Chapter 169
"Kalau tidak percaya, boleh periksa. Tapi awas, kalau tidak ada, maka kulaporkan kepada kaisar bahwa kalian menginjak-injak rumahku secara kurang ajar!"
"Maaf," Pat-jiu Sian-ong tiba-tiba mundur setelah mendapat kedipan Lam-ciat. "Kami tak sekasar itu, Pangeran. Kalau Paduka mengatakan tak ada, tentu saja kami percaya. Baiklah, kami akan kembali dan melapor kepada Coa-ongya. Paduka tentu dapat turut membantu kami jika orang yang kami cari muncul di sini, misalnya, memberitahukan kepada kami."
"Tentu, dan boleh panggil kakakku jika ingin melapor, Sian-ong. Suruh ia datang dan memeriksa. Aku tidak takut!"
Wajah Pat-jiu Sian-ong memerah. Ia telah mencoba mengancam pangeran ini secara terselubung agar mendatangkan kakaknya, Coa-ongya. Ancaman yang kini justru dibalas tantangan agar majikan Dewa Lengan Delapan itu dipanggil! Ketika kakek itu mundur sementara Lam-ciat mengebutkan lengan bajunya dan berkelebat pergi, orang-orang lain pun turut pergi setelah memberi hormat di depan pangeran muda ini. Yauw-ongya sungguh berwibawa; meskipun muda, ia mampu menunjukkan harga dirinya. Di depan Pat-jiu Sian-ong dan yang lainnya, ia tidak bisa dipermainkan.
Ketika semua pergi sementara sang pangeran masih bertolak pinggang dengan gemas, Yu Yin berseri-seri dan menahan tawa. "Lihat, pamanku yang satu ini memang tak dapat dibuat main-main, Tang Siu. Biarpun Pat-jiu Sian-ong dan yang lainnya lihai, mereka tak berani masuk. Sekali mereka melakukan itu, tak ada ampun dari Paman!"
"Tapi bagaimana kalau ayahmu datang?"
"Ayah pun tak berani main-main..."
"Tapi ada gurumu yang lihai, yang dapat mengintai."
"Hem, kamar ini rapat, Tang Siu. Suhu pun tak mungkin bisa masuk kalau tidak dari depan."
"Tapi jendela kamar!"
"Itu pun tak mungkin. Kamar ini di tengah ruangan dan di luar jendela masih ada tembok-tembok lain. Kalau ingin datang, harus menjebol dinding."
"Sudahlah," Hui Kiok tiba-tiba memotong, mukanya pucat dan tubuhnya menggigil. "Pamanmu datang ke sini, Yu Yin. Tanyakan sekarang bagaimana baiknya. Aku masih takut!"
Yu Yin menoleh. Pamannya itu memang sudah masuk kembali setelah tadi berkacak pinggang di luar. Ia masih menunjukkan muka cemberut, seolah kedatangan Pat-jiu Sian-ong dan yang lainnya tadi benar-benar menyinggungnya, padahal Yu Yin dan kawan-kawannya memang ada di sana! Ketika pangeran itu membuka pintu kamar dan Yu Yin tersenyum menyambutnya dengan berseri-seri, pangeran itu tertegun dan mengerutkan kening.
"Paman hebat, benar-benar pandai bersandiwara. Aih, aku dan Tang Siu kagum, Paman. Dan lebih-lebih Hui Kiok. Ia memujimu habis-habisan!"
"Hush!" Hui Kiok terkejut, wajahnya seketika memerah. "Apa-apaan kau ini, Yu Yin? Aku tidak bilang apa-apa. Kaulah yang bicara dengan Tang Siu dan aku cuma melihat!"
"Eh, kau tidak kagum bahwa pamanku bisa mengusir orang-orang itu begitu mudah?"
"Tentu saja..."
"Nah, apa bedanya?" Yu Yin menggoda. "Dikatakan atau tidak, tetap saja kau kagum, Hui Kiok. Dan ini sudah kau akui. Lihat, siapapun sekarang sudah mendengar!"
Gadis itu tersipu. Dipandang dan ditertawakan seperti itu membuatnya jengah; ia sadar bahwa Yu Yin memang sengaja ingin menggodanya. Ketika ia hendak mencubit, Yu Yin bergerak ke punggung pamannya. Hui Kiok kini berhadapan dengan Yauw-ongya, dan adu pandang itu membuat jantungnya berdetak kencang. Yauw-ongya juga merasa demikian, namun bangsawan muda ini lebih dulu menguasai hatinya. Mata Hui Kiok terasa demikian hidup dan bening, bak bintang kejora.
Ketika pangeran itu serasa tertusuk panah asmara, Yauw-ongya tiba-tiba mencengkeram dan menekan pundak keponakannya yang nakal itu. "Yu Yin, bukan waktunya bergurau. Ingat nasibmu sendiri dan bagaimana sekarang!"
Gadis itu tersentak dan tertegun memandang sang paman. Yauw-ongya tampak berwibawa meskipun muda. Ketika diingatkan akan urusannya, nasib buruk yang menantinya, dan teman-temannya ini, Yu Yin tiba-tiba menangis. Aneh, padahal baru saja tertawa. "Paman, bagaimana ini? Aku tak tahu. Aku bingung!"
"Hm, bagaimana pendapat teman-temanmu yang lain ini? Apakah tak ada gagasan?"
"Aku hanya ingin menyelamatkan Yu Yin," Tang Siu berkata sambil mengerutkan kening. "Dan kupikir ia harus keluar dari kota raja."
"Benar," seru Yu Yin. "Tapi aku harus membawa Golok Maut, Tang Siu. Tanpa itu tak mungkin!"
"Golok Maut?" Tang Siu terkejut.
"Ya," Yu Yin tak mau lagi menyimpan rahasia. Sahabatnya ini adalah orang yang boleh tahu segala-galanya karena telah banyak menolongnya. "Aku berjanji kepada Giam Liong untuk mendapatkan senjatanya itu kembali, Tang Siu. Atau ia akan datang dan mengamuk di sini!"
"Hm," gadis berbaju putih itu terkejut. "Kiranya ini alasannya, Yu Yin. Pantas kau kembali dan datang ke tempat ayahmu. Kau mencari bahaya!"
"Aku tidak takut," Yu Yin berkata gagah. "Aku telah berjanji dan aku akan menepati janjiku. Tapi bagaimana sekarang? Aku tak dapat keluar!"
Sambil menangis tersedu-sedu karena tidak dapat menyelesaikan persoalannya, Yu Yin tiba-tiba menubruk dan memeluk sang paman. "Paman, tolonglah aku. Bagaimana baiknya dan apa yang harus kulakukan?"
"Hm!" Sang paman terkejut di tempat, mukanya berubah. "Kau benar-benar mencari bahaya, Yu Yin. Kalau kedatanganmu ke sini untuk mengambil Golok Maut, maka kau akan berhadapan dengan gurumu. Padahal kau tahu siapa gurumu itu!"
"Aku tak peduli," gadis ini memotong sambil terisak. "Golok itu bukan miliknya, Paman. Golok itu milik Giam Liong. Suhu secara licik merampasnya!"
"Tapi Giam Liong adalah pemberontak!"
"Aku tak peduli. Pemuda itu sebenarnya memusuhi Suhu, Paman, bukan negara. Tapi karena pengawal dan negara membantu Suhu, Giam Liong seolah-olah menjadi pemberontak. Suhu licik berlindung di balik nama kaisar!"
"Hm-hmm... cintamu membutakan mata. Aku tak berani ikut campur masalah ini, Yu Yin. Itu sepenuhnya tanggung jawabmu. Aku hanya hendak menolongmu dari tangan ayahmu atau pembantu-pembantunya. Nah, apakah kau mau tetap tinggal di sini atau tidak?"
"Aku harus keluar..."
"Untuk ditangkap ayahmu?"
"Tidak, untuk merampas kembali Golok Maut itu, Paman. Besok Giam Liong akan datang kalau aku tidak muncul!"
"Urusan Giam Liong aku tak mau mencampuri. Aku bicara urusanmu!"
"Baik, sekarang tolonglah bagaimana aku dapat kembali ke tempat ayah, Paman, tanpa diketahui orang. Aku akan ke kamar Suhu dan mencuri golok rampasan itu!"
"Kau nekat?"
"Aku harus berusaha!"
"Baik, kalau begitu kebetulan. Sebentar lagi ayahmu datang. Bersiaplah sekarang, pakai baju pengawal ini!"
Yu Yin tertegun. Dengan cepat dan cekatan, pamannya membuka lemari, melempar sepasang pakaian pengawal. Yu Yin diminta mengenakan pakaian itu dan tiba-tiba wajah gadis ini berseri. Pamannya cerdik; ia diminta menyamar! Ketika ia menyambar pakaian itu dan mengenakannya di balik pakaiannya sendiri, sekejap saja Yu Yin sudah berubah menjadi seorang pengawal.
"Terima kasih," gadis itu gembira. "Aku tahu akalmu, Paman. Dan sekarang, bagaimana dengan dua temanku yang lain ini? Aku minta agar Tang Siu dibuatkan jalan keluar!"
"Aku tak mau keluar," gadis berbaju putih itu tiba-tiba berseru. "Kalau kau mau kembali ke tempat ayahmu, maka aku harus mengawal, Yu Yin. Aku tak mau kau ditimpa bencana!"
"Kau ikut?"
"Tentu saja. Aku tak mau gagal menolongmu, Yu Yin. Kalau kau mau kembali, tentu saja aku ikut. Mari, aku siap di belakangmu!"
"Gila!" gadis itu terkejut. "Aku tak mau menyeretmu ke tempat berbahaya itu, Tang Siu. Aku sekarang sudah menyamar dan tak perlu kau khawatir. Kalaupun ketahuan, tak bakal mereka membunuhku, lain dengan dirimu."
"Hm, aku paling senang kalau menyerempet-nyerempet bahaya. Pekerjaanku sudah kepalang tanggung, tak mungkin setengah-setengah lagi. Kalau kau mau kembali, mari kuikuti, Yu Yin. Aku sekadar menjagamu jika ada apa-apa."
"Tang Siu..."
"Tidak! Aku sudah memutuskan hatiku, Yu Yin. Kalau kau tertangkap dan jatuh ke tangan ayahmu, percuma saja aku mengeluarkanmu. Ayo, berangkat dan mari kuiringi!"
Yu Yin tersedak. Tiba-tiba ia terharu dan menubruk temannya itu, lalu menangis. Tang Siu benar-benar tak mau meninggalkannya dan apa pun akan dihadapi berdua. Ketika mereka berpelukan, Yauw-ongya melemparkan lagi sepasang pakaian pengawal dan berseru, "Anak-anak, jangan membuang-buang waktu lagi. Kakakku pasti datang. Pergilah kalian lewat pintu belakang. Lompati tembok dan jangan berlama-lama!"
Yu Yin sadar. Ia ingat bahwa ayahnya pasti segera tiba. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong sudah curiga dan dua kakek itu pasti melapor. Gurunya pun tentu akan datang! Ketika gadis itu melepaskan diri sementara Tang Siu mengerutkan kening karena dipanggil "anak-anak" oleh sang pangeran yang usianya sebaya, Yu Yin menyambar pakaian itu dan memberikannya kepada Tang Siu dengan tergesa-gesa.
"Tang Siu, pamanku benar. Ayah pasti datang dan sebaiknya kita pergi!"
"Tapi Hui Kiok?"
"Biarkan ia di sini," Yauw-ongya tiba-tiba berkata. "Nona Hui dalam perlindunganku. Kalau ikut bersama kalian tentu berabe. Hanya kuminta agar tubuh Hui-ciangkun kalian pindah ke dekat gedungnya supaya aku tidak dicurigai!"
"Baik," Yu Yin mengangguk. "Kau lagi-lagi benar, Paman. Terima kasih dan selamat tinggal!"
Yu Yin menyambar tubuh Hui-ciangkun dan berseru kepada Hui Kiok bahwa ia akan tinggal di tempat Yauw-ongya. Hui Kiok tertegun dan wajahnya memerah. Ia bingung. Ia sekarang seorang diri di kamar seorang lelaki. Berat!