Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 173

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 173

Bagi tokoh sesat, memperkosa atau mempermainkan wanita bukanlah hal aneh. Biarpun yang diperkosa adalah orang yang dekat di hatinya, ia tidak boleh memusuhi teman sendiri. Maka, ia menendang muridnya dan mengunci kamar pribadinya itu agar sang murid tertawan di dalam.

"Pat-jiu Sian-ong, kau benar. Tapi, Golok Maut hilang!"

"Apa?"

"Golok Maut lenyap. Dan inilah yang membuat aku marah-marah!"

"Hm, kalau begitu mari dicari saja. Gadis itu melarikan diri lewat pintu selatan. Mari kaubantu kami, barangkali dia yang membawanya!"

Kedok Hitam mengangguk. Setelah agak jernih, ia semakin sadar. Kemarahannya terhadap Yu Yin ditahan dan ia pun cepat melesat ke selatan. Lam-ciat dan Pat-jiu Sian-ong sudah mendahului ke sana. Namun, ketika ia tiba, ternyata gadis itu benar-benar telah menghilang.

"Kami tak dapat mengejar. Ia lolos dan merobohkan kami!"

"Benar, dan ia mengenakan pakaian pengawal. Kami kira pengawal dan teman sendiri!"

"Bodoh, goblok!" Pat-jiu Sian-ong membentak. "Pengawal atau bukan, seharusnya kalian menangkapnya, tikus-tikus busuk. Bukan hanya bengong melihat ia merobohkan temanmu!"

"Ia terlalu lihai, kami tak dapat menghalangi..."

"Dasar tikus goblok! Kalau tadi kalian memanggil kami, tentu tak mungkin lolos. Sudah, tutup pintu gerbang dan biar kami lihat di luar!"

Pat-jiu Sian-ong berjungkir balik, turun, dan melayang ke luar, tapi hanya kegelapan malam yang tampak. Lam-ciat dan Kedok Hitam juga berjungkir balik keluar, namun gadis yang mereka cari tak ada. Karena tak mungkin ditemukan lagi, tiga orang ini kembali sementara Kedok Hitam menggigil dengan muka merah menahan amarah yang meledak-ledak.

Pagi itu, di atas sebuah batu karang hitam besar, seorang pemuda tampak khusuk dan tenggelam dalam samadhinya tanpa bergerak sedikit pun. Lekuk besar terdapat di permukaan batu itu, dan di lekuk inilah pemuda itu meletakkan tubuhnya dengan pas. Ketika ayam jantan berkokok, pemuda itu tak bergeming, tegak kaku seperti arca, hingga orang tentu heran apakah ia masih hidup atau tidak. Tidak terlihat gerak dada saat bernapas, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Namun, jika orang melihat sinar merah di atas kepalanya yang bergerak membubung perlahan, orang akan tertegun.

Siapakah pemuda ini? Bukan lain Giam Liong adanya. Seperti diketahui, Giam Liong telah berjanji kepada kekasihnya untuk menunggu di situ. Semalam pemuda ini khusuk bersamadhi, namun tengah malam ia terguncang. Sebuah jeritan, lewat suara batin, menghantam dan memecah samadhinya. Ia terlonjak dan membuka mata. Secara batin, ia melihat seorang gadis meronta-ronta; bajunya koyak-koyak sementara seorang lelaki bersaputangan hitam berdiri dengan wajah beringas, siap memperkosa. Namun, ketika dua bayangan berkelebat datang, gadis itu pingsan dan laki-laki tersebut pergi. Gadis itu selamat, sementara Giam Liong sendiri bercucuran keringat dingin.

Mimpikah dia? Atau kejadian sungguh-sungguh? Ketika Giam Liong hampir meloncat turun, tiba-tiba bayangan ibunya berkelebat dan seorang laki-laki gagah muncul di mukanya.

"Liong-ji, tak usah takut. Aku dan ayahmu akan membantumu dari jauh. Tugasmu hampir tiba, Nak. Ingat pesan Ibu dan teruskanlah samadhimu!"

Giam Liong terbelalak kaget karena ibunya tiba-tiba menghilang. Lelaki gagah yang tersenyum padanya pun ikut lenyap. Namun, saat bau harum bunga—bunga yang dulu ditabur di makam ibunya—menembus hidungnya, Giam Liong mendesah dan dua titik air mata mengalir.

"Ibu, kau menjenguk anakmu? Kau memberi restu?"

Giam Liong menangis, namun saat sayup-sayup terdengar irama suling dari kejauhan, pemuda ini terhibur. Ia telah bertemu roh ibunya dan mendapat restu. Tugasnya akan dimulai. Besok, atau paling lambat saat matahari terbenam, ia akan mencari Kedok Hitam untuk mengadu jiwa.

Sepanjang malam, alunan suling itu menghiburnya. Giam Liong mengikuti alunan tersebut hingga antara sadar dan tidak, ia seakan bertemu seorang lelaki tua yang bertutur kata lembut. Ketika suara suling itu berhenti dan lelaki tua itu menghilang, kokok ayam jantan melengking. Pagi telah tiba. Saat ia sadar dan membuka mata, seorang gadis tahu-tahu berdiri di depannya. Giam Liong tertegun, mengira dihampiri seorang dewi.

"Kau yang bernama Giam Liong?"

Giam Liong tertegun, tak menjawab.

"Hei, kau yang bernama Giam Liong?"

"Maaf," Giam Liong tiba-tiba menunduk, menyembah. "Ampunkan aku, Dewi. Benar aku yang bernama Giam Liong. Dewi utusan siapakah dan ada perlu apa pagi-pagi begini menengok aku?"

"Hm, aku tak butuh menengokmu. Aku datang karena permintaan seseorang. Bangkitlah, aku Tang Siu. Datang untuk menyerahkan Golok Maut..."

Sing! Sebuah sinar berkeredep, menyilaukan mata, dan Giam Liong mencelat kaget. Ini bukan dewi, melainkan gadis biasa. Saat Golok Maut berbinar-binar di depan mukanya, Giam Liong kembali ke alam sadar.

"Ah, kau... kau siapa?" tanya Giam Liong tergagap. Gadis itu tersenyum mengejek.

"Kau dari mana, Nona? Dan bagaimana membawa Golok Mautku?"

"Hm, aku sahabat Yu Yin, kekasihmu. Aku datang atas permintaannya untuk menyerahkan golok ini sesuai amanatnya!"

"Dan bagaimana gadis itu? Kenapa tak datang?"

"Semalam kami berjuang, Giam Liong. Dan kau ternyata enak-enak saja di sini. Huh, laki-laki macam apa ini? Bagaimana kau tak menyelamatkan kekasihmu!"

"Ada apa dengan dia? Di mana ia sekarang?"

"Aku tak tahu keadaannya, tapi yang jelas tentu tak menggembirakan. Semalam kami berjuang dan mencoba meloloskan diri, tapi Yu Yin tak keluar. Aku tak tahu apa yang terjadi, namun kemungkinan besar ia tertangkap lagi!"

"Tertangkap lagi? Jadi ia sudah tertangkap sebelumnya?"

"Benar."

"Coba kauceritakan itu. Ah, siapa yang menangkapnya!"

Giam Liong menggigil, menyambar dan tak sadar mencengkeram lengan gadis itu. Ia meremas terlalu keras hingga lawan menjerit. Saat Giam Liong terkejut dan melepas pegangan, Tang Siu marah dan menamparnya.

"Enak saja pegang-pegang lengan orang! Eh, kau mau kurang ajar, ya? Mau main gila! Keparat, kubunuh kau nanti, Giam Liong!"

"Maaf... maafkan aku," Giam Liong terhuyung. "Aku kaget dan cemas. Aku tak bermaksud kurang ajar. Aku bukan pemuda hidung belang!"

Setelah Tang Siu menceritakan bahwa Coa-ongya hendak menikahkan Yu Yin dengan putra Cai-ciangkun untuk menghapus hubungan mereka, Giam Liong berubah bagai harimau ganas.

"Gurunya atau ayahnya sama saja, Tang Siu. Bedebah Coa-ongya itu. Baik, kucari dan akan kubunuh dia!"

Giam Liong menyambar Golok Maut dan meluncur ke kota raja, kesetanan. Saat ia melesat, terdengar teriakan dari dalam hutan. Tang Siu menoleh dan terkejut melihat ratusan orang berkuda dipimpin seorang laki-laki tinggi besar dengan gendewa di tangan. Pasukan Chu-goanswe itu berteriak memanggil Giam Liong. Karena Giam Liong tak menoleh dan lenyap di depan, pasukan itu mengejar dan melewati Tang Siu. Chu-goanswe melambaikan tangan kepada gadis itu dan berseru, "Nona, mari kita gempur kota raja!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment