubuh sama sekali karena sekonyong-konyong ia berubah menjadi patung. Ayahnya yang bengis dan garang datang. Ketika gadis itu tidak dapat menjawab dan tubuhnya serasa kaku, pintu kamar digedor.

"Hui Kiok, buka pintu! Ada apa kau di dalam? Buka!"

Gedoran atau ketukan pintu yang keras ini tiba-tiba membuat Hui Kiok menangis. Bagai dipagut ular, tiba-tiba ia berlari, bukan menuju pintu melainkan ke arah dua temannya yang sedang mengalirkan *sinkang*. Ia mengguguk dan terbata-bata mengguncang Tang Siu, "Nona Tang, ayahku datang. Bagaimana ini? Bagaimana dengan kalian...!"

Konsentrasi Tang Siu ambyar. Diguncang dan diremas seperti itu, mendadak gadis ini membuka mata. Jalan darah ketujuh sudah berhasil dibobol dan tinggal jalan darah kedelapan. Tinggal satu lagi! Tapi ketika ia mendengar tangis gadis itu dan gedoran di pintu serta suara kasar di sana, gadis ini tersentak dan Yu Yin juga membuka mata.

"Celaka!" gadis ini marah. "Ada terang datang mengganggu, Yu Yin. Bagaimana ini?"

"Siapa itu?"

"Hui-ciangkun!"

"Keparat, bagaimana bisa datang? Siapa yang memberi tahu?"

"Entahlah. Jalan darahmu tinggal satu lagi, Yu Yin. Bagaimana ini? Apakah dihentikan dan kita usir panglima itu?"

Yu Yin tertegun. Tubuhnya sudah sembilan puluh persen dapat digerakkan kecuali tangan kirinya. Ia terkejut bagaimana Panglima Hui muncul begitu cepat, padahal mestinya panglima itu berada di tempat lain mengejar Tang Siu. Ia tidak menduga bahwa Tang Siu dan dirinya justru ada di gedung panglima itu sendiri. Dan ketika pintu digedor-gedor dan suara orang berlarian mulai terdengar—tentu itu pengawal atau pembantu Hui-ciangkun—Yu Yin pucat teringat Hui-hujin tadi. Ia lupa memberi tahu bahwa yang datang tadi bukanlah ibu kandung Hui Kiok, karena ibu sahabatnya ini telah meninggal. Karena Hui-ciangkun memiliki beberapa istri selain selir, dan itulah tadi istri keduanya yang merupakan saudara dekat ibu kandung Hui Kiok, sadarlah gadis ini bahwa tentu wanita itulah yang tadi memberi tahu!

"Celaka!" Yu Yin merah padam. "Bagaimana menurut pendapatmu, Tang Siu?"

"Aku agaknya salah hitung!"

"Salah hitung bagaimana?"

"Hui-hujin tadi bukan ibu kandung Hui Kiok. Kalapun kau mengancam gadis ini, ia bukanlah puterinya. Ah, aku lupa, Tang Siu. Dan agaknya wanita itulah yang memberi tahu suaminya. Atau, mungkin juga suaminya kebetulan datang dan dia lalu memberi tahu!"

"Begitukah? Kalau begitu biar kulabrak!"

"Tidak... jangan!" Hui Kiok berteriak, mencegah Tang Siu menendang pintu. "Ada jalan lain, Tang Siu. Kalian bersembunyi saja di belakang lemari besar itu. Lanjutkan pertolonganmu kepada Yu Yin!"

Sambil menarik serta mendorong dua gadis itu ke lemari besar, Hui Kiok memadamkan lampu. Tang Siu maupun Yu Yin tertegun disuruh begitu. Tang Siu menggigit bibir dan mau menolak, tapi Yu Yin berpikir lain. Jalan darahnya tinggal satu lagi yang harus dibuka. Di luar sana masih ada Pat-jiu Sian-ong dan lain-lain, juga gurunya. Karena ayahnya ternyata juga bukan orang sembarangan—ayahnya pun lihai selihai gurunya—Yu Yin menyentak dan berlari ke belakang lemari besar.

"Tang Siu, sembunyi saja dulu di situ. Hui Kiok ada benarnya. Biarlah kau bebaskan aku dan nanti kita berdua dapat menerjang!"

Gadis berbaju putih ini menggeram. Ia marah sekali oleh dugaan tadi, namun ia sudah ditarik dan dibawa ke belakang lemari besar itu. Apa boleh buat, ia harus melanjutkan pertolongannya dan ada benarnya juga temannya ini. Ia tidak akan mendapat beban lagi jika Yu Yin sembuh. Totokan itu harus dibuka, tinggal sedikit lagi. Ketika ia duduk dan cepat menempelkan lengan, Yu Yin gemetar dan menerima *sinkang*-nya, namun mereka berdua tidak dapat mengonsentrasikan diri. Jalan darah kedelapan tidak dapat dibobol karena masing-masing sama tegang. Ketika mereka kebingungan harus menahan gejolak perasaan, di luar Hui-ciangkun marah dan tidak sabar, maka didobraklah pintu itu dan seorang laki-laki tinggi besar menerjang masuk, tidak peduli kamar yang gelap gulita.

"Hui Kiok, kau keterlaluan! Di mana kau dan apa yang kau lakukan di sini.... Braakk!"

Gadis di dalam kamar itu menjerit. Hui Kiok, putri Panglima Hui, melihat ayahnya datang dengan penuh kemarahan. Ia sudah memadamkan lampu, namun ayahnya menghidupkan lagi. Kamar menjadi terang-benderang dan panglima itu tertegun melihat puterinya meringkuk di pembaringan, tersedu-sedu, pucat, menggigil, dan mengeluarkan suara-suara tidak jelas. Ketika panglima ini menyambar semua sudut namun tidak melihat apa-apa, ia terbelalak dan menerkam maju, akhirnya menangkap puterinya dan membentak.

"Hei! Di mana dua orang temanmu itu? Di mana mereka? Berani benar kau menyembunyikan penjahat!"

"Ampun...!" gadis ini mengguguk. "Aku... aku tidak tahu, Ayah. Apa yang kau maksudkan...!"

"Bohong! Berani kau bohong kepadaku? Berani kau mendustai ayahmu? Jahanam, kau sekarang buruk watakmu, Hui Kiok! Berani coba-coba menipu aku...!"

*Brukk!* Gadis itu dibanting dan diinjak di tempat tidur, membuat Hui Kiok menjerit dan berteriak panjang. Sang ayah membenam-benamkan mukanya ke tempat tidur namun gadis itu tetap tidak mau mengaku. Hui Kiok berteriak mengatakan tidak tahu; hebat sekali kesetiaan gadis ini kepada sahabatnya. Tapi ketika sang ayah naik pitam dan berseru bahwa ibunya mengatakan Hui Kiok menyimpan penjahat di kamar, gadis itu diangkat dan dibanting ke dinding.

"Kau menyusahkan orang tua! Kau gadis tak tahu budi! Kalau tetap juga tidak mengaku, biar kubunuh kau di sana...!"

*Bress!* Hui Kiok memekik dan roboh menghantam tembok, akhirnya pingsan dengan wajah berlumuran darah. Sang ayah marah-marah dan pengawal pun kian bertambah banyak. Ketika mereka juga masuk dan Hui-ciangkun mendelik menendang puterinya—merasa dibohongi—Yu Yin dan Tang Siu yang kebetulan sudah selesai, tiba-tiba tidak tahan dan meloncat keluar. Tepat di saat-saat terakhir tadi, mereka berhasil membobol jalan darah kedelapan.

"Hui-ciangkun! Kau tidak berperasaan! Nah, inilah kami dan kau mau apa?"

"Hei?" Hui-ciangkun terkejut, para pengawal juga berseru, namun saat itu Yu Yin sudah mendahului menyerang. Gadis ini berkelebat dari balik lemari besar dan Hui-ciangkun yang tidak menduga tiba-tiba berteriak. Ia mencelat dan terbanting oleh tendangan gadis ini. Yu Yin mengejar dan menyambar panglima ini dengan wajah merah padam. Tang Siu juga meloncat dan menerjang para pengawal, membuat mereka berteriak dan tunggang-langgang.

"Kalian mau apa? Lihat majikanmu sudah kutangkap! Hayo minggir dan biarkan kami pergi. Mundur!"

Hui-ciangkun melotot, ia tahu-tahu sudah dilumpuhkan putri Coa-ongya ini dan ditotok tak berdaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment