Chapter 170
Namun, ketika ia mengeluh dan terbelalak memandang kepergian Yu Yin, ia hendak mengejar namun disambar oleh Yauw-ongya. Tiba-tiba pangeran itu berbisik agar gadis itu tidak ke mana-mana.
"Hui-siocia, jangan keluar. Nanti aku ketahuan menyembunyikan kalian!"
"Tapi... tapi..." gadis itu menangis. "Aku tak berani sendirian, siauw-ongya, apalagi di kamarmu. Bagaimana kata orang!"
"Kau benar. Tapi ini keadaan darurat, Hui-siocia. Apakah kau mau mencelakai aku dengan menampakkan diri di luar?"
Hui Kiok bingung. Akhirnya, ia menangis dan terisak sendirian di situ; mau keluar tapi tak berani. Ketika ia mengerti bahwa keadaan mengharuskan demikian, apa boleh buat, ia harus di kamar lelaki. Yauw-ongya melepaskan tangannya dan menyuruh ia ke dapur.
"Apa? Ke dapur? Untuk apa?"
"Maaf, kau harus menyaru sebagai pelayan, Hui-siocia. Aku tahu watak kakakku dan kecerdikannya yang amat tinggi. Aku harus mengimbangi dan tak boleh kalah. Berdandanlah sebagai pelayan, di sana ada sebuah lemari kecil untuk berganti pakaian."
Gadis ini tertegun. Ia membelalakkan mata lebar-lebar karena tiba-tiba saja ia diminta menjadi seorang pelayan. Gugup karena tak biasa melakukan itu—di rumah ia adalah nona majikan—gadis ini hanya mendelong memandang sang pangeran. Yauw-ongya tersenyum manis dan sekali lagi meminta maaf. Mereka harus cepat-cepat sebelum tamu datang. Ketika Hui Kiok berkata bahwa ia tak dapat berdandan sebagai pelayan, pangeran menyambar lengannya dan bergegas mengajaknya ke dapur.
"Kalau begitu, aku yang akan merias wajahmu sebagai pelayan berumur tiga puluhan tahun. Cepat, nanti Pat-jiu Sian-ong dan kakakku muncul!"
Hui Kiok tak keruan. Selama hidup, baru kali ini ia dipegang-pegang lelaki. Pegangan Yauw-ongya menimbulkan getaran hebat yang membuat tubuhnya seakan lumpuh. Hampir saja gadis ini ambruk! Namun, ketika mereka sudah memasuki dapur dan Yauw-ongya membuka lemari kecil, mengeluarkan, dan mengambil alat-alat rias, pangeran itu berkata agar Hui Kiok mengenakan pakaian pelayan yang sudah disiapkannya.
"Dulu seorang pelayanku tinggal di sini, tapi sekarang ia pulang karena sakit. Kebetulan pakaiannya masih di sini dan sedikit pupur atau bedak ini juga tertinggal. Maaf, aku harus mengubah wajahmu, siocia. Cepatlah kenakan pakaian itu!"
Hui Kiok gemetaran. Ia mengangguk saja ketika sang pangeran menyuruh ia melakukan ini-itu. Ia mengenakan pakaian pelayan itu dan kebetulan pas benar. Ketika jari-jari pangeran memoles wajahnya dan bedak atau alat-alat lain digosokkan dengan cepat, semuanya serba terburu-buru, jadilah Hui Kiok seorang pelayan berusia tiga puluhan tahun yang pucat dan ketakutan.
"Eh, jangan gemetaran, Hui-siocia. Wajar sajalah. Wajahmu sekarang sudah berubah dan tak ada siapa pun lagi yang mengenalmu. Lihat!"
Hui Kiok hampir menjerit kaget. Yauw-ongya memberinya cermin dan terlihatlah wajah yang lain di situ. Dengan cepat ia sudah disulap menjadi orang lain, hampir seperti nenek-nenek! Namun, ketika Yauw-ongya mendekap mulutnya dan ia tak jadi menjerit, bayangan-bayangan berkelebatan di pintu. Coa-ongya dan Pat-jiu Sian-ong muncul!
"Maaf, adik pangeran. Berkali-kali aku mengetuk pintumu namun kau tak datang. Apakah putriku ada di sini bersama gadis lain?"
Yauw-ongya membalik. Cepat dan luar biasa, ia sudah mampu menguasai dirinya lagi, hal yang mengagumkan. Dan ketika ia sudah berhadapan dengan Coa-ongya, kakaknya yang bermata tajam, pangeran itu buru-buru berkata, "Ah, kanda pangeran rupanya. Selamat malam. Apa yang kau cari, Kanda? Mari duduk di ruangan depan. Tempat ini kotor!"
"Hm, aku mencari putriku, Yu Yin. Dan siapa wanita ini?"
"Ia pelayanku, pelayan baru. Kusuruh membuat minuman. Kalau Kanda ingin minum, biar kusuruh sekalian menyiapkan. He!" Yauw-ongya pura-pura menghadapi pelayannya. "Hidangkan sebotol arak besar, Lui-ma. Ambil di sudut itu dan hidangkan keluar!"
Hui Kiok buru-buru mengangguk. Ia ketakutan dan menggigil melihat Pat-jiu Sian-ong dan Coa-ongya di situ. Ia berjalan tergesa-gesa mengambil arak di sudut dapur. Tubuh dan langkah kakinya diam-diam diperhatikan Coa-ongya, tentu saja dikira Yu Yin. Tapi ketika Coa-ongya yakin bahwa itu bukan puterinya karena gerak dan tubuh puterinya tidak setinggi "pelayan" ini, ia mengulurkan lengan dan buru-buru berkata—sementara Hui Kiok sudah menyentuh arak di sudut dapur.
"Tidak usah, tak perlu... aku datang hanya untuk menanyakan putriku, Adik Pangeran. Karena menurut mereka, ini katanya masuk ke sini!"
"Hm, Pat-jiu Sian-ong benar-benar gatal mulut!" Yauw-ongya tiba-tiba membeku, wajahnya gelap. "Sudah kukatakan tak ada siapa-siapa di sini, Kanda Pangeran. Kalau kau ingin membuktikan, boleh saja geledah. Mari, lihat dan periksa sendiri semua kamarku!"
Yauw-ongya sudah mengajak tamunya ke kamar-kamar di kiri kanan, dengan berani membuka semua kamar itu dan tentu saja tak ada siapa-siapa. Yu Yin dan Tang Siu baru saja pergi! Ketika kakaknya tertegun dan melihat semua kamar itu, terakhir adiknya membuka pintu kamar pribadi, pangeran itu menyuruh kakaknya masuk.
"Tak usah ragu-ragu dan boleh buktikan kata-kataku. Ini kamar terakhir, kamar pribadiku. Silakan Kanda periksa dan lihat ke dalam!"
"Cukup... cukup!" Coa-ongya terkejut dan sudah melihat isi kamar; seluruh penjuru disambarnya cepat. "Aku percaya, Adik Pangeran. Aku percaya. Ah, barangkali pembantu-pembantuku ini yang matanya lamur. Heii!" pangeran itu memandang Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat melotot! "Lihat kata-kata adikku, Sian-ong. Sungguh membuat malu membawa aku kemari. Bagaimana ini, apakah kalian tidak minta ditendang?"
"Maaf... maaf!" dua kakek itu buru-buru melipat tubuh. "Kami bukannya kurang percaya, Ongya, melainkan semata-mata ingin menjaga ketenangan dan ketenteraman istana. Tadi kami melihat bayangan mereka. Kalau benar tak ada di sini, tentu saja kami minta maaf."
"Hm, enak sekali." Yauw-ongya marah. "Tadi sudah kubilang, Kanda. Tapi mereka berani juga menyelidiki lagi. Seolah aku berkomplot dengan penjahat. Apakah cukup begitu saja dan begini gampangnya?"
"Ah, Adik Pangeran mau apa?"
"Aku ingin menghajar mereka, Kanda. Maaf bahwa aku benar-benar terhina, merasa tak dipercaya... plak-plak!"
Yauw-ongya maju menampar dua kakek itu, membuat wajah Pat-jiu Sian-ong maupun Lam-ciat merah padam. Mereka dipukul di depan begitu banyak orang; ingin rasanya menjerit! Namun karena mereka bersalah dan tamparan itu sesungguhnya ringan dibanding perbuatan mereka terhadap Yauw-ongya—yang dicurigai dan dikira menyembunyikan pengacau—maka Lam-ciat maupun Pat-jiu Sian-ong menahan malu dan gusar di hati. Mereka menelan saja tamparan itu sebagai hukuman, meskipun diam-diam di dalam hati tentu saja mereka menyumpah-nyumpah!
Ketika Yauw-ongya mundur dan Coa-ongya mengangguk-angguk karena hal itu pantas diberikan, pangeran ini memandang adiknya dan berkata, "Baiklah, aku pribadi meminta maaf, Adik Pangeran. Rumahmu telah kami kotori dengan kaki kami. Tapi kami mohon kalau putriku datang ke sini, harap beri tahu kami atau tangkap dia, juga gadis temannya yang pengacau itu!"
"Tentu, dan kau boleh pasang orangmu memata-matai tempat ini, Kanda Pangeran. Aku mempersilakan dan dengan hati terbuka!"
"Ah, tak perlu... tak perlu!" Coa-ongya yang cepat-cepat mohon diri dan pergi dari situ terpaksa menahan rasa malunya lagi karena belum apa-apa sudah didahului adiknya itu. Memang benar ia hendak menyuruh Pat-jiu Sian-ong atau Lam-ciat mengawasi rumah ini—siapa tahu di tempat lain adiknya itu menyembunyikan pengacau karena ia juga percaya laporan Pat-jiu Sian-ong—tapi karena ia sudah didahului dan tentu saja tak ingin menambah malu lagi, ia harus pergi. Maka, lenyaplah pangeran itu bersama pengiringnya.
Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat mendapat maki-makian. Dua kakek itu semakin merah padam. Ketika semua pergi dan meninggalkan tempat tinggal Yauw-ongya, Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat mengutuk habis-habisan. Di tempat lain, Yu Yin dan Tang Siu justru memasuki kembali gedung Coa-ongya.
"Selamat, kita sudah sampai. Awas, kita langsung ke bagian belakang, Tang Siu. Di sana kamar guruku berada. Hati-hati, mungkin ada penjaga di situ!"
Yu Yin langsung memberi tanda dan tentu saja dengan mudah memasuki gedung ayahnya. Tak ada orang lain yang sehafal dia, dan begitu masuk ia pun sudah langsung nyelonong. Di sepanjang jalan ia berpapasan dengan pengawal-pengawal, dan lucunya mereka tak mengenalnya. Tubuh mereka yang langsing dapat disembunyikan di balik pakaian yang kebesaran, dan malam yang gelap juga terasa menolong.
Ketika jalan-jalan besar dapat dilalui dengan mudah dan mereka bergerak sampai ke gedung Coa-ongya, dua-tiga pengawal menegur, namun dengan mudah Yu Yin membalas salam. Saat itu juga keduanya sudah masuk ke dalam dan Yu Yin melompat ke bagian belakang. Temannya mengikuti dan Tang Siu tersenyum-senyum. Sikap dan keberanian Yu Yin mengagumkannya.
Namun, ketika mereka berada di belakang dan empat dayang muncul, kebetulan mereka melihat Yu Yin dan Tang Siu berkelebat masuk, maka mereka berteriak tertahan dan menuding tak percaya.
"Heii, ada pengawal melompati tembok! Ringan benar gerakannya!"
"Ah, kusangka setan. Heii, siapa kalian, Pengawal? Apakah Lo-twako?"
Yu Yin tertegun. Ia tak berani menjawab karena suaranya tentu segera dikenal. Itulah dayang-dayang ayahnya yang tadi menemaninya. Sedikit bersuara tentu ia diketahui. Tapi ketika ia tertegun dan diam tak menjawab, empat dayang itu berlarian mendekat. Tang Siu membesarkan suaranya dan menjawab parau, "Heh, kami bertugas mencari penjahat, tikus-tikus betina. Pergilah kalian dan jangan mengganggu!"
"Hi-hik, baru kali ini ada pengawal tak suka menggoda dayang!" satu di antara dayang itu terkekeh genit, menubruk, dan tahu-tahu mencekal lengan Tang Siu. "Kau siapa, Pengawal baru? Dari resimen mana dan kenapa baru sekarang kulihat?"