Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 172

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 172

"Pengawal, berdatanganlah dan bantu aku memadamkan rumput ini!" Tang Siu tidak ingin membicarakan tentang golok; ia bergerak memadamkan api, sementara Yu Yin mengangguk sambil mengebutkan lengan bajunya. Kebakaran itu harus dicegah agar tidak meluas.

Bagaimanapun, tempat itu adalah kediaman ayahnya. Kedua gadis itu pun bergerak memadamkan api yang muncul akibat ledakan Golok Maut tadi. Namun, karena para pengawal berdatangan dan terkejut melihat dua orang asing di tempat terlarang, mereka berteriak dan melakukan serangan. Anak-anak panah melesat lebih dulu.

"Siapa kalian? Pengawal dari kesatuan mana yang berani kurang ajar?" Tang Siu mendengus. Dengan mudah, ia memukul jatuh semua anak panah itu. Namun, ketika ia hendak melarikan diri, tempat itu mulai dikepung. Mendadak, temannya berseru agar membawa Golok Maut.

"Tang Siu, aku takut bertemu guruku. Tolong kau bawa golok ini dan kita bertemu di pintu gerbang selatan!"

"Apa?"

"Tolong bawa Golok Maut ini, Tang Siu. Aku akan menerjang ke kiri dan kau ke kanan. Aku hendak memecah perhatian mereka supaya golok ini tidak sampai terampas kembali!"

"Kau gila! Kau mengajak berpencar?"

"Benar, untuk menyelamatkan golok ini, Tang Siu. Karena aku amat berkepentingan, tolong kau saja yang membawanya, tapi jangan dipakai agar tidak dimarahi guruku!" Sebelum gadis itu sempat menolak atau mengiyakan, Yu Yin sudah menyelipkan golok itu di punggung temannya.

"Tang Siu, kita tidak boleh tertangkap bersama. Salah satu harus lolos. Nah, kau ke kanan, aku ke kiri!" Yu Yin berkelebat menyampok anak-anak panah yang berdesingan. Ia membentak dan menerjang ke kiri. Yu Yin jauh lebih mengenal keadaan daripada temannya; ia sengaja berseru keras untuk mengundang perhatian pengawal ke arah kiri, bukan ke arah di mana Tang Siu berada.

Ketika para pengawal mengejar dan membentak Yu Yin—yang masih dianggap pengawal karena pakaiannya—Tang Siu tidak mengalami kesulitan untuk menuju ke kanan. Sebenarnya ia tidak mau, namun Yu Yin telah memaksanya. Apa boleh buat, ia harus mengikuti rencana itu karena tidak boleh tertangkap bersama. Terlalu berbahaya.

Karena Yu Yin berkata bahwa ia mengenal medan, Tang Siu tidak perlu khawatir. Gadis itu berkelebat ke arah kanan dan menyapu tujuh pengawal dengan kibasan tangan kirinya, sementara pedang siap di tangan kanan.

"Pergi kalian... bress!" Tang Siu berjungkir balik. Tujuh pengawal roboh dan menjerit, sementara sisanya ditampar atau ditendang hingga terpental. Ketika gadis itu berhasil menerobos kepungan dan para pengawal melihat wajah manisnya, sadarlah mereka bahwa gadis pengacau yang dicari-cari ternyata menyamar di balik pakaian pengawal. Namun, sebelum mereka sempat berteriak, gadis berbaju putih itu tidak memberi kesempatan; sekali tangannya diayun, sisa pengawal itu pun terjengkang.

"Plak! Plak! Plak!"

Tang Siu dengan mudah melewati kepungan. Ia melompat dan melayang keluar tembok, lalu mengerahkan ilmu lari cepatnya. Sebagian besar lawannya tertarik ke arah Yu Yin karena gadis itu sengaja menyedot perhatian untuk melepaskan murid Kunlun tersebut.

Namun, ketika Tang Siu lolos dengan selamat, Yu Yin justru terjebak oleh perbuatannya sendiri karena dari segala penjuru ratusan orang datang.

"Tangkap! Gadis pengacau itu ada di sini. Tangkap! Ia menyamar sebagai pengawal!"

Yu Yin marah. Rambutnya terurai dari balik topi pengawal. Itulah sebabnya ia ketahuan dan disangka Tang Siu karena berkelebatan cepat dari satu tempat ke tempat lain. Gedung itu milik ayahnya dan ia mengenalnya dengan baik. Namun, pancingannya tadi membuat semua orang mengejarnya dan menutup pintu keluar. Gadis itu terjebak meski sempat bersembunyi dan lolos dari lorong ke lorong.

Ketika Yu Yin bingung dan tidak dapat keluar, ia juga enggan membunuh pengawal karena mereka adalah bawahan ayahnya sendiri. Wajah gadis itu memucat saat melihat bayangan gurunya berkelebat di dalam gedung.

"Yu Yin, berhenti. Jangan main-main."

Gadis itu pucat pasi. Tadinya ia menyangka gurunya berada di tempat Yauw-ongya; terbukti kamar gurunya kosong dan ia dapat dengan mudah mencuri Golok Maut. Namun, begitu sang guru datang dan ilmu silatnya dikenali, gadis itu melarikan diri ke ruangan tengah.

Terlambat. Bayangan hitam bergerak lebih cepat. Angin berdesir, dan tiba-tiba pundaknya dicengkeram oleh lima jari yang kuat. Saat Yu Yin menjerit, membanting tubuh, dan berguling untuk bangkit, gurunya sudah berdiri di depannya dengan mata berapi-api!

"Apa yang kaulakukan? Dari mana kau!"

Yu Yin gentar. "Aku... aku mencari Ayah!"

"Bohong! Pengawal memberi tahu kau baru saja berada di belakang, Yu Yin. Ayo ikut aku dan mana temanmu... wut!"

Kedok Hitam menyambar dengan gerakan luar biasa cepat. Tadi gadis itu melakukan tendangan dan berhasil melepaskan diri, namun sekarang gurunya tidak mau dibalas. Sekali gerak, tangan yang lain menotok tubuhnya. Yu Yin mengeluh dan roboh.

Begitu gadis itu lemas dalam pondongan sang guru, Kedok Hitam berkelebat meluncur ke belakang gedung, menendang pintu kamarnya. Saat matanya menatap dinding dan mendapati apa yang dicari tidak ada, ia berteriak tertahan.

"Golok Maut hilang!"

Lelaki itu gemetar. Ia pucat dan menggigil di depan kamarnya. Sekali lagi ia mengawasi tempat itu, namun benar saja, Golok Maut tidak ada. Senjata itu lenyap. Ini pasti perbuatan muridnya.

Terdengar geraman pendek disusul lengkingan panjang, mirip raungan serigala lapar. Lelaki itu membanting Yu Yin.

"Yu Yin, kau bocah keparat! Di mana Golok Maut itu... brukk!"

Gadis itu menjerit. Dadanya serasa dihantam ribuan gajah. Ia membal dan beruntung sempat membalik hingga tidak mengalami luka dalam. Sinkangnya masih cukup kuat untuk melindungi diri, namun karena bantingan itu dilakukan gurunya saat dalam kemarahan besar, gadis itu terhenyak dan kehilangan kemampuan bicara untuk sesaat.

Dadanya yang menghantam lantai terasa sangat keras. Hampir saja gadis itu pingsan. Namun, ketika ia menjawab bentakan kedua gurunya dengan rintihan kesakitan, ia menggeleng.

"Aku... aku tidak tahu, Suhu. Aku tidak membawa golok itu..."

"Bohong! Kau pasti menyimpannya. Hayo katakan, atau kugeledah tubuhmu!"

"Aku tidak tahu, Suhu boleh menggeledah..."

Belum habis ucapannya, Kedok Hitam menendang muridnya, lalu menyambar dan mulai meraba ke sana kemari dengan tangan kasar. Yu Yin terkejut karena tanpa sungkan tangan gurunya menyelinap ke buah dadanya, meremas, lalu mencengkeram bagian tubuh lainnya. Seumur hidup, baru kali ini gadis itu diperlakukan seperti itu oleh gurunya. Sungguh tidak hormat!

Ketika Kedok Hitam menggigil karena tidak menemukan apa yang dicari, ia membanting muridnya kembali.

"Kau... kau harus mengaku. Atau kubunuh!"

"Bunuhlah..." Gadis itu bersuara lemah, menangis karena merasa terhina oleh sikap gurunya. "Kau boleh membunuhku, Suhu... aku benar-benar tidak tahu di mana golok itu. Bunuhlah aku...!"

"Hm, tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Kau... kau akan kuperkosa!"

"Suhu!" Yu Yin bagai disambar petir. Ia kaget bukan main saat gurunya tiba-tiba merobek pakaiannya. Tawa bagai siluman gila membuat bulu kuduk berdiri. Lelaki itu pun mulai membuang bajunya!

Saat Yu Yin sudah tidak kuat dan menjerit tertahan hingga akhirnya pingsan, tiba-tiba berkelebat bayangan Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong.

"Kedok Hitam, gadis baju putih itu lolos di luar pintu gerbang. Ia terlambat kami tangkap karena pengawal terlambat memberi tahu!"

"Gadis baju putih itu, sahabat muridmu ini. Dan, eh... apa yang mau kaulakukan?"

Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat terkejut. Mereka melihat lelaki itu sudah bertelanjang dada sementara gadis cantik itu tergeletak di lantai dengan pakaian robek. Mereka segera paham apa yang hendak dilakukan.

Lam-ciat, sang tokoh sesat, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tokoh yang akrab dengan segala maksiat ini tidak merasa ngeri. Lain halnya dengan Pat-jiu Sian-ong yang, meski jahat, tidak memiliki watak sekeji itu. Kakek ini membantu Kedok Hitam karena sakit hati kepada Han Han dan Beng Tan, ketua Hek-yan-pang.

Saat Lam-ciat terbahak dan Pat-jiu Sian-ong tertegun, Kedok Hitam membentak dan menghantam si Hantu Selatan dengan tangannya.

"Lam-ciat, diam kau!"

Si Hantu Selatan terpental. Ia menerima pukulan itu dengan mata mendelik. Jika bukan karena ia sedang mencari kedudukan dan pahala, barangkali ia akan membalas. Namun, karena Kedok Hitam adalah perantara menuju kemuliaan, ia menahan amarahnya, mendengus, lalu meloncat pergi.

"Kedok Hitam, jangan semena-mena kau. Aku rekanmu, bukan musuh. Kalau tidak suka, tentu aku pergi!"

"Hm," Pat-jiu Sian-ong juga berkelebat, tidak ingin terkena amarah. "Aku juga pergi, Kedok Hitam. Sebaiknya bereskan dulu musuh-musuh kita dan jangan saling gigit!"

Lelaki itu merah padam. Ia benar-benar marah sekaligus bingung oleh situasi yang terjadi. Kemarahannya justru memancing kemarahan Lam-ciat, sosok yang sebenarnya sudah terbiasa dengan segala perbuatan jahat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment