Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 168

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 168

Ketika enam perwira dan orang berkepandaian tinggi mengejar di atas genteng, mereka mencegat dan memotong jalan. Yu Yin mendengus dan membolak-balikkan tubuh Hui-ciangkun untuk menakut-nakuti lawan.

"Minggir, atau nanti Hui-ciangkun terbunuh!" Namun, enam orang itu tidak minggir. Mereka rupanya sudah mendapat pesan bahwa apa pun yang terjadi, kedua gadis ini harus ditangkap.

Ketika Yu Yin mengancam dan menyuruh mereka mundur, tiga orang di depan justru membentak marah. "Coa Siocia, kau dipanggil ayahmu. Kenapa keluar dan sekarang berteman dengan pengacau!"

Yu Yin melotot. Ia menghantam tiga orang itu hingga terlempar. *Kim-kong-ciang* atau Pukulan Tangan Emas miliknya tak sanggup dihadapi oleh lawan-lawannya. Namun, ketika mereka melompat bangun dan kembali mengeroyok, Yu Yin menjadi gusar karena ia tidak berniat membunuh.

"Kalian tak tahu diri," bentak Yu Yin. "Baiklah, aku terpaksa merobohkan kalian dan jangan menyalahkan nenek moyangku kalau kalian harus mampus... *Des! Plak!*"

Yu Yin memindahkan Hui-ciangkun ke pundaknya yang lain agar tangannya bebas. Saat itulah *Kim-kong-ciang* menyambar lagi. Ia tidak mungkin membunuh Hui-ciangkun karena laki-laki itu adalah ayah Hui Kiok, sahabatnya. Namun, karena ia tidak mau diganggu, pukulan yang lebih berat dilepaskan. Tiga orang itu terlempar dan terbanting ke bawah dengan pekik ngeri.

"Buk! Buk!" Tiga tubuh yang jatuh itu tak mungkin berdiri lagi. Yu Yin telah mematahkan kaki dan tangan mereka dengan pukulan berat. Ketika Tang Siu juga bergerak menusukkan pedangnya, tiga orang lainnya menjerit dan roboh.

"Cepat, kita lanjutkan lari. Di bawah aku melihat bayangan Lam-ciat!" Yu Yin terkejut melihat bayangan kakek berambut gimbal itu. Ia segera mengajak temannya berlari melewati empat blok menuju bangunan putih di sebelah timur. Bangunan itu tidak besar, namun gagah dan kuat, dikelilingi taman bunga warna-warni.

"Cepat, jangan ayal-ayalan. Kita turun di bangunan itu, Tang Siu. Kulihat gerakan Lam-ciat di belakang!"

"Hm, bangunan siapa itu? Kawan atau lawan?"

"Itu tempat tinggal seorang pamanku. Kupikir ia mau menolong kita. Mari terjun!"

Tang Siu tidak banyak berpikir. Yu Yin melayang turun dengan kaki lurus ke bawah, meluncur seperti garuda. Saat Tang Siu mendarat, Hui Kiok yang ada dalam gendongannya mulai sadar.

"Siapa ini? Ah, kau. Di mana kita, Lihiap? Dan mana Yu Yin?"

"Ia di depan kita. Lihat, aku diajak masuk ke rumah ini. Syukur kau sadar. Bagaimana keadaanmu, Hui Kiok? Apakah berat?"

"Aku hanya pusing, tidak apa-apa. Tapi aku menyesal karena tak dapat melindungi kalian!"

"Itu cukup. Pembelaanmu luar biasa. Kami berterima kasih sekali, tapi ayahmu sekarang dibawa Yu Yin!"

"Kalian apakan ayahku?"

"Hanya ditotok dan ditawan. Tapi sst, diamlah. Kita sudah memasuki rumah orang dan sekarang kau berdirilah!"

Tang Siu menepuk putri Hui-ciangkun itu, lalu mereka berkelebat masuk. Yu Yin memanggil seseorang. Rumah itu sunyi, namun tiba-tiba pintu tengah terbuka. Seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun, muda dan tampan dengan gerak-gerik halus mirip bangsawan, muncul. Tang Siu tertegun melihat Yu Yin menubruk dan memeluk kaki pria itu sambil terisak.

"Paman, bantulah aku. Sembunyikan aku di tempat ini dan lindungi dari kejaran orang-orang jahat!"

"Hm, kau Yu Yin? Mengapa menangis? Dan siapa temanmu ini? Kalian membawa orang lain pula, Hui-ciangkun dan Hui Kiok!"

"Benar, kami, Siauw-ongya. Maaf bahwa kami dibawa Yu Yin dan Tang-lihiap. Kami tidak tahu apa-apa!" Hui Kiok, yang berlutut memberi hormat, segera menyela.

Hati Tang Siu berdebar. Jika Hui Kiok menyebut bangsawan muda yang tampan itu sebagai *Siauw-ongya* (Pangeran Muda), berarti mereka berada di sarang naga. Ini kerabat istana!

Pria muda itu membangunkan Yu Yin. "Tak perlu menangis. Ada apa dan mengapa kau minta bantuanku? Bagaimana Hui-ciangkun dan puterinya kau bawa ke sini? Dan siapa temanmu yang satu itu, Yu Yin?"

"Ini temanku, Tang Siu. Kami butuh pertolonganmu, Paman. Ayah hendak menangkapku dan mengerahkan pembantunya!"

"Hm, aku sudah dengar itu. Ayahmu memang keterlaluan. Tapi orang yang tidak dikenal asal-usulnya juga bukan hal yang baik, Yu Yin. Aku dapat menolongmu, tapi bagaimana dengan Nona Tang ini? Aku tak berani menerima kalau tak tahu dari mana asal-usulnya. Maaf, bukan aku tidak mau menolong, tapi bagaimana pertanggungjawabanku nanti kalau ditegur Kaisar!"

"Aku tidak butuh pertolongan," Tang Siu tiba-tiba bergerak, watak kerasnya tersinggung. "Aku di sini hanya ingin menolong Yu Yin, Siauw-ongya. Kalau dia sudah selamat, tentu saja aku akan pergi!" Tanpa menoleh lagi, ia berkelebat keluar.

"He!" Yu Yin terkejut dan segera mencegahnya. "Kau tidak boleh pergi, Tang Siu. Di luar amat berbahaya. Jangan tersinggung atas kata-kata pamanku!"

Yu Yin kemudian menoleh kepada bangsawan muda itu, "Paman, Tang Siu adalah sahabatku, saudara angkatku. Tak perlu kau tanya asal-usulnya karena dia adalah keluargaku. Cepat lindungi kami, di luar bayangan Lam-ciat sudah kulihat!"

Pangeran muda itu tertegun. "Kau sungguh-sungguh?"

"Demi nyawaku, Paman. Selamatkan dan lindungi aku. Atau nanti aku akan mengamuk di sini dan biar mandi darah!"

"Jangan!" Pangeran itu terkejut. "Kau tak boleh mengotori tempat ini. Kalau begitu, bawa mereka ke kamarku dan bersembunyilah di sana!"

Pangeran itu mendorong mereka masuk ke kamar besar dengan tergesa-gesa. Saat sang pangeran mencengkeram pundak Tang Siu untuk mendorongnya, ia mendesis terkejut karena pundak gadis berbaju putih itu sekeras baja.

Setelah pintu ditutup, Yu Yin tertawa lega. "Berhasil! Sekarang kita menemukan tempat aman, Tang Siu. Siapa pun tak mungkin berani ke sini, hanya Kaisar yang berani menggeledah!"

"Siapakah pamanmu itu?"

"Yauw-ongya, adik tiri ayah, saudara lain ibu."

"Pantas! Kebangsawanannya itu, sikapnya yang berwibawa meskipun masih muda!"

"Benar, ia saudara bungsu yang paling disegani. Kau naksir?"

"Hush! Omongan apa ini, Yu Yin? Ia boleh tampan, tapi tak mungkin aku menikah dengan orang lemah. Pamanmu itu tidak bisa silat!"

"Benar, tapi ia cerdas. Dan cocoknya barangkali buat Hui Kiok ini," Yu Yin terkekeh, membuat wajah Hui Kiok seketika merah padam.

Namun, Tang Siu tiba-tiba memberi isyarat agar mereka diam. Ia mendengar suara ribut di luar. Yu Yin mengintip dari lubang pintu dan melihat pamannya sedang berhadapan dengan Lam-ciat dan beberapa perwira, serta Pat-jiu Sian-ong.

"Maaf," kakek gimbal itu menjura. "Hamba sekadar bertanya apakah gadis-gadis itu ada di sini, Pangeran? Karena tadi hamba sempat melihat mereka masuk."

"Benar," seru Pat-jiu Sian-ong dengan suara keras. "Hamba juga melihat mereka masuk ke sini. Terutama si gadis berbaju putih, ia harus dibekuk karena merupakan musuh dan pengacau!"

"Kalian mau ribut-ribut di sini?" sahut Pangeran itu. "Sudah kubilang tidak ada."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment