Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 17

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 17

Dan ketika keduanya sudah menutup pintu kamar dan kebetulan Ju Han di sana juga sudah terlelap tidur, maka suami istri ini dapat berduaan dan bermesraan kembali karena Swi Cu sudah tidak marah lagi.

"Hi-hik!" wanita berambut riap-riapan itu terkekeh. "Tahu rasa kau sekarang, Beng Tan. Tahu rasa sekarang kalian berdua. Hm, anakmu menjadi anakku, dan anakku sudah menjadi anak kalian. Giam Liong akan mewarisi kepandaian Pek-jit Kiam-sut atau Pek-lui-kang yang dahsyat. Dan orang akan bingung mendengar kata-kata ini."

Wanita berambut riap-riapan itu terhuyung keluar hutan sambil membawa seorang anak laki-laki yang menangis sepanjang jalan. Dialah Wi Hong, yang semalam memasuki bekas perkumpulannya sendiri, mengacau dan membunuh tujuh murid laki-laki karena wanita ini kaget dan marah sekali melihat Hek-yan-pang tiba-tiba sudah berubah. Dulu, murid laki-laki pantang berada di situ, bahkan Hek-yan-pang telah mengadakan peraturan bahwa perkumpulan itu hanya dihuni kaum wanita. Kaum lelaki yang berani datang, apalagi berbuat macam-macam, pasti akan dibunuh. Paling sial, mereka diusir setelah dilukai, dihajar, atau dikutungi kakinya karena kaki itulah yang dianggap bersalah karena berani lancang menyasar ke tempat kaum perempuan.

Maka ketika malam tadi mendadak dia melihat perubahan itu dan banyak murid laki-laki menjaga di tepi telaga sebagai tameng atau pelindung bagi murid-murid perempuan yang ada di tengah telaga, Wi Hong—mantan ketua Hek-yan-pang yang keras dan mudah sakit hati ini—langsung saja membunuh murid-murid yang tidak disenanginya.

Wi Hong sebenarnya tentu tidak asing bagi para pembaca kisah Si Golok Maut. Inilah wanita yang menjadi pangkal kebahagiaan sekaligus malapetaka bagi mendiang Si Golok Maut tersebut. Dialah satu-satunya wanita yang amat dicintai Si Golok Maut Sin Hauw yang tewas di ujung banyak senjata. Wi Hong pulalah satu-satunya wanita yang membuat Sin Hauw alias Si Golok Maut terkena kutuk, karena Golok Maut yang dipegang Sin Hauw pantang dikotori oleh hubungan suami istri. Namun, Sin Hauw telah melakukannya. Dalam gejolak cinta dan nafsu yang membara, akhirnya Sin Hauw melanggar larangan senjata yang dibawanya.

Giam-to, atau Golok Penghisap Darah yang dibawa pemuda itu, terlanjur dikotori Sin Hauw melalui perbuatannya bersama ketua Hek-yan-pang tersebut. Ada dua jalan bagi pemuda ini untuk "membersihkan" diri dari tuah kutukan itu, yakni membunuh kekasihnya atau dia siap dibunuh oleh golok yang dipegangnya sendiri. Namun, ketika Wi Hong diketahui hamil akibat perbuatan mereka di hutan bambu, Sin Hauw tidak tega membunuh kekasihnya. Ia pun siap menerima kematian dengan mengorbankan dirinya sendiri demi menerima kutuk atau pantangan besar yang dulu juga pernah diperbuat oleh suhu dan subonya.

Wi Hong akhirnya tahu akan hal itu. Mantan ketua Hek-yan-pang itu memang dulu hampir saja dibunuh oleh Si Golok Maut, kekasihnya sendiri. Namun, karena ternyata waktu itu dia sudah berbadan dua, Wi Hong dibiarkan hidup, sementara Si Golok Maut sendiri rela menemui ajalnya membawa dendam yang sebenarnya belum tuntas. Ada dua orang yang amat dibenci Si Golok Maut, dua orang yang membawa celaka bagi keluarganya hingga dia kehilangan segalanya: ayah, ibu, dan kakak perempuannya.

Karena dia akhirnya tewas terbunuh sementara dari dua musuhnya baru satu yang berhasil dibunuh dengan tangannya sendiri, maka Wi Hong diharapkan dapat meneruskan dendamnya kepada musuh terakhir tersebut. Musuh itu adalah si Kedok Hitam. Wi Hong yang hamil membawa keturunan Si Golok Maut diminta untuk mencari musuh besar itu. Wanita ini pun bertekad untuk mencari dan membunuhnya. Namun, karena musuh tersebut amat licik dan sekarang bertambah satu lagi dengan munculnya si Kedok Hitam, Wi Hong mendapat dua tugas sekaligus yang amat berat.

Siapakah musuh pertama yang masih hidup itu? Tidak lain adalah Pangeran Coa. Pangeran ini tinggal di kota raja dan merupakan adik tiri kaisar yang sekarang. Pangeran inilah yang membuat dendam Si Golok Maut setinggi gunung. Namun, karena pangeran itu selalu dilindungi orang-orang sakti, berkali-kali serbuan Golok Maut selalu gagal. Pangeran Coa selamat, tetapi adiknya yang bernama Ci-ongya berhasil dibunuh. Pembalasan Si Golok Maut sangat sadis; kepala Ci-ongya dipenggal dan tubuhnya dilempar dari atap yang tinggi.

Ketika suasana geger dan Golok Maut dikeroyok ratusan orang, dia mengalami luka-luka dan melarikan diri ke Lembah Iblis. Namun, musuh terus mengejar. Dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Kedok Hitam—tokoh amat lihai yang mengenakan saputangan hitam di mukanya—Si Golok Maut diburu. Di sana, Golok Maut terkejut karena dikepung dan akhirnya tewas. Setelah Golok Maut dibunuh dan tubuhnya dicincang, aksi balas-membalas antara pihak Coa-ongya dengan pemuda itu pun berakhir.

Namun, benarkah demikian? Tidak ada orang yang tahu bahwa Golok Maut telah menanamkan benih di tubuh mantan ketua Hek-yan-pang tersebut. Wi Hong, wanita cantik yang kini terhuyung-huyung sambil terkekeh meninggalkan hutan di luar Hek-yan-pang. Karena hanya Swi Cu, suaminya, serta murid-murid perempuan yang tahu akan hal itu, orang luar tidak menyadari bahwa kekasih Golok Maut itu sedang mengandung. Inilah wanita yang ditolong nenek Lui, wanita yang akhirnya membunuh Pa-lopek dan orang-orang kasar macam Hu-san dan teman-temannya.

Sekarang Wi Hong tidak ada di tempat nenek itu lagi. Nenek Lui telah diracun suaminya sendiri, kakek Pa, yang tergila-gila dan ingin mendapatkan Wi Hong, namun dia malah menemui ajal dengan menyedihkan. Karena Wi Hong tidak tinggal di sana lagi dan terus berkelana, wanita ini akhirnya sampai ke markas Hek-yan-pang dan menukar anaknya dengan anak Swi Cu. Sebenarnya, Wi Hong hanya ingin berkunjung karena rindu pada sumoinya dan sekadar ingin melihat keadaan perkumpulan Walet Hitam sekarang. Dia tahu bahwa sumoinya menjalin cinta dengan Beng Tan, pemuda luar biasa yang setingkat dengan mendiang kekasihnya, Si Golok Maut.

Namun, begitu dia melihat perubahan di sana dan bagaimana Hek-yan-pang tiba-tiba menerima laki-laki—hal yang membuatnya sangat marah—Wi Hong membunuh beberapa murid lalu mencari sumoinya. Dia tiba-tiba tertegun melihat sumoinya juga mempunyai anak laki-laki yang seusia dengan anaknya. Karena anak itu seukuran dengan anaknya, muncullah sebuah rencana mendadak!

Apa yang dipikirkan wanita itu? Tidak lain adalah menukarkan anaknya! Wi Hong sangat mengenal kelihaian Beng Tan. Suami sumoinya itu sekarang merupakan pemuda pilih tanding karena tidak ada lelaki lain yang dapat menandinginya. Pemuda itu adalah murid—atau setidaknya anak didik—Bu-beng Sian-su, karena kakek dewa itu telah mewariskan beberapa ilmunya. Mengingat Bu-beng Sian-su adalah kakek mahasakti yang tak tertandingi di dunia, Beng Tan tentu memiliki kepandaian yang luar biasa. Hal inilah yang dimanfaatkan Wi Hong untuk menukarkan anaknya.

Wi Hong memasuki kamar sumoinya dan mengamati anak laki-laki yang ditinggalkan ibunya itu lekat-lekat. Dia sendiri menyembunyikan anaknya di dalam sebuah gua di luar Hek-yan-pang. Ketika dia berhadapan dengan Swi Cu dan sumoinya memberikan bayinya, tiba-tiba saja Wi Hong melarikan anak itu sehingga Swi Cu berteriak-teriak. Swi Cu tidak tahu bahwa sucinya telah berbohong. Dalam percakapan sebelumnya, Wi Hong memberi tahu bahwa anak yang dikandungnya telah mati, padahal dia menyembunyikannya di luar sana.

Saat anak itu dibawa lari dan Swi Cu mengejarnya, Wi Hong pergi ke hutan tempat anaknya disembunyikan. Di situ, dia menukar Giam Liong dengan Beng Han dan secepat kilat keluar dari gua. Dia tahu bahwa dia dikejar dan sang ayah, Beng Tan, pasti akan membantu istrinya mencari anak mereka. Benar saja, Beng Tan muncul dan membentaknya untuk menyerahkan Han Han. Beng Tan tidak menyangka bahwa anaknya telah ditukar, karena anak yang dibawa wanita itu bukanlah Han Han, melainkan Giam Liong.

Wi Hong berhasil menyelesaikan sandiwaranya. Sambil menangis dan pura-pura marah, Wi Hong menyerang Beng Tan. Tentu saja dia tidak akan menang karena lawan memiliki kepandaian yang jauh di atasnya. Setelah anak itu dirampas kembali dan Wi Hong melarikan diri, Beng Tan pulang ke markas. Sementara itu, Wi Hong menimang-nimang anak yang sebenarnya adalah Han Han.

"Hi-hik, selamat atas keberuntunganmu, anakku sayang. Selamat karena akan mewarisi kepandaian ayahmu yang gagah itu!" Wi Hong mencium dan mengelus kepala anak di gendongannya, sementara kata-katanya tadi sebenarnya ditujukan untuk Giam Liong yang kini berada di tangan Beng Tan. "Dan kau, hm... kau cukup mempelajari ilmu silat Hek-yan-pang, bocah. Biarlah kau kurawat dan kudidik sebagai anakku sendiri. Kau adalah keponakanku juga, putra sumoiku. Tidak ada jeleknya merawatmu, tapi jangan harap kau dapat mengalahkan Giam Liong!"

Wi Hong terkekeh-kekeh. Merasa bangga akan hasil akalnya, tiba-tiba Wi Hong bernyanyi-nyanyi. Han Han yang ada di gendongannya mula-mula merasa tenteram dan tidak menangis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment