Chapter 171
"Ihh, lenganmu halus sekali!" Tang Siu terkejut. Ia tak tahu bahwa para pengawal biasanya tentu menggoda terlebih dahulu jika bertemu dayang-dayang cantik.
Inilah hal yang di luar perhitungannya.
Ketika ia tertegun mendengar teriakan dayang itu—yang heran dan kaget bahwa lengan seorang pengawal begitu halus dan lembut seperti lengan wanita—maka sadarlah ia bahwa dayang-dayang ini tak boleh dibiarkan berlama-lama lagi.
"Yu Yin, robohkan mereka!" Empat dayang itu terkejut.
Dayang pertama yang mencekal dan memeluk lengan Tang Siu tiba-tiba roboh terjengkang. Ia menjerit setelah menerima sebuah totokan. Ketika Yu Yin juga bergerak dan merobohkan yang lain, keadaan sungguh berbahaya hingga berturut-turut empat dayang itu terpelanting.
"Lempar mereka ke semak-semak. Cepat, ada bayangan datang!" Tang Siu tak mau berpikir dua kali.
Ia melihat bayangan tiga orang, dan itulah Lo-twako yang tadi disebut-sebut sang dayang. Keadaan menjadi lebih berbahaya lagi. Saat ia menendang atau melempar mereka ke semak-semak, tepat bersamaan dengan datangnya tiga pengawal, Tang Siu menerima bentakan menanyakan siapa dirinya.
"Hei, siapa kalian? Dan apa yang kalian lakukan!" Tang Siu menjawab tak jelas.
Ia sengaja membuat suaranya sengau. Tiga pengawal maju berlompatan, terbelalak melihat gadis ini tadi melempar dayang. Suara *blak-bluk* mencurigakan mereka. Namun, mereka tertegun melihat itu adalah pengawal, rekan mereka sendiri. Lo-twako terhenyak dan bengong, mengira itu adalah pengawal dari kesatuan lain. Namun, alangkah kagetnya dia ketika tiba-tiba satu di antara dua "pengawal" ini terkekeh.
Yu Yin, yang tak mampu menahan geli melihat Lo-twako terbengong, sudah tak dapat menahan tawa.
Mereka sudah dekat dan Tang Siu terlihat bersiap untuk melepas serangan. Karena ia mengenal laki-laki ini dan Tang Siu memintanya untuk tidak membunuh—karena pengawal itu adalah pembantu ayahnya—orang bermarga Lo tersebut menjadi kaget bukan main mendengar ada pengawal laki-laki bisa tertawa demikian merdu!
"Lo Him, kau tidurlah di tempat ini!" Orang bermarga Lo itu berseru tertahan.
Ia menoleh, namun "pengawal" satunya bergerak. Itulah Tang yang tak menunggu waktu untuk merobohkan lawannya. Begitu ia berkelebat sementara Yu Yin juga menggerakkan jarinya ke arah dua pengawal yang lain, maka "pengawal" itu pun sudah merobohkan pengawal lainnya.
*Bluk... bluk.* Tiga orang itu tak tahu apa yang terjadi. Mereka tahu-tahu roboh dan Tang Siu maupun Yu Yin tak membiarkan mereka mengetahui lebih jauh. Orang bermarga Lo samar-samar ingat dan mengenal tawa nona majikannya, namun ia keburu terjengkang; totokan Tang Siu telah membuatnya roboh. Ketika dua temannya juga terjerembap dan berseru tertahan, mereka roboh oleh serangan Yu Yin, maka Tang Siu menendang tiga orang itu ke dekat para dayang, tak ingin membuat curiga.
"Yu Yin, kita satukan mereka di semak belukar. Awas, jangan sampai sadar sebelum pekerjaan kita selesai!"
"Tak perlu khawatir," gadis itu berkata. "Totokanku cukup untuk lima jam, Tang Siu. Ayo bergerak dan kita masuk kamar berpintu hitam itu!"
Tang Siu mengangguk. Ia lega bahwa temannya menotok dengan tenaga cukup; kalau tidak, tentu tiga pengawal itu sadar sebelum semuanya selesai. Ketika Yu Yin berkelebat dan ia mengikuti, mereka sudah di belakang gedung Coa-ongya. Sebuah pintu hitam terpampang di depan mata, jauh dari segala keramaian dan tampaknya tersembunyi.
"Ini kamar gurumu?"
"Benar, dan kita rupanya beruntung, Tang Siu. Suhu tak ada di dalam!"
"Dari mana kau tahu?"
"Palang pintu itu selalu ditutup kalau Suhu sedang berada di dalam. Tapi hati-hati, tempat ini letaknya jauh di belakang dan Suhumu rupanya senang dengan tempat yang begini sunyi."
"Benar, tapi aku sudah hafal tempat ini, Tang Siu. Jaga di luar dan biar kubuka palangnya!"
Yu Yin bergerak, tidak ke tengah melainkan ke pinggir di mana ia menyentuh sebuah bulatan besi di lekuk pintu, memutarnya, dan tiba-tiba palang bergerak ke atas; pintu otomatis terbuka. Ketika ia melompat masuk, keadaan gelap gulita. Ia menyalakan lilin, maka gadis itu berteriak ketika seekor tikus tiba-tiba menerjang kakinya.
"Aihh, Tang Siu!"
Gadis di luar berkelebat masuk. Tang Siu mencabut pedangnya dan gerakan hitam di kaki temannya itu dibabat. Refleks seorang ahli silat otomatis bekerja. Tapi ketika benda hitam itu mencicit dan menggelepar putus, Tang Siu tertegun melihat tikus di kaki temannya.
"Astaga, kukira apa. Buset, kau mengejutkan aku, Yu Yin. Kusangka senjata atau ular berbisa!"
"Maaf," gadis ini gemetar pucat, "aku paling ngeri berhadapan dengan tikus, Tang Siu. Cicitannya saja cukup membuat aku lumpuh. Tadi aku terlalu terkejut dan hilang kesadaran."
"Hm... sudahlah. Aku di luar lagi dan cepat cari Golok Maut itu. Tempat ini menyeramkan!"
Murid Kedok Hitam ini mengangguk. Adalah aneh melihat gadis yang biasanya tak kenal takut dan amat pemberani itu mendadak saja berteriak melihat tikus. Yu Yin rupanya terlampau tegang. Namun, ketika temannya berkelebat keluar dan ia sendirian lagi di tempat itu—sebuah ruangan gelap kini diterangi sebatang lilin—entah mengapa tengkuk gadis ini merasa seram memasuki kamar yang dingin ini.
Tempat itu berada paling belakang dari gedung Coa-ongya, tak jauh dari pagar kawat berduri, dan di situlah gurunya tinggal. Selain dirinya, tak boleh ada orang datang mendekat. Pengawal bakal diusir atau bahkan dibunuh kalau coba-coba mendekati tempat si Kedok Hitam ini.
Karena ia sudah berulang kali masuk, kamar gurunya itu meskipun gelap cukup dikenalnya juga, sebuah ruangan dengan luas sepuluh meter persegi. Yu Yin tersentak melihat sesuatu berkilau di dinding sebelah kanan. Bercahaya dan dingin terkena pantulan lilin.
"Golok Maut...!" Yu Yin tak ragu-ragu lagi. Golok itu, golok yang dicari-cari, ternyata ada di kamar gurunya ini. Yu Yin girang bukan main dan tentu saja ia berkelebat, langsung menyambar dan mencabut golok itu yang tertancap di dinding. Ketika gadis ini bersorak dan keluar dengan cepat, Tang Siu tertegun oleh sinar golok yang dingin berkilau-kilauan. Yu Yin menutup pintu hitam dan menangis!
"Tang Siu, sudah kudapat. Ah, tak kusangka begini mudah. Tapi... tapi aku ngeri membawa golok ini. Bagaimana kalau kau saja!"
"Kenapa?" gadis itu terkejut. "Hei, dan kenapa kau roboh, Yu Yin? Ada apa!"
Gadis Kun-lun itu bergerak. Yu Yin tiba-tiba mendeprok dan terisak di situ, sedu sedannya membuat Tang Siu terkejut. Ketika ia membentak agar temannya diam atau musuh akan datang, Yu Yin teringat, namun anehnya ia tak mampu mengangkat golok itu lagi.
"Tang Siu, aku merasa seram. Golok ini tiba-tiba juga terasa berat. Cobalah, apakah kau mampu mengangkatnya!"
Gadis ini heran. Ia memandang namun memungut golok itu; memang terasa berat, namun tidaklah terlalu. Ketika ia mengangkat dan mampu membawa tinggi-tinggi di atas kepala, gadis baju putih ini terbelalak. Gadis itu berseru, "Yu Yin, golok ini memang berat untuk ukuran wanita. Namun aku dapat mengangkatnya dan lihatlah!"
Yu Yin heran. "Kau tak merasa diganduli sesuatu?"
"Tidak."
"Kau tak melihat sesuatu pula di badan golok itu?"
"Tidak. Ada apakah? Kau membuatku seram saja, Yu Yin. Apa yang kau maksud dan apa pula yang kau lihat!"
"Aku melihat sebuah bayangan hitam di balik badan golok itu, seperti raksasa. Mulutnya terbuka lebar dan seakan siap mencaplok!"
"Ah, kau bermimpi buruk. Tak ada apa-apa yang aku rasa, Yu Yin, kecuali.... hei!"
Gadis itu terkejut, kaget melepaskan golok karena golok tiba-tiba meledak. Ketika jatuh berdentang di tanah, rumput seketika terbakar, maka dua gadis itu terlonjak mendengar suara tawa gemuruh.
"Ha-ha, jangan pegang aku, anak-anak. Pantang tubuhku disentuh wanita. Augh, tangan kalian panas. Keparat, najis bagiku dipegang-pegang perempuan... blarr!"
Golok meledak lagi, melejit dan menyambar Tang Siu, namun gadis baju putih itu berteriak mengelak ke kiri. Aneh dan luar biasa, golok tiba-tiba hidup bagai bernyawa. Ketika golok melesat dan menyambar pohon, pohon itu tiba-tiba roboh dan hangus!
"Tang Siu, awas.... buummmm!"
Tang Siu bagai ditarik sukmanya. Ia masih terkesiap dan mencelos oleh serangan Golok Maut tadi, tak mengerti mengapa begitu dan apa kesalahannya. Kini tiba-tiba ia disambar pohon tumbang dan tentu saja gadis itu meloncat. Namun ketika ia kurang cepat dan Yu Yin menendangnya dari samping, gadis itu terlempar hingga Tang Siu terguling-guling tak jauh dari pohon yang tumbang ini.
"Yu Yin, rumput itu terbakar!"
"Tang Siu, raksasa itu kulihat!"
Dua-duanya terkesiap. Yu Yin dan Tang Siu sama menuding dan mereka berteriak pucat melihat apa yang terjadi. Rumput terbakar sementara bayangan raksasa bertubuh hitam itu muncul dari balik pohon besar, menyeramkan. Namun ketika terdengar ledakan dan raksasa itu lenyap tinggal rumput yang berkobar di sekeliling tempat itu, Yu Yin terkesiap disambar temannya.
"Celaka, golok itu golok siluman, penuh hawa hitam. Ayo kita pergi, Yu Yin. Padamkan api di rumput yang terbakar itu!"
Yu Yin pucat. Ia masih ngeri oleh bayangan raksasa di balik pohon tadi, terbengong, namun segera sadar disentak temannya. Ketika mereka berkelebat, suara dan cahaya api memanggil pengawal yang berada jauh di sana. Bayangan-bayangan bergerak dan suara atau bentakan terdengar keras.
"Hei, siapa itu?"
"Hei, ada api dan pohon tumbang!"
Yu Yin berubah. Ia ditarik temannya, namun tiba-tiba ia berontak melepaskan diri, berkelebat menyambar Golok Maut yang masih menggeletak di situ. Aneh sekali, golok ini tak seberat tadi, ringan dan dapat diangkat, maka Yu Yin girang karena rupanya raksasa pengisi golok itu tak lagi membebaninya.
"Tang Siu, aku sudah dapat mengangkatnya. Lihat, golok ini sekarang ringan!"
"Hm, ringan atau tidak, namun ia hampir mencelakai aku, Yu Yin. Dan raksasa hitam itu keparat sekali. Mari cepat, kita pergi."