Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 174

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 174

"Kau tentu orangnya yang mengembalikan Golok Maut!"

"Benar!" Pasukan berkuda itu bersorak. "Mari ikut kami, Nona. Bantu Giam-siauw-hiap dan hancurkan kaisar bodoh!"

Tang Siu bergerak. Tiba-tiba ia melayang turun dan mengikuti pasukan berkuda itu, bukan untuk membantu mereka, melainkan lebih tepat untuk melihat Yu Yin. Semalam ia telah menunggu, namun gadis itu tak muncul juga. Tang Siu khawatir dan akhirnya mencari Giam Liong. Ia berhasil menemukannya, namun "Si Naga Pembunuh" itu kini terbang ke kota raja untuk mengamuk. Golok Berdarah telah berada di tangannya dan tentu tandang pemuda itu bakal hebat bukan main.

Tang Siu telah mendengar cerita Yu Yin tentang pemuda ini; dendam dan kemarahannya yang bertumpuk-tumpuk kini meledak dalam satu letusan besar. Pemuda itu bak gunung berapi yang sudah mencapai puncaknya. Terlalu lama perut gunung itu bergolak. Kawah panas bakal menerjang kota raja.

Ketika Tang Siu berkelebat dan menyusul jenderal di atas kuda hitamnya, Chu-goanswe, ia melesat dan sebentar kemudian sudah melewati anak buah jenderal itu. Pasukan berkuda bersorak kagum, semua membelalakkan mata dengan senjata diacung-acungkan ke atas.

"Hei, kejar dia, kawan-kawan! Mari balap dia. Wah, ilmu meringankan tubuhnya melampaui kecepatan kuda!"

"Benar, dan kita tersusul. Aih, ia sudah di dekat Chu-goanswe!"

Jenderal ini menoleh. Ia mendengar sorak-sorai pasukannya dan juga desir angin di belakang kuda. Ketika dilihatnya gadis berbaju putih itu berendeng di sampingnya, jenderal ini kagum sambil menjeletarkan cemeti, "Hei, siapa kau, Nona? Sahabat dari mana? Aku Chu-goanswe, pemimpin pasukan ini!"

"Hm, aku Tang Siu, sahabat Yu Yin. Aku sudah dapat menduga kau siapa dan mari berlomba ke kota raja. Yu Yin tertangkap gurunya. Suruh pasukanmu cepat menjalankan kuda dan jangan lamban begini!"

"Ha... ha, ilmu lari cepatmu luar biasa, Nona, bukan kami yang lamban. Tapi baiklah, aku akan menyuruh pasukanku mempercepat larinya. Heiii!" Jenderal itu berteriak dan menoleh ke belakang. "Larikan kuda kalian kencang-kencang, pasukan! Kita kejar Nona Tang dan bantu Giam-siauw-hiap menolong kekasihnya. Hayo, cepat!"

Tombak dan gagang senjata dipakai memukul pantat kuda. Tang Siu melejit dan kini mendahului kuda tunggangan Chu-goanswe, cepat luar biasa hingga tahu-tahu ia pun sudah puluhan meter di depan. Ketika sang jenderal terbelalak dan kagum bukan main karena seorang lihai membantu perjuangannya, jenderal itu pun mengeprak kudanya dan memukul-mukul kedua sisi perut kuda dengan kakinya.

"Hayo... hayo, kejar gadis itu! Masa kita kalah!"

Kuda hitam meringkik. Chu-goanswe menyuruhnya mempercepat lari dan kuda itu pun melonjak. Tubuhnya tiba-tiba melesat secepat anak panah dan pasukan tertinggal. Namun, karena gadis berbaju putih itu juga tancap gas dan tak mau dikejar, Chu-goanswe terbelalak dan membentak-bentak agar kuda hitamnya berlari kencang. Ia sudah berusaha sekuat-kuatnya namun tetap saja gagal. Jarak yang semula diperpendek tiba-tiba memanjang lagi. Kuda hitam ini mandi keringat.

Ketika kuda-kuda yang lain juga begitu dan napasnya keluar masuk dengan amat cepat, mereka benar-benar dipacu untuk mengejar Tang Siu. Gadis ini menoleh dan tersenyum; gerbang kota raja mulai tampak.

"Chu-goanswe, kudamu dan semua kuda yang ada di sini tak mungkin menang. Sudahlah, siapkan mereka untuk mendobrak pintu gerbang dan menyerbu masuk. Kita sudah mendekati musuh... blangg!"

Tang Siu terkejut dan menoleh, menghentikan kata-katanya karena pintu gerbang yang dimaksud tiba-tiba roboh. Suaranya menggetarkan bumi dan hiruk-pikuk di depan disusul oleh teriakan atau pekik-pekik ngeri. Sesosok bayangan bercaping menumbuk daun pintu baja ini hingga tumbang. Palang pintu hancur dan engsel-engselnya copot. Ketika bayangan itu bergerak naik-turun bagai rajawali menyambar-nyambar, lengkingan atau pekiknya yang dahsyat juga mengguncangkan bumi. Puluhan tubuh terlempar atau mencelat oleh amuknya yang tak terbendung.

"Mana Kedok Hitam? Mana musuhku itu? Suruh dia keluar atau kalian kubunuh semua... crat-crat-crat!"

Sebelas kepala beterbangan cepat, lepas dari tubuhnya. Itulah Giam Liong yang tak dapat menahan diri lagi. Sudah beberapa hari ini ia menahan-nahan kemarahannya. Sudah beberapa hari ini ia memendam dendam kesumatnya yang menggelegak. Maka begitu sumbu itu disulut dan bom ini meledak, Giam Liong marah mendengar Yu Yin tertangkap, maka mengamuklah ia di pintu gerbang selatan. Pintu baja yang tebal itu ditumbuknya hingga ambrol dan tentu saja semua panik.

Ketika Giam Liong berkelebatan di antara dua ribu orang yang berjaga, ia sengaja mendobrak pintu gerbang agar pasukan Chu-goanswe dapat masuk. Maka gegerlah pasukan kerajaan karena sepak terjang Giam Liong sungguh tak diduga. Biasanya pemuda itu akan naik ke atas tembok yang tinggi, di mana sudah berjaga ratusan orang dan jala-jala rahasia yang menebar dari segala penjuru. Maka ketika pemuda itu justru masuk dengan mendobrak pintu gerbang hingga roboh, yang di atas menjadi kecelik dan yang di bawah justru kelabakan diterjang pemuda ini.

Giam Liong telah tahu panggilan Chu-goanswe tadi, namun sengaja tak mau menjawab. Ia akan memberi jalan kepada pasukan Chu-goanswe dan hajaran terhadap pasukan kerajaan. Ia akan mengamuk. Pemuda ini telah menjadi banteng ketaton. Begitu ia membuat dua ribu pasang mata ternganga oleh ulahnya dan pintu gerbang ambruk, menyerbulah pemuda itu dengan golok di tangan.

Giam Liong tak mau lagi bersungkan-sungkan menghabisi lawan. Ia bergerak bagai rajawali menerkam mangsa; ke mana ia pergi, ke situ pula lawan roboh. Ketika Golok Maut di tangannya dikenal musuh, lawan berteriak-teriak dan pucat, lalu berlarian saling dorong dengan kawan-kawan yang ada di belakang.

"Golok Maut... Golok Maut... pemuda itu membawa Golok Maut!"

Semua geger. Mereka heran dan kaget bagaimana Golok Maut tiba-tiba ada di tangan pemuda itu, padahal sudah dirampas pembantu Coa-ongya paling lihai, yakni si Kedok Hitam. Bahwa pemuda ini masih hidup padahal sudah dikabarkan tewas membuat mereka mengira ini adalah rohnya yang menuntut balas, maka pasukan kerajaan cerai-berai dan mereka hancur sebelum bertanding.

"Berhenti, jangan mundur! Siapa takut menghadapi pemuda itu!"

Delapan perwira yang membentak dan marah melihat kocar-kacirnya pasukan tiba-tiba muncul menerjang ke depan. Mereka tadi di belakang dan menerima kabar; terkejut mendengar dentum robohnya pintu gerbang. Betapa hebatnya pintu baja itu roboh dapat dilihat dari dua puluh orang yang tergencet di bawah, tewas seketika dengan bentuk mengerikan. Ketika mereka datang dan tak percaya bahwa itu adalah Giam Liong—karena kabar kematian pemuda ini memang dirahasiakan—tertegunlah delapan perwira itu melihat pemuda tersebut, juga Golok Mautnya yang berkeredepan menyilaukan mata. Namun, mereka terlanjur maju dan tak mungkin mundur, apalagi barisan orang kang-ouw juga muncul dari kiri-kanan. Delapan perwira ini membentak dan menyerang dengan menusukkan senjata masing-masing.

"Bocah she Sin, kau ternyata masih hidup. Mampuslah, kami datang untuk membunuhmu!"

Giam Liong menoleh sekejap. Dia sendiri menusuk pertahanan lawan dengan sepak terjangnya yang gila. Dua ribu pasukan itu morat-marit dan golok di tangannya benar-benar ditakuti. Luar biasa golok ini. Semakin banyak ia mereguk darah, maka semakin mengkilap dan bercahayalah tubuhnya, bak gadis yang baru mandi dan indah berkilau-kilau.

Namun karena golok ini adalah senjata pembunuh dan di tangan Giam Liong ia benar-benar merupakan dewa maut, delapan perwira yang membentak dan menerjang Giam Liong disambut dengus dingin. Giam Liong tidak mengelak ketika hujan delapan senjata menyambar tubuhnya; ia membiarkannya dan justru delapan perwira itu berteriak kaget karena senjata mereka terpental semua. Pedang dan tombak bertemu kekebalan pemuda itu. Ketika mereka terkejut, Giam Liong tak memberi kesempatan. Sekali ia membalik, sinar putih dari goloknya menebas.

"Semua antek Kedok Hitam harus mampus!"

Hanya itu seruan Giam Liong. Kata-kata pendek ini menyusul gerakan sinar putih golok itu, menebas, dan delapan jeritan ngeri tiba-tiba terdengar. Ketika delapan batang tubuh roboh bergelimpangan dan darah muncrat dari leher yang putus, Giam Liong telah membunuh delapan perwira ini dalam waktu tak lebih dari sedetik.

"Ayo maju, siapa yang ingin menyusul!"

Pasukan kerajaan gempar. Saat itu sesosok bayangan putih juga berkelebat masuk, menggerakkan kaki tangannya, dan belasan orang roboh berpelantingan pula. Ketika di belakang bayangan putih ini berderap pasukan Chu-goanswe, itulah Tang Siu yang disusul barisan pejuang. Sorak-sorai benar-benar meruntuhkan kota raja.

"Serbu! Serang anjing-anjing kaisar. Bunuh mereka...!"

Pagi yang tenang tiba-tiba berubah. Pekik dan kengerian pecah di sana-sini. Giam Liong membabat dan terus maju ke depan, akhirnya sampai di tengah kota, mengamuk, dan siapapun dibabat Golok Mautnya. Chu-goanswe menerjang dan mengikuti di belakangnya, menumpang atau melajui jalan yang telah dibuat pemuda ini. Karena pasukan jenderal Chu itu juga melakukan pembantaian, pintu gerbang dibobol, maka rakyat panik dan lintang-pukang menyembunyikan diri. Rumah-rumah ditutup dan Chu-goanswe berseru agar tak mengganggu penduduk; ini sesuai keinginan Giam Liong yang juga tak ingin menyeret rakyat kecil. Musuh mereka adalah kerajaan, prajurit, atau balatentara musuh. Karena terhadap musuh inilah Chu-goanswe dan pasukannya mengamuk, sementara Giam Liong membuka jalan darah di depan, maka istana gempar karena pemuda itu dikabarkan sudah tak jauh lagi di pusat pemerintahan.

"Naga Pembunuh datang. Naga Pembunuh mengamuk!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment