Halo!

Naga Pembunuh - Chapter 175

Memuat...
Naga Pembunuh

Chapter 175

Lari... lari... ia membawa Golok Maut! Pasukan kalang-kabut. Majunya Giam Liong tak dapat dicegah, begitu pula pasukan Chu-goanswe yang terus menerjang dan menyerbu. Kaum pejuang ini bagaikan angin taufan yang mengamuk, menghantam atau menggilas apa saja yang ada di depan.

Namun, ketika Giam Liong sudah mendekati istana dan Chu-goanswe beserta pasukannya bersorak-riuh hingga menggetarkan istana, tiga bayangan berkelebat dan lima ribu orang mencegat jalan. Istana dikepung rapat.

"Jangan biarkan pemuda itu masuk. Serang, lepaskan panah-panah berapi!"

Hujan panah berapi tiba-tiba menghambur. Giam Liong, yang menghadapi berlapis penjagaan tebal, terbelalak. Ia telah membunuh ratusan orang dan pakaiannya pun penuh darah. Bahkan wajah, lengan, maupun kakinya penuh bercak darah segar. Ia tak mirip manusia lagi, melainkan iblis yang haus darah. Berulang kali ia melengking mencari Kedok Hitam, namun lawan tak kunjung keluar. Kini, di depan istana, ia menghadapi lima ribu orang yang mengepung ketat.

Pemuda itu tak gentar. Hujan panah dibiarkannya saja, golok bergerak terus menyongsong ke depan. Panah patah-patah, tetapi api yang ada di ujungnya mengenai baju hingga berkobar. Giam Liong mengeluarkan pekik dahsyat yang membuat pasukan di depannya roboh. Mereka menjerit tak kuasa menahan getaran suara itu. Giam Liong mengerahkan Sai-cu Ho-kang, ilmu memekik yang mampu merobohkan gunung. Ketika ia berkelebat ke depan, memadamkan api di pakaiannya, lalu menyambar dan melemparkan kembali panah-panah berapi ke arah lawan, lima ribu pasukan itu berteriak karena terbakar.

"Aduh, pakaianku kena!"

"Tolong, rambutku terbakar!"

Pasukan menjadi ribut. Alih-alih mencelakai Giam Liong, mereka justru berbalik menjadi korban. Ratusan panah disambitkan kembali dan hujan api menyambar orang-orang itu. Giam Liong tidak hanya melempar lawan-lawannya, tetapi juga melontarkan panah-panah berapi ke atap istana. Tenaganya sungguh mengagumkan karena panah-panah itu melesat jauh melewati kerumunan dan membakar istana.

Kebakaran melanda, istana menjadi ajang permainan api. Giam Liong berbalik mengacaukan situasi hingga ribuan orang geger dan bingung karena harus memadamkan api.

"Hei, gedung sebelah barat terbakar. Ambil air!"

"Tidak, gedung sebelah kiri juga dimakan api. Lihat, gudang ransum dan dapur istana juga terbakar! Awas, jangan lempar panah berapi lagi! Serang pemuda itu dengan senjata panjang!"

Semua gugup. Giam Liong sungguh gagah perkasa. Ia berulang kali mengebut bajunya jika tersambar api. Namun, karena lawan terus menyerang hingga tak mungkin menyelamatkan baju, Giam Liong merobek dan membuang pakaiannya. Sambil bertelanjang dada, ia mencebur ke kolam agar tubuhnya basah kuyup, lalu mengamuk kembali.

"Kedok Hitam, keluarlah kau! Keluar atau kubunuh semua orang-orangmu ini!"

Semua mata terbelalak. Giam Liong yang bertelanjang dada terus menerjang. Goloknya bergerak, membuat dua puluh orang berteriak ngeri. Mereka terlempar dan tumbang oleh sabetan golok yang gilang-gemilang. Semakin sering digunakan, golok itu semakin bercahaya karena selalu menghisap darah korbannya hingga kering.

Tak ada yang mampu menahan gempurannya. Tiga bayangan yang tadi bergerak di belakang, akhirnya muncul.

"Giam Liong, inilah aku. Hentikan sepak terjangmu!"

Giam Liong beringas. Ia telah memukul mundur lima ribu orang itu, dengan seperlima di antaranya luka-luka atau tewas. Kedok Hitam, Pat-jiu Sian-ong, dan Lam-ciat kini berhadapan dengan pemuda yang kesetanan ini.

"Bagus!" Giam Liong merasa mendapat mangsa. "Untung kau datang, Kedok Hitam. Kalau tidak, pasukanmu tentu kubantai. Majulah, kita selesaikan hutang jiwa ini. Mana Yu Yin?"

"Hm, tak usah kau bertanya tentang dia. Gara-gara bergaul denganmu, dia menjadi rusak. Terimalah, kau harus menebus dosamu!"

Kedok Hitam mengeluarkan senjata, sebuah golok, namun Giam Liong cepat menangkis. Saat kedua golok beradu, ujung golok Kedok Hitam putus. Giam Liong tertawa dan berkelebat menyerang dengan menyeramkan.

"Singgg!"

Golok Penghisap Darah luput. Kedok Hitam mengelak mundur, namun Pat-jiu Sian-ong dan Lam-ciat segera bergerak untuk melindungi teman mereka. Saat dua pukulan dilepaskan dari kiri dan kanan, Giam Liong membalik dan membabatkan goloknya.

"Wherrr!"

Lam-ciat mengeluarkan Hoan-eng-sut dan menghilang, sementara Pat-jiu Sian-ong melompat menjauh. Giam Liong terus didesak oleh pengeroyokan tiga orang itu, sementara pertempuran besar antara pasukan kerajaan dan pasukan Chu-goanswe terus berkecamuk.

Di tengah kekacauan itu, Tang Siu, gadis berbaju putih, memisahkan diri. Ia hendak mencari Yu Yin dan itulah tujuan satu-satunya. Ia menyusup ke kamar pribadi Kedok Hitam di belakang gedung Coa-ongya. Semua sudut istana penuh penjagaan, namun Tang Siu berhasil menyamar dengan pakaian pengawal yang ia robohkan.

Ia melewati belakang gedung, melompat pagar, dan tertegun mendengar percakapan penjaga.

"Kasihan Coa-siocia," ujar seorang pengawal. "Kalau saja ia tak melawan gurunya, tentu tak akan ditawan. Eh, apakah belum waktunya diberi makan?"

"Itu urusan gurunya. Kita hanya diperintahkan berjaga."

Tang Siu segera mendekat. Kehadirannya yang tiba-tiba mengejutkan para penjaga. Begitu mereka sadar ada pengawal asing, Tang Siu berputar dan tujuh orang terpelanting.

"Aku datang untuk membebaskan putri Coa-ongya. Kalian minggir!"

Tang Siu merobohkan dua belas orang lainnya dengan cepat. Ia mematahkan palang pintu dan menendangnya terbuka.

"Yu Yin!"

Yu Yin, sahabatnya, terikat di sana. Pakaiannya robek dan ia tampak terguncang. Tang Siu segera membebaskan ikatannya.

"Tidak... tidak. Aku sudah kotor, Tang Siu. Guruku... ia menghina aku!"

"Menghina bagaimana? Apa yang terjadi?" Tang Siu terkejut. "Gurumu sekarang sedang berhadapan dengan Giam Liong. Mari keluar dari tempat ini!"

"Aku tak mau. Aku ingin bertemu ayah!"

"Tempat ini berbahaya, Yu Yin. Kita harus secepatnya keluar!"

"Tidak... tidak."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment