Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 167

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 167

Sebab yang membuat panglima itu begitu mudah dirobohkan, salah satunya adalah karena gadis itu merupakan putri atasannya, di samping kepandaiannya yang memang tinggi.

Ketika ia dicengkeram dan anak buahnya tunggang-langgang dihajar gadis berbaju putih, justru gadis itulah yang dicari-cari. Panglima itu pucat, namun berteriak-teriak kepada pengawalnya agar menangkap gadis berbaju putih tersebut. Sementara itu, Yu Yin sendiri tidak disebut-sebutnya.

"Hei, jangan hiraukan aku. Tangkap atau bunuh gadis siluman itu. Dialah yang melepaskan Coa-siocia!"

"Tutup mulutmu!" Yu Yin membentak. "Dia sahabatku, Hui-ciangkun. Kalau tidak memandang Hui Kiok, tentu kau kubunuh. Suruh anak buahmu mundur atau nanti benar-benar aku membunuhmu!"

"Tak mungkin. Kau dicari-cari ayahmu, Nona. Kau tak boleh pergi tanpa izin ayahmu. Gadis ini pengacau; ia harus ditangkap atau dibunuh. Hei, kalian kepung dan tangkap gadis itu! Jangan takut!"

Yu Yin gusar. Akhirnya, ia menotok urat gagu panglima itu karena Hui-ciangkun masih saja mencoba mempengaruhi anak buahnya. Ia menotok, kemudian mengangkat tubuh panglima itu dan memutar-putarnya, berseru serta membentak siapa saja yang berani menghalanginya. Ketika para pengawal mundur dan berlompatan menjauh karena sadar yang mereka hadapi adalah putri Coa-ongya yang besar pengaruhnya, Yu Yin mendapat jalan dan keluar dengan muka merah menyala.

"Tang Siu, kau di sampingku. Bunuh kalau mereka berani coba-coba menyerang!"

Gadis itu mengangguk. Ia telah merobohkan sembilan pengawal dan yang lainnya mundur ketakutan. Sepak terjangnya tidak kalah dengan Yu Yin. Ketika mereka berkelebat dan Yu Yin membawa tawanannya, Hui-ciangkun yang diam mendadak, Tang Siu teringat Hui Kiok yang roboh di kamar.

"Yu Yin, tunggu dulu. Aku ingin membawa Hui Kiok!"

"Eh, tak usah!" Yu Yin terkejut melihat temannya itu kembali dan menyambar Hui Kiok, memasuki kepungan lagi.

"Biarkan Hui Kiok di situ, Tang Siu. Ia tak apa-apa karena berada di rumah sendiri."

"Hm, ayahnya begitu ganas. Biarpun di tempat sendiri, kalau bapaknya seperti itu sama saja dengan berdiam di kandang macan. Tidak, aku akan membawanya, Yu Yin. Lindungi aku dan jaga para pengawal ini!"

Yu Yin terpaksa berhenti. Ia menjaga dan melindungi temannya itu ketika Tang Siu membawa Hui Kiok. Gadis itu pingsan, dan kebengisan ayahnya sungguh membuat Tang Siu marah. Namun, ketika mereka melompat kembali dan melewati pengawal, kejadian itu menunda waktu hingga seorang kakek gundul berkelebat dan tiba-tiba saja menghadang.

"Coa-siocia, siapa temanmu pengacau ini? Berhenti, kalian berdua tak boleh keluar!"

Yu Yin terbelalak. Pat-jiu Sian-ong, kakek gundul itu, tiba-tiba muncul dan menghadang. Kedatangannya memang dikhawatirkan, dan kini benar saja mengganggu. Namun, karena Yu Yin sedang naik darah dan tidak ingin dijodohkan oleh ayahnya, begitu kakek itu datang, ia langsung membentak dan berkelebat menyerang.

"Pat-jiu Sian-ong, minggir!"

Kakek itu terbelalak. Pukulan sinar emas menyambarnya, itulah Kim-kong-ciang atau Kim-kong-kang, salah satu ilmu yang dimiliki Kedok Hitam, guru gadis itu. Karena pukulan itu jelas berbahaya dan kakek itu tidak mau celaka, ia mengelak, namun kaki kirinya menendang.

"Dess!"

Yu Yin berjungkir balik. Ia gagal mengenai lawan dan justru lawanlah yang menendang pahanya. Tentu saja ia marah dan memekik. Namun, ketika ia akan kembali menyerang dan Tang Siu tidak membiarkan temannya sendirian, tiba-tiba gadis itu sudah berkelebat dan membentak kakek tersebut. Pat-jiu Sian-ong terkejut karena serangkum pukulan panas menyambarnya. Ia mengelak, namun Tang Siu menggerakkan kaki menghantam pinggang kakek gundul itu.

Ketika kakek itu terpelanting dan roboh terguling-guling akibat tendangan kuat yang mengagetkannya, Yu Yin mengajak temannya lari saat kakek itu meloncat bangun dengan terbelalak.

"Tang Siu, tak usah dihiraukan. Lari, jangan pedulikan kakek itu!"

Tang Siu mengangguk. Ia secara pribadi memang hanya mencegah kakek itu menghalangi Yu Yin. Maka, begitu diteriaki dan ia mengangguk, pengawal di depan didorong atau dikibas minggir. Bersama putri Coa-ongya ini, gadis berbaju putih itu keluar dari gedung Hui-ciangkun.

Namun, Pat-jiu Sian-ong tentu saja marah besar. "Hei, tangkap! Kepung dan jangan biarkan mereka lari. Kejar!"

Para pengawal berserabutan. Mereka sendiri sebenarnya tidak ada niat untuk membiarkan dua gadis itu pergi, apalagi satu di antaranya adalah seorang pengacau, sementara yang lain adalah putri Coa-ongya yang tidak boleh keluar. Tapi karena mereka bukan tandingannya—sekali didorong saja mereka jatuh bangun—dan Pat-jiu Sian-ong hanya bisa bicara, para pengawal itu mengumpat dan diam-diam memaki. Tanpa dibentak atau dihardik, mereka tetap mengejar karena itulah tugas mereka.

Karena putri Coa-ongya itu bukan gadis biasa dan temannya yang berbaju putih juga hebat sekali—terbukti Sian-ong sampai terlempar oleh tendangannya—orang-orang itu mengejar, namun dua gadis itu telah lenyap. Pat-jiu Sian-ong sendiri bergerak marah; kakek itu melayang ke atas genteng untuk mengawasi keadaan, dan benar saja dua gadis itu berkelebatan di sana.

Ketika kakek itu menggeram dan menyusul mereka, Pat-jiu Sian-ong yang merupakan tokoh yang disegani tiba-tiba berkesiur dan sudah berada di belakang Tang Siu yang mengiringi Yu Yin.

"Bocah siluman, berhenti!"

Tang Siu terkejut. Ia diajak temannya melarikan diri lewat genteng. Rumah Hui-ciangkun sudah dilewati dan kini mereka berkelebatan di atas gedung-gedung lain. Pat-jiu Sian-ong sudah didengar namanya, tapi gadis ini memandang rendah karena sekali gebrakan saja tadi ia membuat kakek itu terpelanting. Ia tidak tahu bahwa karena kakek itu memandang rendah dirinya, Pat-jiu Sian-ong justru menjadi korban kesombongannya sendiri.

Maka, ketika sekarang kakek itu berhati-hati namun justru sebaliknya Tang Siu memandang rendah, cengkeraman Pat-jiu Sian-ong di belakang pundaknya dikibas tanpa menoleh. Tang Siu menjerit ketika ia terlempar.

"Plak... aduh!"

Yu Yin terkejut. Temannya terlempar dan Tang Siu tiba-tiba saja terguling-guling di bawah genteng. Itulah keteledoran gadis dari Kun-lun ini. Ketika Pat-jiu Sian-ong terbahak dan mengebutkan pukulan dari jauh untuk membuat Tang Siu roboh, Yu Yin yang menoleh dan berhenti dengan marah tiba-tiba menangkis pukulan kakek itu.

"Pat-jiu Sian-ong, jangan ketawa seperti monyet! Tak boleh kau mencelakai temanku... dess!"

Kakek itu tergetar dan berseru kaget. Akibat tangkisan Yu Yin, ia terhuyung dan hampir saja terpeleset ke bawah genteng. Kakek itu marah, namun Tang Siu sudah berjungkir balik ke atas, kaget akan kecerobohannya tadi. Sadarlah gadis ini bahwa lawan memang tidak boleh dibuat main-main.

Gadis itu membentak dan Yu Yin sendiri tidak melanjutkan larinya. Pat-jiu Sian-ong bakal mengejar jika tidak dirobohkan sekarang. Begitu mengejar dan Yu Yin melepas Kim-kong-ciangnya lagi, kakek itu baru saja hilang kagetnya, maka dari bawah Tang Siu juga menyerang dan melepas pukulan panas. Pat-jiu Sian-ong dikeroyok.

"Eh-eh, kulaporkan nanti kepada ayahmu. Hei, tahan pukulanmu, Yu Yin. Dan siapakah temanmu pengacau ini... des-dess!"

Pat-jiu Sian-ong sibuk. Yu Yin tidak banyak cakap, sementara Tang Siu juga melepas amarahnya dengan serangan-serangan cepat. Sekarang, gadis Kun-lun ini tidak mau ceroboh lagi dengan memandang sebelah mata. Pat-jiu Sian-ong harus dihadapi dengan kesungguhan. Ia tidak mau lagi dibuat malu.

Ketika Yu Yin maupun Tang Siu tidak menghiraukan teriakan kakek itu yang melotot dan memaki-maki, Kim-kong-ciang maupun pukulan panas Tang Siu membuat si gundul kewalahan. Pat-jiu Sian-ong boleh saja merupakan orang lihai, namun menghadapi murid Kedok Hitam dan pewaris Kun-lun ini ia tidak berdaya, apalagi ketika Tang Siu mencabut pedangnya dan dengan ilmu silat Im-hong-kiam ia membuat kakek itu kalang-kabut.

Ketika pedang di tangan Tang Siu membacok pangkal lengan kakek itu, Pat-jiu Sian-ong berteriak. Yu Yin juga melepas Hek-tok-kang, pukulan beracun yang menghantam punggung Pat-jiu Sian-ong.

"Augh... des-crat!"

Pat-jiu Sian-ong terlempar. Ia bergulingan ke bawah dan Tang Siu mengejarnya, gemas karena tadi ia dibuat terpelanting oleh kakek gundul ini. Ketika sebuah tusukan kembali mengenai kakek itu dan Pat-jiu Sian-ong menjerit, kakek gundul ini menjadi jerih dan gentar sementara para pengawal berlarian serta beberapa perwira tampak berdatangan.

"Tak usah dilanjutkan," Yu Yin berseru. "Kakek itu sudah terluka, Tang Siu. Lari dan tinggalkan dia!"

"Aku ingin membunuhnya!"

"Tak usah. Lawan sudah mulai berdatangan, jangan tertahan di sini. Ikuti aku dan kita ke suatu tempat!"

Tang Siu berjungkir balik melayang ke atas. Ia telah melukai si kakek gundul dan Yu Yin juga mendaratkan Hek-tok-kang kepada Pat-jiu Sian-ong. Kakek itu harus berhenti dan mengobati lukanya jika tidak ingin celaka. Ketika Tang Siu puas karena lawan berdebuk di bawah, merintih namun membiarkan dua gadis itu lari, Pat-jiu Sian-ong berteriak-teriak agar semua orang menangkap gadis-gadis itu, sambil duduk untuk mengobati lukanya.

"Kejar, tangkap mereka! Bunuh gadis berbaju putih itu dan jangan biarkan ia lolos. Mana Lam-ciat dan kenapa ia tak muncul membantu!"

Para pengawal mengejar. Mereka tidak berani ke atas genteng dan hanya perwira atau beberapa orang berkepandaian tinggi saja yang berani mengejar dan melayang ke atas. Pertanyaan Sian-ong tidak dijawab karena mereka juga tidak tahu di mana Lam-ciat, si Hantu Selatan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment